Selasa, 28 Juni 2016

Cara Memberi Nasehat yang Tepat Untuk Sahabat



Memiliki sahabat adalah salah satu anugerah terindah dalam hidup. Tidak semua orang bisa punya sahabat. Bagi orang-orang yang tidak memiliki sahabat rasanya ada kekurangan. Oleh karena itu, kita patut bersyukur dengan keberadaan para sahabat di sekitar kita. 

  Layaknya hubungan antar manusia, hubungan dengan sahabat tentu mengalami pasang surut seiring berjalannya waktu. Tak jarang ada situasi yang membuat seorang sahabat perlu diingatkan oleh kita agar tidak melakukan suatu kekeliruan. Tetapi, cara penyampaian yang kita lakukan harus cermat. Ketika hendak menyampaikan nasihat pada sahabat tersayang, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan:


Terkadang sahabat hanya butuh pendengar

Luangkanlah waktu untuk mendengarkan curhatan sahabat. Biasanya orang yang curhat tidak selalu membutuhkan tanggapan atau saran, melainkan hanya butuh pendengar setia. Dengarkanlah semua ceritanya dengan seksama. Kemudian berikan ucapan penyemangat untuk membuat keadaan sahabat kita jadi lebih baik.

Jangan Membandingkan Dirinya dengan Orang Lain

Tidak ada orang yang suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, termasuk sahabat kita. Jika sudah selesai mendengarkan ceritanya, jangan pernah menyampaikan perbandingan tentang dirinya dan orang lain. Usahakan untuk fokus pada topik yang sedang dibicarakan. Dan ingatlah bahwa sahabat kita punya kelebihan dan kekurangan yang menjadikannya pribadi unik.

Berikan Saran Jika Diminta

Ketika sahabat kita meminta saran, maka saat itulah kita bisa menyampaikan hal yang kita pikirkan. Saran tidak harus selalu berkaitan dengan sesuatu yang besar. Bisa berupa pembahasan hal-hal kecil, misalnya penampilan.

“Baju yang mau aku pakai hari ini udah OK belum?”

Nah, kalau sudah meminta pendapat soal penampilan, kamu bisa menyarankan sahabatmu untuk ikut berbelanja di MatahariMall. Model terbaru baju gamis (sponsored post refers to disclosure) di toko online unggulan tersebut pasti membuat penampilan sahabatmu semakin modern. Dan tentu saja sang sahabat dengan senang hati akan mempertimbangkan saranmu.

Baju gamis di MatahariMall

Jangan Menyampaikan Saran di Hadapan Orang Lain

Menghargai sahabat bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Salah satu yang paling tepat adalah tidak menyampaikan saran atau kritikmu di hadapan orang lain. Ketika kamu sedang berdua dengan sahabatmu, maka saat itulah momen yang pas untuk berbicara dari hati ke hati.

Percayalah bahwa menjalin hubungan persahabatan yang baik butuh proses belajar sepanjang waktu. Sikap toleransi dan keinginan berbagi akan senantiasa menguatkan persahabatan yang sudah terjalin sejak lama.
>>>> Read More >>>>

Rabu, 22 Juni 2016

Ketika Saya Ingin Berhenti Ngeblog




Ketika saya ingin berhenti ngeblog... saya tidak sepenuhnya berhenti. Buat saya, ngeblog itu ibarat candu. Beneran nggak bisa berhenti. Sejak merencanakan untuk berhenti ngeblog, blog Emak Riweuh tidak update lagi. Kesannya, saya sedang hiatus dan menjauh dari blog sejenak. Kenyataannya, saya malah ngeblog di tempat lain, hehe... 



Saya tetap menulis di blog Inna Riana dan blog Dapur Ngebut. Memang tidak sebanyak biasanya, tapi tetap ada postingan yang update di kedua blog tersebut. Lha, nggak bisa hiatus dong? Pertama, saya tidak bisa cuti ngeblog karena mengikuti dua arisan link di blog Inna Riana. Iya, DUA (pake capslock) arisan. Artinya, harus ada postingan arisan link setiap minggu di blog tersebut. Jadi, kalau beneran mau berhenti ngeblog, beresin dulu arisan link-nya.


Postingan terakhir arisan link di blog Inna Riana

Kedua, saya punya kesibukan baru di bulan Ramadhan tahun ini. Saya sibuk memposting resep sahur dan buka puasa di Instagram @dapurngebut selama 30 hari nonstop! Selain di Instagram, saya mengabadikan postingan tersebut di Facebook Fanpage Dapur Ngebut. Tentu saja, selengkapnya tentang kegiatan ini saya tulis di blog Dapur Ngebut pada postingan Dapur Ngebut Ramadhan 1437 H.


Instagram @dapurngebut

Kala jenuh, sebaiknya beristirahat. Betul, saran untuk hiatus dulu dari ngeblog memang saya jalankan. Meski nggak fuill karena pada akhirnya tetap ngeblog juga, hehe. Tapi saya lebih menyibukkan diri dengan aktivitas baru yaitu motret makanan. Selama bulan puasa, selain nguprek di dapur melulu, saya memotret hasil masakan saya.

Foto cemilan buka puasa

Foto menu buka puasa

Foto menu sahur

Oia, selain motet makan buat Dapur Ngebut, saya juga iseng mengikuti lomba atau kontes foto makanan. Modal nekad aja, sih. Saya tahu kalau saya nggak bakalan menang karena foto peserta lain jauh lebih bagus daripada foto milik saya. Tidak apa-apa. yang penting saya jadi punya kesempatan untuk latihan memotret. Dapat banyak like juga saya sudah seneng banget. Apalagi kalau menang ya, hihi ya iya lah...

Foto untuk Kontes Kreasi Tajil Indomilk

Foto untuk Giveaway Dyah Prameswari
Foto untuk Challenge SunCo di Upload Kompakan

Foto untuk Takjil Challenge Matahari Mall

Foto untuk Takjil Challenge Matahari Mall

Saya tahu, hasil foto saya masih jauh dari bagus. Gimana mau bisa dapat foto yang ciamik kalau motretnya selalu dalam keadaan riweuh terburu-buru? Ah yang penting asal jepret saja dan bisa rutin setor untuk Dapur Ngebut Ramadhan. Kegiatan memotret makanan benar-benar mengalihkan saya dari kegalauan untuk berhenti ngeblog.

Rencana untuk berhenti dari kegiatan menulis blog saya tulis di postingan Berhenti Ngeblog. Sesuai judulnya, saya menumpahkan kegalauan saya tentang sulitnya membagi waktu untuk ngeblog dan akhirnya memilih untuk menyerah saja meninggalkan dunia blog. Meninggalkan tiga blog kesayangan yang sudah cukup banyak 'menghasilkan' buat saya. 

