Kamis, 23 Januari 2014

Keraton Solo


Keraton Solo. Dulu, kami sering sekali melintas seputar wilayah Keraton Solo namun tidak sempat singgah dan mengintip isinya. Seharusnya sempat sih. Tapi dengan satu anak yang bayi, nampaknya kami agak malas juga jalan-jalan di dalam keraton. Nanti saja, deh. Toh kami juga tidak ke mana-mana alias masih tinggal di Solo. Terlalu lama menggampangkan, akhirnya jadi tdak sempat beneran bisa masuk ke dalam keraton. Kami keburu pindah ke Denpasar.

Nah, liburan kali ini, dengan tiga anak yang sudah cukup besar dan mengerti jika diajak berwisata sejarah, saya dan Bapa mengajak mereka mengunjungi Keraton Solo. Senang? Seru? Pasti doong! Yuk, simak ceritanya…

Memasuki area keraton yang berdekatan dengan pasar Klewer ini, mobil kami langsung disambut oleh macet. Ada apa ini? Ooh ada semacam festival rakyat rupanya. Banyak sekali stan-stan aneka dagangan di pinggir jalan. Di tengah sepertinya (ngintip dari balik lapak para pedagang) ada banyak arena permainan anak-anak. Seperti pasar malam. Aa Dilshad sempat merengek ingin masuk. Duh, A...ke pasar malam mah biasa.Kita ke Keraton saja!

Keraton Solo di bagian depan
Masuk gerbang keraton, kami memarkir mobil tidak jauh dari pintu masuk. Eh, ternyata bukan dari depan sini ya masuknya? Kami sempat bingung mencari loket penjualan tiket.Ternyata ada di samping. Pintu masuknya mana? Rupanya pintu masuk juga bukan dari bagian depan.

Kami disuruh jalan kaki memutar untuk masuk ke dalam keraton. Memang tidak terlalu jauh sih. Tapi agak sulit juga berjalan beriringan membawa 3 bocah di pinggir jalan yang ramai kendaraan. Plus jalan jadi sempit karena banyak andong yang ngetem di sepanjang jalan menuju pintu masuk. Belum lagi pedagang kaki lima yang buka lapak di pinggir jalan. Juga…kotoran kuda! Benar-benar harus ekstra hati-hati dalam melangkah, jangan sampai keserempet kendaraan yang lewat atau menginjak ‘ranjau’.

Di sekitar pintu masuk, kami disambut oleh para pedagang kaki lima. Setelah tiket diperiksa, kami masuk ke Keraton. Jreng…jreengg! Wah, luas juga ternyata! Ini baru sebagian kecilnya saja. Bagian yang boleh dimasuki oleh masyarakat umum. Tentu saja bangunan keraton yang sesungguhnya yang menjadi tempat tinggal para pangeran dan purtri ini pasti jauh lebih luas lagi.
Silsilah keturunan Raja Mataram
Bangunan keraton yang kami masuki bebentuk huruf o dengan taman di tengahnya. Seluruh ruangan keraton menjadi museum tempat benda-benda bersejarah dipamerkan. Kami ke arah kanan menuju ke luar bangunan ini dan mendapati tanah lapang berpasir yang luas. Untuk menapak ke tanah berpasir ini, kami diwajibkan untuk melepas sandal atau sepatu. Sensasi menginjak pasir yang lembut segera kami rasakan.

Kiri: pendopo panjang dan lampu kristal yang terbungkus.
Kanan: pasir lembut dan sesajen di bawah pohon
Di atas tanah berpasir ini, di sebelah kiri ada bangunan panjang seperti pendopo yang digunakan untuk perhelatan acara keraton. Di atas pendopo ini berderet lampu kristal besar yang tidak digunakan dan ditutupi kain agar tidak berdebu.Tentu saja kain ini akan dibuka jika ada acara.
Suasana teduh dengan pohon-pohon besar
Pada bagian sebelah kanan ada bangunan seperti rumah joglo dengan beberapa patung. Namun pengunjung tidak boleh masuk dan hanya boleh melihat dari depan saja. Sekilas memang tampak seperti masjid karena ada ruangan lapang pada bagian tengahnya. Barangkali di sini tempat para bangsawan duduk jika ada acara.

