Selasa, 16 Oktober 2012

Berhenti Berkelana (bagian 3) : Merger Dua Rumah

 
  
Kembali ke kampung halaman, saatnya mempersiapkan tempat tinggal yang nyaman bagi keluarga kami. Bukan rumah dinas kontrakan lagi yang akan kami tempati. Sekarang kami akan menempati rumah mungil milik pribadi (yang cicilannya belum lunas). Rumah ini dibeli sekitar tahun 2005, saat kami masih tinggal di Bali. Setelah itu langsung dikontrakan selama 2 tahun. Ketika Bapa ditugaskan di kantor Jakarta, kami menempati rumah ini selama 2 tahun. Lalu rumah ini selanjutnya ditempati oleh Eyang selama kami berada di rantau. Nah sekarang kami sudah kembali. Saatnya merenovasi rumah.

Rumah kami memiliki luas tanah 90m2. Bangunan aslinya memiliki 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga dan 1 kamar mandi. Bagian belakang rumah yang berupa tanah kosong sudah dibuatkan dapur dan kamar tambahan pada tahun 2008. Ruang terbuka tersisa halaman depan dan tempat parkir mobil. Untuk ukuran keluarga kecil, rumah ini sudah mencukupi. Tapi sekarang kan keluarga kami bukan keluarga kecil lagi, sudah ada Dd Irsyad sebagai anggota keluarga baru. Jika pulang kampung, kami akan serumah dengan Eyang. Tidak ketinggalan, asisten rumah tangga-nya Eyang juga termasuk anggota keluarga kan? Nah coba berhitung, jadi semua anggota keluarga jumlahnya ada 7 orang! Mana cukup untuk rumah sekecil ini? 

Bagaimana solusinya? Tinggal di rumah lain yang lebih besar? Tentu tidak. Sudah lama saya mempertimbangkan masalah rumah ini. Saya sudah melirik rumah tetangga sebelah. Dulu sih sering berkhayal andaikan punya uang banyak, kami beli rumah itu lalu digabung dengan rumah kami. Asyik kan...

Akhirnya mimpi itu hampir mendekati kenyataan. Menjelang kepindahan kami, rumah tetangga sebelah yang biasanya dikontrakan itu ditinggal pergi penghuninya. Rumah itu kosong. Keluarga yang mengontrak rumah tersebut sudah kembali ke kampung halamannya. Mereka mengontrak rumah tersebut karena sang suami sedang terlibat proyek pembangunan jalan tol di Bogor. Jalan tol selesai, proyek beres, mereka pun pindah. Mendapat kabar bahwa rumah tetangga sebelah sedang kosong, tanpa menunggu lama segera kami menghubungi sang pemilik rumah. Kami langsung mengajukan diri sebagai kontraktor (pengontak rumah) berikutnya. Alhamdulillah berhasil dan negosiasi harga sudah disepakati. Yak, jadilah kami punya dua rumah sekarang (eeh yang satu cuma pinjam kok). 

Selanjutnya yang harus dilakukan adalah merenovasi rumah, membuat kedua rumah ini bisa digabungkan jadi satu. Dimerger gitu. Namun urusan renovasi rumah ini tidak segera saya lakukan setalah tiba di kampung halaman. Renovasi ditunda karena kami masih berduka pasca kepergian Nenek. Andai almarhum Nenek masih ada, biasanya beliau yang paling heboh jika tahu kami akan merenovasi rumah. Heboh bahagia tentunya. Beliau selalu mengikuti perkembangan renovasi dan memuji habis-habisan saat melihat hasil akhirnya.
   
Pintu penghubung dari arah rumah kami
Merger dua rumah dimulai! Pertama kali yang dilakukan adalah membolongi tembok dapur belakang rumah kami, membuat pintu penghubung antara dua rumah. Pintu penghubung ini akan memudahkan kami untuk mondar-mandir dari rumah yang satu ke rumah yang ada disebelahnya. Lewat pintu depan rumah juga bisa. Tapi lewat belakang rumah lebih penting. Inilah akses menuju dapur, supaya gampang untuk berkirim makanan. Oh ya saya lupa menjelaskan, rumah tetangga sebelah yang kami kontrak ini diperuntukkan bagi Eyang. Sedangkan rumah kami ya untuk kami sekeluarga.

