Kamis, 12 Januari 2017

Asyiknya Berendam di Pemandian Air Panas Ciater


Nikmatnya mandi air panas di Ciater adalah tempat wisata terakhir yang kami kunjungi pada liburan akhir tahun 2016 di Subang. Kami pergi ke pemandian air panas pada hari Jumat tanggal 23 Desember 2016. Sebelumnya, kami menginap semalam di Hotel Resort Lembah Sarimas Ciater

   Sekalian berolahraga pagi, usai sarapan kami berjalan kaki sejauh kira-kira 1 km menuju pemandian air panas. Jalan yang menanjak kemudian menurun kami lakui dengan santai sambil menikmati udara sejuk pegunungan dan semilir angin beraroma daun teh dari seberang jalan.

Jalan kaki biar sehat!


Sampai di gerbang masuk
   Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Beberapa karyawan hotel dan tempat wisata terlihat baru tiba. Petugas di loket juga belum ada. Kami membeli tiket di gerbang masuk khusus kendaraan bermotor. Sambil menunggu Bapa membeli tiket, foto-foto dulu ah... 

Kk Rasyad dan Aa Dilshad
  Tiket masuk seharga 28 ribu rupiah untuk satu orang pada hari kerja. Sedangkan untuk hari libur harganya menjadi 35 ribu rupiah. Lumayan bedanya, ya. Untung kami datang pada hari Jumat. Suasana juga belum terlalu ramai karena masih pagi. Enak sepi begini.

Tiket masuk
  Oia, tiket masuk untuk kami berlima berupa kartu yang discan di pintu masuk. Saya lupa, kartu ini bisa ditukar atau tidak. Sepertinya sih bisa, karena tertulis deposit kartu 15 ribu rupiah. Kami membawa kartu ini pulang dan lupa menukarnya. Nggak apa-apa. Yuk, kita masuk ke dalam tempat wisata pemandian air panas Ciater...


Banyak penjual makanan
   Begitu masuk, kami melewati kedai makanan dan aneka souvenir di dekat pintu masuk. Ketika masuk semakin jauh, banyak penjaja aneka makanan dan minuman. Jadi, nggak bakal khawatir bakal kelaparan selama berada di sini. 

   Beberapa langkah kemudian, kami melihat kolam dengan tulisan Kolam Rendam Kaki Imas. Dilihat dari namanya, sudah pasti ini kolam khusus untuk berendam kaki. Bukan buat berenang karena airnya yang dangkal. Bebatuan melingkar di tengah kolam pas banget buat duduk-duduk sambil berendam. Air panas yang memancar menambah sensasi tersendiri. 
Serasa kolam milik pribadi
   Suasana yang masih sepi membuat kami sangat nyaman berada di tempat wisata ini. Kolam rendam kaki ini jadi serasa milik pribadi, hihi. Tentu saja, kami tidak bisa berlama-lama mengingat waktu untuk shalat Jumat tengah hari nanti. 

  Lagipula, berendam di kolam air panas itu memang tidak boleh terlalu lama. Nanti badan bisa lemas. Air panas di Ciater mengandung banyak zat bermanfaat yang bisa dilihat di gambar berikut:
Kandungan zat dalam air panas alam
  Dengan kandungan kalsium, sulfat, chloride, alumunium, dan besi, berendam di air panas ini bisa menyembuhkan penyakit rematik, penyakit sendi  dan kekakuan otot, gangguan sendi, gangguan kandungan, serta penyakit kulit. Aa Dilshad yang baru saja sembuh dari alergi kulit langsung saya suruh membasuh lebih banyak di bagian kulit yang sempat terkelupas dan sudah agak mengering.

   Lanjut jalan lagi. Mumpung sepi, kami memanfaatkan waktu untuk berkeliling, Bayangkan jika suasana ramai, kayaknya bakal susah jalan saking sesaknya. Duh, heran kenapa tempat wisata di mana-mana selalu ramai ya? Mau nggak berdesak-desakan, Mak? Wisata di rumah aja, hehe...

