Rabu, 14 Agustus 2013

Serba-serbi Lebaran 2013


Selamat Hari Raya Idul Fitri. 
Mohon Maaf Lahir dan Batin
dari kami Pasukan Riweuh sekeluarga ^_^


Masih dalam suasana lebaran. Apa kabar? Sebagian besar sudah beraktivitas seperti biasa, ya. Mulai masuk kerja lagi. Anak-anak masih minggu depan masuk sekolah. Ada sisa waktu untuk bermain di rumah setelah sibuk berlebaran dan silaturahim menemui sanak keluarga.

   Lebaran tahun 2013 adalah lebaran kedua kami di kampung halaman. Tidak ada lagi yang namanya mudik. Lha, kita kan sudah di udik? Hehe. Terus, kalau tidak mudik, ngapain aja dong? Banyak. Banyak waktu kami habiskan di rumah saja. Kebetulan saudara yang dikunjungi rumahnya masih di sekitar kota Bogor. Jadi kami masih bisa tidur di rumah sendiri setiap malam tanpa perlu menginap saat bepergian.

  Kadang terbersit rasa kangen dengan yang namanya mudik. Sibuk hunting tiket pesawat sebulan lebih sebelum lebaran. Sibuk packing. Riweuh nangkring di bandara dengan tiga anak yang pecicilan. Well, semua sudah berakhir. Game over :D

Gang di komplek yang sepi
   Jaga kandang eh jaga rumah juga menjadi kegiatan kami selama ditinggal mudik oleh para tetangga. Tetangga depan, kiri, dan kanan (yang belakang mah enggak kelihatan), mulai berangkat ke kampung halaman masing-masing.Ternyata, tahun ini tidak semua tetangga di gang rumah kami berangkat mudik. Beberapa tetangga ikut shalat Ied bersama di jalanan depan komplek, lalu berangkat bersilaturahim ke rumah sanak saudaranya di sekitar Jabodetabek. Kami sendiri berangkat ke rumah Kakek setelah shalat Ied. Seorang bapak tetangga menyebut kami semua, warga pendatang di komplek yang tidak mudik ini sebagai 'pemudik murtad'. Ada-ada saja, hehe.

  Foto di sebelah adalah anggota satpam dadakan yang menjaga rumah tetangga. Suata malam, di rumah kosong sebelah terdengar suara-suara. Cuma perasaan saja mungkin. Tapi parno-nya lumayan juga. Saya langsung mengambil gayung dan memukul-mukul ke tembok. Maksudnya, supaya maling yang mendengar langsung lari karena ketahuan oleh saya, tetangganya. Saya dengarkan lagi dari balik tembok dengan bantuan gelas yang ditelungkupkan. Sepi. Tidak ada suara. Rupanya itu hanya 'rarasaan' saya aja. Beberapa hari kemudian, sang pemilik rumah datang. Barulah ketahuan ternyata suara yang saya dengar itu adalah sekelompok tikus yang menjatuhkan panci besar. Fiuuhh. Syukurlah bukan maling betulan.

Narsis bareng Kk Rasayad sebelum berangkat
  Lanjut cerita lebaran. Sehabis shalat Ied dan bermaaf-maafan dengan para tetangga, kami berangkat ke rumah Kakek. Sampai di sana, kami nyekar ke makam Nenek yang letaknya tidak jauh dari rumah Kakek. Setelah nyekar, kami berangkat bersilaturahim ke rumah sanak saudara. Muter-muter? Jelas doong! Meski riweuh bawa anak-anak dan Eyang yang sudah sepuh, kami tetap senang. Lebaran gitu loh. Saatnya bersukacita sambil bercengkrama dengan saudara-saudara. Sayang, kamera digital lagi ngambek engggak mau nyambung diuplot fotonya. Jadi, cuma ada foto sedikit dari kamera hp.

   Kami tidak sempat mengabadikan dalam foto saat berkumpul dengan keluarga pada hari lebaran dan tiga hari setelahnya. Suasananya sangat santai. Seringnya sih, tidak sempat foto karena riweuh ngawasin anak-anak. Beberapa tidak difoto karena tuan rumahnya sedang sakit, atau sudah ganti kostum rumah (alias dasteran), bahkan ada yang belum mandi.