Seru deh saat pembobolan tembok ini berlangsung. Anak-anak berlarian keluar-masuk dengan gembira. Senang kalau rumahnya yang tadinya sumpek dan tidak ada jalan keluar lewat belakang, tiba-tiba...taraaa...ada tembok bolong! Langsung saja mereka main kejar-kejaran. Tadinya ada di depan rumah kami, kutruk kutruk kutruk...tiba-tiba saja sudah muncul dari dalam rumah Eyang. Kemudian mereka mengajak anak-anak tetangga untuk bermain bersama. Jadilah rumah saya ramai oleh bocah-bocah yang berlarian keliling rumah sambil tertawa gembira.

Pintu penghubung dari arah rumah Eyang

Horee ada tumpukan pasir di depan rumah!


Pintu penghubung dan jendela kamar belakang


Berikutnya, memasang pintu penghubung. Pintu ini tidak dibeli, ini adalah pintu kamar mandi rumah kami. Bagian bawah pintu kayunya sudah lapuk. Kemudian bagian lapuknya dipotong sehingga ukuran pintunya jadi lebih pendek. Sedangkan jendela juga adalah jendela bekas kamar tidur saya yang tidak terpakai (lengkap dengan teralisnya). Jadi tinggal membuat kusen jendelanya saja.



Saya meminta Mang tukang bangunan membuat atap di atas pintu penghubung menuju ke dapur rumah Eyang. Atap penghubung juga dipasang di depan rumah, menggabungkan kedua teras rumah. Atap penghubung dipasang agar kami tidak kehujanan saat mondar-mandir keluar masuk di dua rumah ini.





Atap penghubung dua teras dan pagar yang sedang dipasang



Jalan menuju dapur rumah Eyang
Foto di samping kiri adalah jalan dari depan pintu penghubung menuju dapur rumah Eyang. Agar rapi, jalan ini saya lapisi dengan lantai plastik (apa namanya ya). Jalanan ini juga menjadi teras kecil di belakang rumah. Tidur-tiduran atau makan cemilan di sini siang-siang lumayan nikmat. Ada angin sejuk yang sesekali lewat. Pemandangannya adalah secuil langit biru jika memandang ke atas, perabotan dapur dan tembok tetangga di sekeliling serta tempat jemuran baju di depan mata!

Dapur rumah Eyang tidak dipakai untuk memasak. Kegiatan memasak berpusat (ciee berpusat) di rumah kami. Sedangkan kegiatan mencuci berpusat di belakang rumah Eyang (mesin cuci ada di dekat ember hijau muda dalam foto). Kompor gas di dapur Eyang hanya digunakan untuk memasak air panas untuk Eyang mandi.

Halaman belakang ini juga menjadi tempat penyimpanan sepeda anak-anak, mainan mobil-mobilan dan motor-motoran, juga beberapa peralatan masak berukuran besar milik Eyang (semua tidak tampak di foto, malu ah, berantakan).

Berikutnya memperbaiki kamar mandi. Kamar mandi rumah kami diganti pintu dan lantai keramiknya. Dindingnya juga dipasang keramik. Kloset duduk yang biasa dipakai Eyang, dibongkar untuk ditukar dengan kloset jongkok yang ada di rumah Eyang. Pertukaran kloset ini disesuaikan dengan kebiasaan penghuninya masing-masing. Kelak jika kami tidak mengontrak rumah tetangga lagi, klosetnya akan ditukar lagi.

