Selasa, 24 Mei 2016

7 Santapan Khas Cirebon yang Maknyus dan Aman di Kantong



Banyak kota di Indonesia yang mempunya bangunan bersejarah dan menjadi daya tarik wisata. Suasana penuh kesan bisa menginspirasi untuk menghasilkan sebuah karya seni. Contohnya, suasana di stasiun Balapan Solo menginspirasi penyanyi Didi Kempot untuk menciptakan sebuah lagu. Lagu Stasiun Balapan Solo menjadi populer dan liriknya yang romantis langsung akrab  di telinga sebagian masyarakat Jawa. Tidak kalah dengan kota Solo, kota Cirebon juga punya stasiun yang tak kalah megah, yaitu Stasiun Kejaksaan. 


Stasiun Kejaksaan Cirebon (sumber: Terry Endropoetro)
  Memulai perjalanan dengan naik kereta, kita akan turun di Stasiun Kejaksaan Cirebon. Stasiun ini dirancang oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen, arsitek dari Belanda sekitar satu abad yang lalu. Bangunan ini masih berdiri kokoh dan dalam kondisi baik. Dari stasiun kita bisa menemukan beberapa hotel dan penginapan untuk beristirahat sejenak setelah perjalanan dengan kereta. 

  Untuk mencari hotel tempat menginap di sekitar lokasi, coba cek di promo hotel yang ada di Cirebon. Selain akan mempermudah dalam melakukan pencarian, anda juga bisa langsung melakukan pemesanan hotel di situs yang dikunjungi.

  Setelah kedatangan kita disambut oleh Stasiun Kejaksaan yang besejarah, kita akan bersiap mengukir kenangan tak terlupakan lewat santapan khas Cirebonan yang maknyus. Kurang lengkap rasanya jika berwisata di suatu kota tanpa mencicipi kuliner khas daerah yang kita kunjungi, ya nggak? Dijamin langsung jatuh hati deh dengan aneka kuliner khas Cirebon yang populer.  Ternyata, ada banyak makanan enak dengan harga terjangkau di kota Cirebon. Berikut ini adalah beberapa makanan khas Cirebon yang maknyus, paling populer, tidak mahal, dan banyak dicari para pelancong dan wisatawan lokal maupun manca negara:

1. Nasi Jamblang

Nasi Jamblang adalah makanan khas dari Jamblang, nama daerah di sebelahbarat Kota Cirebon. Nasi ini sebelumnya menggunakan daun jati sebagai pembungkusnya namun saat ini daun jati hanya digunakan untuk alas nasi.

Nasi jamblang (sumber: Flickr)
Ada beragam lauk yang bisa ditambahkan dengan nasi, yaitu sayur, tempe, tahu, sambal goreng, dan ikan asin. Lauk lainnya ada ayam goreng, aneka sate, telur, limpa sapi atau olahan sea food (seperti cumi dan udang) Sudah tahu dong, Cirebon dikenal sebagai kota udang, jadi ada banyak sekali jenis menu udang yang ditawarkan. Pengunjung bebas memilih lauk yang akan disanta. Tapi ingat, semakin banyak pilihan menu lauknya maka semakin mahal harganya, ya.

Saat ini ada banyak warung yang menyediakan menu nasi jamblang, hampir setiap warung nasi jamblang ramai pengunjungnya. ,Tidak heran, menu yang satu ini sudah habis terjual sebelum jam 7 malam. Harganya pun cukup bersahabat, rata-rata tak lebih dari Rp 20.000 saja. 

Nasi jamblang yang cukup terkenal adalah Nasi Jamblang Ibu Nur yang berlokasi di Jalan Cangkring II No. 34 dan Nasi Jamblang Mang Dul yang berlokasi di sekitar Grage Mall, Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo. Lokasi tersebut sangat mudah dijangkau dari kawasan perumahan atau hotel tempat kita menginap. Kita bisa sekalian mampir untuk sarapan sebelum jalan-jalan berkeliling kota Cirebon.

2. Nasi Lengko

Nasi lengko cocok untuk wisatawan yang suka sayuran. Kuliner ini dapat ditemukan dengan mudah karena hampir semua kawasan di Cirebon banyak terdapat penjual nasi lengko. Isian nasi lengko tidak jauh berbeda dengan nasi jamblang, hanya saja nasi ini diberi taburan bawang goreng dan disiram dengan bumbu kacang. Selain itu bisa juga ditambahkan dengan kecap jika anda suka dengan rasa manis. 


Nasi lengko (sumber: Wikipedia)

Tak perlu khawatir soal harga, rata-rata harga nasi lengko sekitar Rp8.000 sampaiRp15.000.Nasi lengko bisa ditemukan di jalanPagongan Cirebon dan banyak yang tersebar di jalan-jalan utama kota Cirebon.

3. Empal Gentong

Empal gentong ini tidak jauh berbeda dengan gulai daging sapi lainnya. Tetapi ada cita rasa istimewa yang didapat saat proses memasaknya yang menggunakan sebuah gentong atau periuk yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dimasak dengan kayu bakar atau bisa juga di atas kompor biasa. Proses ini menjadikan tekstur daging yang sangat lembut. Kuah empal gentong terasa gurih dan manis yang didapat dari campuran rempah sebagai bumbunya.


Empal gentong (sumber: Ala Restoran)
Sebagai tambahan saat menikmati empal gentong, kita bisa memilih variasi toppingnya seperti kerupuk,sambal kering dan kacang. Selain empal gentong, ada juga empal asam. Perbedaan keduanya adalah pada kuahnya. Kuah empal asam berwarna bening dan cita rasa asam didapat dari rebusan belimbing wuluh dan asam jawa tanpa tambahan santan dan kayu manis. 

Harga yang ditawarkan juga sangat bersahabat dan variatif yaitu Rp 20.000 sampai Rp35.000 per porsi. Empal gentong bisa ditemukan di berbagai penjuru di kota Cirebon. Yang terkenal ada di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo atau di Jl. Raya Ir.H. Djuanda yang dikenal dengan Empal Gentong H. Aput atau R.M Empal Gentong Hj. Dian. Lokasi ini cukup strategis karena dekat dengan jalan tol.

