Kamis, 07 Juli 2011

Keputusanku Menjadi SAHM

Bersantai di kawasan wisata Bantimurung SulSel
 
 (notes di facebook pada 20 Mei 2011)

   SHAM adalah singkatan dari Stay At Home Mother, alias ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mengganti  istilah FTM alias Full Time Mother, berdasarkan keputusan ibu-ibu di forum dunia maya, katanya sih. Saya hanya sekedar mengikuti saja.

   Sebagai istri dan ibu rumah tangga, seorang wanita dapat memutuskan apakah akan bekerja dan membantu keuangan keluarga, atau tinggal di rumah mengurus rumah tangga saja. Beberapa bahkan sukses menjadi SAHAM sekaligus berbisnis sendiri di rumah. Kalau saya? Saat ini saya bekerja di Perusahaan Djarum (=djaga rumah) sekaligus anggota kehormatan DPR (=dapur) …hehehe…




   Entah mengapa, akhir-akhir ini saya jadi teringat kenangan saat bekerja dulu. Tepatnya sewaktu masih single alias belum menikah. Eh jangan salah, jelek-jelek begini  saya dulunya pernah kerja kantoran, lho. Memakai  blus  dan celana rapi (soalnya saya paling malas pakai rok), blazer yang sudah di-dry clean, sepatu semi high heel (kalau pakai yang tinggi, saya nggak kuat). Itu setelan di kantor, ya. Tapi kalau berangkat dan mau pulang: blazer dicopot, sepatu masuk kantong plastik… tadaa… ganti pake sandal jepit teplek! Kenapa? Biar survive untuk mengejar bis kota!

   Selepas subuh,  saya berangkat kerja. Naik becak atau ojeg ke pinggir pintu tol, lalu berebutan naik bis kota. Berhenti di suatu tempat, lalu disambung bis kota lagi untuk sampai kawasan perkantoran di Jalan Sudirman Jakarta. Kalau beruntung, ada omprengan ‘gelap’ yang langsung menuju ke sana tanpa perlu naik bis. Omprengan tersebut biasanya mobil pribadi. Mereka mengambil penumpang untuk menghindari 3in1. Setelah naik, nanti penumpang  di paling belakang dengan kesadaran sendiri akan mengumpulkan ongkos,  dioper ke penumpang di depan. Eh masih ada ngga sih omprengan seperti itu sekarang?


   Pulang kerja lain lagi. Saya santai saja tidak ingin lekas sampai di rumah. Toh cepat lambat ya tetep kena macet plus gelantungan di bis juga. Kadang saya jajan-jajan sore dulu di depan atau di belakang kantor. Atau kalau lagi ‘sok kaya’ : jalan kaki sedikit lalu jajan di Mc Donals. 

  Lain lagi jika ada bazaar atau pameran.  Waah, bisa cuci mata dulu deh (walau sering juga pas jam kerja ngeloyor ke bazaar, untung ngga ketahuan bos). Saat jajan sore, kadang saya bertemu dengan teman SMA. Kami lalu mengobrol  sambil jajan siomay di pinggir jalan (belum mampu ngafe sih). Tapi saya  nggak pernah kemalaman. Maklum, saya di Jakarta tinggal dengan nenek (alm), setiap pulang terlambat beliau selalu khawatir. Lagipula, saya juga ngga betah kok ngelayap lama-lama. Capek. Ingin cepat pulang lalu tidur!