Memperbaiki kamar mandi

Berikut adalah foto kamar mandi rumah kami yang sudah jadi. Pengalaman menempati beraneka macam rumah dinas menginspirasi saya untuk membuat kamar mandi yang simpel dan mudah dibersihkan. Saya tidak memasang bak mandi dari keramik, cukup pakai ember besar saja. Ember besar lebih hemat tempat dan mudah untuk dibersihkan (dikuras airnya). Bak mandi keramik membuat kamar mandi sempit, repot untuk mengurasnya (harus disikat segala) dan harus menambal dengan posisi yang tepat jika ada bocor. Bagaimana dengan bath tub? Waah, mau ditaruh dimana?! :D 



Oh ya tambahan lagi, sekarang kami punya shower! Nah yang ini kemauan saya sendiri. Soalnya dari kecil saya tidak biasa mandi pakai gayung. Gagang shower yang digantung ini kalau dinyalakan airnya jadi seperti mandi hujan. Anak-anak suka. Plus, mandi pakai shower lebih menghemat air lho.


Shower favorit ibu
Kamar mandi rumah kami


Selama berada di rantau dan tinggal di rumah dinas, kami sekeluarga selalu tidur dalam satu kamar. Ya, sekamar berlima! Saat tinggal di Palangkaraya, rumahnya memiliki 3 kamar tidur yang bisa dipakai. Namun kenyataannya cuma satu kamar yang kami tempati. Beruntung kamarnya cukup luas sehingga 1 springbed besar dan 1 springbed kecil muat masuk di dalamnya. Sangat nyaman untuk kami berlima. Beda lagi dengan rumah dinas di Makassar. Di rumah dinas yang pertama Aa Dilshad masih mau tidur terpisah dari Ibu (tapi tetap harus ditemani tidur bareng Bapa). Di rumah dinas yang kedua Aa Dilshad tidak mau tidur di kamarnya. Akhirnya ya kami 'umpel-umpelan' berlima dalam satu kamar yang hanya muat 1 springbed besar. Setiap malam harus mengampar kasur kecil di bawahnya untuk tempat Aa Dilshad tidur berdua Bapa. 


Meja belajar dan lemari buku

Menempati rumah sendiri, sudah waktunya membuat kamar yang nyaman untuk anak-anak. Sebenarnya Aa Dilshad sudah mau tidur terpisah dari orangtuanya, hanya gara-gara ingin tidur di kamar yang pakai penyejuk udaranya (AC). Aa tidak mau menempati kamar anak yang sudah kami siapkan di rumah dinas dan memilih ikut tidur di kamar tidur utama yang menggunakan AC. Syukur alhamdulillah, kami sempat menikmati yang namanya tidur dengan AC setiap hari di rumah dinas. Di rumah sendiri kami tidak mampu untuk memasang AC. Bisa sih membeli AC. Tapi hanya bisa untuk 1 kamar saja dan dipasang di kamar tidur utama. Jika itu terjadi, maka Aa pasti tidak mau lagi tidur di kamarnya sendiri. Ditambah lagi, Eyang pasti menuntut yang sama (ingin pakai AC juga). Kesimpulannya, jika ingin pasang AC di rumah, maka kami harus membeli 3 AC! Wah, benar-benar pemborosan. Belum lagi bayar tagihan listriknya nanti. Wuih...


Springbed bagian bawah yang bisa ditarik ke kolong

Saya juga sudah berjanji pada Aa Dilshad jika kami sudah tinggal di rumah sendiri, saya akan membelikan dia meja belajar dan rak buku untuk membuat perpustakaan mini. Tidak punya meja belajar selama ini? Ya iya lah, hidup merantau gitu...mana kepikiran punya meja belajar. Punya kursi meja untuk duduk tamu saja tidak ada. Hidup merantau ya harus minim perabot, supaya tidak repot jika akan pindah rumah lagi.






Poster belajar untuk Kk dan Dd


Akhirya kamar yang saya janjikan untuk Aa Dilshad selesai. Warna cat sesuai keinginan Aa, yaitu warna biru langit. Gorden untuk jendelanya juga saya pesan khusus bergambar mobil-mobilan. Kamar juga saya hiasi dengan poster belajar untuk Kk Rasyad dan Dd Irsyad.  