4. Tahu Gejrot

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sangat akrab dengan tahu gejrot bahkan kita bisa menemukannya di kota besa seperti Jakarta dan Bandung. Makanan ini berisi potongan tahu yang diberi bumbu dengan bahan dasar bawang merah, bawang putih, cabai, dan gula merah. Selain enak karena rasanya yang asam sekaligus pedas, harganya juga sangat ramah, yaitu berkisar dari Rp.6.000 sampai dengan Rp8.000 per porsi. 


Tahu gejrot (sumber: Wikipedia)

5. Docang

Makanan ini tak kalah uniknya dengan yang lain.Kata docang berasal dari bahasa Cirebon yang merupakan singkatan dari bodo (baceman) yang berasal dari oncom dage ditambah kacang hijau yang dijadikan tauge. Docang berisi irisan lontong, daun singkong, tauge dan kelapa parut kemudian disiram dengan kuah yang dicampur dengan oncom dan tambahan kerupuk di atasnya. 


Docang (sumber: Wikipedia) 

Makanan ini cocok untuk santapan pagi hari atau sarapan.Penjual Docang bisa ditemui di Jl. Siliwangi, pusat Kota Cirebon dan lokasinya dekat dengan stasiun Kejaksaan. Rasanya yang maknyus dan mengenyangkan, kita cukup sediakan uang Rp 6.000 sampai Rp 8.000 saja untuk satu porsinya. 

6. Sate Kalong 

Hampir seluruh wilayah di Indonesia menyajikan jenis makanan berupa sate. Namun, hal menarik dari sate asal Cirebon berasal dari rasanya yang khas. Meskipun namanya adalah sate kalong, bukan berarti berbahan dasar daging kalong, melainkan daging kerbau. Disebut demikian karena ternyata sate ini hanya dijajakan di saat malam hari saja sehingga sangat cocok untuk wisata kuliner malam. 


Sate kalong (sumber: Kuliner di Cirebon)

Sate kalong populer karena bumbunya yang gurih dan manis. Rasa ini diperoleh dari rempah-rempah dan gula yang dilumurkan ke potongan daging sebelum dibakar. Sate disajikan dengan bumbu kacang. Boleh juga dicampur dengan oncom plus kuah kaldunya. Terdapat pilihan rasa asin untuk sate jika kita tidak terlalu menyukai rasa manis. Harganya masih terjangkau, yaitu sekitar Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per porsinya. Penjual sate kalong banyak ditemui di sekitar stasiun Kejaksaan, Jl. Cipto Mangunkusumo, dan masih banyak lagi.

7. Mie Koclok

Bahan utama makanan ini adalah mie yang ditambahkan dengan telur rebus, suwiran daging ayam, sayuran tauge, kol, dan daun bawang. Mie kemudian disiram dengan kuah gurih berwarna putih dan kental. Aromanya sangat menggoda. 


Mie koclok (sumber: Cirebon kuliner)

Tidak seperti menu khas Cirebon lainnya, mie ini masih jarang ditemui dan hanya tersedia di Cirebon. Jadi jangan lewatkan untuk mencicipi menu kuliner yang unik ini. Harganya variatif dari Rp 12.000 sampaiRp 15.000 saja.

  Nah, gimana? Enak semua, kan? Yuk, berkunjung ke kota Cirebon. Jalan-jalan sambil berwisata kuliner yang maknyus dan aman di kantong ^_^
>>>> Read More >>>>

Senin, 23 Mei 2016

Nonton Angry Birds di Bioskop



Hari Minggu tanggal 22 Mei kemarin, Kk Rasyad tepat berusia 9 tahun. Selamat ulang tahun, Kk Rasyad! Semoga menjadi anak pintar yang soleh, aamiin. Ulang tahun mau ngapain? Ternyata, Kk Rasyad punya permintaan pengen nonton film Angry Birds di bioskop! Oke, nak. Kita nonton film.

  Rencananya kami akan nonton film setelah makan siang bareng Aa Dilshad di pesantren. Kebetulan Aa sedang tidak diijinkan keluar dari pesantren karena sedang ulangan. Jadi, acara makan-makan di luar batal. Tidak menyerah. kita bawakan saja Aa makanan dari luar dan dimakan bersama di pesantren seperti biasa (jika kami sedang ingin makan bareng di pesantren). Beli makan apa ya? Kk Rasyad mau makan apa?  Cari yang enak... hmm, kita makan Hoka hoka bento aja, ya! Asyik!

 Kami makan siang di ruang kelas di gedung baru. Kebetulan ada karpet kecil yang terbentang di tengah kelas. Lumayan, kita bisa makan lesehan dengan nyaman. Selamat makan...

Makan siang ulang tahun Kk Rasyad di pesantren
   Selesai makan siang, kami langsung ke mushola untuk shalat dhuhur berjamaah. Setelah itu, kami berlima mengobrol sebelum meninggalkan Aa Dilshad di pesantren dan pergi ke bioskop. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum film dimulai. Kami turun ke hypermarket sebentar untuk membeli susu. Lalu naik lagi dan masuk ke studio 2 yang memutar film Angry Birds.


Foto bareng sebelum masuk bioskop

   Sebenarnya, saya ragu mengajak Dd Iryad ikut nonton. Ingat kejadian menonton film tiga dimensi waktu piknik sekolah TK ke Gelanggang Samudra tempo hari. Dd menangis ketakutan dan minta keluar sebelum film pendek yang diputar selesai. 

Baca: Piknik Sekolah ke Gelanggang Samudra Ancol

  "Dd beneran mau ikut nonton? Nanti takut nggak? Nangis lagi nggak? Di bioskop lampunya gelap dan suaranya kenceng. Nanti Dd takut terus minta keluar? Bener berani? Jangan takut, ya. Ada Ibu sama Kk." beneran Dd Irsyad keukeuh pengen ikut nonton meski sudah saya ingatkan.

Selfie bareng sebelum film dimulai
  Awalnya sih, Dd masih anteng. Sebelum film dimulai memang agak ketakutan dengan menempel dan memegang erat tangan saya. Setengah jam pertama, masih aman. Saya selalu menceritakan kembali adegan-adegan di film. Iya, Dd kan belum bisa membaca teks terjemahan. Jadi, saya yang bercerita sambil menonton bareng. 

