Minggu, 22 September 2013

Pasien Kalem



Lihat foto di atas. "Anak siapa ini? Kok anteng banget mau diperiksa dokter? Pinter deh kamu!" kata suster yang datang saat Dd Irsyad sedang berobat beberapa bulan yang lalu. Dd selalu senang jika diajak ke dokter. Lho, sakit kok malah seneng ke dokter, Dee... Barangkali, Dd senang diperiksa oleh dokter. Disuruh buka mulut sambil bilang "Aaa...", dipasang thermometer untuk mengukur suhu, dan ditanya oleh dokter sambil ditempelkan stetoskop.

  "Kamu mau jadi dokter ya?" tanya saya. Dd mengangguk senang. Beberapa hari kemudian, saya membelikan mainan peralatan dokter di Pasar Bogor. Cari yang ada tasnya, jadi bisa dibereskan lagi dengan mudah. Wah, Dd senang sekali! Tas dokter selalu dibawa keman-mana. Dipamerkan kepada semua orang. Juga dibawa ke rumah Kakek untuk dipamerkan.

  Lantas, pasiennya siapa? Pasiennya siapa saja yang bersedia (atau dipaksa bermain, hehe). Kadang semua boneka yang ada di rumah dengan pasrah jadi pasien (iya dong, pasrah. Kan diem aja). Sering juga ibunya disuruh jadi pasien. Lalu gantian, Dd yang minta diperiksa. Yang lucu, kalau main sama Kk Rasyad. Nih, sempat saya foto:


Kiri: Kk jadi pasien. Dd jadi dokter, "Sini aku pewiksa (=periksa)!"
Kanan: gantian Dd jadi pasien. Tapi dokter Kk kesel, " De, diem dong!"
  Kejadian jatuh dari motor kemarin juga membuat kami harus membawa Dd bolak-balik ke dokter. Pertama kali datang dengan luka yang masih berdarah, Dd hanya diam saja. Dokter dan perawat sampai khawatir, Dd tidak menangis dan diam itu karena pengaruh benturan di kepalanya. Saya jelaskan, anaknya memang anteng. Dd akhirnya menangis saat disuntik di kepalanya sebelum dijahit, lalu tenang kembali. Bahkan ketika lukanya sedang dijahit, dia hanya meringis saja! Cuma bilang, "Ehek...ehek.." Anak jagoan!


Perban yang sudah diganti

  Tiga hari kemudian, Dd kembali ke dokter untuk mengecek jahitan dan mengganti perban. Alhamdulillah, lukanya cepat sembuh dan jahitan sedikit lagi mengering. Tidak ada infeksi atau komplikasi lainnya. Tubuh Dd juga tidak demam, serta tetap aktif dan lincah seperti biasa.

  Ngomong-ngomong lincah, tahu ngga sih, sejak Dd jatuh saya jadi ektra keras mengawasinya. Dd itu anak yang tidak bisa diam. Senang lari-lari, memanjat, loncat-loncat, yah pokoknya masih pecicilan deh. Sebagai ibu, saya takut Dd kepeleset, kesandung atau kebentur dan terkena lukanya yang belum sembuh. Takut jika ada sesuatu mengenai jahitannya dan bisa terluka lagi. Hiiii!

  Bukan hanya Dd yang dapat pengawasan melekat. Kedua kakaknya juga! Lho, kenapa? Yah namanya anak laki-laki. Kalau main dan bercanda masih pak pik pek. Kadang gelepak gelepuk. Hihi, ngomong apa sih emak ini. Intinya, 3 boyz masih pecicilan semua. Saya takut kalau Aa atau Kk nyenggol Dd saat mereka berlari-larian. Atau ujug-ujug si Dd kena pukul pas mereka sedang gegelepukan. Aduh, riweeuhh!!!

Kiri: Dd manjat dan mau meloncat dari tempat tidur.
Kanan: kasur bawah ditarik. Ibu menyuruh Dd berhenti. Beginilah ekspresinya :D

  "Iiih, Ibu bawel! Ibu nyap-nyap melulu!" mungkin itu yang ada di pikiran kamu ya, De. Sedikit-sedikit diomeli. "Jangan lari! Nanti kepeleset!" Tidak lama sudah terdengar, "Jangan manjat! Nanti jatuh! " Baru naik dan berdiri di atas mobil-mobilan sudah disemprot, "Jangan naik di atas mobil! Nanti mobilnya jalan, kamu jatuh kena lukanya!" Duuhh... Ibu bawel begini karena sayang kamu, Nak...
Narsis pake kembang segala
  Ada plester dan jahitan di kepala juga tidak menghalangi Dd untuk tetap narsis! Tuh, lihat deh, posenya! Si Kk juga ngga mau kalah ikut bergaya. Eenggg...bukan emaknya yang ngajarin, lho! Hehehe...
Dd dan Kk bergaya bersama.
Foto agak goyang karena mereka ngga bisa diam :p


