Senin, 12 Juni 2017

Tampil Keren dengan Jas Koko Bordir Saat Lebaran





Halo semua! Selamat menjalankan ibadah puasa, ya. Tidak terasa sudah memasuki hari keenam belas bulan Ramadhan. Mudah-mudahan lancar terus ibadahnya sampai hari kemenangan nanti, aamiin. Saat Hari Raya Idul Fitri, semua bersuka cita dan saling bersilaturahim dengan sanak saudara dan kerabat dekat. Tidak heran jika saat itu kita ingin berpenampilan terbaik dengan mengenakan baju baru. Saya dan keluarga juga tidak mau ketinggalan, punya baju baru saat Lebaran nanti.


  Biasanya, kami berbelanja baju Lebaran justru sebelum bulan puasa. Tujuannya agar tidak mengganggu ibadah puasa dan menghindari rasa lelah karena kondisi badan sedang berpuasa. Mengelilingi pusat perbelanjaan mencari baju yang cocok itu perlu perjuangan. Bersyukur jika ada banyak bangku yang disediakan di pusat perbelanjaan. Jika tidak ada, banyak pengunjung yang duduk di lantai untuk beristirahat sejenak. Sering lihat pemandangan seperti itu kan?

  Sebenarnya, berbelanja baju sebelum bulan puasa sudah dilakukan sejak keluarga saya masih merantau. Dulu, kami selalu memborong pakaian ketika mudik ke Bogor. Sekalian saja beli baju Lebaran untuk anak-anak. Alasannya karena koleksi pakaian yang dijual di rantau harganya mahal dan modelnya kurang trendi. 

Suasana lenggang di pusat perbelanjaan

  Keuntungan berbelanja sebelum bulan puasa adalah suasana nyaman dan lenggang di pusat perbelanjaan. Coba deh, beli baju beberapa hari sebelum Lebaran. Duh, padat banget! Sampai mau gerak saja sulit karena orang-orang berdesakan memilih baju. Suasananya sudah seperti orang yang berebut sembako. Kasihan kan, jika membawa anak-anak dalam suasana seperti itu.

  Biasanya, orang-orang baru memadati pusat perbelanjaan setelah mendapat THR (tunjangan hari raya). Yaitu sepuluh sampai seminggu sebelum Lebaran. Terus, kalau beli baju sebelum bulan puasa, anggarannya dari mana? Tentu saja dari tabungan belanja harian atau pakai kartu kredit. Jika memakai kartu kredit, tagihannya akan segera dibayar setelah suami saya menerima THR. 

   Meskipun sudah beli baju Lebaran sebelum puasa, tetap saja ada yang ketinggalan. Kalau sudah begitu, biasanya saya membeli baju secara online saja. Lebih praktis. Tidak perlu keluar rumah dan berdesakan dengan pengunjung di pusat perbelanjaan. 

  Tahun ini, saya belum membeli jas koko untuk Bapa, suami saya. Saat berbelanja kemarin, ada sih yang jual baju koko, tapi modelnya kurang bagus dan terkesan biasa saja. Saya sedang mencari adalah jas koko yang bagus dengan hiasan bordir. Kalau pakai jas koko bordir, dijamin Bapa pasti tampil keren saat Lebaran nanti, ehm!

Aneka pilihan jas koko bordir di Mataharimall
  Langsung saja saya cari jas koko bordir di www.mataharimall.com. Wah, ternyata ada banyak pilihan model jas koko bordir yang keren. Jadi bingung mau pilih yang mana. Saya minta Bapa memilih sendiri. Akhirnya, beliau memilih jas koko bordir dengan warna putih polos dan hiasan bordir di bagian dada. Aih, cakep!

Jas koko bordir pilihan Bapa

  Melihat modelnya yang keren ini, si sulung Aa Dilshad yang mau masuk SMA juga bisa ikut pakai, nih! Ukuran tubuhnya sudah bisa memakai baju ukuran dewasa. Aa Dilshad pun memilih jas koko bordir dengan warna abu-abu kesukaannya. Hmm, pilihan yang oke banget!
Jas koko bordir pilihan Aa Dilshad

   Senangnya ada Matahari Mall yang memudahkan kita mendapat baju keren dengan harga yang bersahabat. Oia, saya membeli jas koko bordir ini dengan harga diskon lho! Cocok banget bersanding dengan rok dan blus panjang yang sudah saya pilih untuk dikenakan saat Lebaran nanti. Sedangkan dua anak saya yang lain, si kecil Kk Rasyad dan Dd Irsyad sudah punya pilihan baju Lebaran sendiri. Kalau kamu sendiri, sudah siap beli baju Lebaran belum?
>>>> Read More >>>>

Jumat, 26 Mei 2017

Liburan Impian: Napak Tilas ke Bali


Liburan napak tilas ke Bali sudah lama diimpikan oleh saya dan suami. Napak tilas? Iya, kami punya rencana berlibur sekaligus napak tilas ke tempat kenangan saat masih menetap di Bali.  Dulu, kami adalah keluarga perantau yang selalu berpindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan Bapa, suami saya. Denpasar Bali menjadi tempat tinggal kami pada tahun 2004 sampai 2006. 

   Sebelumnya, Bali sudah tidak asing lagi bagi saya dan Bapa karena tempat tersebut menjadi destinasi bulan madu kami pada tahun 2002. Selama tiga hari dua malam, kami bersenang-senang dan tidak lupa berfoto di tempat-tempat wisata yang kami kunjungi. Ke pantai Kuta, pantai Sanur, dan berkeliling di dalam kota Denpasar. Siapa sangka, lokasi wisata tersebut kami datangi lagi di masa mendatang dengan membawa seorang anak! Wah, rasanya gimana gitu! 