  Sayang, rupanya Dd mulai bosan. Mungkin karena banyak adegan berdialog dan adegan perang belum dimulai. Dd mulai merengek minta keluar dan menangis! Saya tanya alasannya kenapa pengen keluar, Dd bilang kedinginan. Langsung saja saya ambil bawahan mukena yang ada di tas untuk dijadikan selimut. Dd pun terlihat tenang kembali. 

  Tapi tidak lama kemudian, Dd mulai menangis minta keluar. Langsung saya saya telpon Bapa yang tidak ikut menonton. Ternyata, Bapa sedang ada di mesjid dan teleponnya tidak diangkat. Saya bujuk Dd Irsyad untuk bersabar. Belasan menit kemudian, Bapa menelpon. Saya katakan Dd minta dijemput. Bapa pun bergegas ke depan pintu bioskop.

    Saya pun segera mengantar Dd Irsyad keluar bioskop untuk menemui Bapa. Pas kebetulan di layar sedang ditayangkan adegan lucu Red dan teman-temannya yang terkejut setelah mengetahui apa isi danau kebijaksanaan tempat mereka berenang dan bercengkrama. Hahaha! Apa itu? Tonton sendiri ya!

Bermain air di danau kebijaksanaan
    Saya pun segera kembali lagi ke bioskop. Masa ninggalin Kk Rasyad nonton sendirian? Cerita yang terpotong tidak terlalu mengganggu buat saya. Saya dan Kk Rasyad menikmati film ini sampai akhir. Kami berdua menyukai jalan ceritanya yang seru dan menghibur. Syukurlah, Ibu senang kalau Kk Rasyad suka dengan hadiah ulang tahunnya ini.

   Film Angry Birds ini cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Selain sudah tidak asing lagi dengan game permainan Angry birds di smartphone, tokoh-tokohnya juga lucu dan menghibur. Red sebagai pemeran utama sukses bikin kita gemes dan ikut marah kepada para babi yang mencuri telur-telur di bird island. Buat pencinta game angry bird pasti sudah tahu kelebihan apa saja yang dimiliki oleh teman-teman Red. Misalnya si Bomb yang beneran bisa jadi bom. Ceritanya gimana? Wah pokoknya seru deh! Saya dan Kk Rasyad nanti mau cari vcd-nya biar bisa nonton di rumah sepuas hati ^_^

(foto: Facebook Fanspage Angry Birds Movie)
>>>> Read More >>>>

Kamis, 19 Mei 2016

Nasi Liwet Enak di Asep Stroberi Garut

asep stroberi


 Liburan awal tahun kemarin, kami mampir di Restoran Liwet Pak Asep Stroberi Garut. Namanya unik, ya! Apakah karena banyak stroberinya? Ternyata, Asep adalah nama pemiliknya. Kemudian diberi tambahan nama stroberi karena Pak Asep punya cerita kenangan memasak nasi liwet yang nikmat di sebuah perkebunan stroberi. Nasi liwet? Iya, sajian andalan restoran khas Sunda ini adalah nasi liwet. Restoran Liwet Pak Asep Stroberi (Asstro) ini sudah terkenal dan memiliki delapan cabang di sekitar Garut, lho! Cabang yang saya kunjungi adalah di Tarogong, tepat di pertigaan menuju tempat wisata Cipanas Garut. 

  Oia, mohon maaf postingan ini terlambat dipublish karena tertunda dan kemudian saya lupa. Cerita makan-makan kali ini merupakan sambungan dari jalan-jalan ke Garut yaitu di postingan Liburan Singkat ke Garut dan Sabda Alam Garut. Nggak lengkap rasanya kalau jalan-jalan tanpa wisata kuliner, ya nggak?

  Lho, kenapa nggak langsung diposting? Saya nggak pede. Soalnya foto-fotonya kurang bagus. Kami mendapat tempat duduk di dalam ruangan dengan suasana remang-remang. Padahal sebetulnya cuaca di luar sedang terik dan panas. Maunya saya sih tempat makannya cukup terang. Kalau gelap begini, saya jadi males motret. Makanya Makk, beli kamera canggih dong! Ogah ah, belum perlu banget :)

  Berhubung saya tidak bisa memotret suasana rumah makan yang ramai pada jam makan siang tersebut, langsung saja kita bahas menu makanannya, ya. Pesan apa, nih? Tentu saja kami pesan yang paling spesial dan menjadi andalan RM Asep Stroberi, yaitu nasi liwet! Kami pesan dua macam paket dan tambahan ikan nila bakar.

   Sambil menunggu makanan datang, kami shalat dhuhur di mushola yang mungil dan cukup nyaman. Saat padat pengunjung begini, harus sabar menanti giliran shalat karena tempatnya kurang luas. Usai shalat, ternyata makanan belum datang juga. Minuman yang disuguhkan hampir habis karena boyz yang kehausan dan menahan lapar. Untung ada minuman teh tawar hangat di teko yang bisa ditambah jika habis. 

Teko minuman teh

   Sebagai penunda lapar, otak-otak ikan tenggiri yang hadir lebih dulu di maja makan langsung habis dalam sekejap! Rasa otak-otaknya standar saja menurut saya. Jadi luar biasa enak karena lapar. Maklum, kita semua kan habis berenang plus panas-panasan pula di Cipanas. 

Otak-otak ikan tenggiri

    Akhirnya... makanan pesanan datang! Serbuu!!! Langsung saja kami bergerak cepat untuk menikmati paket nasi liwet ayam bakar, paket nasi liwet ayam goreng, dan ikan nila bakar yang sudah lama ditunggu. 

Menu paket nasi liwet

  Setiap paket nasi liwet terdiri dari: nasi liwet dalam wadah panci yang unik, tahu goreng, tempe mendoan, lalap, sambal, ikan peda goreng, dan tambahan lauk sesuai selera. Nasi liwetnya enak dan gurih! Saya suka bagian nasi yang gosong pada pant*t panci, enak! Hmm, bagian yang tutung memang lebih nikmat. Beneran!

Paket nasi liwet ayam bakar

Paket nasi liwet ayam goreng

Ikan nila bakar
   Hidangan di meja makan langsung ludes dalam waktu singkat! Maklum, kami semua sudah kelaparan. Nggak ada waktu buat menata cantik makanan sebelum difoto. Saya jadi memotret asal-asalan karena berhadapan dengan mulut-mulut lapar yang sudah tidak sabar (termasuk saya). 