   Saya merasa kerja itu capek. Untungnya hari Sabtu libur. Hari itu spesial untuk acara santai dan tidur di rumah seharian. Kadang saya pulang kerja hari Jumat langsung pulang ke rumah orangtua, yang waktu itu masih tinggal di Cikampek. Weekend tidak mau diganggu urusan kerja. Bahkan saya menolak diajak lembur pada hari Sabtu oleh bos. Ih belagu banget ya. Untung bos nya baik. Makasih ya Mbak Catherine, hehe…


   Kemudian terjadi perubahan. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja karena akan menikah dan menyusul calon suami yang bekerja di kota Semarang. Bisa saja sih, waktu itu minta dipindah ke cabang di kota ttersebu. Tapi, saya tidak enak kalau baru kerja sebentar eh sudah minta berhenti karena suami dipindah kerja ke kota lain. Benar saja. Ternyata itu keputusan yg tepat! Baru 3 bulan menikah dan tinggal di Semarang, suami kemudian dipindah kerja ke Banjarmasin!


   Pekerjaan suami yang selalu berpindah-pindah, menjadikan kami hidup nomaden bak keluarga gipsy. Rasanya,  tidak memungkinkan bagi saya untuk  kembali melamar kerja. Kami tidak pernah tinggal menetap lama di suatu tempat. Saya sadar betul akan hal itu. Dan saya tidak menyesal telah mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia kerja dan berprofesi  hanya sebagai ibu rumah tangga saja.


   Saya sangat menikmati sebagai SAHM. Tidak perlu grabak-grubuk di pagi hari untuk persiapan ke kantor. Cukup menyiapkan sarapan untuk suami berangkat  kerja dan anak yang akan pergi ke sekolah. Rutinitas sehari-hari diisi dengan mengurus anak sembari sekaligus memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Untuk urusan rumah, saya juga tidak sendirian. Suami selalu membantu jika kami tidak memiliki asisten. Misalnya, ia yang mencuci pakaian setiap subuh, membantu menyetrika, bahkan mengasuh si kecil juga. Semua kami lakukan bersama, bahu membahu. Karena dalam hidup merantau yang jauh dari orangtua dan saudara, tentunya kami harus kompak satu sama lain.


   Merasa jenuh. Itu manusiawi. Rindu bertemu mas-mas keren dan mbak-mbak modis, saat memandangi di sekeliling saya hanya ada para ibu dengan daster atau kaus santai sebagai pakaian dinasnya. Rindu bertransaksi di ruangan kantor ber AC, saat saya bertransaksi dengan tukang sayur di tengah teriknya matahari pagi menjelang siang. Rindu berkutat berjam-jam di depan layar komputer, saat saya sedang bertempur di dapur.  


   Saya rindu saat menumpuk  pesanan konsumen, ketika sedang menemani anak menumpuk puzzle. Rindu naik-turun lift untuk ambil dokumen, sementara saya sedang naik-turun tangga mengambil mainan anak yang nyangkut di genteng. Ahh masih banyak hal-hal kecil lain yang membuat rindu ingin kerja lagi…


   Suatu ketika, ada sebuah tawaran. Tawaran untuk melamar menjadi pegawai negri (PNS) di Pemda Kabupaten Cibinong. Ini bukan tes CPNS. Info adanya lowongan kerja didapat dari kakak ipar. Tapi bukan KKN lho…. Kemudian suami menyuruh saya ikut. Katanya, kalau jadi PNS kan kerjanya santai. Apalagi saat itu kebetulan kami memang sedang ‘ketempatan’ di Bogor. Hmmmm pikir punya pikir, apa yang terjadi kalau suami pindah kerja lagi? Kalau saya betul diterima, masa mau dilepas demi ikut suami? Berarti  kami harus berpisah. Saya tetap di Bogor dan suami entah nun jauh disana. Bersedia? Tentu tidaaaakk!!! 

  Jadi, ketika info lowongan dibuka beneran, maka saya pun tidak tergerak untuk mendaftar. Tak sanggup rasanya bila harus hidup berpisah dengan suami tercinta…. eciee... hehehe.


   Namun sebagai SHAM, saya sangat salut dengan para Working Mothers (WM). Saat letih pulang kerja, para ibu tersebut masih sempat  mengurus anak dan rumah. Wah, capeknya pasti dobel yaa…sudah capek di kantor, masih harus capek di rumah juga. Betul-betul ibu yang hebat!


