Sabtu, 21 Juli 2012

Ibu (akhirnya) Bekerja



Pada postingan sebelumnya disini, saya pernah menulis tentang betapa bersyukurnya saya menjadi ibu rumah tangga secara total. Selama ini saya merasa berada pada zona nyaman. Rasanya enggan beranjak untuk berubah. Saya memutuskan untuk melupakan keinginan saya mengambil kuliah pasca sarjana, dan tidak kembali ke dunia kerja demi pasukan riweuh tercinta ini. Godaan untuk kuliah lagi sempat datang, yaitu ketika kami tinggal di kota Solo. Saat itu Bapa berencana untuk mengambil kuliah pasca sarjana di UNS (Universitas Negeri Solo). Bapa kuliah sambil kerja tentunya. Teringat saya yang dulu sempat berambisi untuk kuliah lagi, maka Bapa menawarkan kesempatan itu kepada saya. Kami baru mempunyai Aa Dilshad yang belum berusia 1 tahun saat itu. Apalagi sudah ada si mbak yang begitu dekat dengan Aa. Jadi kalau ditinggal kuliah juga sepertinya tidak apa-apa.

  Tetapi setelah saya pikir-pikir, saya sudah tidak berminat lagi melanjutkan kuliah. Toh buat apa? Untuk kembali ke dunia kerja juga tidak memungkinkan, mengingat kondisi kami yang tidak pernah tinggal menetap di satu kota. Saya katakan pada Bapa, sebaiknya Bapa saja yang kuliah lagi, karena ilmunya pasti sangat diperlukan untuk menunjang pekerjaannya. Sedangkan buat saya, mencari ilmu masih bisa lewat jalan lain bukan? 

  Nah, gelar S2 terlupakan, jadi wanita kantoran tinggal sejarah. Menjadi ibu rumah tangga alias stay at home mom selamanya. Selamanya? Bagaimana jika ternyata nasib menggariskan bahwa saya akhirnya harus bekerja? Ikut membantu suami dalam mencari nafkah keluarga? Dunia kerja seperti apa yang cocok untuk saya yang rasanya 'susah beranjak' dari kenyamanan tinggal di rumah mengasuh anak-anak? Saya ingin bisa bekerja namun tetap dekat dengan anak-anak. Sempat tertarik memulai bisnis online, tapi saya kurang rajin standby di dunia maya. Buka usaha makanan kecil-kecilan di rumah? Saya malas repot memasak porsi banyak untuk juakan (masak sehari-hari juga sudah repot). Saya tidak mau kerja kantoran karena akan meninggalkan anak-anak seharian. Saya perlu pekerjaan yang waktunya bebas saya tentukan sendiri dan saya masih bisa pulang dulu sebentar mengurus anak-anak disela kesibukan kerja. 

  Dan itulah yang terjadi, saudara-saudara...saya yang kepalang keenakan tinggal di rumah akhirnya harus merasakan berjuang mencari nafkah di luar rumah. Saya mulai bekerja dan meninggalkan anak-anak di rumah. Kemauan sendiri? Tentu saja. Keputusan ini sudah direncanakan lama sebelum kami kembali dari rantau. 

Toko ketiks masih kosong

  Adalah keinginan Bapa untuk suatu saat bisa berwirausaha, membuka sebuah toko obat yang kelak dikembangkan menjadi apotek. Dengan demikian, Bapa tidak perlu lagi bekerja di kantornya yang mengharuskan kami untuk terus hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Ya, kami ingin hidup menetap di kampung halaman, tidak merantau lagi. 

  Singkat cerita (lengkapnya nanti saja ya), akhirnya kami diberi kesempatan untuk bisa mewujudkan apa yang sudah kami cita-citakan ini: membuka toko obat! Akhirnya...alhamdulillah... 

  Karena Bapa belum bisa meninggalkan pekerjaannya saat ini, maka urusan toko sehari-hari menjadi tanggung jawab saya. Kami pun berbagi tugas, Bapa menyempatkan diri berbelanja stok obat disela kesibukannya bekerja. Sedangkan saya harus meninggalkan rumah, bekerja di toko. 

  Jujur, berat saya rasakan pada awalnya. Saya yang terbiasa riweuh namun santai di rumah, harus pergi mengurus toko. Apa yang membuat saya berat? Pertama, meninggalkan anak-anak. Kedua, meninggalkan eyang. Lho kok ada eyang? Oh ya saya lupa, kami sudah kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama eyang (ibu saya) sekarang. 