Atas: Monumen Bajra Sandi. Bawah: di depan pura
  Foto di atas adalah di depan Monumen Bajra Sandi (monumen perjuangan rakyat Bali) di Lapangan Puputan Renon. Satu lagi foto di sebuah pura yang ada di dekat Lapangan Puputan Badung. Dua tahun kemudian, kami sering datang ke sana untuk menikmati sore yang sejuk bersama Aa Dilshad kecil yang berlarian di tengah lapangan sambil bermain bola.

   Penuh kesan. Itulah yang saya simpulkan selama dua tahun tinggal di Bali. 
Saya paling suka menikmati bulan purnama di Bali. Melihat suasana kota yang mendadak sibuk dengan warga yang ingin bersembahyang. 

  Ada lagi yang bikin kangen, yaitu Mido dan Coki-coki. Dua anjing anak beranak yang menumpang tidur di rumah kami setiap malam. Di rumah kami di daerah Dalung, kami sempat memelihara anjing tanpa sengaja. Ketika pindah dan kebetulan Bapa kembali lagi ke Denpasar untuk urusan kantor beberapa bulan kemudian, keduanya masih mengenali Bapa! Ah, terharu. Kalau sekarang, saya yakin mereka sudah tidak ada di situ lagi. Yah sudah 13 tahun berlalu. Eh, bisa saja lho mereka masih ada!


Aa Dilshad bersama Mido dan Coki-coki
  Tinggal di tempat yang menjadi idola pariwisata dunia ini membawa kami yang saat itu menjadi penduduk Bali seolah ikut berlibur juga. Apalagi, di Bali itu banyak perayaan hari besar keagamaan yang artinya Bapa libur dari kantor. Horee, bisa sering liburan dong!



  Eit, jangan salah. Mentang-mentang tinggal di Bali. Belum tentu juga kerjaan kami sekeluarga jalan-jalan melulu. Jalan-jalan kan perlu ongkos juga, hihihi. Ditambah punya satu anak batita yang aktif, rasanya lumayan repot jika sering traveling. Maklum, di rumah saya tidak memakai jasa ART (asisten rumah tangga), jadi yah lumayan ngos-ngosan mengasuh si kecil Aa Dilshad sekaligus mengurus rumah dan memasak. Energi buat traveling rasanya sudah habis...

   Itulah sebabnya, mengapa kami sekeluarga kurang mengeksplorasi Bali saat tinggal di sana. Sayang memang. Tapi, mau bagaimana lagi. Beberapa tempat yang sempat kami kunjungi sudah cukup membuat kami bahagia. Boleh lah berbangga hati bahwa kami sudah mengunjungi beberapa tempat wisata di Bali yang sedang hits pada masa itu. Sayang, semua dokumentasi foto masih dalam bentuk album foto. Tidak bisa diunggah kecuali discan dulu seperti foto di atas.

   Serunya mengajak anak-anak liburan napak tilas, saya dan suami bisa bercerita tentang tempat-tempat bersejarah yang pernah menjadi saksi dalam kehidupan keluarga kami. Jadi, anak-anak bisa membayangkan seperti apa kehidupan kami pada saat itu.  Mereka akan antusias bertanya apa saja yang kami lakukan saat itu. Biasanya dua anak yang terkecil akan tertawa geli saat saya ceritakan tentang kisah si sulung yang masih kecil dan banyak tingkah di tempat-tempat tersebut.

  Mau jalan-jalan ke mana di Bali? Karena ini napak tilas, itenary diawali dengan mengunjungi rumah lama di jalan Nangka, lalu rumah di daerah Dalung. Kemudian kami akan berkeliling kota Denpasar dan sekitarnya. Termasuk berfoto di lapangan Puputan Renon dan Lapangan Puputan Badung. Bikin foto ala-ala before dan after biar greget!

  Main ke pantai Kuta dan Sanur juga jadi agenda utama. Untuk berkeliling, kami akan sewa mobil atau pinjam mobil pada saudara yang ada di Denpasar. Sama seperti waktu bulan madu dulu, Bapa meminjam motor jadi kami tidak perlu menyewa lagi. Hemat banget ya, hehe.

Pantai Kuta (sumber: Wikipedia)
  Mumpung ada mobil, kami sekalian mengunjungi tempat wisata Tanah Lot. Bali Zoo Park, Ubud, Monkey Forest, Tirta Gangga, Patung Garuda Wisnu Kencana, dan lainnya jika sempat. Maklum, traveling dengan tiga anak laki-laki ini harus menyesuaikan dengan kondisi mereka. Jika sempat, semua tempat pasti bisa kami kunjungi.

Pura Tanah Lot (sumber: Traveloka)

Monkey forest (sumber: Traveloka)

Tirta Gangga (sumber: Traveloka)

Bali Zoo Park (sumber: Traveloka)
  Tapi, jika kenyataannya mereka ingin main air di pantai atau di hotel lebih lama, ya berarti tempat berikutnya tidak bisa terlalu jauh mengingat kondisi tubuh mereka yang lelah sehabis berenang. Liburan nggak sesuai itenary? Yah, melenceng dikit nggak apa-apa. Masih bisa diulang jika ada kesempatan. Yang penting semuanya merasa senang, kan?

  Usai bikin itenary, mari kita mulai eksekusi rencana liburan napak tilas impian. Dimulai dari yang paling penting dan yang paling banyak menyedot biaya. Apalagi kalau bukan tiket pesawat dan akomodasi hotel. Waktu liburan kami pilih pada akhir tahun, yaitu ketika liburan Natal dan tahun baru. 

   Biasanya kami membeli tiket pesawat untuk mudik dan kembali ke tanah rantau. Belum pernah booking tiket pesawat dan hotel sekaligus. Pernah juga cuma booking hotel saja saat berlibur ke Anyer. Wah, kalau ada aplikasi yang memudahkan kita untuk booking tiket pesawat dan hotel sekaligus, kayaknya enak nih! Nggak perlu repot lagi hunting ke sana ke mari. 