   Enaknya jadi WM, tentu bisa punya penghasilan sendiri.  Tapi saya tidak iri walau tidak bisa punya penghasilan sendiri . Toh saya pernah sempat menikmati bahagianya punya uang hasil keringat sendiri. Dulu saya bisa dengan bangga mentraktir ortu, beli baju, bahkan ikutan kredit panci ..haha..


   Saya tidak menyesal karena tidak ada ‘pemasukan’ lebih yang hanya mengandalkan penghasilan suami saja. Rejeki ada di tangan Tuhan. Insya Allah akan selalu cukup. Makanya, saya makin ‘keukeuh’ tidak ingin kembali bekerja. Kalau inget capeknya, nggak sanggup deh, harus menanggung capek di tempat kerja plus capek di rumah sekaligus..


   Jadi, saya tetap setia dengan status SAHM. Pernah saya dimarahi nenek (alm), “Susah susah ikut UMPTN (tes masuk PTN), jadi sarjana, udah kerja di bank, eeh malah di rumah aja sekarang!” Mungkin beliau malu, karena dari ketiga cucunya yang kuliah di PTN semua, cuma saya yang paling ‘kucrut’. Tidak apa, saya tidak minder kok. Justru dengan kuliah, jalan pikiran saya jadi lebih terbuka. Punya pola pikir yang terorganisir. Dan semoga.. bisa menjadi lebih bijak dalam menyikapi hidup.


   Selama menjadi SAHM, bukan berarti saya jarang berpikir dan mengasah kemampuan. Mengatur keuangan keluarga, mengurus anak, mengurus rumah, bahkan memasak pun bila menggunakan manajemen yang baik maka hasilnya akan memuaskan. Juga bukan berarti saya tidak bisa mengaktualisasikan diri lho. Saya masih bisa membantu suami saat sedang kuliah S2 di Solo dulu. Sekedar  membantu mengetik tugas-tugas kuliah dan beberapa terjemahan. Lumayan kan, otak jadi ngga beku-beku amat.


   Berdasarkan pengalaman pribadi pula (dari beraneka macam tetangga di berbagai  daerah tempat tinggal), SAHM yang punya latar belakang pendidikan sarjana atau diploma akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya, enak diajak diskusi dan lebih dewasa dalam berpikir saat menghadapi suatu masalah. Tanpa mengurangi rasa hormat, entah mengapa ibu-ibu di komplek yang sering bikin masalah dan bergosip tidak jelas, setelah diselidiki ternyata pendidikannya hanya tamatan sekolah lanjutan saja. Entah karena pola pikirnya atau memang pada dasarnya mereka kurang dewasa.


   Nikmatnya menjadi SAHM yang paling utama adalah tidak pernah ketinggalan satu momen pun saat menyaksikan tumbuh kembang buah hati tersayang. Selalu berada di dekat anak setiap saat. Mulai dari bayi yang menggemaskan, batita yang banyak ingin tahu, balita yang aktif dan tidak bisa diam…sampai akhirnya takjub sendiri saat anak manis itu di usia SD sudah bisa menjadi imam untuk ibunya di saat shalat. 

  Saya merasa selalu ada untuk anak-anak setiap saat dia membutuhkan. Contohnya: setiap hari di rumah, anak-anak saya suka mencari saya bila saya ‘tidak nampak’ (setan kaliii). Begitu mereka tahu ibunya ada di dapur atau sedang mengerjakan sesuatu, mereka pun ngeloyor pergi. Sebenarnya tidak ada keperluan apa-apa mereka memanggil dan mencari ibunya. Semacam mau ngabsen doang: oh ibuku ada di rumah toh, nggak lagi ngelayap, hehe.