  Kembali tentang pasien yang kalem. Hari Kamis kemarin, Dd Irsyad kontrol terakhir ke dokter untuk membuka jahitannya. Jujur, ibunya agak cemas. Takut Dd sulit ditangani karena cabut jahitan itu sakit (pengalaman pribadi). Takut Dd meronta lalu menangis, hingga proses cabut benang jadi sulit dilakukan. Lantas, apakah kekhawatiran Ibu terbukti? Simak foto berikut:
1) Dd menunggu dengan tenang di ruang tunggu klinik
2) terbaring pasrah menunggu tindakan dari dokter
3)senyum tipis usai cabut jahitan
4) luka yang sudah rapat dan jahitan yang sudah dicabut


  Dd tidak menangis sama sekali! Cuma meringis pelan saat jahitan pertama dicabut. Setelah ditenangkan sebentar, jahitan kedua dicabut. Dd merintih kesakitan. Setelah itu, dia diam lagi. Suster pun membersihkan luka dan memasang plester sambil tidak berhenti memuji Dd. Dokter, suster, bahkan apoteker klinik heran, ada anak kecil yang begitu berani dan tidak menangis. Tidak memberontak juga seperti pasien cilik lainnya yang sudah pernah dijahit lukanya di klinik itu. Saya ceritakan, bahwa sebelum ke dokter, Dd sudah berencana ingin menaiki sendiri tangga tempat tidur periksa. Dan itu sudah dia lakukan. Kami semua yang melihatnya jadi tertawa geli sekaligus kagum!

  Saya juga bercerita bahwa Dd suka sekali main dokter-dokteran. Lalu, dokter berkata, "Wah! Hebat kamu, De! Sudah besar mau jadi dokter, ya?" Kemudian Dd hanya mengangguk malu-malu. Aamiin ^_^

16 komentar:

  1. MasyaAllah Dd Irsyad kasihan sekali, kepalanya diperban, tapi pinter ya dd Irsyad, diperiksa dokternya anteng. Semoga lekas sembuh ya dd Irsyad

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Tante Santi :) Hihi, iya, Dd Irsyad memang anteng setiap diperiksa dokter.
      Alhamdulillah sekarang Dd sudah sembuh dan lukanya sudah benar2 kering ^_^

      Hapus
  2. Wah, cucu online bunda yang satu ini memang jagoan ya. Lukanya kek gitu koq gak panjang nangisnya, hehe... Untung aja yang luka bagian kening, coba kalo bagian belakang kepala, kan parah jadinya. Oke de Dd Irsyad, semoga cepat sembuh dan gak diplester lagi keningnya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada Bunda Yatii *salim* Makasih. Bunda.
      Iya, saya sempet kuatir banget. Untung ga apa2 n anaknya kuat.
      Alhamdulillah,sekarang sudah kering dan gak diplester lagi lukanya Dd Irsyad ^_^

      Hapus
  3. Waaa... ngeri lihat lukanya. Hati2 yg Dd, jangan jatuh lagi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah :( mudah2an jangan bikin emaknya jantungan lagi

      Hapus
  4. Ya Allah, Dee.. jadi inget dulu jg nemanin anakku dijahit di kening jg, kena paku di setiran bom bom car :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuhh....kena paku? Ikut perih bayanginnya.
      Kok bisa ada paku di bom bom car? Luka pas kejeduk setirnya ya?

      Hapus
  5. pinter banget mak jagoan kecilmu. jahitannya bagus ya mak. Anakku perempuan dulu pernah jatuh di bagian kening dan berbekas sampai sekaran tidak hilang, hope she will be fine with the scars :( ga ngerti mesti diapain hiks snip pas ditengah kening pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya, makasih mak..

      Anak kedua, Kk Rasyad, 2 th yl luka di dekat alis n msh codet sampe skr, Pdhal luka kecil.

      Aq jg ga tau nih, bisa ilang apa enggak bekas lukanya. Pengalaman pribadi, bekas lukaku yg dua jahitan di dagu jg ga bisa hilang :(
      Sama..hiks..ga tau mesti diapain bekas lukanya :'(

      Hapus
  6. Pasiennya kaseeeeep. Lain kali ati-atih ah.... kasian si ganteng kalem :)

    BalasHapus
  7. Duh kasian ya, sampe begitu tapi alhamdulillah sudah sehat yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah sekarang sudah sehat dan bebas pecicilan lagi :)

      Hapus
  8. Duuhh keciannya si dede, ga Kebayang Gmn kuatir nya Drimu mak. Utg si kasep anak yg pemberani yah.. Cpt sembuh ya syang.. Toss dlu ahh sma anak jagoan :)

    BalasHapus
  9. Iya, Maak *hiks* Untung anaknya anteng, padahal emaknya udah panik bngt.
    Makasih Ateu Muna, Dd udah sembuh sekarang *tossdariDd*

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=