Foto-foto di atas dan di samping adalah foto kamar anak-anak yang sudah jadi. Difoto pada malam hari, jadi pencahayaannya kurang bagus (maklum bukan pemakai smartphone). Dalam foto terlihat Aa Dilshad sudah tidur. Kk Rasyad dan Dd Irsyad -yang susah disuruh tidur ini- menjadi model dulu sejenak. 

Berikutnya: pagar rumah. Sejak dibeli, rumah kami tidak memiliki pagar. Begitu pula dengan rumah tetangga sebelah. Alasannya tentu masalah keuangan. Mulanya ada 6 rumah (dengan 3 rumah saling berhadapan) yang tidak memiliki pagar. Terliahat unik mengingat hampir semua rumah di komplek sudah memiliki pagar. Unik karena kekompakan tersebut membuat pemandangan yang lain daripada yang lain. Pemandangan seolah kami berenam adalah penghuni komplek cluster yang eksklusif dengan rumah tanpa pagar! Ya, kami tertawa bersama saat memproklamirkan sebagai warga klaster, yaitu klas (kelas) teri alias tidak punya uang untuk memagar rumah..haha..

Namun saat saya kembali pulang, para tetangga rupanya 'berkhianat' keluar dari membership klaster rumah tanpa pagar ini. Betul, mereka sudah memagar rumahnya masing-masing! Jadi, tinggal rumah kami saja dan rumah kontrakan di sebelah rumah kami ini yang tidak punya pagar. 

Awalnya saya tetap 'keukeuh' dengan konsep tanpa pagar ini. Apa boleh buat, akhirnya saya menyerah juga. Saya memutuskan untuk memagar rumah karena mempertimbangkan anak-anak, terutama si bungsu. Dd Irsyad sedang dalam masa tidak bisa diam dan berlari kesana kemari. Jika rumah tidak berpagar, saya khawatir Dd Irsyad bisa sering 'kabur' berlari ke tengah jalan. Dengan berat hati, saya menyerah, rumah saya pagar. 

Saya tidak mau memasang pagar tembok yang permanen dengan pintu besinya. Saya ingin pagar yang bisa dibongkar pasang. Jika saya harus memagar rumah, maka bukan rumah saya saja yang diberi pagar. Rumah Eyang tentu harus pakai pagar juga. Namanya rumah kontrakan, rugi dong kalau kita memasang pagar di rumah orang. Jadi pagarnya harus non permanen. Jika suatu saat kami tidak mengontrak lagi, hup...pagar tinggal dilepas dan dipasang di bagian samping rumah kami. Gampang kan.

Pagar sudah menyatukan rumah kami dan rumah Eyang. Atap penghubung antar dua teras juga sudah terpasang. Agar terlihat lebih kompak, saya memutuskan untuk menyamakan warna cat tembok depan kedua rumah ini. Rumah kami semula bercat jingga dan hijau tosca (pilihan ajaib bukan). Sedangkan rumah tetangga bercat putih. Pilihan saya (setelah berkonsultasi via telepon dengan Bapa) adalah warna kuning dan hijau! Nah sekarang kedua rumah ini jadi lebih nge-blend kan :)

Rumah Eyang

Rumah kami


Selesai? Belum. Saya ingat pernah menyimpan sepotong batu alam yang dibeli di Bali. Dulu penjual batu alam belum banyak di pinggir jalan. Maka kami 'bela-belain' membeli 2 potong batu alam lalu dibawa dari Bali menuju ke Bogor saat pindahan dulu. Batunya berat. Ditaruh di dalam dus dengan dilapisi balutan koran yang tebal. Ditaruh terpisah agar tidak terlalu berat. Sayang, di tengah perjalanan, batu yang satu pecah. Jadi tinggal 1 deh. Padahal kami berniat memasang batu alam ini untuk pagar rumah yang kelak dibuat.

Pasang batu alam
Batu alam cuma satu. Pagar tembok tidak jadi. Lantas, untuk apa batu alam yang sudah capek-capek dibawa jauh dari Bali dengan penuh perjuangan ini? Tiba-tiba saya punya ide untuk membuat teras rumah kami memiliki tembok kecil untuk tempat duduk-duduk. Sekalian untuk tempat menerima tamu.  Harap maklum kami tidak punya kursi apalagi sofa, jadi kalau ada tamu langsung disuruh duduk di lantai. Nah, batu alam ini dipasang di tengah-tengah tembok tersebut. Bagaimana, bagus bukan? 