   Kembali menemukan kolam berendam yang dangkal, yaitu kolam rendam kaki Kabayan. Di tempat ini bisa berendam sambil menikmati pijatan yang ditawarkan oleh para pemijat yang ada di sekitar area. Ada pijat refeksi dan pijat relaksasi. Tarif pijat refeksi selama 25 menit adalah 25 ribu rupiah. Sedangkan untuk pijat relaksasi sebesar 75 ribu rupiah karena dilakukan selama 45 menit. Dipijat Mak? Enggak ah, saya sudah punya ibu pijat langganan sendiri jika sedang tidak enak badan.


Kolam rendam kaki Kabayan
  Tepat di seberang kolam rendam kaki Kabayan, ada kolam besar yang bernama Curug Jodo. Undakan air terjun alias curug yang cantik terlihat sebagai latar belakangnya. Cocok banget buat spot foto. Siapa tahu kalau yang jomblo habis foto di tempat ini langsung dapat jodo(h), hehe.

Berpose di depan Curug Jodo
   Melihat kolam besar, 3 boyz nggak tahan pengen nyemplung. Eits, tunggu dulu. Kita jelajahi dulu seluruh area. Biar nggak penasaran. Jalan-jalan di kawasan wisata pemandian air panas Ciater ini nggak perlu takut nyasar. Petunjuk jalan dan peta tersedia sebagai penentu arah. Eh, kami masih sempat nyasar juga deng. Mau terus berjalan malah ketemu pintu keluar. Buru-buru balik arah deh.

Peta kawasan wisata
    Di bagian bawah kawasan wisata, terdapat banyak hamparan tikar yang disewakan. Wah rupanya di sini tempat beristirahat untuk pengunjung yang datang bersama rombongan. Dengan ditata di area khusus, kelihatan lebih rapi dan tidak berantakan. Biasanya di tempat wisata itu pengunjung bebas mengampar tikar di mana saja. 

Tikar yang disewakan untuk pengunjung dengan rombongan
   Ada apa saja di dalam tempat pemandian air panas Ciater? Selain kolam pemandian yang bisa langsung kita ceburi, ada juga kolam renang yang untuk masuk ke dalam harus membayar lagi. Lagi nggak kepengen nyemplung? Bisa main perahu dayung atau sepeda air. Beneran nggak mau bersentuhan dengan air? Masih ada permainan flying fox dan sewa atv atau jeep offroad. Seru bukan?

Perahu dayung dan sepeda air
   Mau bebas main tapi nggak mau bayar? Banyak taman bermain tersedia di tempat ini. Gratis! Eh, maksudnya, nggak usah bayar lagi alias gratis. Btw, sempet juga lho 3 boyz pengen masuk ke salah satu kolam renang yang dipagari. Apalagi setelah melihat ada wahana permainan air berupa perosotan besar dari luar. Tapi ketika tahu harga tiket masuknya, langsung ciut deh. Mending nyemplung di kolam yang gratisan aja.

Taman bermain
  Oia, kalau habis nyemplung pasti pengen mandi atau membersihkan diri. Kamar mandi dan kamar bilas banyak tersedia di tempat ini. Berhubung masih pagi, kamar mandi yang satu ini masih dikunci dan belum ada petugasnya. Saya mengajak 3 boyz numpang ganti baju renang di balik tembok kamar mandi ini.

Kamar mandi

   Oke, waktunya berenang! Yeay, 3 boyz seneng banget! Aa Dilshad dan Kk Rasyad pergi bereksplorasi berdua di seputar kolam. Sedangkan saya dan Bapa bergantian menjaga Dd Irsyad yang berendam di kolam dangkal. Sesekali saya mengikuti Aa dan Kk dari pinggir kolam, Meskipun sudah besar, anak-anak tetap harus diawasi. Apalagi di tempat wisata yang ramai pengunjung seperti ini,

