Selasa, 21 Februari 2017

Kk Rasyad Dirawat di Rumah Sakit


Hari ini, Senin tanggal 20 Februari 2017, Kk Rasyad boleh pulang dari rumah sakit. Setelah dirawat sejak hari Jumat malam, akhirnya demam Kk sudah turun dan badannya kembali sehat. Alhamdulillah. Sakit apa? Kk Rasyad demam tinggi sejak hari Rabu sore. Diobati sendiri di rumah seharian tidak ada perubahan. Kondisinya semakin menurun. 

   Pada hari Jumat siang, saya mau membawa Kk ke klinik terdekat. Sayang, Kk tidur terus dan saya binung bagaimana membawanya dengan ojek. Kk baru bisa dibawa ke dokter setelah Bapa pulang kerja. Kami langsung membawanya ke Rumah Sakit Azra karena suhu tubuhnya tidak kunjung turun dan Kk mulai sulit dibangunkan karena lemas. 

   Sampai di IGD, banyak pasien yang berobat membuat kami menunggu cukup lama. Setelah diperiksa, dokter langsung memutuskan bahwa Kk Rasyad harus dirawat. Obat penurun panas via 'jalan belakang' segera diberikan sebagai tindakan darurat. Saya langsung mencari kamar sementara Bapa dan Dd Irsyad menunggu di ruang tunggu. Setelah mendapat kamar, Kk Rasyad dipasangi infus. Bapa dan Dd pulang ke rumah sementara saya menemani Kk menginap di rumah sakit.

   Kk menempati kamar anak kelas dua di gedung baru lantai 3. Dulu area gedung ini adalah tempat parkir, taman, dan mushola. Kenapa nggak nginep di kamar VIP aja? Sesuai jatah dari asuransi perusahaan dong. Yang penting anak bisa dirawat dengan baik di rumah sakit. Masalah kamar kan cuma tentang berbagi fasilitas aja.

  Oia, Kk Rasyad pernah dirawat sebelumnya di RS Azra pada tahun 2009 karena keracunan makanan. Tepatnya, mie gelas. Waktu itu, Aa Dilshad dan Kk Rasyad makan mie gelas kemudian langsung demam plus muntah dan mencret. Aa segera dirawat oleh almarhum Nenek di Ciapus. Sedangkan Kk harus dirawat di rumah sakit. Saat itu Kk baru berusia 3 tahun. Saya sendirian menjaganya karena Bapa sedang di luar kota. Bayangin betapa riweuhnya saya saat itu karena Kk termasuk anak yang rewel kalau sakit.

Kk Rasyad kecil saat dirawat di RS

Malam pertama di rumah sakit

Kk Rasyad lebih banyak tidur karena lemas. Saya yang kebetulan sedang dalam kondisi kurang fit karena batuk. Saya tidur di sebelah tempat tidur Kk. Beralaskan selimut dan bantal yang dibawa di mobil waktu berangkat ke rumah sakit, saya berusaha untuk bisa tidur. Mana bisa tidur, saya tidak tenang. Infus di tangan Kk bolak-balik tegang karena ditarik Kk yang tidurnya 'motah' alias tidak bisa diam. Ditambah suasana kurang nyaman tidur di lantai, kedingian, badan agak muriang, plus bolak-balik batuk pula. Sesekali suara tangis pasien bayi di sebelah membangunkan saya. Riweuh amat yak, hehe...

Kk yang lagi tidur dan Dd yang anteng main game
   Pada malam itu, Kk juga tiba-tiba bangun dan berteriak. Demam tinggi membuatnya menggigau! Kk duduk, panik, lalu bilang kalau dia takut jatuh. Saya bolak-balik istighfar dan berusaha membuatnya sadar lalu menidurkannya kembali. Fiuh... lumayan bikin deg-degan. Suster yang mendengar buru-buru datang dan membantu saya. Syukurlah, Kk mau tidur lagi dengan tenang.

Hari Sabtu pagi

Seharusnya pada hari ini Kk Rasyad ikut lomba Olimpiade Sains Kuark di SD Insan Kamil pada pukul 8 pagi. Perlengkapan lomba sudah siap. Kk juga sudah belajar sedikit sebelum demam. Lomba Olimpiade Sains Kuark digelar setiap tahun oleh majalah sains Kuark. Tahun lalu Kk terlambat mendaftar. Dua tahun sebelumnya Kk sudah ikut lomba dan berhasil lolos sampai babak semifinal. 

