Jumat, 27 Desember 2013

Berwisata ke Lombok: Pantai Senggigi dan Gili Terawangan



"My itchy feet....perjalanan yang tak terlupakan" adalah tema giveaway (GA) yang diadakan oleh Mbak Indah Nuria Savitri di blognya yang serba ungu. Sebagai orang yang memiliki 'kaki gatal', saya merasa wajib untuk turut meramaikan hajatan ini. Tapi, mau nulis yang mana, ya? Perjalanan wisata bersama pasukan riweuh alias keluarga saya ini semuanya penuh kesan. 

  Saya bingung. Ingin menulis semacam rangkuman perjalanan wisata keluarga, kok malah lieur sendiri. Mau mengangkat cerita dari perjalanan yang belum sempat ditulis di blog karena foto-fotonya tercetak di kertas foto (alias bukan versi digital), kok ya saya jadi pusing memilih foto mana yang mau discan. Mau ngerombak tulisan lama karena sudah diijinkan oleh Mbak Indah, kok saya ‘macet ide’ karena saya sudah pernah melakukannya untuk GA yang lain. 

  Akhirnya, saya putuskan (ecieee) perjalanan ke Lombok yang akan saya ceritakan sebagai perjalanan yang tak terlupakan untuk GA ini. Agak nggak pede juga karena hasil scan fotonya kurang bagus. Tapi nggak apa-apa, yang penting saya sudah bisa menulis, ikut GA, dan ada yang membaca tulisan ini saja saya sudah senang. Yuk, simak ceritanya…


  Kami sekeluarga pergi berwisata ke Lombok sekitar tahun 2006. Saat itu baru ada Bapa, saya, dan Aa Dilshad yang berusia 3 tahun. Kami tinggal di Kota Denpasar bersama sepupu suami yang bernama Iwan. Iwan hanya tinggal beberapa bulan saja sebelum akhirnya kembali ke Bogor dan berhenti dari pekerjaannya sebagai supir SPG di kantor Bapa. Alasan berhenti? Nampaknya gaya hidup di Bali kurang cocok untuk Iwan. Untunglah Iwan pindah. Di kemudian hari, Iwan akhirnya menemukan pekerjaan yang sesuai dan jodoh yang tepat di kampung halamannya.

  Nah, mumpung ada Iwan, Bapa bisa bergantian menyetir dari Denpasar ke Mataram. Kami berangkat pada pagi hari ke Pelabuhan Padang Bai untuk naik kapal feri menuju Lombok. Cukup lama juga menunggu antrian penumpang kapal untuk bisa naik. Ketika sudah di atas kapal feri, saya langsung membuka bekal makan siang yang sudah saya siapkan sejak subuh. Saya membuat ayam goreng plus sambalnya, dan nasi urap. Kebetulan Aa Dilshad sudah saya suapi sebelum kapal berangkat. Jadi, kami bertiga, saya, Bapa, dan Iwan, makan dengan lahap karena sudah kelaparan. Kami pun kekenyangan.

  Perjalanan melintasi laut ini ditempuh selama empat jam. Satu jam berlalu, kapal mulai bergoyang lebih kencang dari sebelumnya. Semakin lama, goyanganya semakin kuat. Duh, perut serasa diaduk-aduk, mual! Saya, Bapa, dan Iwan akhirnya tidak tahan lagi dan kami pun muntah bergantian. Badan kami langsung lemas. 

  Belakangan kami baru tahu, bahwa naik kapal laut saat tengah hari itu adalah saat di mana gelombang air laut sedang pada puncaknya. Wajar saja, jika kapal feri yang kami tumpangi mulai banyak bergoyang. Mungkin ini juga penyebab sedikitnya jumlah penumpang kapal feri yang kami tumpangi di siang hari itu. 

  Satu lagi, jangan berangkat naik kapal berdekatan dengan waktu makan. Perut yang baru terisi penuh dan sedang bekerja mencerna makanan, jika digoyang-goyang oleh gelombang laut, pasti isinya bisa keluar semua seperti yang kami alami. Untunglah Aa Dilshad tidak ikut mabuk laut. Mungkin karena dia sudah makan sebelum kapal berangkat. Duh, bener-bener deh, bikin kapok makan di atas kapal laut lagi!

