Sabtu, 30 November 2013

Kenangan Indah Tinggal Di Solo


Menulis tentang kesan mengenai Kota Solo menguak kerinduan saya saat tinggal di sana. Begitu banyak kenangan indah. Semua terekam dalam album foto yang sudah mulai rusak karena sering bolak-balik dilihat. Menceritakannya tidak akan cukup dalam satu tulisan ini. Beberapa foto saya pilih untuk mewakili rangkuman kenangan indah selama kami tinggal di Solo.


Tinggal di rumah bertingkat
Kota Solo adalah kota ketiga yang menjadi tempat tinggal saya sejak menikah dan ikut suami pergi merantau. Saya memanjatkan puji dan syukur saat diberitahu oleh Bapa, suami saya, bahwa beliau dipindahtugaskan ke Solo. Bapa berangkat telebih dahulu ke sana. Sedangkan saya menunggu di rumah mertua di Bogor. Setelah mendapat rumah kontrakan, saya menyusul ke Solo. Saat itu tahun 2003 dan saya membawa anak sulung saya, Aa Dilshad, yang masih berusia 6 bulan.
Aa Dilshad waktu baru tiba di Solo
Kami menempati sebuah rumah kontrakan di Komplek Gumpang Baru 2. Sebuah rumah bertingkat dengan 4 kamar yang baru saja selesai direnovasi. Sebenarnya, rumah ini terlalu besar untuk kami bertiga. Pertimbangan Bapa memilih rumah ini karena lokasinya yang tidak jauh dari kantor dan lingkungannya yang nyaman di pinggir kota. Saya sih, senang tinggal di rumah ini. Maklum, belum pernah merasakan tinggal di rumah bertingkat. Norak, ya :p

Bulan berikutnya kami menambah anggota keluarga baru yaitu mbak asisten untuk membantu di rumah. Mbak yang pertama bernama Parni dan tinggal bersama kami selama setahun. Pada tahun kedua, Mbak Parni pulang kampung dan digantikan oleh Mbak Ati.

Aa Dilshad bersama Mbak Ati dan A Enang 
(keponakan dari Bogor yang sedang berlibur)

Kota Solo yang nyaman, bersih, dan rapi 
Komplek rumah kami dikelilingi oleh perkampungan. Saya sering mengajak Aa Dilshad berjalan-jalan di sore hari ke sana. Pemandangan sekitar kampung sungguh asri dan menyejukan mata dengan hamparan sawah dan pepohonan yang rindang. Jangan salah, jalan di kampung ini sudah diaspal, lho! Pemerintah kota Solo benar-benar memberi perhatian pada jalan-jalan di perkampungan. Bahkan sampai ke pelosok kampung yang letaknya jauh dari jalan raya seperti kampung di dekat rumah kami tersebut.


Kiri: Aa Dilshad main becek2an di depan gang.
Kanan: nangkring di saung yang ada di ujung gang

Saya sering ke kampung untuk menemui Mbah pijat langganan Aa Dilshad yang kerap rewel karena pegal-pegal atau salah urat akibat berekplorasi. Saya kenal Mbah yang sudah sangat sepuh ini dari tetangga. Beliau dengan senang hati mengurut Aa Dilhad di rumahnya atau sesekali datang jika dipanggil ke rumah saya. Selama dipijat, Mbah selalu sambil berbicara dengan bahasa Jawa halus. Saya bolak-balik melirik Mbak yang menemani saya. Minta diterjemahkan karena Mbah ini sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia.


Tinggal di perkampungan yang asri menginspirasi saya untuk menata sepetak tanah di halaman rumah. Awalnya, tanah ini diisi oleh bekas puing-puing bahan bangunan. Setelah diberi pupuk, ditanami rumput jepang, dan aneka tanaman hias, tanah itu berubah menjadi taman yang cantik!
Ciluk...baa! Aa Dilshad di taman yang belum jadi.
Oia, ada cerita seru lagi, nih. Setahun sekali diadakan pasar malam di kampung. Pasar malam itu letaknya di belakang rumah kami! Kebetulan ada tanah komplek yang belum dibangun. Jadi di atas tanah yang cukup luas itu didirikan tenda untuk tempat para pedagang kaki lima dan sedikit permainan anak-anak sederhana. Wah, ramai sekali! Agak terganggu juga dengan suara musik dangdut yang bising dari pengeras suara. Selama pasar malam berlangsung, Aa Dilshad yang harus tidur dalam keadaan sunyi akhirnya tidur larut malam terus. Meski berisik, Aa Dilshad senang sekali ada pasar malam dan hampir setiap malam pergi ke sana!