   Mengurus anak tidak gampang, lho.Tidak ada sekolah khusus untuk itu. Titipan dari Tuhan ini tentunya harus kita rawat dan besarkan sebaik-baiknya. Bila salah asuh, bisa buruk akibatnya untuk anak tersebut nanti. Oia, namanya anak-anak, mengurus mereka kadang suka bikin repot bin riweuh bagi kita sebagai orangtua. Bahkan ada pengakuan teman saya yang WM: lebih baik pusing urus kerjaan daripada pusing urus anak di rumah! Nah lho…

   Jadi jangan coba-coba meremehkan SAHM ya…


Update terbaru: 14 Maret 2014


  Saat ini ada istilah baru lagi selain SAHM dan WM, yaitu WAHM. Apa lagi nih? WAHM adalah Work At Home Mom. Kemajuan tehnologi dan kecanggihan internet berdampak pada segala bidang profesi, termasuk para ibu rumah tangga. Kini, para ibbu rumah tangga bisa bekerja di rumah sambil mengurus rumah tangga dan mengasuh anak. Misalnya membuka kantor di rumah, dan yang paling banyak adalah berjualan online. 

  Memang, bekerja dari rumah tidak sepenuhnya berdiam di rumah saja. Tetap saja ada interaksi dengan dunia luar. Menemui klien dan mengirim barang misalnya. Tapi waktunya tidak menyita seperti jam kantoran, bukan? Pergi ke luar rumah bisa disesuaikan dengan jadwal si kecil. Jika memungkinkan, ajak si kecil keluar rumah untuk belanja bahan, misalnya. Jika perlu menitipkan anak, si Ibu juga biasanya tidak akan pergi terlalu lama (kecuali tempat tujuan yang jauh).

  Tulisan di atas dibuat saat saya masih merantau. Kini, saya sudah menetap di kampung halaman suami. Kalau sudah menetap, sebenarnya bisa saja saya melamar kerja. Tapi..ah sudahlah, saya merasa sudah terlalu tua untuk merintis karir kerja kantoran. 

  Sekarang, boleh dibilang saya sudah pindah 'label' dari SAHM menjadi WHAM. Saya kerja apa? Suami meminta saya untuk mengelola toko obat di dekat rumah.Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk membuka usaha toko obat ini. 

  Sebagai tambahan dan hobi, saya membuat aksesoris hand made dari kain perca dan pita. Meski belum berani berjualan online secara serius, namun hasilnya cukup lumayan juga setelah ditawarkan ke tetangga dan teman-teman dekat. Dari penjualan bros, jepit, dan bando yang saya hasilkan, saya bisa belanja kebutuhan 'iseng' saya sendiri. Misalnya beli underwear, kosmetik, baju, bahkan membayar kelas online. Ternyata, SAHM juga bisa mempunyai penghasilan sendiri dengan menjadi WAHM. Cuma diganti huruf S dengan huruf W saja, kan. Lokasinya? Tetap ada di rumah :)

Alhamdulillah.... terima kasih ya Allah...


Foto diambil pada bulan Juni tahun 2012





13 komentar:

  1. Mother is the great job in this world, ever!
    Thanks to all mommy and be proud of you all :)

    BalasHapus
  2. setuju mak rejeki ditangan Tuhan... btw, jualan apa tu mak, apotik ya?

    BalasHapus
  3. Iyaaah selamat ya Mak, akhirnya bisa berada di tengah-tengan 3 boys

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, mak Astin. Seneng bisa nyempil ditengah2 3boyz selalu ^_^

      Hapus
  4. wah...saya masuk kategori WAHM nech... toss mak...

    BalasHapus
  5. ihik..sama mba..aku juga buka usaha aja.. lebih gampang ngurusnya heehe..
    aku senang dan bahagia sampai detik ini...semoga begitu seterusnya...
    mbak juga sekeluarga hepilieverafter pokoknya mah :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya Mbaak *ngomong ala Syahrince*
      Aamiin aamiin aamiin... Makasih, yaa. Moga hepili eper apter juga buat Emaknya Raffi sekeluarga ^_^

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=