  Setelah akhirnya bisa ‘menikmati’ goyangan kapal, kondisi kami bertiga mulai pulih. Jelang merapat ke pelabuhan, alunan ombak sudah lebih tenang. Saya bisa berjalan-jalan dengan nyaman di atas geladak kapal feri. Berikut foto-foto yang sempat dijepret saat menikmati suasana di atas kapal:
Saya sudah bisa tersenyum lagi setelah mabuk laut
Bersama Aa Dilshad di atas kapal feri
  Pulau Lombok semakin jelas terlihat. Tidak lama kemudian, kapal feri mendarat di pelabuhan Lembar. Wah, senangnya! Tambah satu catatan pulau yang sudah saya injak: pulau Lombok! Kelegaan terpancar dari wajah kami bertiga. Pasca mabuk laut, jangan tanya betapa bahagianya kami bisa menyentuh daratan, haha! Segera saja mobil meluncur dari kapal menuju pusat kota Mataram untuk mencari tempat menginap. Lirik kiri dan kanan, pemandangan di Lombok hampir mirip dengan di Bali karena banyak terdapat pemukiman warga Bali. Rumah khas Lombok juga kerap kami temui. Bentuknya unik dengan atap yang bulat. Sayang, tidak sempat difoto.  


Rumah sasak (foto dari: www.indonesianewsonline.com)

  Kami menginap di sebuah guest house alias losmen sederhana. Maklum budget pas-pasan, hehe. Kami menyewa dua kamar. Satu untuk saya sekeluarga (Bapa, saya, dan Aa Dilshad), dan satu kamar lagi di sebelah untuk Iwan. Setelah rebahan sejenak dan mandi. Kami kami berjalan-jalan keliling kota Mataram. Lapar juga nih, kami memutuskan mencari tempat makan. 


  Bapa yang sudah pernah ke Lombok beberapa kali, mengajak kami makan di sebuah tempat makan yang lokasinya jauh dari keramaian kota. Tempat makan ini konon sudah terkenal dan selalu dikunjungi oleh orang ternama. Kabarnya, Ibu Megawati selalu singgah ke restauran tersebut setiap berkunjung ke Lombok. Sayang, kami berdua sudah lupa nama restauran terkenal itu.

  Setelah melewati jalan berbelok melintasi pemukiman penduduk yang asri, sampai juga kami ke restauran yang memiliki banyak saung tempat makan ini. Suasananya enak. Teduh dengan banyak pohon. Di sekelilingnya terdapat kolam ikan dan tempat bermain anak-anak. Saya sempat melirik 'wall of fame'-nya. Ternyata, orang ternama yang terakhir berkunjung adalah Delon sang Indonesian Idol. Duh, Koh Delon... coba datengnya bareng sama sayaaa *ketahuan ngefans*
Bersantai di saung restauran

  Makanan apa yang kami pesan? Apalagi kalau bukan masakan khas Lombok yang sudah terkenal, ayam taliwang! Tidak ketinggalan, plecing kangkung. Lalu untuk Aa Dilshad saya pesan ayam goreng biasa yang tidak pedas. Hmm, rasanya nikmat! Ayam taliwang dan plecing kangkung pedesnya nampolll *plak* Sambil bersantai, Aa Dilshad juga bisa puas bermain dan berjalan-jalan di area restauran yang saat itu sedang sepi pengunjung.

  Selesai makan, kami kembali melintasi kota Mataram untuk menuju pantai Senggigi. Kami datang pada hari kerja sehingga tidak banyak wisatawan yang terlihat. Pantai juga terlihat sepi. Mungkin jika kami datang pada hari libur atau akhir pekan, suasananya pasti lebih ramai.

Pantai Senggigi (foto dari: www.1001wisata.com)

  Sayang, sore itu cuaca mendung dan gerimis. Kami tidak bisa bermain di pantai. Namanya punya anak kecil. Kalau maksain keukeuh ke pantai sambil hujan-hujanan, nanti kasihan Aa Dilshad bisa sakit. Kami cukup puas melihat dari pinggir jalan saja keelokan pantai Senggigi ini. Jalan yang menanjak membuat kami bisa mendapat pemandangan garis pantai yang indah. Nekad keluar sebentar ah, foto-foto sedikit di tengah gerimis. 

Saya, Aa Dilshad, dan Bapa dengan latar pantai Senggigi
 
  Habis difoto oleh Iwan, kami buru-buru masuk kembali ke mobil. Lumayan, dapat kenang-kenangan. Foto ini jadi bukti kalau kami sudah pernah ke pantai Senggigi di Lombok, hehe.