Saya sengaja tidak menyebarkan link postingan tersebut di grup-grup blogger seperti biasanya jika saya selesai mengupdate blog. Kenapa? Biar tahu siapa saja yang masih mau mampir dan berkomentar di blog saya ini. Ternyata, komentar yang masuk bikin saya mengharu biru bahkan meneteskan air mata. Beberapa saran dan masukan sempat terlintas di banak saya untuk dilaksanakan. Namun ya itu dia, saya masih kepentok masalah waktu. Semoga jika sudah dilakukan, saya bisa lebih tenang lagi menjalani aktivitas blogging. 

Oia, saat sedang hiatus-hiatusan, saya justru mendapat tawaran untuk blog ini. Lagi diem aja masih ada yang melirik ya. Kayaknya sayang kalau dilewatkan. Lumayan buat jajan Lebaran. Alhamdulillah.

Akhir kata. saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk teman-teman Asinan Blogger yang sudah mendukung curhat saya di grup Whatsap. Juga untuk teman-teman blogger yang sudah mendukung lewat komentar blog: 
  • Mak Heni Prasetorini 
  • Mbak Leyla Hana 
  • Mak Lusi Tris 
  • Mak Naqiyyah Syam 
  • Mak Ria Tumimor 
  • Teh Dey 
  • Evrina 
  • Mbak Arin 
  • Teh Nurul Fikri 
  • Mak Astin 
  • Mbak Wuri Wulandari 
  • Mbak Irawati 
  • Ilmo dan Mbak Levina 
Alhamdulillah, sekarang saya sudah merasa lebih 'segar' dan siap menjalani apa yang perlu dijalani. Jika masih pengen ngeblog ya ngeblog, jika mau riweuh yang lain ya ngeblognya ditunda sejenak. Semua tidak dijadikan beban yang bisa bikin galau.

Terima kasih banyak untuk semua dukungannya.
>>>> Read More >>>>

Selasa, 14 Juni 2016

Berhenti Ngeblog



Berhenti ngeblog. Serius? Beberapa minggu yang lalu saya terus memikirkan hal tersebut. Saya merasa tidak sanggup meneruskan aktivitas menulis blog dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia blog. Jika sudah berhenti, mau apa? Saya akan fokus di dunia nyata saja. Jadi, ngeblog yang sejatinya beraktifitas di dunia maya akan saya tinggalkan.

  Saat galau memikirkan mau berhenti atau tidak, saya coba mengingat kembali tujuan awal ngeblog. Dulu, pertama kali bikin blog buat apa sih? Saya bikin blog CUMA (maaf pakai capslock) untuk mengabadikan kenangan di tanah rantau bersama pasukan riweuh alias keluarga tercinta. Udah, itu aja. Soal buat cari duit lewat blog, itu mah jauh dari cita-cita.

 Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman (cieh), saya ikut terbawa arus menerima sedikit kompensasi dari menulis di blog. Entah itu dapat hadiah barang atau materi. Seneng? So pasti lah. Masa nggak seneng. Aneh aja kalo nggak demen dikasih hadiah.

 Seiring berjalannya waktu pula, postingan tentang pasukan riweuh mulai berkurang. Mulanya sih, karena kami sudah tidak merantau lagi. Jadi cuma bisa jalan-jalan di dalam kota Bogor saja. Itu pun jarang dilakukan karena sebuah 'kondisi spesial' yang tidak memungkinkan kami bebas keluyuran seperti keluarga normal lainnya. Ya nasib. Tentang keadaan ini, saya cuma bisa pasrah :)

   Blog Emak Riweuh sebagai blog utama sejatinya banyak menceritakan tentang keluarga saya, pasukan riweuh. Namun ada satu kejadian yang membuat saya mendadak tidak bersemangat lagi memposting cerita tentang 3 boyz, pemeran utama pasukan riweuh tercinta, yaitu:
  • Pertama, saya menyadari bahwa usia blog itu hanya sementara. Postingan blog yang kita tulis bisa hilang karena masalah teknis dan faktor kematian pemiliknya. Iya, kematian si pemilik blog. Jadi, kalau saya meninggal dunia maka blog saya pun akan ikut meninggal juga. Lho, kok gitu? Bukannya tulisan di blog itu abadi? Atau jadi nggak abadi karena blognya sudah TLD dan bukan gratisan lagi? Sama saja. Punya blog gratisan kalau tidak diupdate selama bertahun-tahun nanti akan dihapus oleh Google. Sedangkan blog TLD bisa tetap awet jika ada penerus yang rajin membayar perpanjangan domain. Untuk kasus saya, siapa juga yang mau bayarin TLD ketiga blog ini jika saya meninggal? Nggak ada.
  • Kedua. Saya masih merasa trauma gara-gara tulisan saya sendiri tentang salah satu dari 3 boyz yang berkelakuan baik dan mendapat pujian karena niat mulianya tersebut. Lho, kok trauma? Tulisan itu langsung saya hapus. Saya sangat takut ada orang jahat yang membacanya. Ya Allah, ngeri membayangkan resiko yang bakal terjadi! Sejak itu, saya jadi malas menulis lagi tentang 3 boyz secara khusus.
  Kembali ke niat untuk berhenti ngeblog. Saya memang punya tiga blog saat ini. Yaitu www.emakriweuh.comwww.innariana.com, dan www.dapurngebut.com. Ketiganya memang serius ingin saya kembangkan. Sebagai peternak blog yang baik, saya rutin memberi makan postingan blog secara bergiliran pada ketiga peliharaan saya tersebut. Bahkan agenda dengan jadwal khusus sudah disiapkan agar saya tidak lupa dan tetap konsisten menulis.
  Terus, masalahnya apa Mak, sampai mau berhenti ngeblog?
  1. Waktu ngeblog hanya pada hari kerja dan jam kerja saja. Di luar waktu tersebut, saya harus lihat kondisi pasukan riweuh apakah aman atau tidak untuk dicuekin sementara waktu (seringnya sih enggak aman).
  2. Ide yang menguap. Jujur, saya nggak pernah kehabisan ide untuk menulis. Akibat tidak langsung ditulis, ide tersebut menguap. Sayang, saya hanya lancar menulis di netbook dan tidak bisa ngeblog via hp. Perasaan mangkel karena nggak bisa ngetik itulah yang sering menyiksa batin (halah).
  3. Sulit konsentrasi menulis karena disambi pekerjaan yang lain. Ngeblog pagi hari disambi dengan jaga toko (jika kebetulan sedang tidak banyak kerjaan). Lalu dilanjut saat pulang ke rumah pada siang hari sambil mengasuh boyz. Tapi sering juga saya malah tidur siang karena tepar. Jelang ashar saya sudah ada keriweuhan lain yaitu mengurus boyz berangkat mengaji dan mengantar pesanan obat. 
  4. Beperan lihat blog teman-teman lain yang lebih maju dan berprestasi. Saya pengen juga membenahi blog, tapi yaa nguliknya menyita waktu karena saya gaptek. Saya pengen juga bisa menulis postingan blog yang cetar membahana. Apa daya tulisan saya asal-asalan aja, asal update. Jadi, jangankan ikut lomba blog, postingan pribadi aja keteteran. Dengan belagu, tawaran ikut lomba via email pun saya tolak semua. Kapan mau bikinnya??? Saya masih tahu diri.
  Selain 4 masalah di atas, ada lagi 2 prioritas yang mendorong saya untuk berhenti ngeblog, yaitu keluarga dan pekerjaan. Ingat lagi skala prioritas, blog atau dunia nyata? Tentu saja dunia nyata! 

