Selasa, 01 November 2011

Rumah Kemalingan

Jendela kamar yang sempat dibuka dari luar
  
   Orang itu menuruni tembok secara perlahan dari atas genteng, tanpa suara karena tidak mengenakan alas kaki. Setelah mengamati situasi dini hari yang sepi, dicobanya membuka jendela kamar tidur. Jendela sebelah kanan yang rusak itu dengan mudah bisa dibuka dari luar. Tirai gorden kamar disibak perlahan, terlihat tepat di bawah jendela ada bayi yang sedang terlelap. Di sebelah sang bayi adalah ibunya, lalu kedua kakak laki-laki dan di dekat pintu kamar ada sang suami yang tidur di kasur tambahan. 

   Tidak jadi masuk lewat jendela kamar, dicobanya pintu belakang yang menuju ke dalam rumah. Dan hei...pintunya tidak dikunci (karena pintunya rusak)! Betapa mudahnya masuk ke rumah ini! 
Pintu dapur yang rusak
   Situasi di tengah rumah sangat sepi. Orang itu tidak membuka kedua pintu kamar yang tertutup (padahal kamar depan kosong alias tidak ditempati). Dilihatnya ada sebuah tas dompet di atas sofa dan sebuah hp nokia di atas kulkas. Segera diambilnya kedua benda tersebut. Berikutnya....apa lagi benda-benda kecil yang bisa diambil? Di ruangan samping yang biasa dipakai untuk tempat setrika dan mainan anak-anak, tersimpan tas-tas koper kosong. Diambilnya tas ransel besar dari pojok, ditaruh di tengah ruangan, lalu digeledah, kosong. Sepintas tas tersebut memang bisa dipakai untuk menaruh laptop (untung laptopnya disimpan di dalam kamar). 

   Setelah kelihatannya tidak ada lagi barang berharga yang bisa diambil, lebih baik segera melarikan diri sebelum penghuni rumah ini terbangun. Wah, kebetulan sekali...ada tangga di belakang rumah! Jadi gampang buat pulangnya nih! Makasih yaaa.....

Tangga di halaman belakang
   Barangkali itu yang ada di benak sang maling. Begitu mudahnya masuk ke dalam rumah  kami untuk mencuri. Cerita selanjutnya adalah betapa terkejutnya kami mengetahui bahwa tadi malam ada orang yang masuk ke dalam rumah di saat kami semua sedang tidur!

    Seperti biasa, mendengar adzan subuh berkumandang, Bapa langsung bangun dan pergi ke mesjid yang jaraknya hanya terpisah 3 rumah dari rumah kami. Sepulang dari mesjid, Bapa hendak mencuci baju (maklum, kami tidak punya asisten, jadi kami berbagi tugas dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga). Saat menyalakan mesin cuci, alangkah terkejutnya Bapa melihat ada tangga yang sudah diberdirikan di tembok belakang rumah. Biasanya tangga ini ditaruh di tempat jemuran dalam posisi horisontal. Tidak mungkin kalau si Ibu (yaitu saya) yang memindahkan tangga. Selain tangga tersebut memang berat (saya tidak akan kuat mengangkatnya), untuk apa juga tangga diberdirikan disitu kecuali memang hendak naik ke atas genteng?

    Merasa curiga dan yakin ada orang yang masuk ke dalam rumah, segera Bapa memeriksa seisi rumah dan mencari tahu barang-barang apa saja yang hilang. Bapa menelpon hp saya, tidak aktif, tidak diangkat. Segera Bapa membangunkan saya....

   "Bu, kamu mindahin tangga di belakang ngga?" saya langsung terbangun dan kaget. "Bb kamu mana? Dompet kamu simpen dimana?" masih mengantuk dan terkejut, saya hanya bisa menjawab "Ya Allah Bapa..." berulang kali. Lutut langsung lemas seketika....

   Saya kehilangan sebuah tas dompet berwarna-warni yang berisi handphone Blackberry dan dompet kulit. Di dalam dompet terdapat banyak kartu dan foto-foto. Yang penting adalah kartu ATM dan KTP. Sedangkan sim A saya sudah lama tidak diperpanjang. Berarti kami harus mengurus surat kehilangan ke kantor polisi, supaya bisa segera memblokir kartu ATM dan untuk membuat KTP yang baru.