   Semangatnya tinggi sekali untuk ikut lomba ini. Nggak apa-apa ya, Kk nggak bisa ikutan lagi. Tahun depan masih ada kesempatan. Tentang lomba Kuark yang Kk Rasyad ikuti bisa dibaca di sini: Juara Kelas Bukan Segalanya.

Ikut Lomba Olimpiade Sains Kuark 2015

   Jelang siang, Bapa dan Dd Irsyad datang ke umah sakit. Saya segera pulang ke rumah bersama Dd Irsyad dengan memesan Grab Car. Saya beristirahat di rumah untuk memulihkan kondisi badan yang lemas dan kurang tidur. Setelah segar, kami berdua kembali ke rumah sakit pada sore hari. Kata Bapa, saya tidak usah balik lagi ke rumah sakit. Tapi mana bisa tenang di rumah? Saya ingin tahu apa kata dokter anak tentang kondisi Kk.

   Sayang, dokter anak Setyawati yang ditunggu tidak bertemu dengan Bapa. Dokter datang tepat ketika Bapa pergi ke mushola untuk shalat ashar. Hmm, jadi makin penasaran terhadap diagnosa penyakit Kk. Untung ada dokter jaga. Beliau menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan darah. tidak ada indikasi penyakit demam berdarah atau tipus. Kemungkinan demam disebabkan oleh virus atau infeksi. 

   Infeksi? Saya teringat sakit telinga yang pernah Kk derita dulu. Kata dokter THT, Telinga Kk sakit karena dahak yang terkurung dan tidak bisa keluar. Setelah dikorek, telinga Kk tidak sakit lagi. Kayaknya sih, bukan infeksi telinga karena Kk tidak mengeluh telinganya sakit. 

   Berarti karena virus. Kok bisa kena virus? Ya bisa lah. Namanya juga manusia yang menghirup udara bebas, hehe. Dugaan saya dan Bapa, Kk bisa sakit demam tinggi karena kondisi fisiknya yang tengah drop karena kelelahan dan kehujanan juga.

   Ceritanya begini...

   Pada hari libur nasional karena Pilkada kemarin, Kk Rasyad minta dibangunkan pukul 2 pagi untuk nonton pertandingan bola di televisi. Mumpung libur, Kk diijinkan nonton tv dan begadang. Setelah nonton, bukannya melanjutkan tidur Kk malah terus melek sampai siang. Jika saya tidak bawel, mungkin Kk tidak tidur seharian. Keesokan harinya, Kk sudah bangun pagi sekali, berangkat ke sekolah, pulang langsung ngaji, jelang maghrib main bola di tengah gerimis, dan baru mandi setelah maghrib. Nah, setelah magrib itulah Kk mulai demam tinggi.

Gelang penanda dan tangan yang diinfus

   Syukurlah, bukan penyakit yang serius. Malam minggu itu saya kembali pulang ke rumah setelah numpang makan malam di rumah sakit. Makan apa? Makan sisa makanan Kk plus makanan yang dibeli Bapa dari luar rumah sakit, Bapa bawa bebek goreng Pak Slamet dan bakso Seuseupan. Yamii...

Minggu pagi

Saya sudah riweuh nyuci baju, masak mie goreng dan pisang tanduk kukus untuk Eyang di rumah. Emak Onih (ART pulang-pergi) tidak bisa datang karena saudaranya meninggal. Saya meminta Mak Onih datang pada sore hari untuk mengurusi Dd Irsyad berangkat sekolah. Senin subuh Bapa harus berangkat ke bandara untuk dinas di Maumere. Jadi, saya harus ada di rumah sakit pada Senin subuh dan Mak Onih mengurus Dd. Tadinya sih. Dd mau diajak bolos sekolah aja. Tapi Dd ada pertandingan futsal. Sayang jika dilewatkan karena Dd begitu bersemangat ikut pertandingan ini.

Suasana kamar yang kosong

   Pasien sebelah sudah pulang. Kamar anak yang seharusnya ditempati oleh 6 pasien ini jadi terasa leluasa buat kami sekeluarga. Ruangan sebesar ini cuma ditempati oleh Kk Rasyad! Yihaa... merdeka banget ya! Berasa nginep di kamar VIP, hihihi.