 Buat teman-teman yang sudah setia dengan akun Twitter @EmakRiweuh dari jaman baheula, tentu masih ingat tag line saya: hanya serius di dunia nyata. Artinya, ya saya memang nggak serius di dunia maya. Untuk apa saya hidup di dunia? Untuk anak-anak dan suami. Mereka prioritas saya nomer satu. Sudah seharusnya saya lebih mementingkan mengamati tumbuh kembang 3 boyz lebih dekat daripada menghabiskan waktu untuk ngeblog. Mereka sedang membutuhkan perhatian saya. Jika ada masanya nanti mereka sudah mandiri, mungkin saya bisa punya lebih banyak waktu buat ngeblog. 

   Prioritas lainnya adalah pekerjaan saya. Sebagai pemilik toko obat bersama suami, saya harus fokus membesarkan usaha ini. Semoga saya bisa mengemban amanah dari suami saya ini untuk modal masa depan. Jujur ngaku nih, saya sering nggak fokus jaga toko karena sibuk ngeblog. Saya merasa bersalah.

  Pekerjaan lain yang terbengkalai adalah usaha aksesoris handmade. Waktu masih aktif, penghasilan saya lumayan lho. Usaha ini saya tinggalkan karena saya memilih untuk ngeblog. Saya tidak bisa melakukan keduanya sekaligus. Tangan saya cuma dua. Nggak mungkin dong saya menjahit bros sambil ngetik, ya nggak?

   Lantas, jadi nggak berhenti ngeblognya? Enggaakk!!! Lha, katanya mau berhenti? Mau sih, cuma sayang aja. Saya terlanjur cinta sama ngeblog. Saya cuma mau numpang curhat aja di sini supaya teman-teman yang sudah setia membaca blog ini bisa mengerti kenapa postingannya tersendat. Jadi, harap maklum karena emak riweuh memang beneran lagi riweuh. Saya posting blog jika situasi memungkinkan saja ya (seperti sekarang ini bisa nulis karena boyz lagi tidur siang).

   Tentang rencana berhenti ngeblog ini sempat saya bilang di grup Whatsapp Asian Blogger. Para Mbak-mbak cantik ini kebanyakan mendukung saya supaya jangan berhenti. Alhamdulillah, terima kasih untuk dukungannya *peluk satu2*

Sebagai penutup, kutipan dari chat Whatsapp Asinan Blogger by Mbak Ratna:

Inna mau berhenti ngeblog? Aku contek salah satu quote 

"Ketika kita ingin behenti melakukan sesuatu, ingat lagi hal-hal apa yang membuat kita memulainya" 

(lupa itu wisdom wordnya siapa)


>>>> Read More >>>>

Senin, 30 Mei 2016

Wisata Segar di Kota Blitar



Wisata segar di Kota Blitar. Blitar adalah salah satu kabupaten yang ada di ujung selatan Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kediri di sebelah utara, Tulungagung di sebelah barat, Malang di sebelah timur dan Samudera Hindia di sebelah selatan. Secara geografis, Kabupaten Blitar terletak di kaki Gunung Kelud yang masih aktif, sehingga Blitar menjadi wilayah terdampak yang paling parah ketika Gunung Kelud erupsi.  

  Namun ada hikmah dibalik bencana. Berada di kaki gunung berapi yang masih aktif membuat kondisi tanah di Blitar menjadi lahan yang subur untuk pertanian. Berbagai wisata alam yang unik dan menarik bisa dijumpai di sini. Misalnya wisata yang berkaitan dengan air yang menyegarkan yang akan menjadi pokok bahasan di bawah ini dan bisa menjadi alternatif bagi anda saat berwisata ke kota Blitar. 

1. Air Terjun Tirto Galuh (Kedung Malang)

Air terjun Tirto Galuh atau lebih dikenal dengan nama air terjun Kedung Malang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Bakung. Jaraknya hanya 1,4 km dari Monumen Trisula. Air terjun ini dipromosikan secara swadaya oleh pemuda Bakung dan mulai resmi dibuka pada bulan Mei tahun 2015. Suasana di sekitar air terjun masih alami dengan fasilitas wisata yang minim.

Air terjun Tirta Galuh (foto: maringetrip.com)

Panorama sekitar air terjun sangat indah. Air terjun ini berada di kawasan pegunungan kapur selatan. Pemandangan berlatar bebatuan kapur berwarna putih yang luas dan dikelilingi pepohonan hijau indah dan kontras. Air terjun memiliki ketinggian 5 sampai 7 meter di atas bebatuan kapur yang landai. Di sekitar air terjun terdapat aliran sungai yang membentuk beberapa air terjun mini yang tidak kalah unik dan menambah daya tarik tempat wisata ini. 

Sesuai dengan namanya, "kedung" yang berarti kolam atau palung, maka di bawah air terjun terdapat kolam besar dengan air yang berwarna kehijauan. Disarankan tidak mengunjungi tempat ini pada musim hujan karena ada kemungkinan ada air bah datang dari aliran sungai. Selalu berhati-hati saat berjalan di atas bebatuan agar tidak tergelincir ketika berjalan di bebatuan. Jika terjatuh, kemungkinannya bisa fatal akibat terluka karena benturan atau terjerumus ke dalam kolam besar yang ada di bawah air terjun. Duh, ngeri ya. 