Aa Dilshad dan Dd Irsyad

Ibu numpang narsis sekalian motret Kk Rasyad

Aa Dilshad 

Aa Dilshad dan Kk Rasyad di air terjun

Melintasi air terjun

Taman di tengah kolam

Berendam sambil bermandikan sinar matahari pagi

Di Curug Jodo
   Pindah lokasi berenang, saya mengajak 3 boyz ke kolam yang ada di seberang Curug Jodo dan kolam rendam kaki Kabayan. Di kolam ini airnya lebih tenang. Sebelah atas kolam terdapat banyak pancuran yang menarik karena ditata dengan kendi. Banyak tempat spot foto cantik yang bisa diambil. Tapi, sang model dan fotografernya harus berjuang dulu untuk mencapai tempat tersebut. Saya sengaja tidak mengajak 3 boyz ke bagian atas kolam tersebut karena kelihatannya mereka sudah kelelahan. Saya yang mendampingi mereka juga ikutan capek.
Hati-hati, banyak batu!
   Di kolam ini harus ekstra hati-hati karena banyak batu. Memang batunya tidak tajam. Tapi saya capek juga bawel memperingatkan 3 boyz supaya tidak pecicilan. Takut mereka terpeleset. 
Undakan air terjun
   Sebelum berenang, saya sudah memperingatkan 3 boyz supaya tidak berlama-lama berenang dan berendam di kolam air panas. Semakin lama berendam di air panas yang mengandung belerang ini, badan bisa menjadi lemas karena jantung terpacu lebih cepat. Kolam ini menjadi kolam terakhir untuk 3 boyz bermain sebelum kami pulang. Tidak lama kemudian, mereka mengeluh capek dan agak lemas. Sudah ya, kita pulang sekarang. Dari tadi disuruh udahan pada nggak mau karena asyik bermain air.  

   Bapa pulang lebih dulu sementara saya membawa 3 boyz berganti pakaian di kamar mandi. Pulang jalan kaki lagi? Enggak lah ya. Capek atuh. Bapa sengaja pulang duluan dan naik ojek ke hotel. Selanjutnya kami menunggu di depan gerbang dan menunggu Bapa menjemput dengan mobil. Sampai di hotel, langsung berkemas pulang dan para jagoan ini pun tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dibangunkan untuk shalat jumat di Sadang lalu makan siang di rumah makan sate maranggi dan es kelapa muda Cibungur. 

   Liburan singkat yang menyenangkan. Alhamdulillah, 3 boyz senang. Sepertinya mereka tahu, berangkat liburan adalah sesuatu yang sulit untuk keluarga kami. Semoga tahun depan kita bisa liburan yang lebih seru lagi ya! Insha Allah...

Dd Irsyad dan air terjun mini

>>>> Read More >>>>

Kamis, 05 Januari 2017

Menikmati Keindahan Kawah Ratu di Gunung Tangkuban Perahu


Demi menikmati liburan akhir tahun 2016, Bapa mengambil cuti dua hari kerja pada tanggal 22 dan 23 Desember yang lalu.  Kami menginap di Hotel Resort Lembah Sarimas Ciater. Setelah perjalanan sekitar 4 jam dari Bogor, kami beristirahat sejenak di hotel lalu pergi mencari makan siang di Floating Market Lembang. Kecewa dengan menu yang tersedia dan Dd Irsyad nggak mau makan, maka kami pun tidak menghabiskan waktu lama di tempat wisata yang sedang hits itu. 


  Lanjut cari makan siang (lagi) di tempat tujuan wisata berikutnya: Gunung Tangkuban Perahu. Tempat wisata alam legendaris yang wajib didatangi karena 3 boyz belum pernah diajak ke sini. Suasana alami menyuguhkan pemandangan gunung dan pohon yang menyejukkan mata.

  Lokasi wisata Gunung Tangkuban Perahu terletak di sebelah utara Kota Bandung, tepatnya di daerah Cikole, Lembang. Kompleks wisata ini terletak pada perbatasan Bandung Barat dengan Subang. Jarak dari kota Bandung sekitar 20 km. Godaan banget nih, pengen main ke Bandung sekalian. Sayang, waktu kami terbatas cuma ingin main di seputaran Ciater saja. 