Bosan di tempat tidur
   Kk Rasyad juga sudah kelihatan lebih segar. Sudah bisa duduk dan jalan ke kamar mandi, Sudah jalan-jalan keliling kamar, ngintip sebentar di koridor depan kamar. Dd Iryad pun senang karena kakaknya sudah bisa diajak bermain lagi. Setelah saya dan Dd Irsyad datang, Bapa langsung berangkat ke pesantren untuk menjemput Aa Dilshad. Kami sekeluarga pun menghabiskan hari minggu bersama di kamar rumah sakit :)

3 boyz nangkring bareng :D

Dd Irsyad manjatin tempat tidur satu-satu
  Berasa nginep di hotel, ya. Maklum, rumah kami nggak pakai AC, hehe. Banyak tempat tidur kosong jadi tempat bermain buat Dd Irsyad. Makanan di rumah sakit ini menurut saya rasanya lumayan enak. Nasi putih (sedikit lembek agar mudah dikunyah) tersaji lengkap bersama lauk, sayur, dan buah. Lebih sehat karena no gorengan, no msg, dan kadar gizinya sudah ditakar. Porsinya cukup banyak untuk ukuran anak kecil seperti Kk Rasyad. Jadi, Kk Rasyad sering tidak menghabiskan makanannya. Tentu saja selanjutnya saya yang mengambil alih. Sebagai emak vacuum cleaner, saya ikutan makan juga, hehe.

Menu komplit bergizi di rumah sakit
Sebelum disuapi makan
   Minggu sore, Aa kembali pulang ke pesantren dengan Grab Bike. Bapa dan Dd kembali ke rumah untuk mandi. Bapa sekalian bawa koper dari rumah untuk berangkat ke bandara dari rumah sakit. Malamnya, kami kedatangan tamu bapak-bapak dan ibu-ibu tetangga komplek. Terima kasih untuk kunjungannya, Bapak dan Ibu Tommy, Bapak dan Ibu Udin, Bapak dan Ibu Irwan, Mama Rayyan, dan Bu Jajay. Juga terima kasih buat Om Bayu, Tante Nina, dan Ghiyats yang mampir untuk menjenguk Kk Rasyad. 

   Saya dan Dd Irsyad pulang ke rumah pukul 20.30, nggak perlu makan malam lagi. Bapa tadi sudah beli sate padang. Dd Irsyad kembali makan bakso Seuseupan yang dibawa oleh keluarga Tante Irein. Asyik, makasih Tante. Demen banget makan bakso ni anak. Kayak siapa yaa...
   
Hari terakhir di rumah sakit

Keesokan harinya, saya sudah kembali ke rumah sakit. Aplusan jaga sekalian melepas Bapa pergi dinas ke Maumere. Dokter Setyawati berkunjung dan membolehkan Kk Rasyad pulang jika hasil tes darah bagus. Alhamdulillah, hasil tes darah sejam kemudian menyatakan Kk boleh pulang. Horee...

  Ketika menunggu urusan administrasi di rumah sakit, saya dapat kabar bahwa Dd Irsyad dan teman-temannya menang pertandingan futsal di sekolah tetangga dan siap maju ke babak selanjutnya. Wah, selamat ya! Nggak sia-sia latihan main bola setiap saat di mana saja ya De. Di lapangan, di jalanan depan rumah, di dalam rumah, sampai di dalam mobil :D
Dd Irsyad dan teman-teman tim futsal (foto: WA grup)
  Sedikit drama saat saya masih di rumah sakit, Pulang sekolah, Dd Irsyad kabur ke rumah teman sekolahnya, Ihsan. Untung sang mama segera memberi kabar. Saya meminta Mama Ihsan untuk menahan Dd main di rumahnya sampai saya pulang. Makasih ya, Mam!

  Setelah sekian jam menunggu hingga bisa bikin postingan ini, akhirnya proses administrasi yang memerlukan persetujuan asuransi selesai juga. Kami pulang! Terima kasih ya, Allah. Kk Rasyad sudah pulih kembali dan bisa ceria seperti sedia kala. Alhamdulillah. Terima kasih buat teman-teman blogger dan para tetangga yang sudah mendoakan supaya Kk lekas sembuh. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, aamiin.

>>>> Read More >>>>

Rabu, 08 Februari 2017

Bermain Sambil Belajar di Taman Kaulinan Bogor


Mengajak anak-anak bermain di taman. Mengapa tidak? Udara yang bersih dan pepohonan yang rindang membuat siapa saja merasa nyaman berada di taman. Dengan bermain di taman, anak-anak bisa bersplorasi sesuka hati. Taman dengan aneka permainan anak-anak sudah pasti menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. 