    Sebelum kejadian, setelah shalat isya kami pergi ke luar rumah untuk mengambil uang ke ATM. Mudah2an Bapa sudah gajian. Untuk berjaga-jaga seandainya di ATM Bapa transferan gaji belum masuk, saya membawa kartu ATM tabungan yang lain. Kartu ATM disimpan di dompet kulit berisi aneka kartu identitas. Saya masukkan ke dalam tas dompet, juga Blackberry tidak ketinggalan. Biasanya dompet kulit itu tidak pernah saya bawa kemana-mana dan selalu ada di laci. Karena khawatir hilang bila jatuh atau kecopetan, saya membayangkan mengurus surat ke kantor polisi saja sudah malas. Kalau bepergian saya hanya membawa dompet uang receh dan tidak pernah membawa KTP.

   Ternyata transferan gaji sudah masuk. Setelah mengambil secukupnya, diberikannya saya uang yang baru Bapa ambil di ATM. Jumlahnya sebanyak satu juta rupiah. Rencananya uang tersebut akan dipakai untuk belanja bulanan di sebuah hipermarket, sisanya untuk keperluan belanja sehari-hari. Lemas sudah...uangnya hilang semua...

  Ada lagi kondisi lain yang mendukung. Saya yang tidak waspada! Sebagai ibu yang memiliki bayi yang masih menyusu, terbangun tengah malam adalah hal yang biasa. Barangkali jika malingnya mencuri pada hari yang lain, saya pasti memergokinya! 

  Kenapa? Kenapa saya menjadi lengah pada malam itu? Jawabannya adalah karena saya dan anak-anak habis begadang menonton tv sampai larut malam! Akhirnya kami semua jadi mengantuk dan tidur pulas. Bahkan si bungsu yang biasanya tidur malam selalu terbangun, pada malam kemalingan Dd tidak bangun karena Dd ikut begadang juga!

  Ada apa sih kok sampai begadang segala? Ngajak anak-anak pula! Yah..beginilah nasib menjadi keluarga gipsy yang hidupnya selalu berpindah-pindah. Untuk memiliki barang elektronik harus berpikir 1000x dulu. Sudah banyak perangkat elektronik kami yang rusak akibat pindahan. Itulah sebabnya kami tidak punya vcd player. Kami nyaris tidak pernah nonton film di bioskop. Satu-satunya hiburan menonton film cuma bisa menunggu ditanyangkan di televisi. Kasihan yah...

   Malam itu kami berempat (Bapa sudah tidur duluan) bela-belain nonton The Chronicles of Narnia: Prince Kaspian. Wah seru sekali. Aa Dilshad dan Kk Rasyad tampak bersukacita. Sedangkan Dd Irsyad kerjanya hanya mondar-mandir dan menyusu saja selama film berlangsung. Kami menonton fillm dari jam 21.00 wita sampai jam 00.00 wita. Segitunya yah mau nonton film...oohh....vcd player...

   Karena mengantuk juga, akhirnya saya lupa membawa masuk tas dompet ke dalam kamar. Sempat bergurau, seandainya saja jika kami tidak menonton Narnia, pasti dompet, uang dan Blackberry tidak hilang....yang hilang cuma hp Nokia saja yang ada di atas kulkas...entahlah...

   Lanjutkan lagi ya ceritanya...

   Saat Bapa sedang berada di kantor polisi untuk melapor, beberapa warga dan satpam penjaga komplek berdatangan ke rumah. Hari itu adalah hari sabtu, Aa Dilshad libur sekolah. Berarti ada 3 anak yang sedang saya urus pada pagi itu. Bayangkan, saya harus menjawab pertanyaan para bapak-bapak yang berkumpul di rumah sementara saya juga harus memandikan dan menyuapi anak-anak saya. Beruntung Aa Dilshad sudah besar dan bisa diandalkan. Selain sudah bisa mengurus dirinya sendiri, Aa Dilshad sangat membantu ketika saya suruh membeli kartu sim card yang baru di ruko depan untuk menelpon. Nelpon pake apa? Bukannya hp hilang dua-duanya? Yah, kebetulan Bapa tempo hari membeli hp Nokia baru dan belum sempat dipakai. Jadilah hp itu yang saya pakai sekarang.