    Gimana kalau nggak suka nasi liwet? Bisa pesan makanan lain kok. Ada beragam menu yang ditawarkan di Restoran Asstro. Bisa pilih masakan seafood seperti olahan udang, cumi, dan ikan. Selain banyak disajikan menu masakan Sunda, tempat makan ini juga menawarkan cemilan ringan seperti pisang keju, sosis goreng, bala-bala, dan kentang goreng. Atau pengen makan yang berkuah? Ada sop buntut, sayur asem, sop iga, dan capcay. Berikut sebagian menu di Restoran Asstro:

Sebagian menu makanan
  Minuman yang disajikan juga banyak pililhan. Jus stroberi sudah pasti jadi pilihan kami. Saya memesan dua gelas jus stroberi mini untuk 2 boyz. Eh, beneran mini karena disajikan dalam gelas kecil. Kurang banyak ya. Seharusnya saya pesan minuman lagi. Tapi saya khawatir nanti minuman datangnya kelamaan. Ya sudah, nikmati saja yang ada. 


Jus stroberi dalam gelas kecil

  Minuman selain juice buah-buahan, ada minuman panas seperti tah, kopi, susu, bandrek, bajugur, dan sekoteng. Ada juga minuman sehat, lho! Ada jus hijau daun (sawi, melon, lemon, dan timun), dan kelinci lumpat (wortel, mangga, seledri). Hihi, namanya lucu ya!

Aneka minuman

   Alhamdulillah, rasa lapar kami hilang dan perut jadi kenyang. Tempat makan ini recomended banget buat yang sedang berwisata di seputar wilayah Garut. Kalau tidak salah, ada cabang Restroran Asep Stoberi yang dilengkapi dengan tempat wisata yang menarik. Saya lupa cabang yang mana. 

   Mau mampir dan mencicipi nasi liwet Restoran Asep Stroberi? Nih ada alamat beberapa gerai gerai Restoran Liwet Pak Asep Stroberi (Asstro):
  1. Asstro Nagreg: Jl. Raya Nagreg No. 145 Nagreg
  2. Asstro Kadungora: Jl. Raya Kadungora No. 245 Leles, Garut
  3. Asstro Cimaragas : Jl. Raya Cimaragas No. 45 Garut
  4. Asstro Tarogong : Jl. Raya Otista No. 320 Tarogong Garut
  5. Asstro Ciawi : Jl. Raya Ciawi No. 5 Tasikmalaya
  6. Asstro Tasik : Jl. R. Ikik Wiradikarta No.9 Kalektoran Kota Tasikmalaya
  7. Asstro  Alun-Alun: Jl. Ahmad Yani No.3 Garut Kota
  8. Asstro Singaparna: Jl.Raya Garut Cintawana Kecamatan Singaparna Tasikmalaya
Selamat berwisata kuliner ^_^
>>>> Read More >>>>

Selasa, 10 Mei 2016

This Used To Be My Playground

this used to be my playground

Halo semua! Maaf ya, lama tidak ada update blog. Sebenarnya, draft postingan sudah mengantri di kepala. Apa daya selalu ada kendala untuk bisa menulis dengan tenang. Late post kali ini saya mau cerita tentang tempat bermain saya sewaktu masih anak-anak. Tempat di mana saya mengabiskan lima belas tahun pertama dalam hidup. Tempat saya dibesarkan dan menghabiskan masa kecil dulu. Yes, this used to be my playground. Mau tahu lokasinya?

  Dulu, saya dan orangtua beserta kakak dan adik tinggal di sebuah kota kecil yang baru terkenal sejak ada jalan tol. Tepatnya di Kecamatan Cikampek Kabupaten Karawang Propinsi Jawa Barat. Lebih spesifik lagi yaitu di kawasan industri PT Pupuk Kujang Cikampek. Selengkapnya tentang PT Pupuk Kujang Cikampek bisa dibaca di www.pupuk-kujang.co.id. 

 Masuk ke kawasan yang terdiri dari beberapa pabrik, perkantoran, rumah sakit, perumahan, sekolah, lapangan golf, lapangan bola, dan kolam renang ini tidak bisa sembarangan. Masih seperti dulu, tamu atau pendatang wajib lapor pada satpam di depan pintu gerbang kawasan dan meninggalkan KTP atau SIM. Khusus untuk warga dan karyawan yang bekerja tentu saja bisa masuk karena sudah dikenali oleh satpam penjaga. Saya pun dulu bisa bebas keluar masuk dengan absen tampang doang, hehe.

   Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki ke tempat ini. Tepatnya, sejak saya menikah lalu pindah ke Semarang dan Aki (ayah saya) pensiun. Penasaran banget, seperti apa suasana komplek Pupuk Kujang (selanjutnya saya sebut komplek) setelah empat belas tahun. Empat belas tahun saya menunggu kamu...eh salah adegan, itu mah AADC2 yak.

   Sebenarnya bisa aja saya kukurilingan bernostalgia ke dalam komplek waktu acara reuni teman-teman SMP tahun kemarin. Sayang, rombongan dari Bandung sudah ngider duluan begitu tiba di Cikampek. Yah, nggak kompak. Padahal saya pengen banget memamerkan tempat masa kecil saya pada 3 boyz. Apa daya hasrat terpaksa ditunda. 


   Akhirnya, tiba juga saat yang dinantikan. Ketika menjenguk Aki di Cikampek pada tanggal 14 Oktober 2015, saya ngebet ngajak masuk ke komplek. Tanda pengenalnya? Nggak perlu nitipin KTP seperti pengunjung lainnya. Cukup bawa Aki saja para satpam pasti langsung membuka pintu begitu melihat beliau. Kalau nggak sama Aki, memang wajah saya tidak dikenali? Ya enggak lah. Pan satpamnya juga udah ganti. Mana kenal sama wajah saya. Kecuali kalau saya itu artis *uhuk*

   Di komplek Pupuk Kujang, karyawan diberi tempat tinggal sesuai dengan tingkat jabatannya. Keluarga saya menempati tiga rumah yang berbeda. Pertama di blok D, kedua di blok C, lalu terakhir di blok B. Tempat pertama yang kami datangi adalah rumah ketiga yang beralamat di blok B nomor 10. Rumah itu sekarang jadi begini...