2. Pantai Gondo Mayit

Pantai ini tidak seseram namanya yang berarti bau mayat. Nama lengkap pantai ini adalah pantai Pasetran Gondo Mayit. Lokasinya berada di desa Tambakrejo kecamatan Wonotirto Blitar. Untuk menuju ke pantai ini, anda harus transit di pantai Tambakrejo yang jaraknya satu jam perjalanan dari pusat kota Blitar untuk memarkirkan kendaraan atau sekedar makan sebelum melanjutkan perjalanan.

Sebuah bukit yang curam harus dilewati terlebih dahulu. Setelah sampai di puncak bukit dengan sedikit perjuangan, anda dapat menikmati pemandangan laut Samudera Hindia sebelum menuju air terjun. Kemudian anda harus menuruni bukit dan terlihat keindahan pantai Gondo Mayit di sebelah kiri.


Pantai Gondo Mayit (foto: ahmadzaki.wordpress.com)

Pantai ini memiliki ombak yang tidak terlalu besar sehingga aman untuk bermain air bersama keluarga. Pasir pantai yang putih menambah keelokan panorama obyek wisata ini. Lokasi yang masih sepi dan alami dibanding pantai Tambakrejo di sebelahnya, menjadi alasan untuk mengunjungi pantai ini. Sayang, fasilitas yang ada hanya tempat berganti pakaian dan satu warung makan semi permanen. Tempat penginapan atau hotel tidak akan bisa anda jumpai di sini. Namun, anda bisa memesan hotel (review post refers to disclosure) di Blitar dengan mengunjungi website Traveloka.


3. Telaga Rambut Monte

Tujuan wisata selanjutnya yang menyegarkan di Kota Blitar adalah Telaga Rambut Monte. Telaga ini memiliki air yang tenang dengan volume air yang tidak berubah walaupun tengah musim kemarau. Lokasinya berada di Dusun Rambut Monte, Desa Krisik, Kecamatan Gandusari yang berjarak 40 km dari pusat kota Blitar. Dusun Rambut Monte sendiri berada di dataran tinggi, sebuah cerukan lereng bukit yang membelah kabupaten Blitar dengan kecamatan Pujon Kota Batu sehingga tempat ini selalu diselimuti kabut.


Telaga Rambut Monte (foto: mlaku.id)

Airnya bermarna kebiruan. Permukaan telaga yang jernih bercahaya menyerupai cermin raksasa. Terlihat pantulan bayangan ranting pohon pinus, akasia, cemara dan tanaman liar yang mengelilingi tempat ini. Bahkan putihnya gumpalan awan pun terpantul di jernihnya air telaga. 

Di salah satu sisi telaga terdapat sebuah bangunan beton dengan tinggi 10 meter. Dari tempat ini para wisatawan dapat menikmati panorama telaga dari ketinggian. Pengunjung dilarang mandi di telaga ini karena kedalamannya belum terukur hingga saat ini. Diperkirakan telaga ini cukup dalam mengingat warna hijau pekat di tepinya.

4. Goa Luweng

Perjalanan selanjutnya adalah Goa Luweng. Goa bersuhu dingin yang memiliki 2 pintu ini berada di Dukuh Prodo Desa Ngrejo Kecamatan Bakung. Pintu pertama merupakan pintu masuknya air sehingga tampak seperti sebuah air terjun. Sedangkan pintu kedua merupakan tempat keluarnya air. Sebaiknya, kita masuk dari pintu keluarnya air untuk dapat menikmati keindahan air terjun di dalam goa yang menjadi daya tarik utama tempat wisata ini.


Goa Luweng (foto: nulspounya456789.blogspot.com)

Goa ini hanya memiliki kedalaman 50 meter dengan sebuah lubang di bagian atas yang dialiri air sungai. Aliran sungai tersebut mirip seperti air terjun jika dilihat dari dalam goa. Jika anda melanjutkan tracking dengan mengikuti aliran air sungai, anda akan melihat pemandangan yang unik yaitu aliran air sungai yang membentuk kumpulan air terjun.

  Nah, bagaimana? Rasanya tidak akan cukup seharian untuk menjelajahi tempat wisata segar di kota Blitar. Menikmati rekreasi yang bisa memberikan semangat baru setelah penat dengan aktivitas sehari-hari. Saran saya, luangkan waktu untuk menginap dua atau tiga hari agar semua objek wisata menarik di Blitar bisa dikunjungi. Selamat berwisata ^_^
>>>> Read More >>>>

Sabtu, 28 Mei 2016

Bermain di Kidzania


Bermain di Kidzania ini dalam rangka piknik sekolah TK Dd Irsyad pada tanggal 6 April 2016. Nggak sempat posting karena... lupa. Baru ingat setelah ada kehebohan undangan gratis main ke Kidzania untuk para blogger. Saya tidak ikut mendaftar karena pada tanggal tersebut sepertinya sedang riweuh di rumah menjelang persiapan puasa. Selamat bersenang-senang untuk para emak blogger yang terpilih untuk mengajak anak-anaknya bermain di Kidzania! 

Foto bareng di bus
   Kidzania adalah tempat rekreasi berkonsep edutainment untuk anak-anak. Dibangun menyerupai kota beserta gedung-gedung dan aneka macam jenis profesi yang bisa dicoba oleh anak-anak. Lokasinya ada di  Mall Pacific Place lantai 6, Jalan Jendral Sudirman Kav 52-53 Kawasan Niaga Sudirman (SCBD) Jakarta.

  Kembali ke cerita Dd Irsyad bermain ke Kidzania. Dia sangat bersemangat untuk segera berangkat! Mau dibangunkan lebih pagi dari biasanya supaya tidak ketinggalan bus. Perjalanan dari Bogor ke Jakarta pada jam kerja memakan waktu cukup lama karena macet. Tiga bus yang berjalan beriringan pun sempat terpisah karena sesuatu hal. Bus kami, yaitu bus 1, tertinggal di belakang. Ketika hampir sampai, bus kami terkena pengalihan jalur lalu lintas. Kedua bus di depan berhasil lewat dan sampai lebih dulu di lokasi. Sedangkan bus kami terpaksa memutar dan baru sampai setengah jam kemudian.

Ayo, antri yang tertib!