Tinggal di kota yang nyaman membuat Bapa memutuskan mengambil kuliah S2 di Magister Manajemen Universitas Negeri Solo. Kuliah dimulai pada malam hari. Sepulang kerja, Bapa beristirahat sejenak lalu berangkat kuliah. Karena kesibukannya di kantor, kadang Bapa meminta bantuan saya mengerjakan tugas kuliahnya. Paling sering mengerjakan terjemahan dan mengetik tugas yang sudah ditulis tangan sebelumnya.  Alhamdulillah, kuliah bisa selesai sebelum kami pindah ke Bali. Sayang, kesibukan Bapa dan jarak yang jauh untuk bertemu dosen dalam proses bimbingan tesis membuat beliau gagal diwisuda. Namun Bapa tidak menyesal. Menurut beliau, gelar itu tidak penting, yang penting adalah ilmu yang sudah didapat selama 2 tahun menjalani kuliah.

Wisata Kota Solo yang memikat dan kuliner nikmat dengan harga bersahabat
Lalu lintas di kota Solo pada saat itu terasa lenggang dan lancar tanpa macet. Pergi ke pusat kota tidak perlu memakan waktu lama. Saya beberapa kali bepergian dengan kendaraan umum, yaitu naik becak dan naik bis kecil. Naik angkot saya belum sempat mencoba. Tidak perlu khawatir tersesat. Jika bingung, tinggal bertanya arah saja pada tukang becak atau kernet bis. 

Saya sering diajak tetangga saya, Ibu Tri, jalan-jalan ke pusat kota naik motor. Saya diajak ke pasar Klewer, pusat perbelanjaan Luwes, mencicipi kuliner Solo yang lezat, sampai melihat Mall Solo Baru yang saat itu baru selesai dibangun.

Jalan-jalan seru yang selalu saya tunggu adalah ke lapangan Manahan setiap hari Minggu pagi. Bukan untuk berolahraga. Tapi untuk cuci mata dan mencoba aneka jajanan. Wah, suasananya ramai, lho! Dulu, belum ada car free day. Jadi kami bisa parkir kendaraan di dekat tempat makan yang dituju. 



Jajanan favorit kami adalah dimsum kaki lima! Tempat makan semi permanen ini ada di dekat taman kecil sekitar lapangan Manahan. Harga dimsum seporsinya hanya berkisar lima ribu sampai 12 ribu rupiah saja! Satu porsi berisi 3 potong dimsum yang disajikan dalam wadah kukusan dari bambu. Makan dimsum ini diiringi dengan alunan alat musik tradisional dan pesinden yang bernyanyi di depan pintu masuk. Unik, bukan?


Sayang, kami tidak sempat mengunjungi Keraton Solo. Alasannya, saya masih repot dengan Aa Dilshad yang masih bayi dan Bapa sedang ada banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan. Padahal kami cukup sering melintas di depan keraton, lho. Niatnya sih, mengunjungi keratonnya kapan-kapan saja. Toh, tinggal di Solo masih lama. Ternyata, kami keburu pindah dan tidak sempat.


Berputar-putar keliling kota Solo sangat mengasyikkan bagi saya. Rasanya wuss wuss, kemana saja dekat! Saya paling suka menyusuri jalan Slamet Riyadi. Jalanan lancar, banyak pemandangan menarik, dan penjual makanan tentunya. Andai saat itu kereta wisata sudah beroperasi, pasti kami sekeluarga  sempat menaikinya berjalan-jalan keliling kota. Pasti seru, ya!