  Pengalaman booking hotel saat berlibur ke Coconut Island Beach Resort di Anyer membuat saya kembali membuka aplikasi Traveloka untuk mencari tiket pesawat dan hotel ke Bali. Eh, nggak disangka, saya menemukan paket wisata Traveloka yatu paket booking untuk tiket pesawat dan hotel sekaligus! Wow, ini dia yang saya cari!

Paket wisata yang saya cari
  Dengan paket ini, booking tiket pesawat dan hotel dapat dilakukan secara bersamaan. Nggak perlu repot lagi. Lebih hemat waktu! Dan setelah lihat harganya, ternyata dapat diskon juga lho! Hemat biaya! Coba kalau pesan secara terpisah, sudah repot dan lebih mahal pula! Duh, emak mana yang nggak suka sama diskonan begini. Aih senangnya! Sisa uang bisa buat wisata kuliner, beli oleh-oleh, bahkan ditabung untuk keperluan lain!







   Mau bayar paket yang sudah kita pilih caranya gampang. Tinggal pilih metode pembayaran yang tersedia. Kalau saya sih, lebih suka transfer via ATM. Nanti akan ada email tentang rincian tagihan dan voucher bookingan diinfokan setelah pembayaran dilunasi.


  Gampang banget kan? Makanya saya pilih Traveloka lagi untuk liburan ini. Mau booking via aplikasi di smartphone atau di website www.traveloka.com, keduanya sama mudah dan cepat diproses.


Aplikasi Traveloka
  Cerita sedikit nih, waktu pertama kali booking via Traveloka, saya gaptek dan main asal booking saja. Tidak sadar kalau saya ternyata tidak bergabung di Traveloka, cuma pakai email saja untuk transaksi. Waktu saya mau sign in, ternyata email tersebut tidak terdaftar.



Bingung? Live Chat aja!

   Langsung saja saya chat dengan custumer service Traveloka bernama Mbak Sevira. Responya cepat, lho! Saya jelaskan permasalahan saya dan Mbak Sevira memberikan jawaban yang jelas. Jelas saya yang salah karena dulu tidak klik bergabung, hihi. Jadi, kalau bingung dan mau bertanya apa saja berkaitan dengan Traveloka, bisa langsung chat dengan CS-nya ya!

   Yeay! Liburan impian hampir terwujud! Kami siap untuk bersenang-senang menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta di akhir tahun 2017 nanti! Kalau kamu sendiri, mau pilih paket wisata yang mana? Yuk, cek Traveloka dulu nyaman liburan kemudian ^_^

>>>> Read More >>>>

Selasa, 16 Mei 2017

Tips dan Trik Merencanakan Liburan Bersama Keluarga


Tidak terasa, sebentar lagi musim liburan. Bulan puasa sudah di depan mata. Usai berpuasa, ada libur Hari Raya Idul Fitri. Saat itulah banyak yang memanfaatkan momen pulang kampung untuk silaturahim bertemu keluarga besar sekaligus liburan. Disambung dengan libur kenaikan kelas, wah makin banyak saja waktu liburan untuk bisa traveling bersama keluarga

  Meski saya sekarang sudah tidak mudik lagi, momen libur Lebaran selalu dimanfaatkan untuk traveling. Sejak tinggal di Bogor pada tahun 2011, kami belum bisa traveling jauh karena riweuh ini-itu. Masih traveling di Jawa Barat saja. Paling jauh waktu nekad napak tilas ke Semarang, Solo, dan sedikit Jawa Tengah. 

   Bukan berarti kami sekeluarga nggak demen traveling. Demen banget malah! Cuma ya itu, ada sesuatu yang membuat kami belum bisa pergi jauh. Tiba-tiba, mulai bulan Mei 2017, kami ditakdirkan bisa bebas pergi ke mana saja! Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Langsung saja ide destinasi traveling terlontar dari kepala saya dan suami. So exited! 

  Begitu banyak rencana liburan bersama keluarga. Tapi, tentu saja kami berdua harus sabar karena dana yang diperlukan juga tidak sedikit. Itenary sudah disusun sebagian. Lalu mandek. Sekarang lagi fokus mikirin biaya masuk sekolah Aa Dilshad dan Dd Irsyad dulu, hehe.

  Menyalurkan rasa girang karena bisa bebas traveling bareng keluarga, saya datang ke workshop tentang traveling di Bogor. Apalagi temanya tentang Family Traveling dengan pembicara Mbak Tesya sebagai travel blogger ternama. Bertempat di Royale Cafe and Bakery di Jalan Siliwangi No. 43 pada pada tanggal 13 Mei 2017 kemarin, saya datang pada pukul 14.05 WIB. Namun acara baru dimulai satu jam kemudian karena menunggu para peserta yang terlambat karena macet.
   

A post shared by Emak Riweuh (@innariana) on

  Acara dibuka oleh Mbak Faya dari KitaIna. Oia, workshop ini diselenggarakan oleh KitaIna, yaitu sebuah wadah untuk berbagi tentang keindahan pariwisata Indonesia. Perkenalan tentang KitaIna disampaikan oleh Mbak Diyang. Kitaina juga membuka kesempatan untuk para traveler berbagi cerita perjalanan mereka di website www.kitaina.id. Selama menunggu acara dimulai tadi, saya sudah signin jadi membernya, lho.
Atas dan kanan bawah: Mbak Tesya dan Mbak Faya
Kiri bawah: Mbak Diyang
   Usai perkenalan, acara workshop dimulai. Mbak Tesya tampil sebagai pembicara. Ibu dua anak laki-laki berusia 10 tahun dan 8 tahun ini bercerita tentang kegemaran keluarganya melakukan traveling. Bahkan beliau mulai mengajak anak-anaknya traveling sejak umur 2 tahun! 