Nyekar ke makam Nenek.
Dalam foto: Kakek, Tante Tita (adik Bapa), Bapa, dan Dd Irsyad
3 boyz dan sepupunya, Rona dan Rani
Ekspresi Lebaran 2013

Dd Irsyad dan sepupunya, Dd Enid

Jemuran yang terlipat rapi
  Selesai berlebaran. Kembali ke rumah dengan pekerjaan setumpuk. Si Bibik kan lagi pulang kampung. Jadi, saya dan suami bahu-membahu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus 3 boyz dan Eyang. Saya yang paling sibuk tentunya. Mondar-mandir ke rumah Eyang mengecek takut ada yang kurang dan belum saya kerjakan. Supaya tidak capek, saya sengaja tidak menyetrika baju. Semua baju yang sudah diangkat dari jemuran, saya lipat rapi, lalu dikelompokkan berdasarkan pemiliknya. Jadi, setelah mandi, silahkan ambil sendiri bajunya di sini, ya *emak pemalas*







  
Ga ada meja. Etalase jadi tempat suguhan kue lebaran
Punya kue lebaran? Alhamdulillah, meski tahun ini cuma beli 3 toples kue (dua toples untuk suguhan teman-teman kantor Bapa), kami dapat kue lebaran dari Uwak dan Tante-tantenya anak-anak. Tambah beli satu kaleng biskuit coklat kesukaan anak-anak. Itu juga mereka sendiri yang ngabisin, hihi.

  Siapa saja yang bertamu ke rumah kami? Tidak banyak memang. Secara hampir semua saudara sudah ketemu pas lebaran kemarin. Jadi, yang datang ke rumah biasanya orang-orang sekitar komplek saja. Ibu penjahit di komplek, dan mantan tukang ojek langganan antar-jemput anak-anak, misalnya.


Opor ayam goreng
   Hidangan lebaran? Punya doong! Saya kan masak-masak di rumah. Ceritanya memasak hidangan lebaran tanpa riweuh. Sukses! Malah bingung karena masih bersisa. Harus dihabiskan cepat-cepat. Takut basi. Supaya tidak bosan, saya memodifikasi hidangan lebaran jadi hidangan yang lain. Opor ayam saya jadi ayam bakar (tidak sempat difoto, keburu habis). Besok paginya, opor ayam saya buat jadi ayam goreng. Saat di rumah Kakek, saya juga menggoreng opor ayam. Jangan lupa, kuah opornya tidak dipakai, ya. 









Buncis bumbu rendang
  Selanjutnya, mengolah rendang. Biasanya rendang saya buat jadi martabak. Berhubung lupa nyetok kulit lumpia, jadi saya bikin jadi oseng buncis saja. Caranya: tambahkan bumbu iris bawang merah, bawang putih, cabai,  lalu oseng bersama irisan buncins. Kemudian masukkan rendang yang sudah disuwir berikut bumbunya. Hmmm...enak! Coba deh.












  Lama-lama capek juga ya memasak terus. Saya memang memasak yang praktis-praktis saja pasca lebaran. menghabiskan stok yang ada di kulkas. Sebelum lebaran, saya sempat menyimpan beberapa sayuran. Lumayan, kan. Biasanya habis lebaran memang tidak ada yang berjualan sayur. Jadi setelah lebaran, saya masih bisa menyajikan sayur bayam, sup jagung makaroni, sup krim jamur dan wortel, perkedel jagung, dan sayur sawi bakso. Sisanya lauk praktis seperti naget dan kaki naga saja.Ditambah menu lebaran dan lauk variasi yang saya ceritakan di atas.