  Saya khawatir, tanpa saya di rumah, anak-anak dan eyang menjadi tidak terurus. Saya tidak mungkin bisa pergi bekerja bila saya tidak memiliki asisten rumah tangga (art) yang handal. Alhamdulillah, Allah memberi jalan. Kami berjodoh dengan umi (begitu beliau biasa dipanggil), art baru yang usianya sudah cukup tua namun telaten. Umi mengurus anak-anak dengan baik selama saya pergi. Hebatnya, umi juga masih sempat mengurus eyang. Mudah-mudahan umi tetap kuat mengemban tugas ini seterusnya... 

  Kembali ke perasaan berat tadi, yaitu berat karena eyang. Saya merasa, karena saya tidak ada di rumah mengurus anak-anak, maka umi yang seharusnya total mengurus eyang jadi kurang perhatiannya terhadap eyang. Eyang jadi tidak diutamakan lagi karena umi lebih sibuk mengurus si dd yang belum genap berusia 2 tahun ini, sedang repot-repotnya karena anaknya aktif dan harus terus diawasi. Mudah-mudahan kekhawatiran ini segera terkikis, karena sampai detik ini saya masih juga khawatir... 

  Kalau terus mengikuti kata hati yang berat meninggalkan rumah...kapan mau majunya?! Bismillah...saya jalani saja ini, mulai bekerja di luar rumah, demi masa depan keluarga kami yang lebih baik kelak. Mencari rejeki yang halal. Insya Allah barokah... 

  Yah..here i am...akhirnya status saya berubah bukan ibu rumah tangga lagi. Senang? Tentu. Setidaknya saya jadi bisa mengaktualisasikan diri dan belajar sesuatu yang baru. Meskipun pekerjaan ini 'aneh' karena saya tidak diberi gaji.... 

  Sisi baiknya pekerjaan ini adalah: menjadi boss merangkap jongos. Yah namanya juga usaha sendiri, jadi tidak punya atasan yang terus mengawasi, hehe....Jadi terserah suka-suka kita saja. Tapi jangan lupa, merangkap jongos (pembantu) juga karena semua pekerjaan dikerjakan sendiri sebelum saya mempunyai karyawan, termasuk menyapu mengepel dan bersih-bersih di toko. Rajin kan... 

  Terakhir dan terpenting, saya tidak akan berani memulai pekerjaan ini kalau lokasinya berjauhan dari rumah. Beruntung kami mendapatkan tempat usaha di depan komplek perumahan tempat kami tinggal. Sering saya berjalan kaki berangkat dan pulang kerja. Kalau lagi capek dan bawa barang banyak, saya naik ojek. Anak-anak juga sering diajak ke toko. Tapi biasanya tidak bertahan lama karena mereka cepat bosan, lalu saya pulangkan saja mereka ke rumah. 

  Oh ya, saat grand opening saya meng-update ke Twitter dan menerima banyak ucapan selamat dan dukungan doa. Terima kasih ya teman-teman semua :) Bahkan teman semasa SMA, Novita Widiastuti sempat meledek saya: laki kerja di perusahaan obat, bini buka toko obat. Hehe...yah begitulah. Seandainya suami bekerja di pasar tradisional berjualan sayuran, maka saya pasti akan membuka warung makan. Bidang yang sama dan saling mendukung kan?

Bareng Dd Irsyad
   Alhamdulillah, kini toko obat TRISAD (diambil dari nama panggilan ketiga anak kami) sudah berjalan lebih dari 1 bulan lamanya. Kami juga sudah memiliki seorang karyawan tetap untuk menjaga toko, jadi saya tidak perlu tutup toko dulu bila ingin mengecek anak-anak dan eyang di rumah. Mudah-mudahan usaha kami ini bisa berkembang dan senantiasa diberkahi oleh Allah SWT...aamiin. 

4 komentar:

  1. Alhamdulillah :D
    Selamat ya mak atas usaha toko obatnya, semoga semakin berkah, amin :)
    Btw, ada obat sakit hati ga mak? hehehe... :p
    Oh ya mak, ttg tulisan yang ter-blok putih tersebut mungkin karena emak copas dari media lainnya, atau ada sebab lainnya.
    Untuk menghilangkannya, emak bisa memcoba untuk mem-block semua tulisan itu, kemudian pilih Removed Formatting (huruf T yg ada tanda silangnya).
    Semoga membantu :)

    BalasHapus
  2. Iya, alhamdulillah, aamiin...makasih irda :)
    Wah, kebetulan stok obat sakit hatinya lagi kosong, hehe...
    Makasih juga ya buat saran 'menyembuhkan' blok putihnya. Berhasil! Anehnya, kalo pas ngerapiin alinea dan foto, si blok putih muncul lagi. Jadi tulisan ini dibiarkan acak2an deh krna belum menyelidiki penyebabnya ---->alias gaptek :p
    Mudah2an irda ga kapok ya kalo nanti diminta bantuan lagi soal blog :)

    BalasHapus
  3. semoga di lancarkan usahanya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...makasih buat doanya bu myra :)

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=