Minggu, 08 Januari 2012

Hari Terakhir Nenek


  
   “Kriiiingggg!!!” bunyi telepon memecah kesunyian sekitar pukul 3 dini hari. Terkejut, saya kemudian langsung bangun dari tempat tidur. Telepon selular memang sengaja dimatikan menjelang tidur malam. Jadi, telepon rumah yang berdering pada jam yang tidak biasa ini pasti menandakan ada berita penting. “Halo..” saya menjawab setengah mengantuk dan cemas. Rupanya Bapa yang menelpon, suaranya terdengar berbeda. Bapa menyuruh saya membangunkan anak-anak dan segera berangkat ke Ciapus, ke rumah Nenek dan Kakek. Saat itu Bapa sedang berada di taxi dan siap menjemput kami.
   “Bawa semua uang…” kata Bapa lagi. Disela-sela omongan Bapa, saya mendesak “Kenapa Pak? Ada apa?” saya semakin merasa tidak enak. “Mamah meninggal…” Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….lemas seketika. Segera saya bergegas membangunkan seisi rumah. Kami semua berkemas sambil menangis….
   “Kaka, bangun ka. Kita ke rumah nenek sekarang. Nenek meninggal…” saya membangunkan Kaka Rasyad. Memandikannya dengan air hangat. Sedangkan Dede Irsyad yang baru sembuh dari demam hanya berganti pakaian. Kami semua siap. Eyang dan Umi (asisten baru kami) juga ikut. Sedangkan Aa Dilshad kebetulan sedang menginap di rumah Nenek.
   Taxi yang dinaiki Bapa dari hotel bandara pun tiba. Saya langsung memeluk Bapa yang turun dari taxi. Kami segera berangkat. Kesedihan sangat terasa. Di dalam taxi, semua hening, larut dalam kesedihan masing-masing. Perjalanan dari Cibinong menuju Ciapus rasanya lama sekali. Sepanjang perjalanan itulah, kami mengenang Nenek, sosok yang ceria dan penuh kasih sayang….


