Minggu, 22 Desember 2013

Ibu, Cinta Tanpa Akhir



Menjadi seorang ibu sudah menjadi cita-cita seorang anak perempuan sejak ia masih kecil. Saat sedang bermain boneka, naluri keibuan sudah terlihat pada anak-anak perempuan  yang memperlakukan bonekanya dengan penuh kasih bak seorang ibu pada anaknya. Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Saya juga ingin kelak menjadi seorang ibu. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai ragu akan hal tersebut.

Mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan, membuat saya berpikir lagi tentang cita-cita menjadi seorang ibu. Tentu, naluri saya masih menginginkan untuk bisa mempunyai anak. Namun hati saya ragu akan ikatan yang bernama pernikahan. Lantas, bagaimana bisa punya anak tanpa menikah? Gampang. Masih bisa mengadopsi anak, bukan? Saya pun memantapkan diri bahwa kelak tidak akan menikah dan akan membesarkan anak-anak yang saya adopsi.

Barangkali saya terlalu keras pada diri sendiri. Saya mulai membatasi diri terutama untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Meski saya sempat dekat dengan beberapa teman laki-laki, saya tidak pernah serius untuk berkomitmen. Di mata saya, pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan. Apa gunanya menikah jika saling menyakiti? Jika itu terjadi pada saya, maka sejarah yang sama akan terulang pada anak-anak saya (jika ada) nanti. Saya kemudian menyiapkan diri dengan semakin rajin kuliah. Agar bisa lulus lalu dapat pekerjaan, kemudian punya penghasilan sendiri sebagai modal menjadi single parent.

Manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan. Tiba-tiba saya dipertemukan oleh seorang lelaki yang kemudian bisa mengubah nasib saya. Saya percaya pada cinta, tapi tidak pada komitmen. Entah mengapa, dia bisa meluluhkan hati saya, membuat saya yakin dan bersedia menjadi istrinya. Saya bahagia dan percaya dia tidak akan menyakiti saya. Semua pikiran buruk di kepala saya tentang pernikahan pun sirna. Bahkan pandangan sinis saya tentang kehidupan juga mulai berubah.

Setelah menikah, apakah saya langsung punya anak? Justru saya malah menunda kehamilan. Saya terlalu takut untuk menjadi seorang ibu. Saya takut tidak bisa membesarkan dan mendidik darah daging saya sendiri. Saya takut gagal. Saya tidak mau anak-anak saya mengalami kepedihan yang sama dengan saya. Untunglah suami saya mengerti. Hanya berselang beberapa bulan, hasratnya untuk menjadi seorang ayah sudah tak terbendung lagi. Saya dibujuknya untuk mau hamil. Sebagai istri, saya menuruti kemauannya sambil meyakinkan diri bahwa saya bisa menjadi seorang ibu yang baik.

Kini, saya sudah melahirkan tiga anak laki-laki yang tampan dan pintar. Beruntung suami saya bekerja pada perusahaan yang mengharuskan kami untuk berpindah tempat tinggal. Kami sekeluarga hidup bak keluarga gipsy. Itu adalah masa-masa paling menyenangkan bagi saya. Saya bisa menjadi diri saya sendiri dalam membesarkan anak-anak saya. Jiwa saya rasanya bebas, lepas dan menjauh dari kurungan kepahitan masa lalu.

Sayang, masa bersenang-senang hidup merantau itu harus berakhir. Kami kembali ke kampung halaman. Saya kembali ke suasana tidak nyaman di masa lalu. Saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri lagi. Emosi saya kerap naik turun akibat terpaan masalah. Saya merasa seolah kembali ke masa lampau, di mana hampir setiap hari harus mendengar kata-kata tajam yang menghujam perasaan. Saya kembali rapuh, bahkan nyaris hilang kesadaran karena sangat ketakutan. Tidak, saya tidak boleh hilang akal! Saya punya anak-anak yang membutuhkan saya. Saya harus kuat! Suami terus menyabarkan saya dan membimbing saya untuk selalu mengadu pada Tuhan. Hati saya menjadi lebih tenang setalah memasrahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.

Saya sangat mencintai anak-anak saya. Apa pun saya lakukan demi kebahagiaan mereka. Saya tidak ingin mereka menjadi seperti saya. Ibarat porselen pecah yang direkatkan kembali, saya memang sudah pulih. Namun luka di masa lalu tidak bisa hilang begitu saja seperti retakan di porselen yang masih terlihat. Porselen itu tidak mungkin jadi mulus seperti sebelum pecah. Meski rapuh, saya harus kuat demi anak-anak!