 Mbak Tesya menulis cerita traveling bersama keluarganya di blog www.tesyaskinderen.com. Sedangkan blog traveling satu lagi, yaitu www.tesyasblog.com khusus ditulis dalam bahasa inggris. Wow, keren! Mbak Tesya juga sudah menerbitkan 5 buku. Salah satunya buku yang menjadi goodie bag dalam acara ini. Ehm, tadinya saya punya rencana mau beli bukunya Mbak Tesya. Eh alhamdulillah dapat gratisan, hihi... makasih ya!


Why Family Traveling?

Kenapa sih, harus traveling bareng keluarga? Bawa anak-anak kan repot! Bahkan, ada teman saya yang sengaja tidak mengajak anak-anak untuk menghindari hal tersebut dan pergi traveling bersama pasangan atau teman-temannya saja. Duh, kalau saya mah nggak bisa banget ninggalin my boyz dalam waktu lama buat jalan-jalan seperti itu. Baru pergi ke pasar sendirian aja udah inget sama boyz di rumah, haha *lebay ah*

Mbak Tesya bersama suami dan anak-anak tercinta
  Ada juga yang berpendapat, “Buat apa repot-repot traveling bawa anak? Paling juga anaknya lupa!” Hmm, tahu nggak sih, anak-anak mungkin bisa lupa. Tapi pengalaman traveling itu pasti ada yang membekas di benaknya. Teringat Kk Rasyad masih ingat perjalanan kami dari Palangkaraya ke Banjarmasin. Padahal, usia Kk Rasyad saat itu masih 3 tahun. Atau, Dd Irsyad yang sampai sekarang masih ingat detail tempat menginap unik di Coconut Island, waktu traveling saat itu usianya 4 tahun.

Setuju banget sama quote ini!
  Saya sependapat dengan Mbak Tesya bahwa family traveling itu perlu banget! Sebagai working mom, beliau bilang bahwa dirinya perlu traveling untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Sedangkan saya sebagai emak yang mager di rumah (lebih sering bersama anak-anak) merasa perlu traveling sebagai suasana baru untuk menghabiskan quality time kami. 

Manfaat traveling bersama keluarga

Berikut manfaat family traveling menurut Mbak Tesya:
  1. Pengalaman (first hand experience)
  2. Keluar dari comfort zone
  3. Wawasan baru
  4. Menghargai perbedaan
  5. Berani dan percaya diri
  6. Waktu untuk keluarga
   Banyak banget ya manfaat family traveling! Dengan traveling bareng keluarga, anak-anak akan mendapatkan banyak hal baru yang tidak bisa mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Seperti cerita Mbak Tesya saat mengajak anak-anaknya backpacker-an, mereka akan merasakan pengalaman baru naik kendaraaan umum, menginap di penginapan seadanya, mencoba bertemu orang-orang baru, mencoba kuliner unik, dan sebagainya. Beneran, gaya begini memang asyik banget! Saya sudah membuktikannya saat mengajak 3 boyz ke Sukabumi dengan naik kereta dan angkot.


Merencanakan Liburan Keluarga

Sudah siap untuk liburan bareng keluarga? Bagi yang malas membawa anak-anak saat traveling, selain repot, masalah biaya jadi kendala utama. Iya, bawa anak-anak itu bak kita lagi traveling bawa ‘rombongan sirkus’, dijamin pasti repot alias riweuh. That’s why saya menyebut kami sekeluarga sebagai ‘pasukan riweuh’, karena memang begitulah rombongan kami: sepasang suami istri dengan tiga anak laki-laki yang pecicilan, haha!

  Soal biaya traveling, tentu saja jumlahnya lebih besar dibandingkan solo traveling dan traveling berdua pasangan atau bersama teman. Tiket dan akomodasi menyedot biaya yang paling besar dari budget yang disiapkan, yaitu mencapai 50%! Plus lagi, mau bawa anak-anak itu nggak bisa sembarangan tidur di emperan pas nggak punya duit. Anak-anak harus mendapatkan tempat istirahat yang nyaman selama traveling. Jadi, browsing dulu tempat menginap yang layak untuk anak-anak sebelum berangkat ya! Perencanaan itu penting banget!


1. Pemilihan Destinasi Liburan

Apa saja sih yang harus diperhatikan sebelum melakukan family traveling? 
  • Memilih tempat yang disukai anak-anak
  • Itenary yang fleksibel
  • Biaya liburan (transportasi, transportasi, akomodasi, biaya harian untuk makan, tiket ke tempat wisata, dan shopping).

2. Biaya Liburan

Tips menyiasati biaya liburan agar tidak membengkak:

A. Tiket pesawat: 
  • Membeli tiket pesawat saat travel fair 6 bulan sampai 1 tahun sebelumnya.
  • Ikuti akun sosmed airline favorit dan berlangganan newsletter-nya.
  • Follow komunitas traveling di sosmed.
  • Menjadi anggota airlines favorit dan mengumpulkan poin untuk ditukar dengan tiket pesawat gratis.
B. Akomodasi:
  • Rajin melihat pilihan hotel di situs hotel engine booking.
  • Membaca review traveler tentang hotel yang kita suka di travel blog atau di www. tripadvisor.com.
  • Membandingkan harga kamar di website hotel langsung vs online booking.
  • Sesuaikan lokasi penginapan dengan itenary liburan
C. Tempat wisata:
  • Riset tempat wisata ramah anak. 
  • Padukan tempat wisata gratis dan berbayar.

D. Alokasi budjet liburan:
  • Sisihkan dari bonus, THR, dan pemasukan non rutin lainnya.
  • Alokasi budjet liburan tidak mengganggu biaya primer rumah tangga
  • Jangan pernah liburan dengan berhutang!
Contoh merencanakan liburan ke pulau cinta Gorontalo. Perencanaan dari bulan juni 2016. Membeli tiket JKT-GRO di Garuda Travel Fair pada bulan Oktober 2016 dengan budjet dari THR. Biaya menginap di pulau cinta dari alokasi bonus akhir tahun. Berangkat liburan ke pulau cinta: april 2017.