  Waktu masih merantau, saya dan suami kerap mengajak anak-anak ke taman kota. Membawa tiga buah hati yang masih kecil, kami menimati kebersamaan keluarga. Setelah berhenti merantau dan tinggal di Bogor, kebiasaan itu tetap berlanjut. 

  Apakah Bogor punya taman kota? Begitu yang ada di pikiran saya. Ternyata, fasilitas umum berupa taman di Bogor ada banyak, lho! Semuanya sudah direvitalisasi menjadi taman tematik, yaitu taman Bogor, Taman Corat-coret, Taman Skatepark, Taman Air Mancur, Taman Heulang, Taman Ekspresi, Taman Kencana, Taman Peranginan, Hutan Kota, dan Taman Malabar. Wah, saya sebagai warga Bogor merasa senang. Jadi adem melihatnya.



  Sekarang ada taman bermain baru khusus untuk anak-anak di Bogor. Namanya Taman Kaulinan. Kata ‘kaulinan’ berasal dari bahasa Sunda yang artinya permainan. Taman bermain ini khusus dibuat untuk mengajak anak-anak bermain, mengolah kemampuan motoriknya supaya tubuh jadi lebih sehat. Daripada ajak anak-anak jalan ke mall dan makan serta jajan nggak jelas, atau diam saja di rumah berkutat main gadjet, lebih baik aja ke Taman Kaulinan saja.

Taman Kaulinan

   Ada permainan apa saja di Taman Kaulinan? Aneka permainan yang ada yaitu: perosotan, ayunan, egrang, rumah pohon, panjat tali, galah asin, engklek, ular tangga. Wah, jadi ingat permainan tradisional masa kecil dulu. Tidak ada salahnya mengenalkan anak kepada mainan tradisional Indonesia. 

Bermain ayunan di bawah rumah pohon
Perosotan
   Mau main galah asin? Waktu kecil, saya menyebutnya galasin. Tidak perlu menggambar jalanan dengan kapur papan tulis lagi. Sudah ada gambar di lantai taman yang membentuk pola permainan ini. Begitu pula dengan engklek. Tinggal bawa batu pipih, langsung main deh di lantai yang digambar.

Galah asin
Engklek
  Ada permainan yang unik, nih. Yaitu egrang. Kenapa unik? Egrang yang biasanya dipakai untuk berjalan ini adalah egrang statis. Batang egrang kuat menancap di tanah. Tinggal bergaya seolah-olah sedang berjalan di atas egrang. Deretan egrang ini bisa dimainkan dengan melintasi antara egrang yang satu dengan yang lainnya. Lewat permainan ini, anak belajar keseimbangan dan koordinasi motoriknya terlatih.

Egrang statis
  Di seberang rumah pohon, ada permainan panjat kubus dari bahan pipa besi yang tidak kalah seru. Jadi ingat dulu saya sering main ini ketika duduk di bangku taman kanak-kanak. Saya memanjat paling tinggi, kemudian nangkring manis nggak mau turun. Nikmat banget. Serasa ada di puncak gunung, hihihi.
Panjat kubus
   Buat orang tua disediakan gazebo tempat bersantai untuk menunggu anak-anak bermain. Gazebo ini juga menjadi ruang baca sambil menikmati sejuknya semilir angin di kota Bogor. Oia, semua permainan di Taman Kaulinan ini sudah memenuhi standar keamanan untuk anak-anak. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir lagi membiarkan anak-anak bermain di sini.

Gazebo tempat bersantai

   Taman Kaulinan berada satu lokasi dengan lapangan Sempur di pusat kota Bogor. Menurut Solihin, Corporate Affair SAT, waktu pengerjaan taman ini bersamaan dengan revitalisasi lapangan Sempur sejak bulan Juli tahun 2016. Taman seluas 600 meter persegi ini akhirnya selesai pada bulan Januari 2017 dan siap diresmikan oleh Walikota Bogor Bima Arya pada tanggal 5 Februari 2017.