Rumah No. B-10

    Bentuk rumah tetap sama seperti dulu. Sedikit terlihat gersang karena pohon mangga di halaman rumah sudah dipangkas. Pada halaman belakang juga tidak banyak aneka tanaman berwarna-warni. Mungkin pemiliknya tidak terlalu menyukai tanaman seperti orang tua saya. Dulu, di rumah saya pasti ada aneka bunga berwarna-warni. Setiap sore selalu disiram dan ada tukang kebun khusus yang merapikan taman secara berkala, 

   Saya memang tidak terlalu lama tinggal di rumah No. B-10 ini. Kalau tidak salah, cuma semasa SMP saja. Kemudian saya tinggal bersama Almarhum Embah (nenek saya) untuk melanjutkan SMA di Jakarta. Lulus SMA, saya kuliah dan tinggal di Bandung. Rumah B-10 jadi tempat pulang kalau saya sedang liburan atau pas lagi nggak punya duit, hehe.

   Oia, semua rumah di komplek memang tidak memiliki pagar. Cukup pagar tanaman saja. Insya Allah aman karena selalu ada satpam yang berpatroli. Lingkungan tertutup ini juga tidak sembarangan mengijinkan pedagang keliling berjualan. Jaman saya dulu cuma ada dua mamang bakso, satu mamang mie ayam, dan satu mamang bala-bala. Lainnya ada mamang bubur lemu, terus apa lagi ya.... lupa. Para mamang tersebut ada yang sudah almarhum dan ada juga yang makin sukses dengan jualannya dengan membuka tempat makan sendiri. Hebat ya!  

   Lanjut jalan lagi, yuk! Tujuan berikutnya ke blok C. Mau lihat rumah paling berkesan dalam hidup saya, yaitu rumah nomor C-62. Di rumah inilah masa kecil saya tersimpan. Saya pindah ke rumah ini kalau tidak salah waktu masih TK. Saya bahkan ingat momen pindahan dari rumah sebelumnya dengan mobil bak terbuka. Ini adalah rumah kedua di komplek. Rumah pertama tidak sempat saya foto karena sibuk makan di tempat jajan, hehe.
Rumah No.C-62

   Rumah C-62 terletak paling ujung dari kawasan perumahan blok type C. Jalan paling jauh dan harus melewati turunan yang cukup curam. Turunan ini lumayan bikin bete almarhum Mang Uci, mamang penjual bala-bala, untuk turun ke bawah saat saya panggil. Turunan ini juga kerap memakan korban anak-anak yang bersepeda (termasuk saya). Kalau terlambat berbelok setelah turunan, dijamin nyungsep di got atau justru bablas jatuh ke rerumputan di ujung jalan. 

    Di belakang rumah adalah hutan jati. Sesekali ada penduduk setempat yang numpang lewat karena dari hutan tersebut bisa tembus ke perkampungan (yang sekarang lokasinya ada di seberang jalan tol). Dulu juga masih banyak penduduk yang mencari kayu bakar di hutan dan menggembala sapi atau kambingnya di rerumputan di bawah pohon jati. 

   Tinggal di rumah dekat hutan, jangan tanya berbagai macam hewan yang kerap mampir ke rumah saya. Keluarga saya sudah sering didatangi ular. Bahkan saya punya kenangan saling berpandangan dengan seekor ular dari balik jendela. Takut? Nggak juga. Mungkin karena sudah biasa bertemu ular beneran, ular lewat, ular mati, selongsong kulit ular... jadi saya malah nggak parno-parno amat sama yang namanya ular.

   Main di hutan juga jadi kegemaran saya. Pikir-pikir, bahaya juga ya anak kecil main sendirian ke hutan. Kalau ada orang jahat atau binatang buas bagaimana? Tentang binatang buas, kapan-kapan saya ceritain tentang suara harimau yang saya dengar saat main ke hutan berdua dengan teman. Yah begitulah. Kata orangtua jaman dulu, anak kecil itu selalu ada 'pelindungnya' agar terhindar dari bahaya disekitarnya. Jadi, saya tidak mengalami musibah saat bermain di hutan waktu itu karena masih dilindungi oleh Allah SWT. Alhamdulillah...

   Selain main di hutan, ada lagi permainan yang mengundang bahaya yang saya dan teman-teman lakukan dulu. Apa itu? Naik menara mesjid! Kok bisa? Jadi begini ceritanya. Suatu hari saya yang suka iseng kukurilingan ini melihat pintu menara mesjid tidak terkunci. Iseng masuk, saya tidak berani memanjat tangga menara sendirian. 

  Keesokan harinya, saya mengajak sahabat saya, Novi, untuk naik menara bareng. Saya pikir, kalau berdua pasti kita bisa saling menolong. Jika  terjadi sesuatu, salah satu dari kami bisa segera pergi meminta pertolongan. Novi adalah teman satu geng pemanjat pohon kersen. Jadi, soal memanjat, kami sudah jago lah yaw. Sekali-kali mau mencoba memanjat selain pohon. Manjat genteng sudah. Manjat menara? Ayo, pasti bisa! 

   Untunglah tidak terjadi apa-apa saat kami berdua memanjat tangga menara untuk pertama kalinya tersebut. Perjuangan naik ke atas menara ini tidak mudah, lho! Menara ini (mungkin) tingginya sekitar 20 meter. Ada tangga besi yang tertanam di sisi tembok menara. Terdiri dari empat lantai. Setiap berpindah lantai, posisi tangga juga berubah pada dinding sebaliknya. Maksudnya begini, jika di lantai satu posisi tangga ada di tembok sebelah kanan, maka di lantai dua posisi tangga ada di sebelah kiri, dan seterusnya. Menurut saya sih, posisi yang bergantian itu untuk mencagah jika terjadi kecelakaan (jatuh dari tangga), ada lantai penyangga untuk keamanan. Hii, jangan sampe deh...
Menara mesjid 


   Menara ini terlatak di halaman mesjid Nahrul Hayat yang berada di tengah komplek. Mesjid ini menjadi tempat saya dan Bapa menikah. Tempat shalat di mesjid ini sekarang sudah pakai AC lho! Wah, adem bener! Boyz sempat gugulingan di karpetnya yang empuk sambil beristirahat. Beberapa perubahan tentu saja ada. Namun bentuk bangunan tetap seperti dulu. Tanpa kubah. Ya, mesjid ini memang tidak mempunyai kubah. 