Meski gerimis tapi tetap narsis

  Kami kembali ke guest house untuk melepas penat sehabis perjalanan jauh dari Denpasar. Hari pertama di Lombok sudah begitu menyenangkan. Malam hari sebelum tidur, kami sempat terganggu oleh serbuan nyamuk-nyamuk nakal. Langsung saja kami ke warung terdekat untuk membeli krim anti nyamuk dan meng-oleskan autan, sayaangg (bukan iklan) agar bisa tidur dengan nyenyak.

  Keesokan harinya, kami sudah bersiap untuk berangkat ke Gili terawangan yang terkenal eksotis itu. Penasaran, seperti apa sih pantai di Gili Terawangan, kok sampai hebohnya turis-turis bule datang ke sana. Eits, saya nggak ngecek ke dunia maya alias googling, lho. Jaman dulu saya belum kenal yang namanya internet. Jadi kalau mau berwisata, ya cukup dengan modal nekad saja, plus banyak tanya sana-sini pada teman. 

  Dari Kota Mataram, kami menempuh perjalanan menuju pelabuhan kecil untuk menyebrang ke Gili Terawangan. Kami memarkir mobil di pinggir jalan, lalu menuju pantai (lupa namanya) yang sudah dipenuhi orang-orang yang akan menyebrang. Mereka menunggu perahu angkutan umum datang. Perahu cartetan juga ada, namun harganya sewanya lumayan mahal. Demi biaya yang bisa dihemat, kami rela menunggu cukup lama untuk bisa menyebrang ke Gili Terawangan.

  Perahu penumpang tiba. Para penumpang yang sudah membeli karcis naik satu per satu, termasuk kami berempat. Penumpang yang merupakan penduduk asli terlihat membawa banyak bahan makanan dan memenuhi perahu. Turis bule yang ikut naik perahu juga banyak. Bahkan, turis lokal kalah jumlah dengan turis asing. Hanya kami saja dan beberapa orang penumpang yang terlihat sebagai turis lokal. Lainnya adalah penduduk setempat jika disimak dari logat bicaranya.

  Perjalanan menyebrang dengan perahu bermesin ini memakan waktu selama setengah jam. Di tengah laut, Aa Dilshad sempat muntah. Untunglah Aa hanya mabuk laut biasa dan kondisinya tidak apa-apa sampai kami mendarat di Gili Terawangan.

Iwan, saya, dan Aa Dilshad di atas perahu menuju Gili Terawangan

  Sampai di Gili Terawangan, kami bingung. Mau ke mana ya? Melihat ada cidomo alias dokar alias delman sedang parkir, kami putuskan untuk meminta pak kusir mengendarai kuda supaya baik jalannya untuk mengantar kami keliling pulau. Ternyata Gili Terawangan itu adalah pulau kecil yang dikelilingi pantai yang menawan. Subhanallah, indah sekali! Jujur, ini pantai terindah yang pernah saya singgahi. Pantai Dreamland di Bali yang menduduki peringkat pertama sebagai pantai terindah di dunia menurut versi saya akhirnya tersingkir. Pantai Gili Terawangan memang elok! Suasananya, pasir putihnya...aaaa *histeris*
Pantai Gili Terawangan (foto dari: www.my-shot-gallery.blogspot.com)

  Pulau kecil ini ternyata cukup ramai. Banyak hotel dan rumah penginapan, juga tidak ketinggalan kafe dan tempat makan. Kendaraan di pulau ini hanya cidomo dan sepeda motor. Tidak ada mobil. Mungkin susah dibawa nyebrangnya, ya. Eh, saya sih bingung soal cidomo ini, lho. Kira-kira, kudanya anteng nggak ya dibawa nyebrang naik perahu? Apa dibius dulu? Entahlah. Ngeri juga ngebayangin kalau kudanya memberontak lalu nyemplung ke laut, hiiii!

Berpose ketika baru tiba di Gili Terawangan

  Lagi-lagi, foto lama milik saya sudah tidak layak uplot. Jadi, terpaksa saya pinjam lagi foto-foto keelokan pantai Gili Terawangan dari Mbah Google. Kamera jadul saya, pasti tahu dong, adalah kamera saku yang masih pakai rol film. Jadi setelah dicetak dan disimpan dalam album foto, lama kelamaan gambarnya jadi pudar. Negatif filmnya juga entah saya simpan di mana.

