Rabu, 19 Juni 2013

Masuk ke Istana Bogor


Hari Selasa tanggal 18 Juni 2013, saya dan Aa Dilshad mengunjungi Istana Bogor. Kami hanya berdua saja. Sementara pengunjung lain terlihat dengan rombongan dari sekolahnya masing-masing. Ketika mendaftar, beberapa hari sebelumnya, saya berniat untuk datang sekeluarga. Sayang, anak-anak di bawah 10 tahun belum boleh ikut. Ditambah Bapa yang tiba-tiba bilang tidak bisa cuti pada hari Selasa. Ya sudah, tidak apa-apa. Kami tetap berangkat. Kapan lagi ada kesempatan bisa mengintip isi Istana Bogor yang jarang dibuka untuk umum ini, ya nggak? Bapa sendiri bilang, beliau yang asli orang Bogor saja belum pernah masuk ke Istana Bogor. Nah!
   
  Tidak sembarang orang boleh ,asuk dan melihat isi Istana Bogor, lho. Istana Bogor dibuka untuk umum tahun ini dalam rangka menyambut HUT Kota Bogor ke 531. Syarat untuk boleh masuk Istana Bogor:
  • Anak-anak berusia di atas 10 tahun. 
  • Anak-anak memakai seragam untuk rombongan dari sekolah. 
  • Tidak boleh memakai baju kaos. Pakai kemeja rapi.
  • Tidak boleh memakai jeans. 
  • Tidak boleh memakai sandal. 
  • Tidak boleh memotret di dalam istana
  • Memakai tas berukuran kecil. 
   Saya dan Aa mengambil jadwal tur keliling istana jam 9 pagi. Tepat 15 menit sebelum dimulai, kami sudah sampai di lokasi yang ditentukan untuk berkumpul, yaitu di Kantor DPRD (lokasi di seberang gerbang istana, masuk dari belakang gedung Bank Mandiri). Kami mendaftar ulang, diberi tiket masuk, dan tangan kami dicap. Lalu kami disuruh berkumpul di tenda untuk diberi pengarahan sebelum berangkat.


   Pengunjung yang datang sebagian besar adalah rombongan anak sekolah. Namun saya melihat sendiri masih banyak anak-anak berseragam sekolah yang usianya di bawah 10 tahun. Mereka tetap diperbolehkan masuk, dengan syarat harus ada yang membimbing/mengawasi. Oia, Aa saya pakaikan seragam karena saya takut tidak boleh masuk. Ternyata, banyak anak-anak bukan dari rombongan sekolah yang tidak memakai seragam. Hehe, enggak apa-apa, ya A :)


   Selanjutnya, seleksi tas. Pengunjung yang membawa tas ransel tau tas berukuran besar disuruh menitipkan tasnya. Tas dibawa di mobil bak terbuka, berangkat bersama rombongan pengunjung. Saya sudah pakai tas berukuran mungil. Namun setelah pemeriksaan di gerbang, tas saya disuruh ditaruh di loker penitipan barang. Lebih aman sih, daripada tas saya ikut dalam tumpukan tas yang bak gunung itu.


  Kami mulai masuk ke area istana. Penjagaan cukup ketat. Iya, lah... istana gitu loh! Pengunjung cukup tertib mendengarkan pengarahan dari pemandu. Larangan memotret juga ditaati oleh para pengunjung. Kami semua mengagumi isi istana yang begitu megah, Sebagian besar isi ruangan yang diperlihatkan adalah ruangan untuk berkumpul mengadakan konferensi, rapat atau menerima tamu.
   Kami juga mengagumi karya seni yang terpajang di istana. Di luar istana banyak patung-patung eksotis (meminjam istilah Bapak Pemandu). Sedangkan lukisan dan patung serta benda-benda seni lainnya dipajang dan tertata indah di dalam istana. Saya suka dengan chandeliaer yang ada di setiap ruangan. Tergantung megah dan mewah. Jalan-jalan dengan rombongan ini tidak terasa gerah kerena suasana nyaman dari pendingin udara.

  Tidak terasa, tur singkat ini selesai. Singkat? Tentu saja. Di belakang sudah tiba rombongan tur selanjutnya. Rombongan kami dipersilahkan untuk keluar dari gedung istana. Disediakan juru foto khusus bagi rombongan atau perorangan yang menginginkan foto berlatarbelakang Istana Bogor. Kalau saya sih, foto sedapatnya saja deh, hehe

  Sayang, Aa Dilshad kurang suka difoto. Ditambah kami berpacu dengan waktu karena Aa  minta diantar ke tempat lain. Jadi kami tidak bisa berlama-lama di luar istana.  Berikut hasil jepretan kamera yang berhasil saya abadikan:

Aa nyureng di depan Istana Bogor. Silau, Bu!

Danau kecil di depan Istana Bogor

Saya di depan Istana Bogor

Aa di teras Istana Bogor

Saya di teras Istana Bogor. Chandeliernya kurang jelas, ya

Foto dekat pohon. Rusanya nun jauh di sana

Mau ambil tas. Ini kunci lokernya, Bu!
   Oia, soal sepatu. Saya lihat banyak juga yang pakai wedges. Eh, wedges bukan sendal, ya? Saya memang tidak bisa pakai wedges, enggak kuat pegalnya. Demi bisa masuk Istana Bogor, saya bela-belain pakai flat shoes yang sudah lama tidak terpakai. Hasilnya? Kaki saya lecet, saudara-saudara! *emak biasa pakai sendal*

  Kami senang bisa mengunjungi Istana Bogor. Kelak kami akan kembali lagi. Kami akan datang lengkap bersama Bapa, Kk Rasyad, dan Dd Irsyad. Tunggu Kk dan Dd cukup umur dulu. Wah, masih lama ya? ^_^

4 komentar:

  1. makanya mbak, pakai kaos kaki dulu biar nggak lecet kakinya,

    wedges memang beda saama sedal _ _"

    BalasHapus
  2. Iya, hadeeuh lupaa >_<

    Salut u para pengguna wedges. Saya mah ga kuat makenya :P

    BalasHapus
  3. Waaahhhhhh.... serrruuuuuuu....
    Rugi banget ga bisa ikutan teh T____T
    Foto Aa yg background-nya istana Bogor berasa terlihat seperti background editan, hehehe... mungkin karena cuacanya sedang cerah ya teh :p
    Teh, 17 Agustusan nanti kira2 Istana Bogor buka lagi ga ya? Mau ikutan masuk, kan pas hari libur, hehehe :D

    BalasHapus
  4. Nyaris bisa pergi bareng, ya, Irda :(
    Background editan? Iya kah? Aku malah ga ngerti cara bedainnya. Ini mah aselilili dong :D
    Kalo tgl 17 buka lagi, kurang tahu, ya. Kalo ga salah sih bukanya memang cuma setahun sekali aja, Irda. Pas ultah kota Bogor aja. Tunggu tahun depan lagi. Sabar ya. Nanti aku temenin :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=