   Menara mesjid berfungsi untuk menaruh speaker di tempat yang lebih tinggi. Kalau jaman dahulu harus memanjat menara dulu untuk mengumandangkan adzan. Sakarang tidak perlu repot. Cukup taruh speakernya saja di atas menara mesjid. Suara adzan bisa didengar luas di penjuru komplek. 

   Pemandangan komplek dari atas menara sungguh luar biasa! Masya Allah, indahnya! Saya yang belum pernah naik gunung begitu takjub dengan pemandangan dari ketinggian tersebut. Itulah yang membuat saya selalu ketagihan ingin kembali naik ke atas menara dan mengagumi keindahan alam.

   Paling menggemparkan adalah ketika waktu adzan tiba dan kami sedang ada di atas menara! Suaranya yang sangat keras membuat kami harus menutup kuping rapat-rapat. Menara seolah berguncang bak kena gempa bumi. Saya dan Novi hanya bisa menjerit sambil tiarap di lantai sampai adzan selesai. AAAA...
Bayangkan kami ada di atas...

   Biasanya menara mesjid ini selalu terkunci. Entah mengapa saat itu pintunya terbuka. Mungkin setelah memperbaiki speaker, marbot mesjid lupa menguncinya kembali. Situasi ini saya manfaatkan untuk bermain di atas menara. Selain Novi, saya mengajak teman-teman geng manjat pohon lainnya untuk ikut naik. Kami membawa makanan dan piknik di atas menara mesjid. Sedapnya! 

   Suatu sore, saya and the gank kompakan membolos dari kegiatan Pramuka dan malah bermain di menara mesjid. Ketika barisan Pramuka lewat, kami sempat mengerjai mereka dari atas mesjid, haha. Bandel ih! 

   Kesenangan kami harus berakhir. Marbot masjid memergoki kami sedang bermain di atas menara. Keesokan harinya, pintu menara dikunci. Saat itu saya kecewa tapi bisa memaklumi alasan marbot mesjid mengunci pintu manara. Bayangkan betapa bahayanya jika anak-anak dibiarkan bermain di menara ini. Untunglah kami keburu ketahuan ya.

    Oia, sebelum mampir ke mesjid. Kami sempat menikmati jajanan di depan bekas SD. SD yang baru sudah pindah tempat saat saya kelas 5. Bangunan SD lama digunakan sebagai kantor dan kios. Dulu sih ada perpustakaan yang dikelola oleh Dharna Wanita. Entah sekarang masih ada atau tidak. 

   Di belakang bangunan SD lama ada TK tempat saya bersekolah. Sekolah TK yang baru juga sudah pindah dan berada satu lokasi dengan SD dan SMP. Sayang, hasil foto sekolah tersebut kurang bagus karena terhalang oleh pepohonan.  

TK tempat saya bersekolah

   Bangunan bekas TK ini masih dijadikan sekolah Playgrup.  Seluncuran besar sudah ditiadakan dan diganti dengan permainan yang lain. Masih pada posisi yang sama adalah ayunan dan jungkat-jungkit. Tentu saja sudah diganti dengan yang baru. Kalau masih pakai ayunan lama, dulu saja bunyinya sudah krieeet krieett... nggak mungkin bisa terpakai sampai sekarang, hehe. 
Tempat bermain 

   Selanjutnya, setelah menemani 2 boyz main di TK, kami sempat mencicipi jajanan di pertigaan. Dulu, pertigaan ini jadi tempat mangkal bus jemputan anak-anak sekolah yang rumahnya di luar komplek. Jajan apa? Cuma makan sate maranggi dan pempek doang sih. Maunya saya mah ketemu mamang bakso. Tapi sudah nggak ada katanya. Ya nggak apa-apa. Nggak lagi laper banget sih. Soalnya, sebelum mampir ke Cikampek kami sudah makan siang dengan aneka pepes nikmat di Walahar. 

Baca: Menikmati Aneka Pepes di Tepi Bendungan Walahar

    Hari sudah semakin sore. Kami harus segera kembali ke Bogor. Sebelum mengantar Aki pulang, kami melewati helipad di sebelah gedung perkantoran. Lahan luas di sekitar helipad kini disulap jadi taman bermain. Kalau taman bermain ini ada sejak dulu, kayaknya saya malas main kesini karena lokasinya yang agak jauh dari rumah dan harus melewati tanjakan yang cukup curam. Jaman dulu kan masih pada jalan kaki dan naik sepeda. Kalau anak jaman sekarang mah bisa diantar oleh motor atau pakai mobil dinas.  
Taman bermain di sebelah helipad

   Taman bermain cukup ramai. Mungkin karena jumlah karyawan yang bertambah banyak. Penghuni komplek juga semakin padat, sangat berbeda dengan keadaan waktu saya masih tingal disini. Individualisme bak tinggal di perkotaan sepertinya sudah berlaku di komplek ini. Dulu, kalau saya keluyuran masih banyak orang yang saling bertegur sapa dan kenal satu sama lain. Yah, lain dulu lain sekarang atuh Makk...


   Sampai di sini dulu ya, cerita jalan-jalan yang terlambat dipublish. Maklum, menulis ini ada unsur sentimentilnya. Perlu kekuatan mental, haha. Ini juga sengaja nggak semua saya tulis. Cerita masa kecil saya terlalu panjang. Nanti bosen bacanya, hehe.
Saya, Kk, Dd, dan Aki

   Mengenang masa kecil memang menyenangkan. Mengunjungi tempat dimana kita dibesarkan, ada luapan aneka perasaan karena teringat semua kenangan masa lalu. Menunjukkan pada anak-anak tempat saya dibesarkan, membuat saya bahagia bisa berbagi kenangan bersama. Mereka bisa membayangkan seperti apa masa kecil saya dulu yang sebelumnya hanya berupa cerita sebelum tidur.

This used to be my playground 
This used to be my childhood dream
This used to be the place I ran to
Whenever I was in need of a friend
Why did it have to end? 
And why do they always say?

Don't look back
Keep your head held high
Don't ask them why because 
life is short
And before you know 
you're feeling old and your heart is breaking
Don't hold on to the past
Well that's too much to ask.

