Jumat, 30 Agustus 2013

Memelihara Anjing Tanpa Sengaja

Coki-coki (kiri) dan Mido (kanan)
Ini cerita waktu kami sekeluarga masih tinggal di Denpasar sekitar tahun 2004. Anak kami baru satu, yaitu Aa Dilshad yang berusia 2 tahun. Kami pindah dari kota Solo ke sebuah rumah kontrakan di Jalan Nangka di kota Denpasar. Rumah itu terletak di tengah pemukiman yang mayoritas warganya adalah orang Bali. Hampir semua rumah bergaya arsitektur khas Bali. Banyak rumah yang berhalaman luas lengkap dengan pelinggih (tempat menyimpan canang/sesajen) di dekat pagar rumah, atau pura kecil bagi yang rumahnya besar.

   Rumah kami tidak terlalu besar, tapi punya halaman depan yang luas. Tetangganya juga ramah. Sebenarnya saya betah tinggal di banjar (kampung) tersebut. Sayang, kondisi Aa Dilshad yang terlambat bicara jelang usia 3 tahun membuat kami harus pindah rumah. Supaya lancar bicara, Aa Dilshad harus disekolahkan agar banyak berinteraksi dengan teman sebayanya. Setelah kontrakan habis, kami mencari rumah lain yang lokasinya dekat dengan sekolah playgrup.

   Akhirnya kami menemukan rumah di sebuah komplek di daerah Dalung, masih di kota Denpasar. Di komplek itu ada sekolah playgrup, yang jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Juga -alhamdulillah- rumah baru kami ini dekat dengan mesjid (dulu termasuk susah lho mencari rumah kontrakan yang dekat dengan mesjid).

  Rumah kami termasuk tipe 27 dengan dua kamar ukuran mungil. Rumah ukuran 4L alias Lu Lagi Lu Lagi, hehe. Meski mungil, rumah ini cukup untuk kami bertiga dan seorang sepupu Bapa, namanya Iwan, yang ikut tinggal bersama kami. 

  Ukuran garasi rumah juga pas. Mobil dinas yang terparkir bisa masuk, tapi pagarnya tidak bia ditutup. Jadi, kalau malam hari ya rumah kami pagarnya terbuka. Untung lingkungan komplek termasuk aman. Jadi kami tenang saja meski pagar tidak tertutup rapat. 

   Di gang komplek, rumah kami adalah satu-satunya yang terbuka pagarnya di malam hari. Semua pagar rumah tetangga tertutup rapat dan terkunci.Kondisi ini membuat seekor anjing liar di gang menumpang tidur di kolong mobil setiap malam.
Coki-coki bersiap mengantar Aa Dilshad sekolah
   Awalnya kami tidak mau anjing tidur di rumah kami. Pagar sempat saya ganjal kardus agar anjing itu tidak bisa masuk, lalu kemudian roboh karena diseruduk. Tapi setiap malam, mau tidak mau kami harus membiarkan anjing itu tidur di kolong mobil karena pagar yang terbuka. Akhirnya kerena tidak tega, kami sekeluarga bisa menerima kehadiran anjing yang ternyata berjenis kelamin betina itu. Saya tanya pada anak-anak tetangga, katanya anjing itu bernama Mido. Si Mido tidak ada pemiliknya. Tadinya Mido biasa tidur di rumah kosong yang belum selesai dibangun. Setelah kami datang, Mido pindah tidur di rumah kami. Barangkali, tidur di kolong mesin mobil itu hangat, jadi dia betah.

   Selang beberapa bulan, Mido melahirkan 4 ekor anak anjing di rumah kosong. Tetangga membagi-bagikan anak anjingnya. Seorang ibu teman sekolah playgrup Aa Dilshad, Mama Arthur, kebagian seekor anak anjing betina. Mama Arthur memberi nama anak anjing berwarna putih hitam itu Si Putri. Saat membawa Putri dalam kardus aqua, Mido marah dan mengejar motor Mama Arthur sambil mengonggong. Duh, jadi sedih. Maaf ya, Mido, anakmu pasti dirawat dengan baik jika ada yang mengadopsi.Kabar terakhir yang saya dengar setelah saya pindah dari Bali, yaitu Putri sudah melahirkan anak-anak anjing yang lucu-lucu. Wah, senangnya!

