Jumat, 29 Juli 2011

10 Hari Tanpamu

Aa bisa diandalkan untuk menjaga Dd
 

     Saya sudah terbiasa ditinggal pergi dinas oleh suami. Mulai ditinggal di rumah sendirian selagi hamil anak pertama, sendirian dengan bayi yang masih merah, sampai akhirnya sekarang dengan tiga anak. Seiring dengan berjalannya waktu, karena tidak memiliki asisten, maka ketidakhadiran suami bisa menjadi merepotkan buat saya. Mengapa? Karena tidak ada partner kerjasama dalam mengurus rumah dan anak2, maka saya harus melakukan semuanya sendiri. Semakin lama beliau pergi, maka semakin melelahkan buat saya. Karena itulah, si Bapa suamiku tercinta ini biasanya pergi ke luar kota hanya 1-2 malam saja, atau yaaah dibela2in cukup pulang-pergi saja tanpa menginap bila kota tujuannya tidak terlalu jauh. Hehe….kamu pengertian deh sayaangg…..


     Namun kepergian Bapa kali ini terasa paling berat, saya ditinggal selama 10 hari! Apesnya, saat hari pertama ditinggal, saya dalam keadaan kurang fit karena radang tenggorokan. Jadilah hari-hari berikutnya saya jalani dengan berat dan berdoa, semoga hanya saya saja yang sakit, jangan anak2 saya……
Berikut adalah hari-hari yang saya jalani saat mengurus rumah dan 3 anak seorang diri:

  • Day 1: melepas kepergian Bapa setelah makan siang bersama teman lama. Menggeser lemari 2 pintu dan springbed dobel untuk menyambut kedatangan Eyang (ibu saya) yang akan ikut Bapa saat pulang nanti, membereskan pindahan baju anak2 ke kamar utama. Kenapa sih repot2? Nanti saja kan juga bisa. Ah nanti kasihan kalau Bapa baru datang terus disuruh geser2 perabot. Dan saya pun sok jadi wonder woman. Pertimbangan saya: hari pertama masih kuat, dan dugaan saya ternyata benar…
  • Day2: mengatur ulang jadwal kerjaan, yaitu menyapu-mengepel-mencuci pakaian dilakukan pada malam hari saat ada aa yang bisa menjaga dd.
  • Day3: stamina mulai pulih, namun mulai kewalahan dan berhenti memasak, ya sudah… beli saja!
  • Day4: bangun kesiangan, untung aa  masih sempat naik jemputan sekolahnya. Mobil dengan sukses digores Kk, digambari pakai batu!
  • Day5: gas habis, meminta tolong orang dari kantor untuk membelikan (di komplek ini tidak ada jasa delivery gas)
  • Day6:  lupa menyimpan kunci mobil dimana (akhirnya ketemu, ternyata ditaruh di kantung stroller *tepokjidat*), terpaksa gendong bayi dan gandeng balita naik angkot untuk mencari keperluan outbond aa, mendapat ‘musibah’ kecil di mall (akan saya ceritakan lain kali), stres, keletihan melanda, merasa harus mengumpulkan kewarasan!
  • Day7: melepas aa untuk acara outbond menginap di luar kota (ahh sungguh berat), mendapat bantuan ada orang yang mau menyetrika baju kami sekeluarga, Alhamdulillah (sejak punya anak 3, saya memang tidak pernah menyetrika, repot, biasanya itu tugasnya Bapa. Selama Bapa pergi, ya ngga pernah nyetrika juga, hehe…), dan dd dicapit oleh kumang peliharaan aa
  • Day8: mulai merasa lebih baik secara fisik maupun mental, aa pulang dan kami riang
  • Day9: sesuai janji ibu yaitu bila semua anak sehat sehingga uang ‘angpau’ dari Bapa tidak dipakai berobat, maka akan kita rayakan dengan menelpon McDonalds! Yippiiee!!!
  • Day10: menanti Bapa yang akan tiba sore hari, tidak pulang sendirian, tapi sekalian menjemput dan membawa Eyang ke rumah kami!
Akhirnya hari2 berat telah berlalu…. please, jangan tinggalkan aku lama-lama ya wahai suamiku tersayang…. Aku tak bisa hidup tanpamu…. *lebayberat*….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=