Saya bukan ibu yang sempurna. Saya masih sering melakukan kesalahan. Tanpa sadar, saya suka kelepasan jika sedang emosi. Jika itu terjadi, saya buru-buru meminta maaf dan memeluk anak saya. Saya menyesal. Saya tidak mau anak-anak tumbuh besar dengan rasa takut seperti saya. Mereka berhak untuk mendapatkan kasih sayang dan perlindungan. Bukan untuk disakiti karena pelampiasan akibat tekanan hidup. 


Saya bahagia melihat pancaran keceriaan dari wajah anak-anak saya. Saya lebih bahagia lagi jika mendapat ungkapan sayang dari mereka berupa pelukan, ciuman, atau gelendotan mesra. Itu artinya mereka merasa nyaman berada di dekat saya, ibunya. Walau terbersit rasa iri karena saya tidak pernah merasakan hal yang sama. Meski saya tidak punya role model, saya selalu belajar dan mengikuti kata hati saya untuk bisa menjadi ibu yang baik.


Saya menikmati masa-masa membesarkan ketiga anak saya. Semoga saya tidak salah langkah dan 'lepas kendali' dalam mengasuh mereka. Saya ingin anak-anak tumbuh besar seperti harapan semua orangtua: menjadi anak yang pintar dan soleh serta membanggakan keluarga. Itulah sebabnya saya berjuang keras menyembunyikan kepedihan saya dari anak-anak. Namun, saya kerap tidak pandai bersandiwara. Anak sulung saya sudah bisa membaca situasi dan menerka apa yang baru saja terjadi pada saya. Meski saya tidak berterus terang saat ditanya, "Ibu kenapa?" Namun perhatiannya membuat beban saya berkurang, karena itu artinya dia mengkhawatirkan saya.

Anak-anak adalah sumber kekuatan saya. Saya tidak boleh terpuruk. Saya tidak boleh jatuh dan harus bisa bangkit lagi saat 'serangan' itu datang. Saya juga tidak akan menuntut balasan harus diperhatikan jika saya tua nanti. Saya tidak ingin kelak merepotkan anak-anak. Saya punya rencana aktivitas menyenangkan yang bisa saya jalani untuk menikmati hari tua. Saya juga sedang merintis sebuah usaha yang mungkin kelak bisa jadi sumber penghasilan tambahan jika suami sudah pensiun. Intinya, saya tidak akan menuntut apa-apa dari anak-anak. 

Anak laki-laki kelak akan menjadi pemimpin bagi keluarganya, menjadi sumber nafkah bagi anak dan istrinya. Anak laki-laki kelak akan terbang jauh dari sarang tempat ia dibesarkan. Terbang melesat mengejar cita-cita dan membangun kehidupannya sendiri. Tentu saja saya sudah memahami hal tersebut. Saya siap mengantar mereka menuju lepas landas nanti. Saat ini yg mereka butuhkan adalah bimbingan dan kasih sayang untuk mempunyai sayap yang kuat dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Dan hanya satu yang saya punya untuk mereka... cinta. 

Mohon maaf sebelumnya untuk para pembaca, karena isi tulisan ini tidak sesuai dengan tema yang seharusnya diangkat. Jika kurang berkenan, saya akan menghapus postingan ini. Sekedar ingin berbagi satu point penting untuk para ibu: cintailah anak-anak sepenuh hati. Itu saja.

Selamat hari ibu.



Postingan ini dikutsertakan dalam event ngeblog serentak 
memperingati hari ibu yang diadakan oleh Kumpulan Emak Blogger

8 komentar:

  1. Selamat hari ibu ya mak,,, Saya suka mak dengan tulisan diatas, jangan di hapus ya...

    BalasHapus
  2. Selamat hari Ibu yah Mba :). Dirimu role model buat yang lain justru Mak, termasuk gw. Hehe

    BalasHapus
  3. Selamat hari Ibu, selalu ada Ibu yang sempurna di balik ketaksempurnaan pengakuannya :)

    BalasHapus
  4. keren, kok, Mak tulisannya. Semoga semua ibu semakin menyayangi anak2nya juga, ya :)

    BalasHapus
  5. selamat hari ibu yaaa maaak...penuh cinta di hari istimewa ini...hugs hugs...

    BalasHapus
  6. Tidak ada yang tidak penting dan tidak usah di hapus, menulis adalah ruang bebas berekspresi apapun yang ada dipikiran kita untk melepas penat yang ada, selamat hari ibu dan mari menikmati posisi sebagai ibu ya mak #peluk :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=