(This used to be my playground by Madonna)


Kecerian masa kecil akan terkenang sepanjang masa
>>>> Read More >>>>

Rabu, 20 April 2016

Belajar Menanam Sayuran Hidroponik

belajar menanam sayuran hidroponik

Belajar menanam sayuran hidroponik ini dilakukan ketika kami sekeluarga menghadiri acara pengajian rutin pada tanggal 9 Maret yang lalu. Tepatnya saat libur Hari Raya Nyepi. Duh, maaf baru sempat menulisnya sekarang. Telat posting nggak apa-apa ya. Mudah-mudahan isi postingan ini tidak akan basi dan bisa dibaca oleh siapa saja yang membutuhkan.



   Pengajian yang diadakan oleh teman-teman kuliah Bapa ini bertempat di rumah Ibu Erni di Bekasi. Tidak sulit untuk menemukan rumah beliau. Cari saja rumah yang penuh dengan tanaman hidroponik. Ketika sampai, kami langsung langsung takjub melihat pemandangan berikut ini:


belajar menanam hidroponik
Rumah Ibu Erni

    Para tamu yang datang disambut oleh Ibu Erni dan keluarga. Acara pengajian belum dimulai karena masih menunggu teman-teman lain yang sedang dalam perjalanan. Sambil menunggu, Ibu Erni mengajarkan cara menanam sayuran hidroponik. Para bapak dan ibu yang hadir langsung menyimak dengan serius. Sedangkan anak-anak langsung bermain bersama di taman yang luas di depan rumah.


Anak-anak bermain bersama

  Ibu Erni menjelaskan hidroponik adalah bercocok taman tanpa menggunakan tanah. Pada cara menamam hidroponik, unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman disediakan dari air yang sudah diberi nutrisi khusus hidroponik(AB mix).


Bahan-bahan untuk menaman sayur hidroponik

  Media tanam hidroponik bisa menggunakan rockwool, cocopeat (serbuk sabut kelapa), dan sekam Bakar. Ibu Erni menunjukkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menanam sayuran hidroponik tersebut (lihat foto di atas). Yaitu: cocopeat,  sekam bakar, nutrisi, bibit, rockwool, nampan plastik, kain flanel untuk sumbu, dan netpot (bisa diganti dengan gelas plastik bekas yang dilubangi).


Netpot dari gelas plastik bekas yang dilubangi

  Sekam bakar juga digunakan sebagai media tanam dengan teknik hidroponik. Begitu pula cocopeat. Khusus untuk penggunaan cocopeat harus dicampur dengan sekam bakar. Kedua media tanam ini mempunyai daya serap air yang baik dan berpengaruh baik untuk pertumbuhan akar tanaman. Contohnya adalah tanaman berikut:



Daun bawang
Terong ungu

  Sistem Hidroponik ada berbagai macam. Ada sistem rakit apung, sistem wicks, NFT, DFT,  dan Dutch bucket. Yang digunakan oleh saya adalah DFT yang sudah dimodifikasi oleh suami Saya, Dutch bucket, wicks(yg menggunakan sterefoam).




 Selanjutnya, Ibu Erni mempraktekkan cara menyemai bibit. Menyemai bibit dilakukan sebelum tanaman dipindahkan ke media tanam. Media tanam bisa berupa wadah yang berisi air yang mengalir atau sekam dan cocopeat yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Yuk, simak langkah-langkah menyemai bibit berikut ini: 

  1. Langkah pertama adalah memotong rockwool. Rockwool adalah media tanam dan semai untuk tanaman hidroponik. Bentuknya seperti busa padat. Potong rockwool dengan menggunakan gergaji besi. Buat menjadi kotak kecil berukuran 1,5 cm x 1,5 cm.
  2. Memotong rockwool
  3. Rendam rockwool dengan air.
  4. Taruh bibit yang diambil menggunakan tusuk gigi ke atas rockwool. 
  5. Tutup dengan plastik hitam. Simpan di tempat yang teduh.
  6. Jaga agar rockwool tidak kering dengan menyemprotkan air secara perlahan.
  7. Hari berikutnya, tunas akan tumbuh. Langsung pindahkan ke tempat yang terkena sinar matahari.
  8. Sekitar seminggu kemudian atau jika daunnya sudah besar, pindahkan tanaman ke netpot (jika ingin ditaruh di air yang mengalir) atau media tanam hidroponik lainnya. 

1) bibit sayuran 2) ditanam di rockwool
3) siap untuk dipindahkan 4) di dalam netpot


Tunas kacang tanah ini ngegemesin ya! Pengen ngigit!

Tunas bayam merah dan bayam hijau

  Sayuran di dalam netpot diletakkan pada lubang pipa rak tanaman hidroponik. Pada bagian dalam pipa tersebut terdapat air yang mengalir. Untuk menghemat lahan, bisa didesain pipa bertingkat seperti milik Ibu Erni berikut: 

Pipa bertingkat = menghemat lahan
  Oia, tanaman hidroponik ini tidak boleh terkena air hujan. Jika kehujanan nanti hitungan nutrisinya akan berkurang. Taruh tanaman hidroponik di tempat yang mempunyai atap namun tetap harus terkena sinar matahari. 

Rak tanaman hidroponik


Terlindung dari hujan dengan atap fiber



   Jangan lupa, air di dalam pipa harus terus mengalir jika ingin sayuran hidroponik tumbuh subur. Caranya dengan menggunakan pompa air. Air yang dipompa ditaruh dalam wadah tertutup. Untuk menghindari jentik-jentik nyamuk, Ibu Erni menaruh ikan cupang di setiap wadah air yang berbentuk kotak kontainer ini. Kelihatan nggak? Tuh, ikannya lagi ngumpet, hihi.


Bak air tertutup


   Riweuh ah, bikin rak tanaman hidroponik pakai pipa. Eits, tunggu dulu. Nggak usah pakai pipa juga bisa kok. Pakai kotak styrofoam saja! Tinggal lubangi tutup kotak styrofoam untuk tempat menaruh netpot. Lalu bagian bawahnya adalah styrofoam berisi air yang mengalir (dengan bantuan pompa). Seperti yang ada  di rumah Ibu Erni berikut ini: 

Daun mint di kotak styrofoam

   Ada variasi lain lagi, nih. Saya lihat di 'rumah-rumahan' tempat tanaman hidroponik yang satu ini tidak kelihatan pipa air. Ternyata, pipa ada di bagian bawah lempeng besi yang sudah dilubangi. Bagus juga kelihatannya.