3. Tiga langkah merencanakan liburan keluarga:

  1. Membeli tiket, memesan akomodasi
  2. Membuat itenary termasuk budget
  3. Membuat plan b, untuk antisipasi situasi dan perubahan rencana traveling.

4. Persiapan Liburan Keluarga

Persiapkan anak sebelum liburan, meliputi:

A. Briefing sebelum liburan
  • Beri gambaran seperti apa destinasi yang dituju (misalnya melihat di Youtube).
  • Berikan informasi yang jelas bagaimana jika seandainya terpisah dari orangtua.
B. Melatih anak dengan berolahraga. Misalnya dengan jalan kaki setiap akhir pekan selama satu bulan sebelum liburan.

C. Ekstra vitamin. Jika dibutuhkan, berikan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh anak.

D. Packing sebisa mungkin travel light. Tipsnya:
  • Kumpulkan informasi tempat yang akan dituju
  • Sesuaikan baju yang dipilih dengan kondisi cuaca
  • Mix and match
  • Libatkan anak saat packing
  • Berikan pengertian pada anak bahwa baju yang dibawa terbatas

10 Destinasi Wisata di Indonesia

Di akhir acara, Mbak Tesya sharing tentang tempat-tempat wisata di Indonesia yang wajib dikunjungi bersama keluarga, yaitu:
  1. Iboih in, Pulau Weh Sabang
  2. Pulau Bangka dan Belitung
  3. Lembang Bandung
  4. Glamping Tanakita Sukabumi
  5. Yogyakarta
  6. Museum Kereta Ambarawa, Umbul Sidomukti Semarang
  7. Malang
  8. Bali
  9. Komodo Island
  10. Pulo Cinta Gorontalo
Destinasi wisata incaran saya

  Wah banyak sekali tempat-tempat indah dan ramah anak yang bisa dikunjungi di negara kita. Foto-foto keren pemandangan tempat wisata yang ditampilkan oleh Mbak Tesya bikin kita pengen traveling ke tempat-tempat tersebut. 

   Usai penjelasan materi, sesi tanya jawab dibuka. Saya ikutan jadi lima orang penanya dan mendapat hadiah kaos dari KitaIna. Sekalian hadiah tiket pesawat gimana? Eh, ngelunjak hehehe.Senangnya pada workshop ini saya jadi tambah ilmu tentang merencanakan liburan keluarga dengan matang. 


Foto bareng Mbak Tesya
  Acara ditutup dengan foto bareng seluruh peserta pelatihan dan tim dari KitaIna. Terima kasih buat Mbak Tesya dan KitaIna. Sering-sering bikin acara di Bogor, ya!



   Travel begins with dreams. Tagline ini terpampang di www.tesyasblog.com. Dimulai dari mimpi, keinginan untuk pergi ke suatu tempat bisa tercapai suatu hari nanti. Dengan niat, perencanaan, dan ijin dari Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan kita diberi rejeki untuk bisa mewujudkan impian tersebut. 

   Seperti yang saya alami. Waktu kecil, saya punya mimpi ingin jalan-jalan keliling dunia. Siapa sangka, saya dapat jodoh suami yang pekerjaannya berpindah-pindah tempat tinggal. Dimulai dari Semarang, Banjarmasin, Solo, Denpasar, Bogor, Palangkaraya, Makassar, lalu kembali ke Bogor.  Keliling dunia belum, dapat rejeki bisa keliling Indonesia gratis adalah berkah yang luar biasa. Gratis? Iya, kan pindahan dibayarin kantor. Jadi mau mengunjungi lokasi wisata nggak keluar ongkos banyak, hehe.

Pasukan riweuh traveling ke Tana Toraja saat tinggal di Makassar

   Apa yang dikatakan Mbak Tesya tentang repotnya traveling dengan anak-anak memang saya alami sendiri. Pada beberapa kesempatan, saya pernah traveling hanya berdua dengan bayi saja. Sedih banget, deh. Nyaris susah mau ngapa-ngapain. Tapi saya pantang menyerah. Saya banyak meminta tolong pada orang-orang di sekitar. Salah satunya saat mau turun dari pesawat dan si Aa Dilshad bayi (umur 2 bulan) sedang lelap di pangkuan saya. Riweuh susah bergerak, saya meminta ibu di sebelah saya untuk mengambilkan tas dan bahkan mengancingkan baju saya yang kurang rapi sehabis menyusui.

   Begitu pula saat traveling membawa pasukan riweuh. Saya dan Bapa harus jadi pasangan suami istri yang kompak berbagi tugas. Biasanya saya kebagian tugas memegang anak yang paling kecil. Apalagi anak laki-laki itu nggak bisa diam. Kita dilarang meleng supaya mereka nggak ujug-ujung ngacir ke mana gitu. Kadang nyaris nyungsep di sawah atau ngeluyur ke pinggiran eskalator mall. Hadeuh, bikin jantungan! Ya nggak, Mbak Tesya?

   Tapi... dibalik semua kerepotan itu, ada rasa luar biasa yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Setelah traveling bareng anak-anak, tentu saja kita merasa lelah. Namun itu semua seolah tidak ada artinya melihat senyum ceria dengan wajah berbinar. Betapa bahagianya mereka karena mendapat pengalaman baru. Berulang kali terucap, "Nanti kita ke sini lagi yaa..." Atau, "Makasih ya Bu, udah nginep di tempat ini." Ah, priceless...

   Jadi, sudah siap merencanakan liburan bersama keluarga? Kami sudah siap! Salam manis dari pasukan riweuh yang siap menjelajah dunia, aamiin.