  Pihak Kidzania sudah mengambut kami sejak turun dari bus. Mulai dari menggiring anak-anak dalam barisan, lalu mengantar kami  melalu pintu khusus ke arena Kidzania yang berada di lantai atas Mall Pasific Place. Ketika sampai ke depan pintu masuk Kidzania, petugas mengumumkan tata tertib bermain di Kidzania. Lho, ada peraturannya, ya? Jadi sebelum masuk, ada beberapa barang yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam arena bermain. Pengunjung yang membawa barang-barang 'terlarang' tersebut dipersilakan menaruhnya di 'kandang' khusus bertulisakan nama sekolah masing-masing di sebuah ruangan. Larangan tersebut adalah:
  1. Pengunjung tidak boleh membawa makanan dari luar. Semua makanan dan cemilan harus disimpan di tempat khusus dan bisa diambil kembali setelah selesai bermain di Kidzania. 
  2. Dilarang membawa botol air mineral yang menggunakan merk tertentu. Misalnya botol air minum merk Aqua. Minuman yang ditaruh di gelas tupperware atau tempat minum yang sering dibawa untuk bekal ke sekolah masih diperbolehkan. 
  Waduh, kebetulan saya membawa botol Aqua di dalam tas. Terpaksa deh, disita eh disimpan di luar Kidzania. Kenapa nggak bawa botol minuman biasa? Saya pikir biar praktis saja, setelah minum botolnya tinggal dibuang. Nah, buntutnya saya terpaksa harus membeli air mineral di dalam kawasan Kidzania seharga Rp.12.000 per botol. Lumayan... eh lumanyuunn...

  Saat mengantri bersama rombongan di depan pintu masuk Kidzania, saya sarankan untuk TIDAK BEPENCAR. Meskipun untuk alasan ke toilet. Sabar saja dulu, di dalam Kidzania juga ada toilet. Lokasi toilet di Mall Pasific Place agak jauh dari pintu masuk. Sudah pasti memakan waktu untuk ke toilet dan kembali ke depan gerbang Kidzania. 

  Ada kejadian anggota rombongan yang tertinggal. Salah satu papa dari murid TK A tidak bisa masuk karena ditinggal rombongan saat ke toilet. Terhambat masuk karena kuota rombongan kami dikatakan sudah closed. Tidak berhasil menemukan panitia, untunglah ada satu orang tua murid yang bersedia membantu dengan membayarkan secara tunai dan sang Papa berhasil masuk. 

Gedung-gedung di Kidzania
  Horee! Kidzania! Kami datang! Eh, tunggu dulu, kok banyak sekali manusia? Pengungjung Kidzania pada hari itu SANGAT RAMAI. Sampai pake capslock. Saya yang baru pertama kali ke Kidzania langsung bingung. Antara grogi diantara kerumuman banyak orang dan bingung mau main apa. Semua wahana antriannya panjang! Mau masuk, tidak semua wahana bisa dimasuki oleh Dd Irsyad dan teman-temannya. Ada batas minimal 6 anak barulah bisa bermain di wahana yang dikehendaki. 

  Tidak kompaknya kedatangan rombongan TK kami menimbulkan masalah. Dua bus sebelumnya sudah duluan masuk dan menikmati permainan. Pengelompokan anak-anak yang sudah direncanakan sebelumnya gagal terlaksana. Rencananya anak-anak akan dibagi dalam beberapa kelompok untuk memudahkan koordinasi. Tiap kelompok terdiri dari sekitar 10 anak dengan dua orangtua murid sebagai PJ (penanggung jawab). Saya dan Mama Ihsan ditunjuk menjadi PJ kelompok 1 (saya lupa nomor kelompoknya). Tentu saja, anak-anak kami, yaitu Dd Irsyad dan Ihsan ada di kelompok yang kami berdua asuh.

  Sebentar, bukankah anak-anak sudah dibagi per kelompok sebelum berangkat? Kelompok Dd Irsyad yang saya pegang pada ke mana ya? Saya dan Mama Ihsan kebingungan. Anggota kelompok kami entah ada di mana. Pembagian kelompok tidak berlaku. Menelpon ibu-ibu panitia pun percuma. Nggak bakal kedengeran. Suasana terlalu ramai. Semua ibu sibuk dengan anaknya masing-masing. Kacau.

  Lima belas menit pertama sungguh menyebalkan. Anak-anak digiring ke sana ke mari. Mencari wahana yang agak sepi dan bersedia menerima mereka. Saya pun sempat panik karena tidak punya kelompok. Numpang nebeng di kelompok lain juga tidak diterima karena jumlah mereka sudah pas. Sedih. Emak sedih...

  Minta tolong pada bu guru yang masih single saja deh. Ibu guru lain yang membawa anaknya pasti sudah riweuh masing-masing. Nah, Bu Nur, bu guru yang saya buntuti ternyata bingung juga karena baru pertama kali masuk ke Kidzania seperti saya. Rombongan kami sudah seperti permainan ular naga karena saling bergandengan memanjang agar tidak terpencar. Boo... padat skali!

Permainan pertama

Setelah grabak-grubuk mencari wahana yang bisa dimasuki tanpa antri lama, kami memutuskan untuk menggiring anak-anak masuk ke wahana belajar sulap. Akhirnya bisa masuk juga! Para ibu yang dari tadi ikut tegang menuntun anak-anak boleh bernapas lega sejenak. Alhamdulillah....

Wahana belajar sulap

Menonton pertujukkan sulap

   Batasan umur dan minimun jumlah anak yang boleh masuk untuk setiap wahana menjadi kendala buat kami. Setiap ingin masuk ke satu wahana, kami pasti membaca dulu keterangan yang tertempel di depan pintu. Selain usia dan jumlah rombongan, ditulis juga berapa lama permainan berlangsung. Ada juga jam penujuk waktu berapa lama kegiatan akan berakhir. Jadi kita bisa memperkirakan kapan giliran kita dari antrian yang ada. 

Kiri: wahana pabrik roti. Kanan: wahana hotel
   Sempat mengintip wahana lain yang berdekatan dengan wahana belajar sulap. Ada artist academy yang mengajak anak-anak berkeliling bermain marching band. Ada pabrik roti yang tentu saja anak-anak diajak membuat roti dan boleh membawa pulang hasilnya. Lalu ada wahana hotel yang mengajarkan anak-anak untuk praktek menjadi staf hotel. Sayang, wahana yang menurut saya menarik ini batasan umurnya tidak sesuai untuk anak TK. Memang lebhi cocok untuk anak-anak yang lebih besar. 

Permainan kedua

Selanjutnya, apa lagi yang kosong? Nah ini lumayan nih! Kegiatannya sudah hampir selesai dan tidak ada yang mengantri. Hup, kami langsung menempel di dekat pintu masuk. Kita jadi penyiar radio, yuk! Tidak lama kemudian, anak-anak pun bergegas masuk untuk mengikuti permainan setelah rombongan sebelumnya selesai. Saya pun bernapas lega...