Kangkung hidroponik
   Agar tumbuh subur, nutrisi tanaman hidroponik harus tetap terjaga. Nutrisi harus dipantau dengan seksama dan ditambahkan seminggu sekali nutrisi yang takarannya disesuaikan dengan jenis tanaman. Nutrisinya boleh menggunakan Pk merk apa saja. Ibu Erni menggunakan nutrisi dari Rumah Hidroponik Bertha Suranto, tempat beliau mengikuti pelatihan tentang hidroponik.



Nutrisi hidroponik



  Bagaimana cara mengetahui apakah nutrisi tanaman sudah cukup atau belum? Cek kadar larutan nutrisi di dalam air dengan alat khusus bernama TDS meter. Selain kadar nutrisi yang wajib untuk terus dipantau, kadar keasaman air juga harus diperhatikan. Untuk mengetahui kadar keasaman atau pH air digunakan alat bernama pH meter. Angka yang baik untuk pH air hidroponik adalah berkisar dari 5 sampai 7. Jika pH kurang, gunakan cairan penambah pH (pH up). Begitu pula sebaliknya, jika pH berlebih, turunkan pH dengan cairan pH down.


Alat pengukur pH meter (kiri) dan TDS meter (kanan)


   Wah, asyik ya menanam sayuran hidroponik! Kelihatannya mudah. Kunci agar sukses menanam sayuran hidroponik sejak pembibitan hingga dipanen adalah ketelatenan. Ya harus telaten dong, mengecek kondisi tanaman, kadar air, dan nutrisinya.

Sawi sendok (foto dokpri Ibu Erni)
Bayam merah dan bayam hijau (foto dokpri Ibu Erni)

Paria dan cabai rawit hidroponik 
   Beberapa keuntungan menanam sayuran hidroponik:
  1. Sayuran yang berkualitas karena nutrisinya terjaga. 
  2. Pemakain pupuk dan air yang lebih hemat. Tidak perlu menyiram tanaman. 
  3. Tidak perlu tenaga ekstra untuk mengolah lahan. Tidak perlu mencangkul. Bahkan bisa menghemat tempat dengan menanam berbagai macam tanaman sekaligus di rak khusus hidroponik.
  4. Terhindar dari hama penyakit karena diawasi.
  5. Menghilangkan stres saat bercocok tanam dan menikmati hasil panen di kebun hidroponik buatan sendiri.
  6. Mudah dipanen. Tinggal cabut saja sayuran dari netpot.
  7. Punya harga jual yang tinggi.
  Setelah sesi belajar bareng tentang cara menaman sayuran hidroponik, kami disuguhkan makan siang dan berlanjut ke acara pengajian. Usai mengaji dan shalat ashar, kami siap berpisah kembali ke rumah masing-masing. Ada yang pulang ke rumahnya di Bekasi, Bogor, Depok, bahkan ke Bandung.

Makan siang dan pengajian
  Sebelum pulang, kami disuguhkan minuman 'pencuci mulut' berupa jus dari tanaman sejenis rumput bernama wheat grass. Rasanya agak sepet sepet gimana gitu. Padahal itu sudah dikasih perasan jeruk nipis lho! Nggak kebanyang rasanya tanpa perasan jeruk nipis... Mau sehat itu pahit men!

Wheat grass (foto dokpri Ibu Erni)
  Jus yang mengandung banyak klorofil ini sudah pasti banyak manfaatnya untuk kesehatan. Ada banyak protein, vitamin, mineral, enzym, anti bakteri, dan masih sebagainya. Cocok untuk menetralisir racun, menstabilkan gula darah, bahkan untuk diet. Tentang manfaat pure wheat grass bisa di baca di link berikut http://thechalkboardmag.com/50-reasons-to-drink-wheatgrass-everyday. 

Jus yang diminum dengan perasan jeruk nipis
   Kejutan! Sebelum pulang, Ibu Erni menyuruh kami untuk memanen sendiri sayuran hidroponik untuk dibawa pulang. Eh? Serius? Aduh, kok rasanya sayang mencabut sayuran-sayuran cantik ini dari netpot. Hayuk ah... serbuu!

Saya dan Ibu Erni
Horee! Boleh petik semua sayuran yang sudah bisa dipanen!
   Saya dan Bapa mengambil sawi sendok, daun seledri, dan daun mint. Sawi sendok saya masak menjadi tumis sawi keesokan harinya. Daun seledri langsung saya tambahkan ke atas roti tawar untuk dijadikan garlic bread. Daun mint dicelupkan untuk campuran teh manis. Hmmm, nikmat! Semua resep akan saya posting di blog Dapur Ngebut ya!

Daun mint (foto dokpri Ibu Erni)
   Oia saya tambahkan lagi beberapa foto dari Ibu Erni. Setelah kami pulang, Ibu Erni kembali menanam sayuran lain yang sudah disemai. Pada foto di atas adalah tanaman daun mint yang tumbuh subur dan siap dipanen.

  Senangnya punya pengalaman baru: memetik sayuran hidroponik! Ternyata, Ibu Erni memang sudah menyiapakan sayuran ini agar siap panen bertepatan dengan acara pengajian. "Buat oleh-oleh," katanya. Wah, alhamdulillah.

   Terima kasih banyak Ibu Erni dan keluarga sudah mau direpotkan di acara pengajian kali ini. Dapat ilmu agama dengan belajar mengaji bareng, menjalin silaturahim, plus dapat ilmu bermanfaat tentang cara menaman sayuran hidroponik. Semoga tidak kapok dengan kedatangan kami ya ^_^

Foto bersama sebelum pulang. Mejeng bersama oleh-oleh sayuran hidroponik

Mau tahu lebih lanjut tentang cara menanam hidroponik? 
Bisa dibaca atau hubungi alamat ini:

  • Facebook Rumah Hidroponik Bertha Suranto
  • Website www.rumahhydroponic.com
  • Email Ibu Erni edwiwulandari@gmail.com
>>>> Read More >>>>