Berpose di depan jembatan Kahayan Palangkaraya
   Mamah. Begitulah kami biasa memanggil almarhumah. Lalu beliau menyebut dirinya ‘Nenek’ bagi ke 8 cucunya. Panggilan akrab ini tidak hanya berlaku untuk keluarga, tapi berlaku juga  bagi siapa saja yang mengenal beliau.
   Saya mengenal Mamah sejak saya dan Bapa masih berpacaran dan merencanakan akan menikah. Waktu itu saya masih menyelesaikan skripsi. Dari Bandung saya naik bis berdua Bapa menuju Bogor. Dari Bogor rupanya perjalananan masih harus ‘naik gunung’ lagi dengan angkot menuju Ciapus. Hawa dingin seakan tak berarti saat beliau menyambut saya dengan hangat. Ya, saya langsung merasa dekat meskipun baru bertemu. Mamah adalah orang yang mampu mencairkan suasana. Saya yang tadinya tegang (karena hendak bertemu calon mertua) langsung larut dalam keakraban karena sifat beliau yang ceria dan penuh perhatian.
   Selama 10 tahun menjadi menantu Mamah, rasanya saya kurang lama menghabiskan waktu bersama beliau. Sejak menikah, saya dan Bapa merantau ke berbagai daerah. Bertemu dengan beliau dan keluarga hanya saat hari raya dan ketika beberapa kali pulang kampung. Beberapa kali giliran Mamah yang datang mengunjungi kami di rantau, yaitu ketika kami tinggal di Semarang, Banjarmasin (saat lahiran Aa Dilshad), Solo, Denpasar dan Palangkaraya. Sayang, undangan kami untuk membawa Mamah ke Makassar tidak bisa dipenuhi karena kondisi kesehatannya yang semakin menurun.
Bersama Aa Dilshad dan Kk Rasyad di Nyaru Menteng Palangkaraya
   Ada masa dimana saya berada sangat dekat dengan Mamah. Yaitu saat saya ‘menumpang hidup’ di rumah Mamah selama 3 bulan sebelum Bapa dipindah tugas dari Banjarmasin. ke Solo Saat itu saya bersama Aa Dilshad yang masih berumur hampir 3 bulan. Alasan saya ‘terpaksa’ tinggal serumah dengan beliau adalah karena tidak sanggup mengurus bayi anak pertama sendirian di Kalimantan tanpa pembantu.
   Nah pada masa tinggal serumah itulah saya mengenal Mamah lebih dekat. Saya kagum. Ternyata ada orang yang seperti Mamah. Mamah sangat dekat dan sayang pada semua orang. Apalagi terhadap anak cucunya. Beliau selalu ingin merawat dan mengurus orang lain. Ringan tangan, kata orang-orang. Semua saudara, tetangga, dan orang-orang yang kenal dengan beliau merasakan kebaikan hatinya. Semua yang mengenal beliau akan terkenang dengan sikap ramah dan cerianya. Biasanya beliau selalu menyapa para tetangga dengan suaranya yang lantang, yang bisa terdengar dari kejauhan. Kini, tanpa Mamah, hari-hari menjadi sepi….
Bersama Eyang di Nyaru Menteng Palangkaraya
  Kecintaan Mamah terhadap keluarga sungguh luar biasa. Rasa cinta yang sangat besar seorang Nenek terhadap anak dan cucunya. Rasanya belum saya temui pada nenek-nenek yang lain. Terkadang, rasa cinta ini membuat Nenek selalu memanjakan cucu-cucunya, semua permintaan mereka beliau turuti. Hanya dalam masalah ini saja, saya berbeda pendapat dengan beliau. Bahkan saya tidak segan-segan berdebat soal pola asuh anak dengan beliau. Biasanya beliau hanya mengiyakan, namun selanjutnya tetap memakai konsep ‘yang penting anak-anak senang’. Kalau cucu-cucunya senang, maka Nenek ikut senang juga kan? Ah, Nenek memang orangnya selalu ingin membuat orang lain senang.
Kakek, Nenek, Aa dan Kk dengan latar belakang hutan Nyaru Menteng Palangkaraya
   Rasa cinta keluarga inilah yang mendorong Nenek untuk mengumpulkan anak dan cucunya di rumah kami. Kumpul-kumpul keluarga….yang terakhir kalinya…
   Ceritanya begini…
   Pada tanggal 11 Desember 2011, saya bersama ketiga anak-anak berangkat dari Makassar. Keberangkatan tersebut merupakan kepindahan kami berempat menuju ke rumah kami di Cibinong. Bapa masih tetap tinggal di Makassar. Di bandara, kami dijemput oleh Aa Rinaldi, cucu Nenek (keponakan saya dari suami) yang tertua. Sedangkan Nenek dan Kakek menyusul akan menemui kami di Cibinong. Kepulangan kami dari rantau disambut dengan suka cita dan penuh haru. Nenek (seperti biasa) menangis saat bertemu saya, Aa Dilshad, Kk Rasyad dan Dd Irsyad. Saya meminta Nenek menginap 2-3 hari di rumah, agar beliau bisa beristirahat karena kondisinya yang kurang sehat. Namun ternyata Aa Rinaldi sakit. Kakek membawanya ke dokter. Karena kondisinya tidak membaik, maka keesokan harinya Kakek menjemput Nenek pulang.
   2 minggu pertama kembali ke kampung halaman, saya disibukkan dengan urusan pindah sekolah Aa Dilshad, mencari sekolah untuk Kk Rasyad dan urusan renovasi rumah. Saya merasa tidak enak karena belum sempat mambawa anak-anak ke Ciapus untuk bertemu keluarga besar.
   Kebetulan tanggal 28 Desember 2011 Bapa berniat ‘kabur sejenak’ sebelum berangkat tur ke Thailand tanggal 29 Desember. Lalu selesai tur, Bapa tgl 4 Januari 2012 pulang ke Cibinong, mengambil cuti, lalu kembali ke Makassar tanggal 8 Januari 2012.
   Dari rencana itu, saya menjadwalkan pada tanggal 5 Januari kami sekeluarga (lengkap dengan Bapa) akan pergi ke Ciapus dengan menyewa angkot. Sekalian mengantar Umi (art baru kami yang masih bertetangga dengan Nenek) pulang kampung.
   Mendengar rencana kepulangan anak keduanya tersebut (yaitu Bapa) Nenek berniat datang menyambut di Cibinong pada tanggal 28 Desember. Kami pun senang mendengarnya. Bahkan saya meminta Bapa untuk membawakan pisang ijo untuk Nenek. Sayang, mendekati tanggal tersebut kondisi kesehatan Nenek kurang baik. Kami pun melarangnya untuk datang ke Cibinong. “Toh nanti juga ketemu…tanggal 5 Januari kita kan mau kesana” begitu pikir kami. Tapi ternyata Nenek punya rencana lain…
