Jumat, 12 Oktober 2012

Berhenti Berkelana (part 2): Hampir Terlambat

Sambungan dari tulisan sebelumnya...

Jalan hidup di tangan Tuhan. Semua sudah diatur. Itulah yang terjadi pada kami. Seolah sudah diatur, kepulangan kami ke kampung halaman dilakukan pada waktu yang tepat. Jika kami tidak segera pulang, maka kami akan menyesal. Menyesal karena terlambat. Ya terlambat. Bila kami tidak segera pulang, mungkin kami bisa terlambat untuk bertemu dengan Nenek untuk yang terakhir kalinya.

Nenek memang sudah lama sakit. Namun beberapa bulan terakhir yang kami dengar dari telepon, kondisi kesehatannya kian menurun. Sempat terbersit kekhawatiran kalau beliau tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dari nada bicaranya, terdengar betapa Nenek sangat ingi bertemu dengan kami semua. 

Sebelum memutuskan untuk pulang kampung, kami sudah mengundang Kakek dan Nenek untuk berkunjung ke rumah kami. Tiket sudah siap untuk dipesan. Saat tanggal yang disepakati makin dekat, Nenek membatalkan keberangkatannya. Kondisi kesehatannya semakin memburuk. Beliau sudah tidak bisa bepergian ke luar rumah, apalagi harus naik pesawat untuk mengunjungi kami.

Saat saya dan anak-anak tiba di kampung halaman, Nenek menangis bahagia menyambut kami. Namun terasa masih ada yang kurang, tidak ada Bapa. Ya, Nenek belum bertemu dengan anak kandungnya yang masih berada jauh di rantau. Beliau terlihat sedih dan memendam sesuatu. Belakangan, saya baru tahu kalau ternyata selama ini beliau memendam rasa sakit dan terus bertahan sampai akhirnya bisa bertemu dengan kami sekeluarga.

Beberapa hari setelah kami kembali, Bapa menyusul. Kebetulan Bapa ada acara kantor, jadi bisa singgah sejenak ke rumah di kampung sebelum berangkat lagi. Rencananya kami sekeluarga akan bersama-sama berkunjung ke rumah Nenek dan Kakek setelah Bapa kembali dari tur acara kantornya. Namun rupanya Nenek sudah tidak kuat lagi. Tidak mau menunggu Bapa selesai tur, beliau nekad datang ke rumah kami tepat di hari Bapa baru mendarat dari rantau. 

Setelah melepas kangen pada Bapa, anaknya yang selalu berada jauh di rantau, Nenek menangis bahagia.Saat Bapa hendak berangkat ke bandara, Nenek menciuminya dengan penuh haru. Rupanya itulah saat terakhir kebersamaan ibu dan anak sebelum terpisahkan oleh maut...
Nenek memangku Dd Irsyad saat makan bersama di Palangkaraya
Cerita kepergian Nenek saya tulis di sini
Hampir terlambat. Betul. Kami hampir saja terlambat untuk bisa bertemu Nenek untuk yang terakhir kalinya. Jika kami tidak segera pulang, Nenek belum tentu bisa bertahan lebih lama berjuang melawan penyakitnya. Tuhan Maha Pengasih, alhamdulillah kami masih sempat dipertemukan Nenek pada saat-saat terakhir hidupnya.  

Kami pulang kampung demi kebahagiaan anak dan untuk merawat orang tua. Namun kami belum sempat mengurus Nenek. Maafkan kami, Nek...

3 komentar:

  1. subhanallah... :' masih sempat bertemu...

    BalasHapus
  2. alhamdulillah masih sempat di pertemukan ya

    BalasHapus
  3. subhanallah...Allah Maha Adil...sampai sekarang kami tidak henti2nya bersyukur masih diberi kesempatan bertemu beliau untuk yg terakhir kalinya

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=