Pantai Gili Terawangan yang asyik untuk snorkeling
(foto dari: www.natureportrait.blogspot.com)

  Turun dari cidomo, kami berjalan kaki menyusuri pantai. Bapa dan Iwan memutuskan untuk menyewa peralatan snorkeling dan langsung menceburkan diri ke laut. Saya menunggu di pinggir pantai sambil menemani Aa Dilshad melihat-lihat penangkaran kura-kura di pinggir pantai. Agak sirik juga, pengen ikutan snorkeling tapi tidak bisa karena harus menjaga Aa. Nggak apa-apa, mungkin kapan-kapan saya bisa merasakan yang namanya snorkeling. Saya dan Aa lalu berpindah lokasi ke tempat yang lebih teduh. Lalu kami bermain pasir bersama sambil menikmati suasana pantai yang tenang.

Aa Dilshad bermain pasir di pantai Gili Terawangan

  Gili berarti pulau. Gili Terawangan berarti pulau Terawangan. Turis yang datang berwisata ke Gili Terawangan biasanya juga mengunjungi pulau kecil lain yang berdekatan dengan Gili Terawangan, yaitu Gili Meno dan Gili Air. Untuk pencinta diving, ada petunjuk lengkap spot-spot diving yang wajib diselami di seputar tiga pulau tersebut. Mau diving? Harus kursus dulu, ya. Tidak boleh asal menyelam begitu saja kecuali sudah mahir dan punya sertifikat menyelam. Di Gili Terawangan juga disediakan paket kursus diving bagi yang berminat. 

Bapa dan Aa Dilshad

  Tidak terasa, hari sudah menjelang sore. Kami harus menyebrang sebelum langit menjadi gelap. Ternyata, angkutan umum perahu penyebrangan sudah tidak ada lagi. Terakhir perahu menyebrang pada pukul 16.00. Wah, sayang sekali. Memangnya tidak ada turis yang akan pulang dari Gili Terawangan? Ternyata, sebagian besar turis yang datang ke Gili Terawangan ini sudah dipastikan akan menginap. Cuma turis 'aneh' kayak kita ini aja yang ke GIli Terawangan pulang-pergi pada hari yang sama, haha.

Saya dan Bapa

  Akhirnya, daripada terdampar di Gili Terawangan, kami terpaksa menyewa perahu untuk bisa menyebrang pulang. Harganya? Mahal banget dibandingkan tarif perahu umum, yaitu seratus lima puluh ribu untuk sekali menyebrang! Yah, nggak apa-apa deh, yang penting bisa pulang, hehe. Setelah sukses menyeberang laut, kami kembali ke guest house untuk beristirahat karena akan kembali ke Denpasar keesokan harinya.

  Hari selanjutnya, kami pulang ke Denpasar setelah Bapa selesai dengan urusan di kantor cabang Mataram. Sepanjang hari saya, Aa Dilshad, dan Iwan menunggu di guest house. Setelah Bapa datang, kami pergi berburu oleh-oleh. Apa saja yang saya beli selama mengunjungi pulau Lombok? Karena sudah lama, barang-barang yang saya sebutkan sebagai oleh-oleh berikut sudah tidak ada lagi wujudnya sekarang. Mau tahu apa saja? 
  1. Kaos dan celana setelan anak milik Aa Dilshad bertuliskan 'I Love Lombok' (sekarang sudah disumbangkan).
  2. Celana pendek untuk Bapa (kayaknya sudah robek, deh).
  3. Kaus bergambar unik khas Lombok untuk saya dan Bapa (sudah belel dan jadi lap pel).
  4. Kain tenun khas Lombok berukuran kecil sebanyak dua buah yang saya pasang di jendela rumah di Bogor (sekarang sudah robek).
  5. Beberapa botol minyak Sumbawa (untuk dipakai sendiri dan dibagikan ke sanak saudara). Minyak sumbawa ini ampuh lho, untuk mengempeskan benjol. Saya sering pakai untuk Aa Dilshad yang sering banget kejedot dan benjol.
  Tambah satu lagi nih, oleh-oleh yang saya bawa gratis alias dikasih orang. Sebelum berangkat menuju pelabuhan, salah seorang anak buah Bapa meminta mobil kami mengikutinya ke pasar tradisional. Ada apa ya? Setelah menunggu sebentar di pinggir jalan, dia pun muncul dari dalam pasar membawa satu kardus mi instan yang berisi penuh dengan kangkung! Ya, kangkung khas Lombok yang terkenal nikmat itu diberikan kepada kami sebagai oleh-oleh darinya. Kangkung ini lalu saya bagikan pada tetangga di Denpasar. 