   Saya sempat panik, rupanya bapak-bapak tetangga saya ini mempunyai kesimpulan bahwa pelaku alias sang maling adalah orang dalam. Seseorang yang memahami dengan baik lingkungan di komplek kami. Seseorang yang tahu rumah mana saja yang halaman belakangnya belum ditutup, bahkan rumah mana saja yang punya tangga! Mereka menuduh tukang yang pernah kerja di rumah kami adalah pelakunya! Sang tukang pun dipanggil. Terjadi perdebatan. Duh, saya semakin stres....

  Untunglah Bapa cepat datang. Tak lama kemudian, polisi juga tiba. Belum pernah seumur hidup saya kedatangan polisi di rumah. Dan ini juga di luar bayangan saya. Saya pikir polisinya adalah bapak berkumis dan berseragam. Ternyata saya salah, Bapak Polisinya seperti anak muda, berpakaian -entah seragam atau bukan- kemeja keren dengan tulisan NYPD dan emblem Police Department. Tas yang dibawanya juga hanya tas slempang kecil yang cukup trendi. Hmmm....saya baru tahu...

    Setelah proses penyelidikan dan perbincangan panjang, bapak-bapak di rumah kami akhirnya membubarkan diri. Bapa juga kembali pergi bekerja ke kantor. Saya segera menidurkan si bungsu. Sementara 2 anak saya yang lain entah kemana. Mungkin mereka main di rumah tetangga. Baru saja si Dd terlelap, pintu rumah ada yang mengetuk. Satpam komplek mengabarkan kalau dompet saya ditemukan! "Ayo Bu, dilihat dulu. Apa betul itu dompet ibu atau bukan..." kira-kira seperti itulah yang dikatakan sang satpam dalam bahasa Makassar. Saya pun bergegas mengikuti Pak Satpam dan meninggalkan si Dd yang sedang tidur.

   Rupanya dompet saya dibuang oleh sang maling setelah dia memeriksa isinya. Barangkali maling ini memang punya hati, tidak tega si pemilik dompet harus repot urus KTP atau SIM baru juga blokir kartu ATM. Atau memang pada dasarnya bukan maling profesional, cukup mengambil yang kecil-kecil saja dan tidak berani masuk ke dalam kamar.

   Alhamdulillah...betul itu memang dompet saya. Juga tas dompetnya. Semua kartu lengkap ada di dalamnya, juga foto-foto. Hanya uangnya saja yang hilang. Yah ditambah dengan 2 hp.... Tidak apa-apa. Saya ikhlas....terima kasih sudah membuang dompet saya di atas genteng...

    Meski masih shock, dalam peristiwa kemalingan ini saya masih bersyukur. Bersyukur sang maling tidak masuk ke dalam kamar. Bersyukur kartu ATM dan KTP bisa kembali. Bersyukur tidak ada barang berharga lain yang hilang. Dan yang paling penting, bersyukur kami sekeluarga selamat tidak kurang suatu apa pun dan masih dalam lindungan Allah...alhamdulillah terima kasih ya Allah...

   Sedikit bergidik, membayangkan apa yang akan terjadi seandainya hari itu Bapa jadi pergi menginap di luar kota. Berarti sang maling akan masuk ke rumah yang isinya hanya seorang wanita dan 3 anak kecil! Ya Allah....pantas saja Bapa tiba-tiba merasa malas pergi dan membatalkan rencananya menginap. Mungkin ini firasat..

3 komentar:

  1. sampe sekarang aku selalu pasang telinga kalo denger bunyi yg mencurigakan diluar rumah, kalo sudah gitu aku langsung bicara nyaring sama suamiku atau anakku, Nak mau minum susu mama buatin minumnya ya sambil kelontang-kelontang bikin susu biar kalo ada maling yg rencana mau masuk rumah ngga jadi, tau yg di dalam belum tidur.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Hai Ladyonthemirror...terima kasih buat masukannya :)
    Iya ya...selama kita masih punya anak kecil dan sering bangun malam, rumah bisa aman karena kita jadi waspada. Saya juga kalau malam-malam bangun dan denger bunyi gedebuk sedikit saja, langsung buru-buru membangunkan suami. Takut kejadian lagi karena dulu pernah nyaris kemasukan maling di tahun 2003. Waktu itu saya malah iseng nyuci popok bayi anak pertama jam 2 pagi. Saat jendela kamar sedang dibongkar, langsung suami saya bangunkan. Malingnya 2 orang dan langsung lari. Nyaris saja...

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=