   Beruntung, saya berkesempatan menyaksikan langsung peresmian Taman Kaulinan Bogor yang bertepatan pada hari Minggu. Bersama Kk Rasyad, anak kedua saya, kami berdua datang ke lapangan Sempur pada pukul 7.30 pagi. Wah, suasana sudah ramai. Tapi, Taman Kaulinan ada di sebelah mana, ya? Setelah berjalan melintasi lapangan Sempur, ternyata Taman Kaulinan ada di sebelah ujung lapangan yang berbatasan dengan sungai Ciliwung. Jika naik angkot, bisa turun di jembatan setelah setelah melewati Istana Bogor. Nah, Taman Kaulinan berada tepat di bawah tangga. Jadi nggak perlu jauh-jauh melintasi lapangan Sempur.

Saya dan Kk Rasyad

  Ketika kami datang, acara peresmian Taman Kaulinan belum dimulai. Acara ini dimeriahkan oleh musik dan tarian tradisional. Tidak lama kemudian, Bapak Walikota Bogor Bima Arya memasuki lapangan Sempur. Kedatangan beliau sudah dinantikan oleh warga yang hadir untuk menyaksikan langsung acara peresmian. Memasuki Taman Kaulinan, Bapak Walikota langsung disambut dengan pertunjukkan tari Tokecang oleh anak-anak. 


Menyambut Walikota Bogor (foto Twitter YayasanBerani)

   Bapak Walikota mencoba permainan yang ada di Taman Kaulinan. Beliau mencoba engklek, ular tangga, egrang bahkan naik flying fox dari rumah pohon! Wah asyik! Ada permainan flying fox juga? Ada, tapi kayaknya sih hanya pada akhir pekan saja karena permainan ini berbayar. 

Pemasangan alat pengaman flying fox
Bapak Walikota tengah meluncur, wusss!

   Duh, Pak Bima Arya bikin sirik aja nih! Jadi kepengen naik flying fox juga. Memang ukurannya tidak terlalu tinggi karena dirancang khusus untuk anak-anak. Mencoba flying fox bisa mengasah nyali mereka untuk berani menerima tantangan. 

  Usai bermain, Bapak Walikota menandatangani prasasti yang artinya Taman Kaulinan ini sudah resmi dibuka untuk umum. Hore! Alhamdulillah. Yuk, kita terusin lagi mainnya!

Penandatanganan prasasti (foto: Instagram YayasanBerani)
   Taman Kaulinan didirikan dari donasi warga yang dikelola oleh Yayasan Berani Bhakti Bangsa yang bermitra dengan PT SAT. Terselenggara berkat program DonasiKu yang bekerjasama dengan Alfamart dan Alfamidi.

   Masih ingat pertanyaan mbak atau mas di kasir ketika kita berbelanja di Alfamart dan Alfamidi, "Seratus rupiahnya boleh didonasikan?"  Nah, uang kembalian belanja yang mungkin hanya sebesar 100 atau 200 rupiah tersebut dikumpulkan bersama uang kembalian dari gerai toko yang lain hingga jumlahnya bisa didonasikan untuk membangun fasilitas umum untuk dinikmati seluruh masyarakat. Salah satunya adalah Taman Kaulinan ini.

   Selain mengumpulkan uang kembalian, para pelanggan Alfamart dan Alfamidi juga boleh menyumbang langsung di gerai Alfamart dan Alfamidi terdekat. Program DonasiKu dinaungi oleh Direktorat Pengelolaan Sumber Dana Bantuan Sosial Kementrian RI. Untuk penyebaran donasi bisa dilihat langsung secara transparan oleh masyarakat di media sosial dan website Alfamart, serta publikasi media. Selengkapnya bisa dilihat di website beranifoundation.org. Gimana? Sekarang jadi tenang kan setelah tahu ke mana uang yang sudah kita donasikan. Jangan ragu lagi untuk berdonasi lewat gerai Alfamart dan Alfamidi, ya.

Antusiasme warga menyaksikan acara peresmian
Wow, rame banget ya!
   Ternyata Taman Kaulinan ini memang dari warga dan untuk warga. Keberadaaan taman ini disambut dengan sukacita oleh warga Bogor. Buktinya: Taman Kaulinan padat pengunjung! Semua anak yang datang langsung mencoba berbagai permainan. Sayang, situasi yang terlalu ramai bikin tidak nyaman dan anak-anak kurang leluasa bermain. Selain padat hingga sulit melintas, anak-anak juga harus menunggu giliran untuk bergantian main. Sabar, ya! 