Semua makanan di Solo nikmat dan harganya bersahabat alias murah. Kuliner Solo populer yang saya cicipi yaitu serabi notosuman. Saya tidak mencoba tengkleng karena saat itu saya tidak makan kambing karena sedang menyusui. Selanjutnya kuliner khas Solo lainnya yang mudah ditemui di sekitar rumah menjadi incaran saya:

  • Nasi liwet seharga dua ribu rupiah seporsi. Bahkan saya boleh membeli nasinya saja untuk sarapan Aa Dilshad seharga lima ratus rupiah. Kami bisa sarapan nasi liwet setiap hari, lho. Kok bisa? Iya dong. Wong Bude penjual nasi liwetnya mangkal diseberang pagar rumah, hehe.
  • Soto ayam yang banyaknya setengah panci kecil seharga dua ribu rupiah saja. 
  • Semua bakso yang rasanya nikmat. Favorit kami adalah Bakso Titoti di dekat Luwes. Begitu lezatnya, sampai Aa Enang, keponakan kami yang pernah berlibur ke Solo, minta dibawakan oleh-oleh bakso. Jadilah beberapa bungkus bakso dibawa naik pesawat saat pulang kampung.
  • Timlo, saudaranya bakso. Timlo memakai kuah bakso dan bakso ukuran kecil dan telur serta sayuran. Saya sering datang ke rumah Bapak penjual timlo sebelum beliau berangkat berkeliling. Nggak sabar nunggu beliau lewat ya, hihihi.
  • Hidangan yang selalu disajikan pada acara pesta. Ada sosis solo yang ternyata bukan sosis. Ada selat solo yang kadang disebut bistik jawa. Dan favorit saya adalah sup matahari! Bahkan saya sudah bisa membuatnya sendiri di rumah tanpa melihat resepnya. Tentu saja, saya kan belum melek internet saat itu :)
  • Nasi kucing di warung hik. Nasi berserta lauk sederhana dalam porsi kecil ini sudah saya coba. Tapi saya kurang suka. Soalnya kurang banyak, haha!
  • Bebek goreng sambel korek yang bikin ketagihan. Selama tinggal di Solo, saya selalu apes tidak kebagian bebek goreng Pak Slamet. Jadi saya makan bebek di tempat lain. Rasanya enak. Penasaran saya akan bebek goreng Pak Slamet justru baru terwujud setelah restorannya membuka cabang di Bogor. Telat? Tidak apa. Yang penting makan bebek bisa sambil membayangkan sedang makan di Solo :)
  • Ayam goreng kremes Pak Cipto. Ini tempat makan paling dekat dengan rumah yang jadi favorit kami. Karena kelezatannya, ayam goreng ini kerap kami bawa untuk oleh-oleh saat pulang kampung.
  • Oleh-oleh khas Solo yang unik. Ada brem, rambak, aneka keripik, dan intip. Yang terakhir ini adalah favorit kami. Sayang ukurannya yang besar menyulitkan untuk dibawa dan sering remuk ketika sampai di kampung halaman.

Warga Solo yang ramah
Orang Solo sangat ramah dan tutur katanya halus. Masalah bahasa sempat membuat saya yang berdarah separuh Sunda dan Jawa ini bingung. Saya tidak pernah diajarkan bahasa Jawa. Saat sedang berkunjung ke rumah kami, ibu saya yang keturunan Jawa malah tidak berani berbicara bahasa Jawa pada seorang pedagang makanan. "Takut salah." kata beliau. Padahal tadinya saya mau mensontek ibu saya ngomong apa untuk saya praktekkan kelak. Tapi tidak apa-apa. Sekedar bilang sampun, dalem, nggeh, pinten, njenengansetunggal, seket, dan kosa kata sederhana lainnya bisa saya ucapkan dengan logat Jawa yang baik.

Saya suka sekali dengan lingkungan kompek tempat saya tinggal. Organisasi kerukunan warganya berjalan dengan kompak dan aktif. Ada posyandu rutin setiap bulan untuk warga satu RW. Saya lupa kami tergabung di RT berapa. Di RT kami kerap diadakan pertemuan warga, arisan, acara syukuran dan lomba 17 Agustusan, serta jalan sehat bersama. 


Jalan sehat keliling kampung bersama warga satu RT.