   Tidak semua anak Mido diadopsi. Sengaja disisakan seekor anak anjing betina, agar Mido tidak sedih kehilangan seluruh anaknya. Saya dan Putu Meta (anak gadis tetangga depan rumah) sepakat memberinya nama: Coki-coki. Ya, anak anjing itu memang berbulu coklat bagaikan coklat merk Coki-coki yang lezat itu. Saya, Aa Dilshad, dan anak-anak tetangga menyayangi Coki-coki. Anak anjing yang lucu ini memang menyenangkan diajak bermain. Putu Meta yang paling rajin memandikan Coki-coki. Saya pernah membantu sekali. Tugas saya cuma memegang selang dan menyemprotkan air ke tubuh Coki-coki, sementara Putu Meta yang menyabuninya dengan shampo dan membilasnya. Cepat selesai, deh. Kerja sama yang baik, bukan? :)

  Makanan untuk Mido dan Coki-coki selalu melimpah. Siapa saja di gang yang punya makanan sisa akan memanggil mereka dan memberinya makan. Termasuk juga saya. Wah enak, ya. Mido dan Coki-coki selalu kenyang terus, nih. Anjing milik bersama gitu loh :D

  Coki-coki tumbuh besar dengan cepat. Bersama ibunya, Mido, kedua anjing itu tidur setiap hari di rumah kami. Sebagai muslim, saya harus menjaga jarak dengan mereka. Sebenarnya saya suka anjing. Waktu kecil, orangtua saya pernah memelihara anjing, tapi cuma sebentar. Saya juga tidak ingat karena usia saya masih batita. Saya juga punya beberapa teman yang memelihara anjing waktu sekolah dulu. Dari mereka, saya jadi tahu sedikit tentang anjing. Yaitu:
  • Anjing bisa tahu mana orang yang baik dan mana yang jahat.
  • Saat pertama kali bertemu, anjing akan menggonggong curiga. Setelah kenal dan sering bertemu, dia tidak akan menggonggong lagi. Pengalaman saya, setiap saya datang ke rumah teman, anjingnya masih menggonggong. Tapi menggonggong gembira menyambut kedatangan saya :)
  • Anjing itu hewan yang setia pada majikannya. Saya sering lho, diikuti oleh anjing yang lagi ngefans sama saya *sok tenar*
  • Anjing akan menggoyang-goyangkan ekornya jika sedang senang. Kebalikan dengan kucing yang mengibaskan ekor jika sedang kesal. Enggak percaya? Coba sentuh kedua hewan yang sedang bergoyang ekornya ini. Lihat reaksinya. Kalau anjing pasti langsung melonjak-lonjak kegirangan. Sedangkan kucing pasti langsung menggigit, hihihi.
  • Anjing senang menjilat-jilat orang yang disukainya. Untuk yang satu ini jelas saya hindari. Jika anjing yang sudah kenal dengan saya akan menjilat, saya pelototi dia. Enggak jadi dijilat deh :D Kalau sudah kepalang kena jilat, ya saya langsung segera bersuci dengan tayamum (membasuh dengan tanah).
  • Anjing bisa diajari untuk tidak selalu masuk ke dalam rumah. Ini juga yang saya terapkan pada Si Mido dan Coki-coki. Kalau kepalanya mulai nongol di pintu, begitu saya omeli, mereka langsung ngacir keluar,
   Setiap hari saya berjalan kaki mengantar Aa Dilshad ke sekolah. Sepanjang jalan, Mido dan Coki-coki selalu mengikuti. Pemandangan yang disaksikan orang di sepanjang jalan adalah: seorang ibu hamil berkerudung (saya sedang hamil anak kedua) dan anak laki-laki kecil berjalan bersama dua ekor anjing. Heran melihat saya yang berkerudung kok memelihara anjing. Sering ditanya, "Itu anjingnya, ya, Bu?" Saya selalu menjawab, "Bukan." Memang mereka bukan anjing saya, kok. Tapi ini anjing milik bersama tetangga satu gang dan kebetulan tidur di rumah saya. Eh, tetap saja saya ikutan memelihara anjing, ya? Hehe.

  Keriuahan terjadi setiap pagi di halaman sekolah Aa Dilshad. "Anjingnyaaa Dilshaaaaadddd!!!" lalu anak-anak yang sedang bermain menjerit dan berlarian saat didatangi Mido dan Coki-coki.Mereka suka iseng sih, mengendus kesana-kemari. Kalau sudah begitu, saya yang kerepotan mengusir kedua anjing itu dan menyuruh mereka pulang. Hahaha...hadeuuuhh... 

   Jika kami pergi ke luar rumah dengan mobil, Mido dan Coki-coki suka mengejar. Tapi tidak jauh. Jarak 200 meter juga mereka berbalik pulang. Tentunya setelah Aa Dilshad teriaki dari jendela mobil sambil tertawa-tawa, "Pulang kamu, pulang! Hush! Huusshhh!"