Siaran radio
  Orangtua atau pendamping tidak diperbolehkan masuk ke dalam wahana dan hanya menunggu di luar saja. Maka, kami cukup puas mengintip anak-anak dari balik kaca dan mendengarkan suara mereka yang sedang siaran. Ngomomg apa sih, De? Mereka cuap-cuap memperkenalkan nama masing-masing. Suara mereka terdengar malu-malu, ngegemesin deh! 

Jadi penyiar radio

  Oia, saat sedang siaran, saya melihat ada fotografer yang masuk dan  memotret anak-anak satu per satu. Belakangan, saya baru tahu kalau foto tersebut bisa kita beli sebagai souvenir dari Kidzania sebagai kenang-kenangan. Sebelum pulang, saya menemukan foto Dd Irsyad di satsiun radio ini. Ada satu foto lagi di wahana pemadan kebakaran, tapi posenya kurang menggemaskan. 

  Oia, fotonya bisa diunduh sehari setelah kunjungan ke Kidzania, lalu akan dihapus dari websitenya setelah 30 hari. Sayang, saya bolak-balik tidak bisa menemukan foto Dd Irsyad meskipun sudah benar memasukkan kodenya. Dua hari berturut-turut mencoba dan gagal, saya jadi malas dan kemudian riweuh yang lain.  Yah, sudahlah...

Permainan Ketiga

Wah, ini kelihatannya seru! Pemadam kebakaran! Anak-anak diajak naik mobil pemadam kebakaran mini berupa bak terbuka sambil berkeliling area Kidzania. Tapi lihat, antriannya panjang sekali! Nggak apa-apa, deh. Toh di semua wahana juga antriannya sudah mengular. Saya pun mendudukkan Dd Irsyad bersama teman-temannya di emperan wahana pemadam kebaran sambil mengamati setiap sesinya yang seru itu.

Wahana pemadam kebakaran
Duduk pasrah menanti giliran bermain

    Setelah menanti selama setengah jam, tiba giliran rombongan Dd Irsyad bermain menjadi pemadam kebakaran. Demi mempersingkat waktu, anak-anak langsung disuruh memakai seragam pemadam kebakaran dan tidak ada acara briefing. Bagus deh, mereka ini kan anak TK. Mereka belum paham penjelasan panjang lebar tentang apa itu pemadam kebakaran bla bla bla. Mereka hanya mau naik mobil dan menyiram air. Apalagi kondisi fisk sudah lelah setelah lama mengantri.

   Tapi, tunggu dulu, lho kok anak-anak tidak diajak naik mobil pemadam kebakaran? Mereka langsung diajak menyiram gedung yang terbakar lalu kembali lagi untuk mencopot seragam. Selesai. Lha? Ketika saya protes dan menanyakan pada petugas Kidzania, jawabannya adalah mobil pemadam kebakaran tidak bisa berkeliling karena sedang ada grand opening sebuah wahana. Keramaian di depan wahan tersebut membuat mobil pemadam kebakaran tidak bisa melintas. Duh, gemes banget deh! Justru anak-anak maunya naik mobil pemadam kebakaran. Bayangkan  betapa kecewanya mereka...

Kesal tidak jadi naik mobil pemadam kebakaran

Dd Irsyad menyemprot air untuk memadamkan api

Ayo, padamkan apinya segera!

  Untunglah Dd Irsyad cukup senang bisa bermain air untuk mematikan 'api' di sebuah gedung yang terbakar. Dia lupa dengan kekecewaannya gagal naik mobil pemadam kebakaran. Seandainya rombongan kami datang lebih cepat, Dd Irsyad dan taman-temannya pasti masih bisa naik mobil pemadam kebakaran *dibahas lagi*

Istirahat makan siang

Makan siang dulu. Saat mengantri lama di wahana pemadam kebakaran, saya dan Mama Ihsan mengambil jatah makan siang kami di tempat yang sudah disediakan. Beres bermain pemadam kebakaran, langsung saja saya kembali ke tempat makan untuk beristirahat dan menyantap nasi plus ayam goreng tepung dan nugget. Makanan ini sudah satu paket dengan tiket rombongan dari sekolah. 

Paket makan siang
   Dua nasi kotak untuk anak dan orang tua ternyata berbeda isinya. Untuk saya ada dua potong ayam goreng yang sedikit dilumuri mayones. Nggak ada nuggetnya. Rasanya lumayan. Maklum, saya sudah lapar banget.

Permainan keempat

Selesai makan, saya lihat ada wahana interior design. Coba lihat lagi batas umurnya. Eh, asyik! Dd Irsyad bisa masuk! Yuk, moms, kita ajak anak-anak masuk ke sini! Beberapa anak pun ikut masuk bersama Dd Irsyad. Yah, lumayan. Wahana ini nggak pakai antri karena sepi. 
Keterangan di depan wahana

  Main apa di wahana desain interior? Saya tidak tahu karena tidak bisa mendengarkan pengarahan petugas Kidzania kepada anak-anak di dalamnya. Masih mengintip di balik dinding kaca, saya lihat mereka asyik mencorat-coret tembok. Dengan cat khusus, hasil coretan mereka bisa dihapus kembali. Kok bisa? Tentu saja bisa, kan pakai produk cat andalan dari sponsor wahana ini.

Corat-coret tembok

Permainan kelima

Mulai berkeliling lagi. Seperti biasa, kami mencari wahana yang sesuai dengan umur anak-anak, yang antriannya nggak panjang, plus yang sudah mau selesai permainannya (kelihatan dari papan waktu yang menunjukkan permainan akan selesai berapa menit lagi). Pilihan jatuh pada wahan pom bensin. Pengen tahu juga gimana rasanya menjadi petugas pengisi bensin. 

Memakai seragam dan pengarahan

Ayo, isi bensin di sini!

Mulai dari angka nol ya, Pak.

Permainan keenam

Selanjutnya, kami mengajak anak-anak untuk bermain menjadi petugas pembersih kaca jendela gedung. Anak-anak masuk ke dalam gondola kecil dan naik ke atas untuk membersihkan kaca gedung. Naiknya nggak tinggi banget kok, cuma sekitar 2 meter kalau tidak salah. 
Hore! Kami naik ke atas!

   Entah mengapa, rombongan mulai terpencar dan menyisakan saya bersama Mama Ihsan dan Mama Cila. Perbedaan minat mau main apa membuat satu dua anak mulai mencari rombongan yang lain untuk masuk ke wahana yang mereka inginkan. Nggak apa-apa cuma bertiga. Kan bisa gabung dengan rombongan lain di wahana yang lain.