Welfie di Tangkuban Parahu

>>>> Read More >>>>

Rabu, 19 April 2017

Dirawat Bareng di Rumah Sakit


Halo! Lama nggak update blog. Beberapa hari yang lalu, saya dan Bapa lumayan riweuh karena Kk Rasyad dan Dd Irsyad dirawat di rumah sakit. Waktu masuknya memang nggak barengan. Tiga hari pertama, Kk Rasyad dirawat duluan. Menyusul Dd Irsyad. Mereka berdua kena DBD (Demam Berdarah Dengue). Syukur alhamdulillah, kondisi fisik mereka cukup kuat ketika dirawat sehingga masa pemulihan bisa berlangsung lebih cepat tanpa khawatir terjadi kondisi kritis yang ditakutkan.

   Mulanya saya mengira Kk Rasyad hanya kecapean dan demam tinggi seperti waktu dirawat di rumah sakit sebelumnya. Hari Rabu sore (5/4) Kk panas tinggi. Hari Kamis (6/4) saya tinggal pergi karena menemani Dd Irsyad outbond ke Ciseeng. Pulang outbond pada sore harinya, Kk masih panas tinggi dan kondisinya mulai drop. Langsung saja saya bawa ke Rumah Sakit Azra di Jalan Pajajaran Bogor. 

   Ketika membawa Kk ke rumah sakit, saya sekalian mengemas pakaian. Bukannya ge er pengen anak dirawat. Tapi ini demi kepraktisan saja. Karena Bapa sedang dinas ke Palangkaraya, kalau seandainya Kk dirawat nanti siapa yang menyiapkan pakaian alias harus balik lagi ke rumah?

   Benar saja, Kk Rasyad memang harus dirawat. Bukan karena demam biasa, tapi karena hasi tes darah menunjukkan Kk positif terkena DBD! Duh, sedih banget saya waktu itu. Apalagi Dd yang ditinggal di rumah dengan Mak Onih (art pulang pergi) yang saya minta untuk menginap. Belum pernah Dd ditinggal semalaman dan tidur dengan orang lain selain Ibu atau Bapa. Mau tahu reaksinya? Usai mengabarkan lewat telepon bahwa saya tidak bisa pulang, Dd mengamuk! Saya makin tertekan...

  Pada hari pertama itu, saya bersyukur karena dijenguk langsung oleh keluarga adik ipar yaitu Ateu Tita dan suaminya Om Age. Kiriman makan malam benar-benar suatu berkah karena saya sangat kelaparan dan tidak bisa keluar untuk membeli makanan. 

  Malam itu, malam pertama Kk di rumah sakit adalah malam yang terpanjang untuk saya. Kondisi badan yang sedang kurang fit, ditambah kelelahan usai pergi outbond, ternyata tidak membuat saya bisa beristirahat. Kondisi Kk yang tidak mau makan dan minum serta demamnya yang tinggi membuat saya terjaga semalam suntuk untuk mengawasinya. Saat begadang itulah, ditengah kondisi fisik yang lemah dan pikiran yang kacau saya mulai membayangkan hal-hal yang buruk. Astaghfirullah...

  Setelah menangis dan berdoa semalaman, jelang pukul 6 pagi saya baru bisa tidur. Apalagi kondisi Kk mulai membaik ketika subuh menjelang. Dia bisa berbicara lagi dan mulai sadar. Alhamdulillah...

  Hari Jumat (7/4), hati saya lega karena mendapat kunjungan dari Kakek dan keluarga di kakak ipar di Ciapus. Bapa baru tiba di rumah sakit pada malam hari setelah menaruh koper sepulang dari bandara. Bapa membawa Dd. Saat bertemu, Dd langsung memeluk saya. Ah, maafin Ibu ya Nak...

  Hari Sabtu (8/4), saya beristirahat di rumah sementara Bapa menunggui Kk di rumah sakit. Sore harinya, saya menyusul ke rumah sakit bersama Dd. Saat di mobil Grab, Dd mengeluh badannya panas. Suhunya makin tinggi ketika kami tiba di rumah sakit. Tidak berlama-lama, setelah isya saya dan Dd pun pulang ke rumah. 

  Di rumah, demam Dd makin tinggi. Langsung saja pada hari Minggu pagi saya bawa Dd ke rumah sakit. Juga membawa pakaian untuk berjaga-jaga kalau Dd dirawat. Benar saja, Dd juga harus dirawat dengan penyakit yang sama! Padahal Dd baru saja pulih dari sakit cacar air. Duh, sedih banget...

A post shared by Emak Riweuh (@innariana) on

   
  Kondisi Dd mulai melemah. Dia pun langsung tertidur ketika sampai di kamar perawatan. Kami mendapatkan kamar yang bersebelahan dengan kamar Kk. Hmm, agak repot juga nih bolak-balik ke dua kamar ini. Ketika ada informasi kamar untuk dua pasien yang kosong, kami pun pindah pada sore harinya. Nah, kalau sekamar berdua gini jadi enak kan...  

Dirawat bareng

Nangkring bareng di kursi. Bosan di tempat tidur.

  Hari Senin (10/4) sampai hari Kamis (13/4) berikutnya, saya dan Bapa bergantian jaga di rumah sakit. Bapa bisa berangkat ke kantor dari rumah sakit pada pukul 6 pagi. Pada jam yang sama, saya sudah harus ada di rumah sakit, sebelum boyz bangun untuk mandi (dilap) dan sarapan. 

   Selama sakit dan dikurung di kamar, biar nggak bosan, boyz saya ijinkan mengunduh aplikasi games dan memainkannya secara online menggunakan wifi rumah sakit. Dengan perjanjian, setelah pulang nanti, game tersebut akan dihapus. Maklum, boyz memang saya batasi bermain game online. Mereka pun setuju dan kemudian anteng bermain game bareng.
Kk Rasyad lagi main game

Main game di laptop Ibu

  Eh tunggu, itu lagi pada main laptop. Memangnya Ibu bawa laptop ya? Duh maap, Ibu emang nggak bisa jauh dari laptop. Beruntung lagi nggak banyak kerjaan minggu ini. Cuma satu content placement aja yang Ibu kerjain waktu di rumah sakit. Selebihnya, boyz yang pakai laptop Ibu biar anteng, hehe.

