Jumat, 11 November 2011

Berwisata ke Tana Toraja (bagian 3) : Rumah Tongkonan di Kete Kesu


   Selanjutnya kami menuju Kete Kesu untuk melihat rumah adat khas Toraja yang disebut tongkonan. Lokasinya  terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.  

    Tongkonan tersebut didirikan oleh Puang Ri Kesu dan diwariskan secara turun temurun kepada kekerabatannya. Turunan Puang Ri Kesu masih hidup sekarang. Kompleks itu menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tapi tidak ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling lengkap.

Latar belakang tongkonan dari kejauhan
      Kawasan ini terdiri dari delapan tongkonan induk, lengkap dengan lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante) dan tempat pertemuan adat. Tongkonan ini sudah sangat tua. Konon ada yang berusia 150 tahun, terbukti dari atap yang terbuat dari susunan bambunya sudah ditumbuhi tumbuhan liar. 
Pasukan riweuh di depan tongkonan
Ciluk baaa...
Ibu dan Kk Rasyad
         Tongkonan-tongkonan itu terlihat unik dengan ukiran dan ornamen khas Toraja. Dilengkapi dengan tanduk kerbau yang disusun dii depan tongkonan, sedangkan di dinding samping sebelah luar tampak pula tulang rahang yang tersisa dari kepala kerbau. sebagai penanda berapa banyak kerbau yang telah dikorbankan saat upacara kematian dilangsungkan. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. 
Susunan tanduk kerbau
Kepala kerbau di depan dan tulang2 rahang kerbau di samping tongkonan
   Kerbau menjadi hewan korban saat kematian, di samping babi. Menurut kepercayaan setempat, arwah kerbau menjadi sarana transportasi bagi arwah orang yang meninggal saat menuju puya (surga) yang letaknya di sebelah selatan.
   
Jalan pulang
Yuk kita pulang!
   Di kompleks Kete Kesu, pengunjung juga sekaligus dapat menengok kubur batu, yang letaknya sekitar 50 meter di belakang tongkonan. Namun kami sengaja tidak berkunjung ke sana mengingat keterbatasan waktu. Kami masih harus menghadiri pernikahan. Nanti takut terlambat. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=