Irsyad, Cila, dan Ihsan. Ciluukk baaa!

Bosan bermain di lantai satu, sebenarnya saya berkali-kali mencari tanggga ke lantai dua. Tapi tidak ketemu! Lho, bukanya ada papan petunjuk yang bisa dibaca? Heu, saya terlalu lieur dengan manusia yang berlimpah ruah seperti ini. Boro-boro mau baca papan petunjuk, mau jalan aja susah! Kalo nggak hati-hati bisa terserempet taxi atau bus Kidzania yang lewat. Menggandeng erat tangan Dd Irsyad sambil berjalan cepat lumayan bikin ngos-ngosan juga. 
Papan petunjuk jalan

Mejeng dulu ah...

Permainan ketujuh

Akhirnya, ketemu juga jalan ke lantai dua. Kami melewati wahana pilot pesawat terbang yang gagal kami masuki karena umur anak-anak tidak sesuai. Sebelum masuk Kidzania, beberapa orang tua murid yang sudah pernah mangajak anak-anaknya ke Kidzania menyarankan untuk main ke lantai dua terlebih dahulu karena lebih sepi. Sayang, berhubung dari awal saya sudah panik dan tangga nggak ketemu, jadilah kami berkutat di lantai satu terlebih dahulu. Rombongan bus pertama sudah lebih dulu bermain di lantai dua ketika kami baru sampai. Usai menjelajah di lantai dua, barulah mereka turun dan kami berpapasan saat saya akan naik ke lantai dua. 

   Ada wahana apa saja di lantai dua? Eh banyak juga ternyata! Satu-satunya wahana yang menarik perhatian saya adalah wahana apoteker! Hey, Dd Irsyad, kamu harus masuk ke sini, HARUS! Haha, emaknya maksa banget. Yah siapa tahu Dd Irsyad nanti berminat menjadi apoteker dan meneruskan usaha toko obat yang saya kelola. Sampai sekarang saya memang belum bisa naik level menjadi apotek karena banyak kendala. Maybe someday, salah satu dari 3 boyz mau jadi apoteker di Apotek Trisad. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa, Ibu nggak maksa juga kok. Cuma ngarep, hihi.


Petunjuk di pintu wahana apoteker

   Oia, saya yang tadi berenam dengan Mama Ihsan dan Mama Cila serta anak masing-masing, bertemu dengan rombongan  sekolah TK kami yang sedang mengantri di depan wahana ini. Kebetulan jumlah rombongan mereka kurang tiga orang lagi. Pas bukan? Setelah mengantri sambil lesehan di depan pintu, akhirnya anak-anak bisa masuk, mengenakan seragam, lalu duduk menyimak pengarahan berupa tayangan di televisi.

Menyimak materi memlaui tayangan di tv

Si ganteng di balik dinding kaca

  Setelah sesi pengarahan yang memakan waktu lumayan lama (menurut saya), anak-anak diajak untuk meracik obat di labolatorium. Asyik, ngulek obat nih ceritanya! Saya memberi kode kepada Dd Irsyad untuk duduk di dekat kaca. Biar gampang difoto. Tapi Dd Irsyad nggak mau dan keukeuh memilih duduk di pojokan. Ya sudahlan :D



Mari meracik obat!

Dd Irsyad duduk di pojok  belakang

  Aih, senang dong Bisa meracik obat. Nanti bikinin Ibu obat ya, hehe. Terus, mau main ke mana lagi kita? Sempat melirik wahana di seberangnya, yaitu wahana pabrik nugget. Seru juga kayaknya nih. Anak-anak belajar bikin nugget sendiri. Hasil masakan mereka nanti boleh dibawa pulang, Asyik ya! Sayang , durasi bermain di wahan ini cukup lama. Melihat antrian yang ada di depan pintunya sudah bikin ilfil.

Wahana pabrik nugget

  Di pojok lantai dua, ada wahana pabrik coklat. Sayang sedang tutup. Wahana pabrik minuman teh kemasan di sebelahnya tidak ada yang mengantri. Namun permainan masih berlangsung. Menurut cerita orangtua murid yang pernah ke Kidzania, jika sedang tidak ramai anak-anak diberi satu miuman teh kemasan selesai bermain. Karena hari ini sedang LUAR BIASA RAMAI, anak-anak cukup mencicipi seteguk teh kemasan saja. Hmm, jadi males masuk ke situ. Jalan-jalan ke tempat lain aja,yuk!


  Banyak juga wahana permainan di lantai dua ini. Bahkan ada wahan untuk anak berusia tiga tahun. Kayaknya sih belajar disko atau bernyanyi gitu. Jelas Dd Iryad tidak tertarik meskipun wahana itu terlihat sepi. Wahana lainnya ada pabrik buku tulis, pabrik sepatu, pabrik air mineral, tukang jahit, dan agen rahasia. Yang terakhir keren nih. Sayang, usia Dd Irsyad belum memenuhi syarat. 


Searah jarum jam: wahana pabrik buku, pabrik air mineral, 
tukang jahit, agen rahasia, dan pabrik sepatu

  Rencana bermain ke wahana pabrik sepatu urung dilakukan karena anak-anak sudah kelihatan lelah. Mau main ke wahana pabrik mie, kami sudah malas mengantri. Hmm, cuma dapat main di tujuh wahana saja capeknya minta ampun! Capek? Iya lah, capek mondar-mandir mencari permainan yang pas untuk anak-anak TK ini. Seharusnya, saya punya peta biar nggak bingung mau main apa saja dan tahu lokasinya ada di mana. Biar terencana akan main apa saja, hemat waktu, dan lebih efektif sehingga banyak wahana yang bisa dimainkan. 

   Sebelum turun ke lantai satu, saya melihat wahana yang menarik, yaitu presenter televisi! Iseng, saya lihat studionya kosong karena anak-anak sedang menyimak pengarahan di ruang siaran. Selain studio dan ruang siaran, ada juga ruang make up untuk persiapan sebelum tampil di depan tv. Wah, keren. Tapi... lagi-lagi anak-anak kepentok pada persyaratan umur. Tidak menyerah, saya minta tolong kepada mbak petugas untuk numpang foto di studionya yang keren tersebut. Eh, ternyata boleh! 