  Gunung Tangkuban Perahu memiliki ketinggian 2084 meter di atas permukaan air laut. Gunung ini menjadi legenda bagi rakyat Jawa barat. Sudah tahu dong, cerita Sangkuriang yang melatar belakangi legenda gunung tangkuban perahu. 

  Kisahnya bermula ketika Sangkuriang ditantang oleh ibunya untuk membuat sebuah perahu lengkap dengan danaunya dalam waktu semalam. Hal itu dilakukan sebagai syarat agar dia bisa menikahi ibunya. Sangkuriang tidak percaya bahwa perempuan cantik nan awet muda yang ditaksirnya adalah ibunya sendiri. Itulah sebabnya Dayang Sumbi membuat persyaratan yang rumit. Ketika usaha Sangkuriang gagal karena kehabisan waktu, dia marah dan menendang perahu besar tersebut hingga terbalik. Perahu yang terbalik ini dalam bahasa Sunda disebut “tangkup”. Oleh karena itu, gunung ini disebut Gunung Tangkuban Perahu.

Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan (sumber:Wikipedia)

  Gunung Tangkuban Perahu termasuk gunung berapi aktif yang telah meletus beberapa kali dan menghasilkan sembilan kawah. Ada kawah Ratu, kawah Upas, kawah Domas dan kawah Jurig yang bisa dinikmati keindahan pemandangannya. Beberapa kawah ditutup untuk umum karena masih ada aktivitas gunung berapi yang membahayakan.  

   Untuk masuk ke tempat wisata ini dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 20.000 per orang pada hari kerja dan Rp. 30.000 per orang pada akhir pekan. Sedangkan mobil dikenakan biaya masuk Rp. 25.000 pada hari kerja dan Rp. 35.000 pada akhir pekan. Lumayan murah, ya. Apalagi Dd Irsyad ternyata nggak dihitung alias gratis, hihi.

Aa Dilshad di depan penjaja souvenir
   Kami mengunjungi kawah Ratu, kawah terbesar di kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu. Akses menuju kawah ini adalah yang paling mudah dan kendaraan bisa diparkir di sekitar kawah. Banyak pedagang makanan dan oleh-oleh khas dijajakan di tempat ini.

Kawah Ratu
   Eh iya, katanya lapar. Makan pop mie aja, deh. Enak banget buat pengisi perut di tengah cuaca yang pegunungan yang sejuk ini. Lihat, Dd Irsyad makan dengan lahap! Untung tadi anteng di Floating Market, jadi lupa dengan rasa laparnya.Saya dan yang lainnya ikut makan juga. Makan siang dengan sate kelinci plus lontong rasanya kurang 'nendang'. Nggak heran kalau kami lapar lagi :D

Makan pop mie dulu. Enakk...
   Cuaca yang sejuk bikin betah untuk berlama-lama menikmati pemandangan indah di seputar kawah Ratu. Banyak tempat yang dijadikan spot foto untuk para pengunjung. Ada yang naik ke gardu pandang atau sekedar memanjat tangga di bukit sekitar kawah. Berikut foto-foto yang sempat saya abadikan.

Naik tangga ke atas bukit
Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan ke arah tempat parkir
   Pagar pembatas terpasang kokoh di sekeliling kawah Ratu. Pengunjung tetap harus berhati-hati melangkah di bukit ini karena pagar pembatas tidak tersedia di sisi yang berbatasan dengan lahan parkir. 