Ramai-ramai mencoba main egrang
Main panjat tali
Main ular tangga
Naik ke atas rumah pohon
   Di tengah keramaian peresmian Taman Kaulinan, saya bertemu dengan teman-teman blogger yang berdomisili di seputar Bogor dan Depok. Semua membawa anaknya masing-masing. Wah, bukan cuma anak-anak saja yang senang, para ibu juga bisa sekalian berkumpul sambil menemani anak-anak bermain. Setelah puas mengobrol dan bersenda gurau, kami berfoto bersama sebelum pulang ke rumah.

Bersama teman-teman blogger (foto: Arin Murtiyarini)
   Suasana super padat pengunjung hanya ternjadi saat peresmian. Pada hari berikutnya, saya kembali lagi ke Taman Kaulinan dan melihat anak-anak bermain dengan leluasa karena suasana lebih sepi. Beberapa sekolah terlihat mengajak rombongan anak-anak. Semua bergembira bisa bermain sambil belajar di Taman Kaulinan.

   Jangan lupa, Taman Kaulinan ini adalah milik kita bersama. Sebagai fasilitas umum untuk warga, sudah seharusnya kita menjaganya dengan baik agar tetap terawat dan bisa terus dipakai dalam jangka waktu yang lama. Jangan buang sampah sembarangan, ya! Tempat sampah tersedia di beberapa titik di seputar Taman Kaulinan dan lapangan Sempur. Papan peraturan untuk pengunjung juga tertera dengan jelas dan harus dipatuhi demi kenyamanan bersama.

Tempat sampah dan papan peraturan
 
   Saya yakin, taman Kaulinan yang keren ini jadi tempat wisata favorit di kota Bogor. Seperti kata Bapak Walikota Bogor Bima Arya, bahwa pembangunan taman kota tidak hanya dipandang sebagai penambahan ruang terbuka hijau. Taman adalah oksigen jiwa. Taman kota jadi sarana yang tepat untuk membangun karakter warga. 

  Bahagia rasanya melihat banyak warga yang datang bersama keluarga untuk berolahraga, bermain, dan bereakreasi di taman. Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga tercinta. Anak-anak gembira, orang tua pun ikut senang. Yuk, ajak anak-anak bermain di taman ^_^



>>>> Read More >>>>

Sabtu, 04 Februari 2017

Menikmati Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Bersama Kenangan Masa Lalu


Menikmati Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda Bersama Kenangan Masa Lalu. Sengaja bikin judul ini karena memang itu yang saya rasakan ketika mencicipi dua kuliner tersebut. Sepulang dari jalan-jalan di Ciater tempo hari, kami sekeluarga sengaja mengambil jalan pulang melewati kota Sadang dan Purwakarta. Apa lagi kalau bukan supaya mampir makan siang dengan sate maranggi yang terkenal di daerah ini?

  Tapi, jangan salah. Saya tidak pergi ke tempat makan sate maranggi dan es kelapa muda yang terkenal dan kerap direview oleh teman-teman blogger. Saya justru makan sate maranggi yang menurut lidah saya adalah yang terenak. Maklum, saya sudah menjadi langganannya sejak kecil. Barangkali, lidah saya sudah 'teredukasi' sedemikian rupa sehingga saya merasa sate maranggi yang lain tidak bisa mengalahkan sate maranggi yang satu ini. 

   Penasaran? Yuk, ikut saya ke tengah kota Purwakarta untuk mencari tempat makan sate maranggi ini. Saya mau cerita dulu, ya. Waktu kecil, saya tinggal di Cikampek. Sesekali saya bersama orangtua dan kedua saudara saya main ke Purwakarta. Ada sebuah warung makan sederhana yang menjual sate maranggi. Tempat berjualan hanya ala kadarnya saja. Yaitu gubuk berbilik bambu dengan ukuran 2 x 2 meter! Sempitnya!

   Meski berukuran minimalis pake banget, pelanggan sate maranggi ini cukup banyak. Meja panjang untuk tempat makan yang ditempel di dinding hanya pas untuk 6 atau 7 orang dewasa saja. Sementara tempat pembakaran sate ditaruh di depan warung. Sederhana banget, ya!

   Tapi coba lihat sekarang... jreng jreng! Warung makan mungil itu berubah menjadi rumah makan yang besar! Alhamdulillah, bisnis ini berkembang pesat. Rejeki melimpah membuat Bapak R. Najib Siradj, sang pemilik warung mampu membeli rumah yang ada disebelahnya. Rumah tersebut disulap menjadi rumah makan yang bisa menampung lebih banyak pelanggan. 