  Kangkung khas Lombok biasanya diolah menjadi masakan yang terkenal sebagai plecing kangkung. Bumbu cabai dan terasi serta campuran kacang tanah membuat hidangan ini terasa nikmat dengan pedas yang menggigit. Plecing kangkung menjadi istimewa karena rasa kangkungnya yang khas. Kangkung dari Lombok ini tidak sama seperti kangkung pada umumnya. Kangkung yang memang -katanya- hanya tumbuh di pulau Lombok ini memiliki daun yang lebih kecil tapi berbatang besar. Jika dimasak, rasa kangkung menjadi renyah. Kruk kruk kruk....hmmm...nikmat tiada duanya, deh!

Plecing kangkung (foto dari: www.maximallive.wordpress.com)

  Lombok, kenangan indah yang tak terlupakan. Ada suatu kejadian yang sangat membekas di ingatan saya. Apa itu? Masih mau menyimak? Belum bosan kan, baca tulisan saya? *kepedean* 

  Ceritanya begini, pada hari kedua di Mataram, kami mendatangi sebuah warung tenda kaki lima untuk makan malam. Tempat makan ini cukup ramai pengunjungnya. Itu artinya makanan di sini enak. Makanan dan minuman yang disajikan juga beragam. Mulai dari makanan cemilan seperti pisang bakar dan roti bakar, sampai olahan sea food dan chinese food halal. Semua kursi tempat makan penuh terisi malam itu. Meski ramai pengunjung, makanan yang disajikan cukup cepat dihidangkan dan pengunjung tidak perlu menunggu lama untuk bisa menyantap makanan pesanannya.

  Sambil menikmati makan malam (kalau tidak salah saya makan nasi goreng), saya mengamati sebuah keluarga yang sedang makan di meja sebelah. Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan ketiga anak laki-laki. Nampaknya jarak umur ketiga anak mereka adalah sekitar dua atau tiga tahun. Melihat ukuran tubuhnya, saya dan Bapa menebak: si sulung kelas 1 SMP, si tengah kelas 4 SD, dan si bungsu kelas 1 SD. Apa yang membuat keluarga ini sampai mencuri perhatian saya dan Bapa? Pesanan makanannya! 

  Meja makan mereka penuh sekali oleh makanan. Selain semua mendapatkan sepiring nasi putih, aneka lauk berupa olahan seafood siap disantap bersama-sama. Ditambah cemilan pisang bakar, kerang rebus, dan minuman beraneka warna. Wah, wah, habis makan nasi masih bisa ngemil pisang bakar ya? Ck ck ck...hebat!

  Ketiga anak laki-laki itu makan dengan lahap. Si bungsu bahkan sudah tidak disuapi lagi dan bolak-balik mencomot makanan dari piring saji. Dalam sekejap mata, semua makanan itu ludes tak bersisa! Wuaahhh....ternyata begitu ya, kalau punya anak laki-laki. Harus siap-siap menyediakan banyak makanan di rumah. Anak-anak kan, sedang dalam masa pertumbuhan. Terutama anak laki-laki yang gemar makan dan membutuhkan energi lebih banyak. 


Beginilah ketiga anak saya saat sedang lapar :D

  Saat itu, saya hanya terkesima dan manggut-manggut saja. Tidak menyangka, di masa mendatang ternyata saya sendiri akhirnya bernasib sama seperti ibu di meja sebelah itu. Ya, saya memiliki tiga anak laki-laki sekarang! Kini sudah ada Kk Rasyad dan Dd Irsyad. Adegan di warung tenda di Mataram ini selalu terkenang hingga saat ini. Mungkin, apa yang saya dan Bapa lihat saat itu merupakan suatu 'tanda' dari Tuhan tentang kehidupan kami di masa mendatang. Pelajaran yang kami dapat: kalau punya anak laki-laki, sediakan makanan yang banyak! ^_^ 

My Itchy Feet... Perjalananku Yang Tak Terlupakan"

25 komentar:

  1. wah pengeeeen juga ke Lombok maaakk :) seru banget ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik, Mak. Palagi jaman saya ke Lombok pas lagi sepi wisatawan. Jadi serasa di pulau pribadi, hihihi

      Hapus
  2. Wow, sebuah perjalanan berbuah kenangan, pengalaman manis dan foto2 yang indah ya, Mak. Saya belum pernah ke Lombok, pengen banget ke sana ih. Kapan yaaa? Ingin lihat Gili Terawangan yang kesohor itu ah!