Papan peringatan

Papan peringatan

   Di seberang kawah Ratu, ada gardu pandang. Oke juga mengambil foto dari tempat ini. Gunung Tangkuban Perahu terlihat lebih jelas sebagai latar belakang foto. Seperti pada foto keluarga berikut ini: 

Foto keluarga. Minta difotoin sama orang lewat :D
Sisi pegunungan yang lain
Situasi tempat parkir dilihat dari gardu pandang
   Nyesel banget tongsis plus tripod pesanan saya baru sampai ketika saya pulang. Maunya dibawa pas jalan-jalan. Duh, kayaknya bakal keren banget bisa foto pemandangan pake tongsis. Plus ada tripod, dijamin nggak perlu repot minta tolong orang lewat buat foto sekeluarga. Well, next trip pasti tongsis dan tripodnya pasti dibawa :)

Welfieee :D
Selfie olangan :D
   Sayang, kami tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama ada di tempat ini. Sudah lumayan capek, pengen istirahat di hotel. Kenyataannya sih, nggak bisa istirahat juga karena 3 boyz malah pengen berenang, hehe. Apalagi nanti malam kami punya rencana untuk makan malam di Lembang.

   Banyak alternatif wisata yang bisa dilakukan di sekitar Gunung Tangkuban Perahu, sila browsing ya. Kalau di sekitar kawah Ratu sih bisa naik kuda atau nongkong sambil ngemil seperti yang kami lakukan. 

Kawah Ratu
Tempat parkir mobil
Kawah Ratu dari atas bukit
   Buat saya dan suami, teuteup wisata alam dan wisata 'jadul' seperti inilah yang wajib dikenalkan pada anak-anak. Biar mereka tahu keindahan alam negerinya dan menambah rasa cinta pada tanah air.

   Mengunjungi wisata kekinian jadi agenda ke sekian aja deh. Sayang kan, sudah jauh-jauh menempuh perjalanan tapi kecewa karena ternyata wisata kekinian tersebut tidak sesuai harapan atau bahkan tidak cocok untuk kami sekeluarga. Meski agak kecewa dengan tempat wisata sebelumnya, saya nggak nyesel kok. Pergi ke mana saja asal bersama keluarga tercinta sudah cukup membahagiakan buat saya.

Have fun!

>>>> Read More >>>>

Selasa, 27 Desember 2016

Makan Malam di RM Ayam Goreng Brebes Lembang


Lanjutan cerita liburan akhir tahun...

Rasa lapar mulai melanda. Sudah waktunya kami mencari makan malam setelah jalan-jalan seharian. Berangkat pagi dari Bogor, makan siang di Floating Market, jalan-jalan ke Tangkuban Parahu, dan berenang sore di Hotel Resort Lembah Sarimas (tempat kami menginap). Saat berwisata seperti ini, jangan lewatkan tempat makan yang terkenal di sekitar kita, ya. Kalau nggak ketemu, makan apa aja juga enak sih. Lapar soalnya.

   Untuk makan malam, kami putuskan pergi ke Rumah Makan Ayam Goreng Brebes yang ada di Lembang. Kenapa RM Ayam Goreng Brebes? Karena tempat ini sudah ada sejak jaman saya masih kuliah dulu. Yeah, saya dan Bapa lebih suka wisata jadul daripada yang kekinian. Sekalian nostalgia gitu, ehm. 

  Menurut pendapat saya pribadi, tempat wisata kekinian itu memang keren banget karena dirancang khusus untuk menjadi spot foto yang menarik. Tapi belum cocok dengan kita, terurama untuk saya yang sudah 'berumur' ini. Sama seperti wisata kuliner kekinian. Penampilan makanan boleh ngehits dan cantik jelita saat difoto. Tapi soal rasa mungkin biasa saja. Jadi, saya teuteup lebih suka tempat wisata dan wisata kuliner jadul. Rasanya pas untuk selera saya yang jadul.


  Wisata jadul punya sejarah tersendiri dan bahkan sudah menjadi legenda secara turun temurun. Saat mengunjungi tempat wisata yang sudah melegenda, saya dan Bapa akan bercerita pada 3 boyz bahwa kami pernah ke tempat ini. Lalu kami gambarkan situasi tempat tersebut seperti apa puluhan tahun yang lalu (omaigat, puluhan? Udah tua yah). 