Tampak depan
   Jujur, saya baru tahu nama tempat makan ini adalah Maranggi Maskar Ajiiib. Dulu sama sekali tidak ada papan nama. Cukup bilang: sate maranggi sebelah penjara. Itu saja. Nama maskar ajib adalah singkatan dari 'masakan karuhun' Pak Ajib, nama pemilik rumah makan ini. Tidak terasa, usaha sate maranggi beliau sudah berjalan selama 30 tahun! Saya termasuk pelanggan beliau pada awal usaha ini berdiri. Tentu saja, saya ikut senang dan bangga.

  Sate maranggi kini menjadi ikon khas kota Purwakarta. Ada kisah dibalik nama sate maranggi. Dulu, ada seorang ibu bernama Mak Anggi yang membuat sate lezat berbahan daging. Mak Anggi yang berasal dari daerah Plered ini telah mempopulerkan istilah sate maranggi. Oia, sate maranggi di daerah Plered juga tidak kalah lezatnya, lho! Bedanya, sate maranggi plered yang saya sering makan dulu itu lebih banyak lemaknya. Nggak tahu deh kalau sekarang.
  
Tempat bakar sate di depan rumah makan
   Balik lagi ke rumah makan sate maranggi Pak Ajib. Rumah makan ini menyediakan tempat lesehan. Tiga kamar tidur disulap menjadi bilik makan lesehan. Sebenernya, asyik juga makan sate maranggi sambil lesehan di rumah berarsitektur jadul ini. Sayang, karpet plastik pelapis tempat lesehan ini agak licin bekas minyak dari sisa makanan. Eng... nggak jadi lesehan deh. Duduk di meja aja.

Kamar tidur yang disulap jadi bilik lesehan
Deretan meja makan
   Mari makan! Setelah duduk dan memesan sate, tidak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati sate maranggi yang enak ini. Kami memesan 20 tusuk sate kambing dan 10 tusuk sate sapi. Sebagai teman makan sate maranggi adalah nasi yang dibungkus oleh daun pisang. Satu bungkus pas porsinya buat saya. Kalau kurang, tinggal nambah lagi.

Nasi bungkus daun dan teh tawar
   Sepanjang pengalaman saya, sate maranggi disajikan dengan bumbu kecap yang kental dengan cita rasa manis pedas yang nikmat. Entah mengapa, waktu makan di tempat sate maranggi kenamaan yang hits itu, saya baru menjumpai sate maranggi yang bersanding dengan bumbu irisan tomat dan cabe rawit. Hmm, saya pikir itu inovasi baru. Enak sih, tapi merusak kenangan saya terhadap sate maranggi, hehe.

Sate maranggi kambing (kanan) dan sate marangi sapi (kiri)
   Nah, di rumah makan ini kita bisa minta bumbu sate pakai bumbu kecap atau bumbu cabe. Tentu saja, saya memilih bumbu kecap. Kan lagi mengenang masa lalu. Biar klop. Ternyata, rasa sate maranggi di sini memang sesuai dengan kenangan rasa yang ada di kepala saya. Padahal sudah lama sekali saya berpisah dengan sang sate. 

   Gimana rasanya? Enak? Enak banget! Wuah, serasa melayang ke masa lalu.. ingat dulu saya dan keluarga makan sambil umpel-umpelan karena sempit. Entah berapa tusuk sate yang Papi saya pesan. Seingat saya, setiap habis makan sate maranggi, kami di mobil dalam perjalanan pulang akan saling pamer berapa tusuk yang sudah dimakan. Biasanya sih saya menghabiskan sekitar 12 sampai 14 tusuk sendiri! Haha, rakus ya!

  Setelah kenyang, saya menuju kasir untuk membayar makanan. Sayang, saya lupa meminta bonnya. Maklum, nggak fokus karena lelah setelah perjalanan panjang. Kalau tidak salah, 10 tusuk sate maranggi harganya 40 ribu. Lumayan terjangkau dan sepadan deh. 

   Sebelum pulang, kami membeli oleh-oleh simping khas Purwakarta yang dijual di toko sebelah rumah makan sate maranggi. Di rumah makan ini juga menjual simping. Tapi kami malah beli di toko sebelah yang lebih komplit, hehe. Simping khas Purwakarta ini dulu sering diborong Mami saya dalam bentuk kaleng besar. Kata penjualnya, sekarang ukuran kaleng besar sudah tidak ada lagi. 