    Sukses ngontesnya ya, Mak, smg menang! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak Alaika, jadi terkenang terus sampe sekarang :)
      Ayo, ke Lombok, Mak. Jangan lupa kalo ke Gili Terawangan, skalian ke Gili Beno dan Gili Air tetangganya. Saya mah ga sempet krn waktu kunjungan yg terbatas.
      Aamiin. Makasih ya, Mak ^_^

      Hapus
  3. sekarang mungkin seperti ibu yg di meja sebelah ya Mak.. :D Gili trawangan sepertinya nyaman utk melepas penat setelah bekerja setahunan di Jakarta.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, jadi persis banget, hehehe
      Asyik, Mak..dijamin langsung fresh deh balik dari Gili Terawangan ^_^

      Hapus
  4. baca cerita perjalanan paling asyik liat foto2nya ya mak,,bikin ngiler pengen ke lombok jg :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Mak...saya juga ngiler pengen balik lagi main ke Lombok ^_^

      Hapus
  5. Hiks... Tyt mak Ina udh nyampe Lombok.. Aku udh punya byk foto lombok, referensi tmp wisata, dll cuma blm nyampe2 jg :(
    Btw katanya mang nyebrang Bali-Lombok tu ombak nya bikin keder n teler :-P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera nyampe ke Lombok ya, Mak Muna...aamiin.
      Owh pantes saja aku keder n teler. Trus2 mmng penumpang kapal feri ke Lombok banyakan pas malem. Ya mungkin itu, biar ga mabok kalo brangkat pas siang. Beneran ngeri, Mak...liat tingginya ombak dari kapal. Takuutt banget kapal yg terombang-ambing bakal nyemplung, hiiii

      Hapus
  6. Wah, jadi next destinasi. Pengen Nyobain snorkel disana.

    Semoga sukses ngontesnya, Mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Mak...ke sono :) Aamiin...makasih ya :)

      Hapus
  7. kecee bingittt ya mak, ya ampun, kapan aku bisa kesana :D

    BalasHapus
  8. Rekreasi bersama keluarga memang menyenangkan ya Jeng
    Saya belum pernah ke Lombok nih
    Terima kasih reportasenya yang komplit
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, PakDhe :) Aamiin. Terima kasih sudah mampir. Salam hormat dari Bogor :)

      Hapus
  9. wah wah Lombok memang menyenangkan ya Bu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, asyik..palagi musim liburan kyk skr pasti bnyk acara di sana :)

      Hapus
  10. mau banget ke Lombok. Dari dulu belum kesampean niiih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suatu saat kesampean ya, Mak..aamiin :)

      Hapus
  11. maaaaaak...jadi pengen ke Lombok (lagi) dan mampir ke Gili Trwangan...kakiku belum sampai sana hehehehe...kebayang cantiknya, lembut pasirnya, makanan enaknya...dan diving! aku mau diving di sanaaa....makasih sudah sharing dan ikutan GAku ya maaaak....serunya berItchyFeet riaa dan traveling kelilingi negeri...happy blogging juga maaak...

    BalasHapus
  12. Iyah, Mak...Lombok memang asyik. Nyesel aku cuma sebentar di Gili Terawangan :(
    Wiii...Mak Indah yg bisa diving pasti seru tuh. Alam bawah lautnya udah terkenal cantik. Kapan2 pingin deh belajar bisa nyelem *penasaran*
    Makasih juga bisa ikutan GA-nya Mak Indah yg seru ini. Hepi blogging n traveling buat Mak Indah ^_^

    BalasHapus
  13. Patai Senggigi indah ya mba, dan memang sangat populer. Melihat ini, hanya sebagian kecil dari alam negeri Indonesia yang indah banget ya mba.

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=