   Balik lagi ke wisata kuliner jadul. Sudah sampai nih di RM Ayam Goreng Brebes. Tempatnya masih di dekat sudut jalan dekat tikungan. Tepatnya di Jl. Raya Lembang No. 272. Parkir mobil agak sulit, jadi kami parkir agak jauh dari rumah makan. Jalan kaki sedikit di tengah udara malam di Lembang yang agak dingin. Hmm, jaman dulu perasaan hawanya lebih dingin sampai pake jaket segala. Efek pemanasan global membuat hawa di kota Lembang sudah tidak sedingin dulu lagi.

   Masuk ke RM Ayam Goreng Brebes, tempatnya terlihat lebih rapi dengan deretan meja panjang. Kami duduk dan langsung memesan makanan. Saat menunggu pesanan, kami disuguhkan makanan dari tenant yang ada di rumah makan ini. Ada otak-otak dan keju goreng. Maunya sih nolak. Apa daya boyz kelaparan dan mencomot otak-otak. Tinggal udahannya nanti lumayan kaget dengan tagihan harganya, haha. Jadi kalau nggak mau kaget seperti saya, tolak saja makanan yang tidak dipesan itu ya.


Keju goreng yang agak alot


Otak-otak yang rasanya standar


   Akhirnya... pesanan kami datang! Kami pesan ayam goreng lima potong untuk berlima. Nggak nyobain ayam bakar? Nggak ah, lagi pengen ayam goreng. Ayam goreng kampung ini rasanya enak dan gurih. Kalau kata Upin Ipin, "Sedapnyeee ayam goreeengg!"

   Pelengkap ayam goreng cukup tahu goreng dua biji dan pete goreng. Tidak ketinggalan sambal dan lalapan. Eh pakai nasi tentu saja. Terus, nggak pesen menu lainnya? Ada karedok, sayur asem, soto, sate, dan lain-lain. Tidak, cukup segini aja. Lagi menghemat, haha.


Ayam goreng, tahu goreng, pete goreng, plus sambal lalap


Ayam goreng
Lalap daun selada, timun, dan daun kemangi

   Kami pesan minuman susu murni. Rasa moka buat Kk Rasyad. Rasa coklat buat saya dan Aa Dilshad. Dan rasa stroberi buat Dd Irsyad. Tapi yang sempat difoto cuma tiga gelas saja. Kk Rasyad duduk agak jauh dan saya malas meminjam gelasnya untuk difoto. Keburu laper... 
Susu murni rasa coklat dan stroberi
  Pelayanan di rumah makan ini cukup cepat. Lumayan GPL, nggak pake lama. Rasanya juga masih sama seperti dulu. Paling seneng deh kalau ada tempat makan yang tetap mempertahankan cita rasa masakannya dari dulu sampai saat ini. Konsisten enaknya. 

  Buat makan berlima kami membayar sekitar Rp. 178.000. Yah lumayan, worth it lah. Rinciannya sebagai berikut: 

  • 5 ayam goreng Rp. 75.000
  • 1 pete goreng Rp. 13.000
  • 2 tahu goreng Rp. 4.000
  • 4 porsi nasi Rp. 24.000
  • Lalap sambal Rp. 3.000
  • 1 Aqua botol Rp. 5.000
  • 4 susu murni Rp. 52.000
  • Pajak Rp. 2.000
  Saya juga membayar terpisah dua menu di luar pesanan yang disuguhkan pada saat kami baru datang, yaitu keju goreng dan otak-otak bakar. Mamang yang menagih menghitung jumlah makanan yang sudah kami habiskan. Dua keju goreng dan sepuluh otak-otak dibayar seharga Rp.46.000. Hmm... lumayan mahal. Mending buat beli ayam goreng lagi deh.

Pajangan ayam yang digantung
RM Ayam Goreng Brebes (model: Aa Dilshad)

   Okede... sudah waktunya kembali ke hotel dan beristirahat. Perut kenyang hati senang. Alhamdulillah. Tunggu lanjutan cerita jalan-jalan di postingan berikutnya yaa...

>>>> Read More >>>>