Kegiatan warga paling berkesan buat saya adalah arisan ibu-ibu RT. Bahkan saya sempat menjabat sebagai bendahara arisan. Arisan yang diadakan setiap bulan bukan sekedar kumpul-kumpul biasa, lho. Arisan dibuka dengan menyanyikan lagu Mars PKK (sampai sekarang saya tidak hapal). Setelah ramah-tamah sambil menikmati konsumsi, arisan dikocok. Ada acara seru yaitu berbagi keterampilan yang dilakukan secara bergiliran setiap bulan. Ada yang memamerkan hasil masakannya untuk diicip setelah menjelaskan cara membuatnya. Ada yang mengajrkan membuat kerajinan tangan. Ada yang share pengalaman mengasuh bayi. Kumpul-kumpul yang bermanfaat bukan? Satu lagi, untuk menambah meriah suasana arisan, ada doorprize yang selalu dinanti. Hadiahnya bukan barang mahal namun bermanfaat bagi ibu-ibu. Kadang ada doorprize sabun colek atau indomie. Sekedar seru-seruan saja.


Kami betah tinggal di Solo. Kami sudah merasa jadi bagian dari warga Solo. Sayang, tiba waktunya untuk berpisah. Bapa dipindah tugaskan ke Denpasar.  Beliau pun berangkat terlebih dahulu untuk mengurus segala sesuatu. Setelah semua urusan selesai, beliau menjemput saya dan Aa Dilshad untuk pindah ke Bali. Waktu berpisah selama dua minggu itu saya manfaatkan untuk mengepak barang dan menikmati saat-saat terakhir di kota Solo. Jujur, saya tidak rela pindah karena sudah merasa Solo bagaikan kampung saya sendiri. Air mata saya kerap bercucuran saat mengepak barang. Sedih sekali rasanya saat itu.


Bayangkan, dua tahun lebih kami menjadi warga Solo. Tidak ada cerita duka. Semua cerita bahagia. Selama tinggal di Solo kami menyaksikan buah hati kami tumbuh besar. Bahkan saat sudah bisa berbicara, kata yang diucapkan Aa Dilshad saat sedang membangkang adalah, “Emoh!”  Berikut adalah foto ulang tahun pertama dan kedua Aa Dilshad. Kami merayakannya secara sederhana untuk membuat Aa Dilshad senang dan jadi kenangan indah untuk saya dan Bapa sebagai orangtuanya.


Ulang tahun pertama Aa Dilshad. Ada Kakek, Nenek, Aa Enang
yang sedang berlibur. Bu Tri dan anaknya, Mas Brian. Tidak ketinggalan
Bu Aris bersama Mas Rafi dan Dek Sasa.


Ulang tahun kedua Aa Dilshad



Kami bahagia dikelilingi tetangga yang baik sehingga sudah seperti saudara sendiri. Jika ada warga yang sakit, para tetangga beramai-ramai datang menjenguk. Jika ada yang sedang kesusahan, warga dengan segera datang membantu. Ada yang sedang bersukacita dengan kelahiran bayi dan akan mengadakan syukuran, para tetangga ikut sibuk bantu memasak. Saya masih ingat, saat ikut bantu memasak kami diwajibkan membawa pisau dari rumah masing-masing. Dengan keakraban yang terjalin, warga sekitar sudah seperti suatu keluarga besar.


Akhirnya, tiba saat perpisahan. Truk besar sudah siap berangkat menuju tempat tinggal kami di Denpasar. Keluarga kecil kami pun berpamitan dengan para tetangga. Saya tidak kuasa menahan haru, namun saya malu untuk menangis. Saya tahan kesedihan saya dengan senyuman. Ibu Tri, tidak bisa menahan tangisnya. Kami berpelukan. Semoga suatu saat kami bisa berjumpa lagi. 

Sayang, beberapa bulan setelah itu saya kehilangan kontak dengan Ibu Tri. Namun sempat mendengar kabar, ada anak tetangga kami di Solo, namanya Bunga, meninggal karena demam berdarah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga keluarga Mamah Bunga tabah menghadapinya.