Saya, Tante Irein (kakak saya), Dd Irsyad, Nenek dan Tante DIni di acara pernikahan Om Oyong
   Hari yang dinanti pun tiba, 28 Desember. Kebetulan pada hari itu Eyang juga pulang dari Bandung diantar oleh Om Rozar, adik saya. Siang hari sekitar pukul 14.00, begitu mobil diparkir, Eyang turun dari mobil, pada saat yang sama datang motor Kakek bersama Nenek dan Rani (keponakan, anak dari adiknya Bapa) juga motor Uwa Eti (kakak ipar) yang membonceng kedua anaknya: Teteh Yalda dan Aa Eji. Suasana langsung heboh. Apalagi adik saya tidak mengantar Eyang sendiri, istrinya Dini, anaknya Anta, ibu mertua dan adik iparnya juga ikut. Wah, senangnya….
   Rumah kami sebenarnya kecil. Beruntung kami sudah menempati rumah di sebelah yang kami kontrak. Jadinya semua orang bisa tertampung. Juga bisa menginap beramai-ramai. 
Rumah sebelah yang kami kontrak. Masih belum rapi.
    Om Rozar dan rombongannya pamit pulang ke Sukabumi dulu (untuk mengantar ibu mertuanya) sebelum kembali ke Bandung. Sedangkan rombongan dari Ciapus bertambah ramai dengan datangnya Ateu Tita (adik Bapa) berserta anak sulungnya Rona. Tidak semua anggota keluarga menginap di rumah kami, Uwa Eti dan Eji juga Ateu Tita kembali ke Ciapus malam itu.
   Tidak lama, Bapa pun tiba dari Makassar! Walau malam telah larut, namun kami semua merasa sangat senang. Bahkan Kk Rasyad berteriak “Bapaaa!!!” kemudian berlari menghampiri Bapa yang baru keluar dari taxi dan langsung memeluknya… Nenek pun menyambut Bapa dengan tangis bahagia. Saya? Hmmm…menyambut penuh cinta tentunya...
   Malam itu semua bisa tidur, meskipun para warga Ciapus ini merasa kepanasan. Terkecuali Nenek. Sesak napasnya kambuh lagi. Beliau tidak bisa tidur semalaman. Umi yang tidur di sebelahnya ikut begadang. Saya sempat menyalahkan kalau Nenek kembali kambuh gara-gara tadi siang minum sirup. Padahal Nenek sakit diabetes, tidak boleh makan atau minum yang manis-manis. Lalu jawaban Nenek saat saya tegur itu “Engga apa-apalah. Jarang-jarang ini.” Begitulah Nenek. Kurang disiplin soal makanan dan gaya hidup.
   Nenek memang punya penyakit diabetes. Sama seperti Eyang. Bedanya, Eyang sudah lama mengidap diabetes dan mampu mengatur sendiri pola makan serta disiplin menjalaninya. Sedangkan Nenek diperkirakan sudah mengidap lama, namun baru ketahuan punya penyakit gula pada bulan Juli 2011. Penyakitnya langsung parah. Kemungkinan besar karena Nenek adalah perokok berat. Kondisi kesehatannya semakin drop karena Nenek susah makan, padahal beliau juga punya penyakit maag dan asma. Sejak divonis diabetes, bobot tubuhnya semakin menyusut. Nenek menjadi semakin kurus.
   Hari itu, hari Kamis tanggal 29 Desember. Pagi hari saya berdua Bapa pergi mengambil uang di ATM di Bogor dengan meminjam motor Kakek. Uang tersebut untuk membayar sekolah aa Dilshad, sayang ternyata administrasinya libur, jadi bayarnya nanti saja.
   Siang harinya kami semua melepas kepergian Bapa ke bandara. Saat berpamitan, Nenek menciuminya sambil menangis. Sambil bercanda, Eyang bertanya “Kok nangis? Kan nanti ketemu lagi...tanggal 5 juga ke Ciapus.” Lalu Nenek menjawab “Moal kapanggih deui (tidak akan bertemu lagi)..” Rupanya Nenek sudah punya firasat akan meninggalkan kami semua...
   Hari itu anak-anak bergembira dan bermain bersama. Nenek terlihat sangat bahagia. Namun beliau selalu mengatakan bahwa ini adalah menginap di Cibinong untuk terakhir kalinya. Saya sempat meledeknya karena datang secara tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Akibatnya, Bapa tidak jadi membawa pisang ijo karena mengira Nenek tidak jadi datang. Nenek sempat menyesal, juga sedih tidak bisa main ke Makassar. Beruntung masih ada oleh-oleh Pallubasa yang dibawa Bapa, jadinya Nenek sempat mencicipi masakan dari Makassar. Nenek terhibur, berulang kali beliau nambah dan bilang enak.
   Menjelang siang, Uwa Agus (kakaknya Bapa) datang menjemput bersama Eji. Sebelum pulang, kami semua makan bakso gepeng langganan dan es cincau yang lewat di depan rumah. Menjelang pamitan, Nenek bilang akan membawa Aa Dilshad menginap ke Ciapus. Saya tidak setuju. Masa Nenek sedang sakit dititipi anak? Kemudian Nenek bilang bahwa Bapa sudah kasih ijin. Ya sudah, kalau begitu saya terpaksa mengijinkan. Ternyata, Bapa tidak pernah mengijinkan, artinya itu adalah kebohongan Nenek yang terakhir supaya boleh mengajak Aa Dilshad. Bayangkan, bagaimana bila Nenek tidak berbohong, pasti Aa Dilshad tidak boleh pergi ke Ciapus…dan tidak bisa bercengkrama dengan Nenek sampai saat terakhirnya..
   Sekitar jam 8 malam, saya menelpon Nenek.Saya menanyakan jam berapa mereka tiba di Ciapus. Nenek menjawab menjelang maghrib karena mampir dulu membeli buku untuk Aa Dilshad. Beliau senang karena ada Aa yang cerewet dan mengatakan bahwa ia masih kangen dengan Aa. Saya pun tenang. Saya bilang Aa tidak usah diantar pulang ke Cibinong dulu. Biarlah nanti pulangnya sekalian saat kami pergi ke Ciapus nanti. Lalu kami mengobrol banyak sambil tertawa-tawa lewat telepon. Ternyata, itulah pembicaraan saya yang terakhir dengan Nenek...  