   Beli makanan matengan, yuk! Lumuayan capek juga saya setelah nyapu-ngepel-nyuci-jemur-mandiin-nyuapin nonstop dari pagi. Saya ajak  Aa Dilshad, Kk Rasyad dan Dd Irsyad jalan kaki ke depan komplek. Mencari apa saja deh yang bisa dimakan untuk lauk makan siang. Ternyata, baru tukang mi ayam yang sudah berjualan. Ya sudah, mi ayam untuk makan siang deh jadinya, hehe

   Masih pegel-pegel badan nih, karena never ending nginem seminggu lebih. Sudah tidak sabar menanti kedatangan Bibik sang asisten partner kerja saya sehari-hari di rumah. Masalah kerjaan di rumah dan mengurus anak-anak memang setiap hari juga saya yang mengerjakan. Saya cuma sedikit kewalahan saja karena sibuk di rumah sebelah alias rumah Eyang. Kangen rasanya ingin meninggalkan rumah dan serius mengurus toko. Juga kangen mengerjakan prakarya. Sempat sih, bikin 5 bando setelah lebaran untuk sponsoran kuis di Twitternya @Emak2Blogger. Tapi ngerjainnya kok lambaaatt banget karena sudah kelelahaan. Sudah, ya. Sampai jumpa lagi ^_^

14 komentar:

  1. Selamat Lebaran ya Mba...maaf lahir batin.
    Seru banget lebarannya. saya malah ga pernah ngerasain yang namanya mudik mba. karena ortu dan mertua semua satu kota :)
    tapi setiap lebaran selalu berkesan dgn cerita yg berbeda tiap tahunnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf lahir batin juga, Mbak Neti :)
      Mudik itu ngangenin, riweuh bin cape tapi menyenangkan. Betul, setiap lebaran ceritanya pasti beda2 ya ^_^

      Hapus
  2. Waahhhh...ide bagus tuh rendang dijadiin martabak. Bener juga ya. Makasih ya mak idenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak Ade :)
      Iya nih, tahun ini saya lupa nyetok kulit lumpia. Mau beli di hipermarket kok males. Kalo ada mah, saya udah bikin martabak rendang juga deh

      Hapus
  3. Selamat Lebaran. Maaf lahir batin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama selamat lebaran dan maaf lahir batin, mbak Santy ^_^

      Hapus
  4. Salam kenal.. Pertama x berkunjung nih.. , :-)
    Taqaballahu minnaa wa minkum syimana wa syiamakum, maaf lahir batin mak.. Btw ide opor goreng nya sama euy.. Jd tertarik nyobain martabak rendang hehe...
    Ttp smangat ngurusi anak2 n rumah mak jgn kya aku yg klmaan jetlag Hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, salam kenal kembali n terima kasih sudah berkunjung :)
      Sama-sama mohon maaf lahir batin ya, mbak.
      Iya, opor goreng memang paling disukai anak2. Meski ada irisan ayam yg sudah 'lari2' ketika digoreng, tapi tetap enak dimakan :P
      Mari semangat, momtraveler...semoga jetlag-nya lekas pulih ya ^_^

      Hapus
  5. rasanya masih pengen berlebaran ya mak.. kumpul2 bareng keluarga besar.. oya maap lahir batin yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul :')
      maap lahir batin juga, mak rahmi aziza ^_^

      Hapus
  6. Buncis bumbu rendang?? baru tau ada masakan begitu.. pingiiinn ih :D
    oya, met lebaran dan mohon maaf lahir batin ya maaak
    salam dari http://nurulnoe.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi,ngarang banget ya. mulanya krna pengen ada sayuran hijau aja sih. pikir2 dicampur rendang mungkin enak. ternyata enak juga. cobain deh :)
      Selamat lebaran n maaf lahir batin juga, mbak nurul noe. saya juga suka baca blog-nya lho ^_^

      Hapus
  7. selamat hari raya
    mohon maaf lahir dan batin
    btw model jilbabnya anggun sekali suka lihat gaya mbak dgn jilbab spt itu

    BalasHapus
  8. selamat lebaran dan maaf lahir batin juga, mbak Lisa :)
    Hehe...makasih. Saya masih belajar. Mudah2an bisa terus konsisten dg gaya hijab spt itu, aamiin ^_^

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=