   Tiada hari tanpa Mido dan Coki-coki. Sering lho, Mido atau Coki-coki (atau keduanya) menunggui kami di sekolah. Pulang sekolah dan jam tidur siang mereka selalu ada di garasi rumah. Jujur, saya merasa aman dijaga oleh mereka. Jika ada orang yang mencurigakan, gonggongan mereka membuat saya yang berada di dalam rumah menjadi waspada, lalu kemudian lega karena orang tersebut akhirnya pergi (mungkin takut karena di rumah ada anjing).
Bersantai di garasi sepulang sekolah
   Sayang, kebersamaan kami hanya setahun saja. Kami harus pindah ke Bogor. Berat rasanya berpisah dengan Mido dan Coki-coki. Apalagi kelihatannya Coki-coki sedang hamil (perkiraan saya). Rumah kontrakan kami selanjutnya diisi oleh pengganti Bapa di kantor. Beberapa bulan kemudian, ada acara kantor di Bali. Bapa sempat mampir ke rumah lama kami ini. Ternyata, Mido dan Coki-coki masih ada! Coki-coki sudah besar tapi tidak ada anaknya (mungkin Coki-coki sudah melahirkan dan anak-anaknya sudah dibagikan, atau keguguran). Dia menggonggong curiga saat bertemu Bapa. Tidak lama, dia tersadar dan langsung mengenali siapa yang datang. Reaksinya langsung berubah gembira! Aih, anjing memang hewan yang setia. Masih kenal dengan majikan lamanya. Sayang foto terbaru mereka di handphone Bapa terhapus karena eror. Semoga Mido dan Coki-coki masih sehat sampai hari ini. We miss you, Mido and Coki-coki...

"Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Aku dan Peliharaanku"



14 komentar:

  1. Seru ya Mak...nggak sengaja di pelihara aja..anjing bisa menghargai ..hihi..ngikut dan tau siapa yang kasih tumpanag ke dia..^^
    Kalau aku kemaren..ada kucing dech beranak di taman belakang..cuma..karena takut melihara kucing...eh belum sempat di bawa induknya..induknya mati..di racum orang..tapi matinya itu kok ya di dekat taman rumahku..kayaknya mau nengok anak2nya gitu..waduch..bingung juga..lha anak2 kucing baru lair..di kasih makan apa2 nggak bisa makan..kasih susu belum bisa juga..akhirnya karena malah enggak tega...meang meong terus cari induknya..tak suruh aja si embak naruh anak2 kucing yang kehilangan induknya itu di rerumputan dekat rumah..yach sapa tau ketemu induk lain..hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, anjing mmng hewan yg setia, ampe ada pelem-nya segala, ya mak :')
      Aih, jahat amat ya ada yg ngeracun si induk kucing :(
      Waah repot tuh kalo anak kucing baru lahir. Kalo mau terus dipelihara mmng kudu telaten. Disuapin susu pake pipet obat, bikin kandang yg hangat, dll. Saya belum pernah ketitipan anak kucing baru lahir, selalu ada induknya. Kalo ditinggal kabur induknya mah sering, tapi anak2 kucingnya udah gedean dikit.
      Duh, semoga anak2 kucing itu nemu induk kucing yang baik hati or ada yg mengadopsi

      Hapus
  2. Anakku punya juga piaraan seperti Mido dan Coki-coki tapi kucing yg asalanya kucing liar yg suka main ke erumah kami karena anakku Icha suka dan sering kasih makan dia jadi kucing piaraan kami walaupun makan tidurnya cuma diberanda soalnya aku keberatan kucing masuk rumah walau begitu Putra nama kucing itu sangat setia, dia selalu menunggu anak-anak pulang sekolah dan kalau kami bepergian dia duduk di beranda seakan-akan menjaga rumah kami :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, lucunya si Putra sampe nungguin pulang sekolah.
      Anaknya Mido namanya Putri. Kucingnya Icha namanya Putra, berarti cowok eh jantan ya :D

      Hapus
  3. sebenernya anjing lebih asik ketimbang kucing, karena anjing ndak manja dan mau bekerja.. tapi entah kenapa saya emoh dua-duanya, kucing itu bikin geli, sementara anjing, mulutnya itu bikin ngeri.. hehe.

    BalasHapus
  4. kalau saya suka dua2nya, hehe

    BalasHapus
  5. Waaah saya selalu merasa ngeri dengan anjing, mak :)
    Tapi kalo seperti dirimu yang bisa menjaga, tentunya ini perbuatan baik, memberi mereka makanan. Toh mereka makhluk Allah juga :)

    Moga menang ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya jg sy takut, mak. Tp setelah akrab, sy jd suka walo hrs menjaga jarak.
      Saya orgnya ga tegaan. Apalagi kalo binatangnya menatap penuh iba gitu..duh, meleleh..
      Aamiin, makasih yaa ^_^

      Hapus
  6. sampai saat ini masih takut sama anjing :(

    http://chemistrahmah.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, emak of the month :)
      Kenapa takut, mak? Sy jg dulu takut. Stl dikasih tahu temen cara menghadapi anjing, sy jd ga takut lg.

      Hapus
  7. dulu keluarga sy juga pelihara anjing. Doberman utk jaga rumah. Tp tetep aja sp skrg sy takut anjing. Emang dasarnya sy penakut haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama dong, mak...dulu waktu kecil sy jg melihara anjing. tapi saya ga inget lg jenisnya apa :P
      hihi, penakut juga gapapa, daripada kita-nya yg nakutin :D

      Hapus
  8. Aduh mba. Saya ini takut banget sama anjing, mungkin karena dari kecil sudah didoktrin bahwa anjing itu galak hahaha...tapi seru baca cerita mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, dari kecil dibenak kita imej anjing pasti galak, ya :D
      makasih sudah dibilang seru, mbak neti ^_^

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=