Numpang nampang jadi presenter televisi

Emaknya ikutan narsis :D

   Oia, saya lupa bilang bahwa setiap menyelesaikan satu permainan, anak-anak akan 'dibayar' dengan uang Kidzania. Wah, berasa gajian ya! Tentu saja anak-anak merasa senang bisa dapat uang dari hasil pekerjaannya sendiri. "Eh asyik, gajian!" seru saya usai numpang nampang di studio tv dan ternyata mbak petugas memberi sejumlah uang kepada anak-anak. Padahal mereka kan nggak beneran ikut bermain di wahana ini. Makasih banyak ya, Mbak!

   Waktu menunjukkan pukul dua siang. Sudah waktunya kami berkumpul dan pulang ke Bogor. Sebelum berkumpul, saya sempat mampir dulu ke mushala untuk shalat dhuhur. Saya sempat mengintip  beberapa wahana yang menjadi favorit anak-anak. Salah duanya adalah wahana kantor polisi dan dokter gigi. Dari segi umur, kayaknya sih anak-anak bisa masuk ke wahana dokter gigi tersebut, tapi mereka nggak mau. Lagipula kalau mereka mau masuk, antriannya panjang banget. Syukur deh, kita pulang aja ya.

Wahana kantor polisi dan dokter gigi

 Berhubung saya masih penasaran karena Dd Irsyad gagal naik mobil pemadam kebakaran, saya mengajak Dd untuk naik mobil taxi atau bus Kidzania. Mau naik taxi, eh sudah closed katanya. Mau naik bus, sopirnya bilang nggak buka lagi karena sudah kloter terakhir. Terakhir? Iya, pukul dua adalah batas terakhir kendaran bus Kidzania beroperasi. Mereka mau off dulu. Situasi hari ini memang membuat bus seolah tidak berhenti mondar-mandir menganggkut penumpang. Huft, gagal deh naik mobil keliling Kidzania. Emaknya yang kecewa. Anaknya mah nyantai aja, haha.

   Berdasarkan perbincangan saya dengan sang sopir bus Kidzania, ternyata hari ini pengunjung yang datang hampir seluruhnya adalah rombongan sekolah. Promo tiket murah masuk Kidzania dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak main ke tempat ini beramai-ramai. Mau tahu ada berapa sekolah yang datang pada hari itu? Enam belas sekolah! Enak belas! Anggap saja tiap sekolah membawa rombongan sebanyak 100 orang. Kalikan dengan enam belas. Yup, ada 1600-an manusia. Belum lagi yang datang secara pribadi dan memanfaatkan promo ini. Hmm... mungkin ada dua ribu manusia? Nah, bisa kebayang nggak padatnya seperti apa? Cihuy banget pokoknya deh.

   Akhirnya, waktu berkumpul sudah tiba. Anak-anak berbaris dan petugas Kidzania menggiring mereka turun ke bus melalui pintu khusus. Kami para orangtua dilarang mengikuti anak-anak. Orangtua diminta lewat melalui pintu depan dan turun ke tempat parkir melewati Mall Pasific Place. Duh, bak induk kehilangan anak ayam, kami para ibu ini merasa cemas! Meski tahu anak-anak ada di tangan petugas Kidzania yang bertanggung jawab, tetap saja kami deg-degan menunggu anak-anak keluar dari gedung. Anakku dimana...anakku dimana... berasa jadi orang gila di serial si Unyil, deh. Ketika mereka muncul, bukan main girang hati kami! Berasa sudah terpisahkan sekian lama. Padahal cuma nggak ketemu lima belas menit doang. Yah, begitulah emak-emak :D


  Kesimpulan, main di Kidznia itu menyenangkan. Di kidzania, anak bisa mengetahui beragam profesi. Mereka bermain peran menjalankan profesi tersebut dan pekerjaan yang dilakukannya. Anak juga diajarkan bahwa ada upah yang dibayar untuk setiap pekerjaan. Jadi mereka bisa merasakan sebuah penghargaan atas kerja keras yang mereka lakukan. Disamping itu, mereka bisa menghargai orangtuanya yang bekerja dan mencari uang untuk mereka.

Tips persiapan sebelum masuk ke Kidzania:
  1. Jangan membawa makanan dari rumah.
  2. Jangan membawa minuman dalam botol kemasan air mineral. Bawalah minum dalam wadah botol yang biasa dibawa untuk bekal ke sekolah. Bisa di wadah tupperware misalnya. Ada yang menyarankan membawa tempat minum yang bertali untuk dikalungkan di leher anak. Tapi menurut saya itu justru mengganggu gerak mereka. Dampingi saja anak-anak selama bermain. jika mereka haus, bisa meminta minum kepada orangtuanya.
  3. Gunakan baju dari bahan yang nyaman. Yaitu kaus dan celana panjang. Untuk anak perempuan saya sarankan tidak memakai rok agar bisa bergerak lebih bebas.
  4. Membawa tas selempang kecil untuk tempat menaruh uang. Gunanya agar uang yang dietrima usai bermain tidak tercecer. Tenang saja, di Kidzania tas selempang dari bahan plastik dijual bebas kok.
  5. Jangan lupa sarapan, ya! ini penting mengingat aktivitas fisik di kidzania yang bisa menguras tenaga. Tapi jangan khawarir, ada banyak makanan yang dijajakan yang bisa disantap ketika perut lapar. 
  Kapan-kapan saya pasti akan kembali lagi ke Kidania karena Kk rasyad belum pernah diajak ke sana. Tapi nanti saja ya. Tunggu Dd Irsyad agak lebih besar sedikit. Biar nggak rugi dan lebih banyak wahana yang bisa dimainkan. Dalam kunjungan kali ini, Dd Irsyad termasuk sedikit bermain di Kidzania. Ramainya pengunjung menjadi penghambat. Lain kali kalau mau datang ke sini jangan pas harga promo deh. Kapok!

  Dulu, Aa Dilshad sudah pernah ke Kidzania waktu kelas 5 SD kalau tidak salah. Saat itu Aa tidak oleh ditemani oleh orang tua murid. Dia bercerita menaiki wahana mobil balap dan mendapat SIM. Saya lupa wahana apa lagi yang Aa mainkan. Tapi saya tahu, Aa senang dan menikmati bermain di Kidzania. 

   Sekian dulu liputan bermain di Kidzania. Maaf kalau kepanjangan. Mengajak anak-anak bermain adalah waktu yang berharga untuk menjalin kedekatan bersama mereka. Kelak kenangan bermain bersama orang tuanya akan dikenang anak hinga ia besar nanti. Terakhir, jangan gengsi dan merasa jaim untuk menenteng tas anak seperti duo emak narsis berikut ini ^_^

Me and Mama Ihsan (foto: Mama Ihsan)
>>>> Read More >>>>