Minggu, 03 Juli 2011

Bibi Pencok

Pencok mirip dengan gado-gado


 “Pencoookkk!!! Pencooookkk!!!” , teriak seorang perempuan muda yang melintas di depan rumah. Saya yang sedang berada di teras rumah langsung tertarik dan memanggilnya. “Apa itu bi?”  tanya saya. “Pencok, de.” jawabnya dengan logat Madura yang kental. “Pencok itu apa?” saya bingung. “Gado-gado” jawabnya. Itulah perjumpaan pertama saya dengan bibi pencok. Saya tidak tahu nama aslinya. Namun kami memanggilnya ‘bibi pencok’.
Bibi pencok orangnya cukup cantik. Terlihat anggun mengenakan kerudung dan rok panjang. Badannya tinggi semampai. Usianya mungkin sepantaran dengan saya, alias cukup tua…hehe… Atau justru lebih muda dari saya, namun wajahnya terlihat lebih tua karena ditempa oleh kerasnya hidup yang ia jalani. Entahlah..

Sejak saat itu, saya menjadi pelanggan setianya. Bibi pencok lewat di depan rumah sekitar jam 11, saat hari terik menjelang jam makan siang. Biasanya saya membeli pencok untuk memaksa saya supaya makan sayur! Memang saya setiap hari memasak dan menyertakan sayuran dalam menu keluarga. Tapi mau memakannya sendiri kok malas. Padahal saya sedang menyusui. Ini memang kebiasaan buruk saya dari kecil: tidak suka sayur. Saya makan sayur yah terpaksa, karena hamil dan menyusui. Kalau tidak, ugh… susah!
Pencok memang mirip gado-gado. Sayuran rebus, ditambah bumbu kacang, pakai petis, dimakan dengan lontong dan kerupuk, plus yang menjadikannya special adalah pelengkapnya… cingur sapi! Buat yang terakhir ini, terus terang sudah saya coba dan saya merasa kurang cocok. “Kada usah pakai lombok. Kada usah pakai cingur lah, bi!” bibi pencok sudah hafal pencok pesanan saya yang tanpa cabai dan cingur itu.
Saat meracik pencok, kami mengobrol tentang banyak hal.  Kadang diganggu anak balita saya, Rasyad, yang selalu ingin tahu, Ia senang mengomentari bibi pencok yang sedang beraksi itu. Bahkan si bayi kecil Irsyad terkadang ikut nimbrung menunggui pencok selesai dibuat.
Suatu hari si bibi pencok curhat pada saya. Betapa inginnya ia pergi ke Jakarta mencari suaminya. Sang suami pergi ke Jakarta mengadu nasib sebagai kuli bangunan, sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah dan memberi kabar. Bahkan bayinya sejak lahir belum bertemu dengan ayahnya. Ahh… kutatap bayiku yang masih merah, nasibku jauh lebih beruntung dari bibi pencok ini…
Kemudian ia bertanya, seperti apakah kota Jakarta itu? Apakah mudah mencari seseorang di sana? Setelah saya jelaskan bahwa Jakarta tidaklah seindah yang ia bayangkan, nampak raut kekecewaan di wajahnya. Namun akhirnya ia bisa menerimanya, ia pun tersenyum, tetap optimis menanti kepulangan suami tercintanya. Sembari menunggu, ia harus menyambung hidup berjualan pencok demi kedua buah hatinya. Bahkan si sulung yang sudah agak besar (anaknya perempuan semua) mulai belajar berjualan pencok, dengan membawa sedikit bahan tentunya. Coba bayangkan… kasihan kan, anak kecil memanggul baki isi bahan pencok di kepala?
Sebelum saya pindah, saya sempat berpamitan dengan bibi pencok, saya mendoakan semoga jualannya sukses, menasehatinya untuk berhati2 saat berjualan dan menjalani hidup merantau di pulau ini. Kenapa harus berhati2? Adalah suatu ‘kenekatan’ menurut saya dan diperlukan keberanian yang luar biasa untuk bibi pencok kembali mengadu nasib pasca kerusuhan etnis yang pernah meluas sampai ke kota ini.  Semoga saja bibi pencok bisa menjaga diri dan situasi kota tetap aman, tidak ada kerusuhan dan pemusnahan etnis lagi. Ngeri saya membayangkan kalau sampai terjadi kerusuhan lagi!
Bibi pencok kemudian membalas, mendoakan agar saya dan suami sekeluarga sukses di tempat yang baru, “Mampirlah main kesini kapan2”, katanya. Sempat terharu dalam hati, entah kapan saya bisa menginjakkan kaki kembali ke pulau Kalimantan ini. Mudah2an suatu saat… kami bisa dipertemukan kembali dan melihat bibi pencok hidup lebih berbahagia…..

4 komentar:

  1. ini pencok kacang panjang bukan ya? jadi pengen

    BalasHapus
  2. bukan mba, namanya aja pencok, makanannya sama dengan gado-gado, sayurannya (termasuk ada kacang panjangnya) mateng semua :)

    BalasHapus
  3. beda sama rujak cingur ya..?

    BalasHapus
  4. mungkin mirip mak. ada cingurnya juga, tapi saya nggak pernah nyoba :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=