   Menginjak hari kedelapan sejak awal demam dan setelah tujuh hari dirawat, Kk Rasyad boleh pulang dari rumah sakit. Fase kritisnya sudah lewat dan trombositnya mulai naik. Sedangkan Dd baru boleh pulang keesokan harinya. Meskipun trombositnya masih turun, tapi kondisi fisiknya baik dan nilai trombositnya masih di atas 100 ribu. Bisa ditingkatkan di rumah. Lagipula, Dd juga sudah masuk hari ketujuh, sudah aman.

Dd ogah difoto. Bekas cacarnya masih kelihatan tuh.
  Horee! Akhirnya boyz boleh pulang! Untuk merayakannya, sebelum Kk pulang, saya membeli big box Pizza Hut yang lokasinya ada di seberang rumah sakit. Kabar gembira ini patut untuk dirayakan. Alhamdulillah, semoga sehat terus ya my boyz...

>>>> Read More >>>>

Senin, 03 April 2017

Cara Merawat Anak yang Terkena Cacar Air



Tepat hari ini, tanggal 3 April 2017, Dd Irsyad masuk sekolah setelah seminggu lebih dikarantina di rumah. Dikarantina? Iya, Dd Irsyad terpaksa saya 'kurung' di rumah karena terkena penyakit cacar air. Selama seminggu, saya fokus merawat anak yang terkena cacar air dan tidak pergi menikmati long weekend libur kejepit. Ehm, lagian kalau nggak ada yang sakit, teuteup aja biar liburan pun keluarga saya 'tidak bisa' pergi liburan karena sesuatu hal. 

  Cacar air adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela zosterDitandai dengan ruam pada kulit berbentuk gelembung berisi cairan jernih. Penyakit ini sangat menular. Penularannya melaui udara dan kontak fisik dengan penderita. Hmm, tidak heran. Dd Irsyad langsung terkena cacar setelah bermain bola dengan anak tetangga yang 'kabur' dari rumah karena bosan dikarantina. Iya, anak tetangga tersebut memang sedang menderita cacar air. Menyadari sang anak hilang, neneknya yang panik langsung memanggil pulang. Yah, keburu ketularan deh hehehe.

  Ternyata bukan anak tetangga yang satu itu saja yang sedang terjangkit penyakit cacar air. Pada waktu yang hampir bersamaan, sudah ada lima anak tetangga di sekitar gang yang terkena cacar air. Di sekolah TK memang ada beberapa anak yang kena. Di tempat mengaji juga. Memang sedang trend eh sedang wabah ya cacar air ini.

  Dulu, saya sempat kena cacar air saat Dd Irsyad masih ada di dalam perut. Saya tertular cacar dari Aa Dilshad, dan Aa Dilshad tertular dari teman sekolahnya. Waktu itu kami sekeluarga masih tinggal di Palangkaraya. Beruntung, Kk Rasyad yang masih balita tidak ikut tertular, Bapa juga. Lebih bersyukur lagi karena saat itu usia kandungan saya sudah 8 bulan. Menurut dokter, jika ibu hamil terkena cacar dengan usia kehamilan di bawah 7 bulan, maka cacar air bisa berpengaruh pada jabang bayi. Alhamdulillah, sang janin alias Dd Irsyad tidak terpengaruh apa-apa dari penyakit cacar air yang saya derita.

  Mengingat orang yang pernah terkena cacar air tidak akan tertular lagi, saya merasa tenang selama merawat Dd Irsyad. Dan tentu saja, berhati-hati supaya Bapa dan Kk Rasyad tidak ketularan. 
Bintil cacar air pada tubuh Dd Irsyad
Gejala cacar air yaitu flu, demam, sakit kepala, mual, nyeri, dan malas makan sampai badan terasa lemas. Selanjutnya muncul ruam berupa bintil-bintil merah kecil berisi air jernih yang makin lama menyebar ke seluruh bagian tubuh. Cacar air yang menjangkiti Dd Irsyad pertama tumbuh di telapak tangan, lalu ke wajah, dada, perut, kaki, sekitar kelamin, hingga ujung kepala. 

   Melihat ada bintil bergelembung di tangannya, saya langsung curiga dan membawanya ke dokter di klinik praktek 24 jam dekat rumah. Dokter jaga langsung memastikan bahwa Dd Irsyad terkena cacar dan memberikan obat puyer dan salep Acyclovir. Pengobatan dengan antibiotik tidak disarankan karena cacar air disebabkan oleh virus. Beruntung, Dd Irsyad tidak rewel dan juga tidak demam. Kata dokter itu disebahkan karena daya tahan tubuhnya yang baik. Pada penderita lain dengan daya tahan tubuh rendah, reaksinya bisa demam tinggi, badan lemas, atau bahkan muntah-muntah.