Kakek dan Nenek di Palangkaraya

   Cerita selanjutnya adalah berdasarkan penuturan dari Kakek….
   Menjelang pukul 2 dini hari, Nenek kembali tidak bisa tidur dan mengeluh sesak napas. Beliau minta diantar ke kamar mandi oleh Rona (cucu yang tinggal di rumah Nenek). Beliau juga minta Kakek mengantar ke rumah sakit. Kakek bergegas mencari tetangga yang bisa diminta tolong mengantar dengan mobil. Tak lama, Kakek kembali ke rumah. Menuntun Nenek yang keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat berat saat (padahal beliau sangat kurus). Kakek memapah dan mendudukkan Nenek di kursi. Saat Kakek tengah berbalik sejenak, Nenek berkata “Aduuuhh  euungaaphh…aing rek paeh meureun… (aduh, sesak…saya mau mati barangkali). Allahu Akbar..Allahu Akbar…Allahu akbar….” Bruukk…kemudian Nenek langsung terkulai di kursi.
   Seisi rumah langsung panik. Semua mengira Nenek pingsan. Aa Rinaldi meminta Kakek segera membawa Nenek ke RS PMI Bogor, sementara ia sendiri akan pergi memberitahu ayahnya karena ditelepon tidak tersambung. Sedangkan Rona menjaga rumah karena Aa Dilshad masih tidur.
   Kakek meminta tetangga sebelah rumah mengantar dengan angkotnya. Firasat Kakek mengatakan Nenek sudah tiada. Beliau hanya ingin memastikan apakah betul Nenek sudah meninggal. Ternyata, memang benar, Nenek sudah pergi untuk selama-lamanya….
Makam Nenek tercinta
   Kini Nenek sudah tiada. Beliau sudah tidak sanggup melawan penyakitnya. Sekarang kami baru mengerti mengapa beliau ngotot datang ke Cibinong dan mengumpulkan semua anak cucunya sehari sebelum beliau wafat. Rupanya itulah terakhir kalinya kami semua berkumpul bersama. Ternyata beliau tidak kuat menunggu kami datang ke Ciapus pada tanggal 5 Januari.
   Beliau memilih pergi pada hari Jumat tanggal 30 Desember 2011 sekitar pukul 2 dini hari. Tepat pada saat liburan sekolah, dimana semua cucu-cucunya berkumpul. Tepat saat anak pertamanya Uwa Agus libur mengajar. Tepat saat Bapa belum berangkat ke Thailand (pesawatnya berangkat hari Jumat siang). Semua seolah sudah diatur...
   Yang paling mengharukan adalah...Nenek akhirnya sempat bertemu dengan Bapa, anaknya yang selama ini berada jauh di rantau, meski hanya sebentar... Satu-satunya anak yang berhasil lulus kuliah dari jerih payahnya membanting tulang untuk biaya kuliah, karena gaji Kakek sebagai kepala sekolah kurang mencukupi. Bapa adalah anak Nenek yang paling dekat namun selalu berada jauh (karena merantau).
   Selamat jalan Nenek.... Kami semua menyayangi Nenek... Kami semua ikhlas akan kepergian Nenek. Sampai bertemu suatu saat nanti. Beristirahatlah dengan tenang ya, Nek. Nenek sekarang sudah tidak merasakan kesakitan lagi. Ya Allah mohon lapangkanlah alam kubur Nenek. Semoga amal ibadah Nenek diterima di sisi Allah SWT…aamiin..

2 komentar:

  1. Innalilahi Wa Innalilahirojiun, Moga Nenek mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt. Bagi yang ditinggalkan diberi ketabahan.

    BalasHapus
  2. Aamiin...terima kasih bu ina

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=