Fungsi lain dari tembok kecil ini adalah untuk menahan cipratan air hujan. Masih kena sih. Jika ingin teras yang sama sekali tidak terkena air hujan, beberapa tetangga memasang krey bambu. Saya memang akhirnya memasang krey bambu, tapi dipasang di teras rumah Eyang. Krey bambu membuat kita seolah sedang bersembunyi. Itu cocok untuk Eyang yang selalu menginginkan privasi.

Foto di atas memang masih belum jadi. Hasil akhirnya tumpukan bata ini dicat dengan warna kuning, serasi dengan warna cat tembok depan rumah.

Alhamdulillah, senangnya rumah kami sudah selesai...
Sentuhan terakhir adalah menata taman rumah kami yang berantakan. Selama ditempati oleh Eyang, beliau tidak sempat mengurus taman karena kondisi kesehatannya. Saya kemudian memanggil tukang kebun untuk memcabuti semua tanaman yang ada di halaman rumah kami. Tanaman itu tidak dibuang semuanya, sebagian besar dipindahkan untuk membuat taman yang satunya lagi di depan rumah Eyang. Saya juga menambahkan beberapa tanaman baru. Jika ada rejeki, kelak saya ingin memasang lampu taman yang cantik. Dalam foto terlihat lampu taman kami yang sudah rusak.

Taman kecil rumah kami



Putput bersantai 
Punya taman kecil sudah. Merger dua halaman rumah menciptakan tempat bermain yang cukup luas untuk anak-anak. Kadang anak-anak tetangga bisa ikut bermain bola atau badminton di halaman rumah kami. Bahkan kucing peliharaan Eyang, si Putput punya hobi bersantai diatas rumput gajah mini yang empuk ini.

Lihatlah dua foto terakhir di bawah ini. Anak-anak terlihat sedang bermain basah-basahan menggunakan selang air. Aa Dilshad, Kk Rasyad dan Dd Irsyad tertawa gembira. Beberapa tetangga yang melihat ikut tersenyum. Sedikit heran barangkali, mengapa saya membiarkan begitu saja mereka menghambur-hamburkan air. Bermain air termasuk jarang dilakukan oleh warga komplek kami. Kenapa? Boros air! 

Bagi saya, tidak apa-apa sesekali membiarkan anak-anak bermain air. Bermain adalah merupakan proses belajar. Bermain air itu menyenangkan bagi anak-anak. Kenangan saat bermain air sewaktu masih anak-anak ini akan tertanam kuat sampai mereka dewasa nanti. Sama seperti yang pernah saya alami di waktu kecil dulu. Bermain hujan, becek-becekan, ciprat-ciprat air menjadi kenangan yang indah untuk dikenang.

Tempat bermain yang luas


Harapan saya, dengan tempat bermain yang cukup luas ini, anak-anak saya bisa bereksplorasi dan bermain dengan gembira sepuas-puasnya. Tentu saja, tetap dalam pengawasan saya sebagai orangtuanya. 


Boyz bermain air

Meski jauh dari kemewahan, minim perabot dan dibalut kesederhanaan, semoga rumah mungil ini menjadi hunian yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak dan kami sekeluarga. Aamiin. 


2 komentar:

  1. Belajar menjadi ibu dari seorang teteh Inna Riana :)
    Terima kasih untuk semua cerita dan pengalamannya. Penagalaman memang guru yang paling berharga.
    Always keep to be great mommy ya teh :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Learning by doing saja, Irda. Insya Allah suatu saat Irda juga bia merasakan bahagianya menjadi seorang ibu :)
      Betul, pengalaman memang guru yg paling berharga. Tanpa pengalaman, kita belum belajar apa2. Ayo, dibikin jadi berpengalaman, hihi
      Thanks untuk pujiannya, ya Irda sayang *peluk* :)

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=