Cara merawat anak yang terkena cacar air di rumah:
  1. Beri banyak minum agar tidak dehidrasi. Jika masih bayi, perbanyak pemberian asi untuk asupan cairan dan nutrisinya.
  2. Oleskan bedak atau lotion anti gatal. Beritahu agar anak tidak menggaruk bintil-bintil cacarnya.
  3. Potong kukunya agar jika bintil cacar tergaruk tidak akan terinfeksi oleh kuman yang ada pada kuku. Jika sampai luka dan infeksi, cacar sulit sembuh dan akan meninggalkan bekas (kropeng).
  4. Oleskan obat gatal, seperti bedak calamine, untuk mengurangi gatal dan mempercepat proses pengeringan luka.
  5. Gunakan pakaian yang longgar dan nyaman dari bahan katun.
  6. Mandikan dengan sabun antiseptik. Saya menambahkan cairan anti kuman Detol pada air mandi dengan suhu hangat.
  7. Setelah mandi, gunakan handuk secara perlahan saat mengeringkan badan. Tepuk-tepuk perlahan. Jangan terlalu keras menggosok badan hingga bintil cacar pecah.
  8. Berikan obat penurun panas parasetamol jika deman dan untuk meredakan rasa nyeri.
  9. Menjaga jarak antara anak yang sakit dengan anggota keluarga yang belum pernah terkena cacar. Saya memisahkan Dd Irsyad dengan Kk Rasyad dengan tidak menempatkan mereka tidur dalam satu kamar sementara waktu.
  10. Pisahkan barang-barang yang digunakan oleh anak sakit. Misalnya gelas, piring, baju, handuk, dan lain-lain. Bersihkan peralatan tersebut secara terpisah. 
  11. Memberi lebih banyak sayuran dan buah-buahan. 
  12. Menyuruh anak untuk beristirahat. Namanya anak-anak, maunya main terus. Suka susah disuruh tidur siang. Selama sakit, saya memaksa Dd Irsyad untuk istirahat tidur siang biar cepat sembuh. 
  13. Menjaga anak tetap di dalam rumah sampai sembuh agar tidak menularkan penyakitnya. 

  Ada yang patut diwaspadai dan harus segera dibawa ke dokter jika terjadi kondisi berikut pada anak yang terkena cacar:
  • Bintil cacar terinfeksi kuman sehingga berubah warna dari bening menjadi merah, bengkak, atau bahkan bernanah.
  • Demam tinggi, sakit kepala, atau muntah.
  • Gatal berkelanjutan meskipun konsdisi bintil cacar mulai membaik.
 Cacar air bisa dicegah dengan vaksinasi. Pada orang yang sudah divaksin cacar air, jika suatu saat terkena cacar air tidak akan sampai parah. Vaksinasi sebaiknya diberikan pada usia satu tahun ke atas, karena pada usia ini bayi sudah tak lagi memiliki kekebalan tubuh dari ibunya. Daya lindung vaksin ini bisa mencapai 97%, dan bisa diulang saat anak berumur 5 tahun.

  Makanan Pantangan selama menderita cacar air juga harus diperhatikan. Ada beberapa jenis makanan yang justru bisa memperlambat proses penyembuhan cacar air, yaitu:
  • Makanan pemicu alergi. Ada anak yang alergi pada makanan tertentu, misalnya sea food. Saat terkena cacar, hindari makanan tersebut agar tidak memperparah kondisinya.
  • Makanan dari produk susu sapi dan produk susu lainnya seperti keju, mentega, dan es krim. Penyebabnya adalah lemak pada produk tersebut dapat meningkatan produksi minyak pada kulit, sehingga cacar mengering lebih lama. Sebagai gantinya bisa diberikan susu kedelai. 
  • Junk food seperti burger, kentang goreng, gorengan, permen, dan sebagainya. Makanan ini mengandung banyak lemak trans, gula dan tepung yang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, sakit tenggorokan, memperparah rasa gatal.
  • Daging kambing dan sapi. Kerena mengandung lemak dan kalori yang apabila dimakan secara berlebihan mampu menyebabkan tubuh terasa panas. Sebagai pengganti, orang tua bisa mengandalkan daging ayam untuk diberikan kepada anak.
  • Cokelat dan kopi karena memiliki kandungan yang bisa memperparah iritasi pada kulit.
  Setelah tiga hari, obat puyer yang diberikan oleh dokter sudah habis. Saya bingung. Salep Acyclovir juga sudah beli lagi. Tapi bintil-bintil belum juga mengering dan cenderung bertambah banyak. Akhirnya. Dd Irsyad saya bawa lagi ke dokter di Rumah Sakit Azra Bogor. Obat lanjutan pun diberikan berupa dua botol sirup berlabel Isoprinosine dan Celestamine. Salep Acyclovir dihabiskan dulu, kemudian dilanjutkan dengan salep baru Scanovir yang dibalurkan tipis lalu ditimpa dengan bedak anti gatal merk Caladine. Cespleng! Perkembangan pesat terjadi pada proses penyembuhan Dd Irsyad.

  

  Sedih rasanya jika anak sedang sakit. Apalagi saat terkena cacar air. Siapa sih yang nggak ikut prihatin melihat tubuh buah hati tercinta dipenuhi bintil-bintik cacar air yang membuatnya terganggu karena rasa nyeri dan gatal? Tetap tenang dan jangan panik, ya. Jika orang tuanya panik, maka anak yang sakit jadi tidak tenang. Orang tua harus sigap merawat dan menghibur sang anak selama sakit. 

  Selama dikarantina di rumah, Dd Irsyad saya ajak melakukan banyak kegiatan agar dia tidak bosan. Gimana nggak bosan. Keluar rumah nggak boleh. Ke sekolah apalagi. Ke tempat ngaji juga meliburkan diri dulu. Saya mengajak Dd Irsyad membaca buku, mengisi buku aktivitas belajar membaca dan menulis, menonton film, menonton tivi, sampai menemaninya bermain.


Kembali ke sekolah setelah sembuh dari cacar air

  Dd Irsyad berhasil sembuh setelah sakit selama delapan hari. Saat ini semua bintil cacarnya sudah mengering. Kecuali bintil cacar di bagian telapak tangannya yang pertama kali muncul. Bintil cacar di telapak tangan Dd Irsyad agak terlambat mengempis. Mungkin ini disebabkan karena telapak tangan punya lapisan kulit yang lebih tebal. Mudah-mudahan bisa segera kempis hari ini. Melihatnya pulang sekolah tadi dengan ceria, hati saya begitu lega dan bahagia. 

Sumber: halosehat.com, bidanku.com, ayahbunda.co.id
>>>> Read More >>>>