Simping aneka rasa
Rumah makan dari pinggir jalan
   Oia, kami sengaja cuma memesan sate maranggi saja karena ingin mampir membeli minuman di es kelapa muda cibungur. Kenapa nggak sekalian aja? Nggak mau ah. Rasanya beda. Kan ceritanya lagi menyusuri kenangan *aheum*

   Memang sih, kalau kita makan sate maranggi di tempat makan yang hits itu (teuteup yah dibahas), nggak perlu repot cukup satu tempat bisa makan sate maranggi sekaligus minum es kelapa muda. Tapi saya kapok, ah. Tempat makan yang selalu penuh itu bikin nggak nyaman dan perasaan jadi pengen buru-buru pulang. Belum lagi antriannya, beuuhh...

   Tahu nggak sih, jaman saya kecil, ada tempat makan yang menjual es kelapa muda paling enak! Bahkan dulu saya sering buka puasa dengan es kelapa muda ini. Tinggal nitip beli, dateng deh es kelapa sebagai pelepas dahaga. Makanya, rasa es kelapa muda cibungur itulah yang menempel di kepala saya. Sampe ngelotok...

   Sebenarnya, warung makan tempat saya membeli es kelapa muda ini terkenal dengan gado-gadonya yang enak. Berhubung waktu kecil saya nggak suka makan sayur, setiap orang tua saya pesan gado-gado, saya pasti pesan makanan yang lain. Biasanya bubur ayam atau malah cuma numpang minum es kelapa muda doang.

  Sama seperti rumah makan sate maranggi, saya juga baru ngeh kalau nama tempat makan ini adalah warung gado-gado Ibu Tati. Yah, jaman dulu mah belum ada spanduknya. Pokoknya dari mulut ke mulut orang banyak yang tahu kalau tempat makan ini istimewa.

   Sedikit kelewatan untuk menemukan warung Ibu Tati ini karena lokasinya sudah pindah. Sebelumnya, warung terletak di dekat stasiun Cibungur yang masuk ke dalam gang. Ternyata, warung ini pindah ke pinggir jalan raya dan bersebelahan dengan pusat oleh-oleh khas Purwakarta.

Warung tampak samping
Papan nama warung di pinggir jalan
Pusat oleh-oleh di sebelah warung
   Langsung saja, saya memesan es kelapa muda lima gelas. Di sini bisa pilih sirup untuk es kelapa, lho! Mau pakai gula biasa, gula merah, susu, bahkan jeruk! Wow, baru nih! Saya pilih gula merah, lebih sehat. Ketika minuman datang, kami terkejut... alamak gelasnya besar banget! Ternyata seharusnya saya memilih gelas kecil saja. Daripada mubazir, dua gelas langsung dibungkus. Tiga gelas sudah cukup untuk berlima.

Es kelapa muda gula merah
Jumbo size!
   Seingat saya, pesan es kelapa muda ada dua pilihan: di gelas (waktu itu pakai gelas enamel) dan di satu buah kelapa utuh. Rupanya porsi gelas besar itu sama saja dengan porsi satu buah kelapa. Kebayang dong kenyangnya, haha. 

Duduk di pinggir pintu keluar :D
Suasana di dalam warung
Lagi serius maen game
  Selain gado-gado dan es kelapa muda, menu lain ada karedok, sop, soto ayam, soto santan, soto babat, aneka gorengan, dan minuman teh. Harganya? Segelas besar es kelapa muda tadi cuma 15 ribu saja! Wow, murah meriah ya! 

"Maaf, gorengan yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan"
  Alhamdulillah, super kenyang! Super puas buat saya yang nggak penasaran lagi dengan dua tempat penuh kenangan ini. Yah, saya mah gitu. Ngajak boyz piknik ke tempat yang menorehkan kenangan manis. Rasanya sulit diungkapkan oleh kata-kata ketika mampir ke tempat yang penuh kenangan masa lalu. Sekalian mengenalkan pada mereka lingkungan tempat saya dibesarkan. Setidaknya, saya pernah ada di tempat ini sebelumnya...

  Sampai jumpa di jalan-jalan pasukan riweuh selanjutnya ^_^

Rumah Makan Sate Maranggi Laskar Ajiib
Jl. Kusumah Atmaja No.4 Purwakarta
Sebelah Rumah Tahana Purwakarta

Warung Gado-gado Ibu Tati
Jl. Stasiun Cibungur Bungursari Purwakarta
Tidak jauh dari pintu tol Kopo
>>>> Read More >>>>