Saya bilang pada Bapa bahwa saya sedang membuat tulisan tentang kota Solo. Bahkan saya mengetiknya sambil bercucuran air mata karena gejolak rindu pada kota Solo. Kami berdua bernostalgia sambil memandang foto-foto pilihan yang sudah saya scan untuk keperluan tulisan ini. Ah, rindu kami pada Solo semakin membuncah. Kemudian, kami berencana mengunjungi Solo saat liburan sekolah nanti. Asyiiik! Menjalani napak tilas saat tinggal di Solo dan melepas kangen bertemu para tetangga. Wah, mereka pasti terkejut dengan kedatangan kami! Apalagi kini kami sudah bukan bertiga lagi, tapi berlima! Ya, Aa Dilshad sudah punya dua adik laki-laki sekarang. Duh, jadi tidak sabar untuk segera ke Solo. Doakan semoga rencana ini bisa terwujud ya. Solo, we miss you. Tunggu kedatangan kami, ya!

Sumber foto di awal tulisan diambil dari www.id.wikipedia.org





19 komentar:

  1. wah beberapa bulan lagi bernostalgia ke solo ya mbak, asyik. jadi sekarang tinggal di denpasar? Smoga sukses ngontesnya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah liburan nanti pengen main ke Solo. Semoga ngga ada halangan. Doain ya, Mbak :)
      Aku sekarang sudah kembali ke Bogor, udah nggak di Denpasar lagi.
      Makasih, Mbak Lianny ^_^

      Hapus
  2. Sedih ya mbak kalau meninggalkan tempat yg kita nyaman tinggalin. Semoga lancar napak tilas ke Solonya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, sdh seperti di kampung halaman sendiri :'(
      Aamiin, makasih sdh didoain ya Mbak ^_^

      Hapus
  3. Itu foto si Aa pas masih kecil lucu banget mak.. :) kayaknya tertawa senang tinggal di Solo. Betah kali mak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya, Mak...Aa juga betah banget tinggal di Solo. Sempet rewel jg waktu nempatin rumah baru di Bali dulu

      Hapus
  4. aku blm pernah makan timlo mak,,jd timlo itu sodaranya bakso,,he he tak kirain kyk gudeg gt he he maklum,,blm pernah ke solo,,baru tau ini,, :) sukses ngontesnya ya mak,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, timlo rasanya kayak baso, cuma sedikit beda isinya aja. Wuenak lhoo :D
      Makasih ya, Bunda Aisykha ^_^

      Hapus
  5. wah mbak pernah tinggal di solo toh, aku malah belum pernah ke solo sama sekali :(

    ih itu kirain timlo grup band yg suka ngelwak itu hehhehe :|

    sukses jg ya mbak kontesnnya ^ ^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke Solo. Dijamin ketagihan pengen datang lagi :)
      Hihi..iyah, timlo itu memang jadi nama grup lawak asal dari Solo. Sebelum beken di tv, mereka memang sering manggung di Solo.
      Terima kasih, Mbak Mita ^_^

      Hapus
  6. Sekarang di Bogor, Mak? Aku juga di Bogor lhoo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, Mak Leyla, aku baru dua tahun ini tinggal di Bogor.
      Asyiik, kapan2 kita ketemuan yuuuk ^_^

      Hapus
  7. Timlo ma bakso mang sepupuan mak rasanya hampir sama hehehe... Mau org solo dlu wkt kecil sering bgt ke rmh eyang di solo, rmhnya persis di blkg taman sriwedari. Tdnya qiu no ikutan kontes ini jg. Tyt udh telat ya hiks. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Mak Muna, mereka memang sepupuan :D
      Wah, aku dulu sering lewat2 depan taman sriwedari (lewat doang).
      Duh sayang ya, Mak...coba ikutan *puk puk*

      Hapus
  8. Mak Inna, emak serib kota alias ternyata dirimu sering pindah2 kota yah mak.. pasti seru... ku nantikan postingan liburan sekolah nanti, mau ta ekspresi para tetangga yang terkejut dengan kedatangan Aa Dilshad di solo ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, Mak Fitri. Dulu mah sering pindah2, sekarang udah insap :D
      Hehe..aku sama suami jg ngebayangin gitu, ngagetin tetangga. Dan kami tahu saat yg tepat untuk dateng adl hari Sabtu sore (hari Minggu suka pada pergi). Doain jadi ya, Mak...ihiy, can't wait!

      Hapus
  9. kenangan manis banget ya mak....kekeluargaannya terasa bangeeeet...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak Indah. Jadi bikin kangen :'(

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=