Kiri: bangunan apa itu entah...foto aja deh.
Kanan: Kk Rasyad dan sang patung
Oia, karena tidak memakai jasa pemandu agar kami bisa lekas pulang (maklum, bawa pasukan riweuh), jadi saya hanya mengira-ngira saja dari apa yang saya lihat di Keraton Solo. Mohon maaf sebelumnya jika ada kesalahan, ya. Jika ingin informasi lengkap, silakan kunjungi website lain yang memuat banyak info tentang Keraton Solo. Di sini, saya hanya menceritakan jalan-jalan bersama keluarga saja.

Lanjut lagi. Kami sekarang kembali ke bangunan berbentuk o tadi. Kami melihat-lihat benda-benda bersejarah di dalam ruangan. Sayang, tata cahayanya kok buram ya? Kondisi keraron juga sepertinya kurang terpelihara dengan baik. Benda-benda yang dipajang seolah teronggok debu dan suasanannya berkesan  muram. Mungkin semuram suasana di Keraton Solo yang sebenarnya #eh

Pencahayaan yang redup, ditambah kamera saya yang tidak bisa digunakan lagi karena kehabisan baterai, saya jadi susah mendapatkan foto-foto yang bagus. Syukurlah masih ada kamera hp yang sudah di-charge dengan charger pinjaman milik penjaga hotel. Biar hasil foto seadanya, yang penting ada kenang-kenangan dari liburan kami. 

Sebagian kecil dari benda-benda bersejarah yang dipamerkan
Lanjut foto-foto lagi, ah. Saya berfoto di depan kereta kuda yang cantik. Jika naik ini, berasa jadi Cinderella kali yaa. Hmm...sedangkan kalau saya jadi Upik Abu selalu. Ee kok curhat, hihi.

Upik Abu dan dua pengawalnya :D
Beberapa kereta kencana alias kereta kuda kerajaan dipajang di koridor Keraton. Namun ada satu kereta kencana yang disimpan di dalam ruangan dan dijaga ketat oleh seorang abdi dalem. Bahkan pengunjung tidak diperbolehkan berlama-lama di depan kereta tersebut apalagi mengambil foto. Nampaknya kereta tersebut dikeramatkan. Terlihat  dari sikap bapak abdi dalem yang menjaganya dan sesajen yang ditaruh di dekat kereta.

Pohon beringin besar di taman
Taman luas di tengah bangunan ini terlihat kurang terawat. Di ujung taman terdapat pohon beringin besar. Di bawah pohon tersbut nampaknya ada semacam tempat untuk mengambil air yang dipagar dan dijaga oleh seorang abdi dalem. Pengunjung tidak boleh masuk dan hanya melihat dari luar pagar. Koreksi saya jika salah, ya.

Tempat berpagar yang tidak boleh dimasuki pengunjung
Nah, selesai melihat-lihat Keraton Solo, kami jadi lapar lagi. Maksud hati sih pengen makan bakso di tempat langganan kami dulu. Tapi kami sudah tidak sabar menuju daerah Gumpang untuk reuni dengan para tetangga. Jadi, kami putuskan makan bakso iga di sekitar Gumpang saja. Ketemu, nih. Makan bakso dulu, ya. Nanti dilanjutkan lagi cerita perjalanannya ^_^

Atas: 3 boyz menunggu bakso datang
Bawah: bakso iga yang menggoda

13 komentar:

  1. Sayang ya jalan menuju keraton tercemar kotoran kuda. Idealnya menuju keraton itu dari jarak beberapa meter udah terasa sakralnya :)
    Eh itu lucu ada tanah berpasirnya, apa seperti pasir di pantai mak ?
    Mak Ina beruntung deh, pernah tingga di kota2 yg jadi tujuan wisata, mupeenng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak...jadi ga konsen kita pas jalan :(
      Pasirnya lembut banget. Kering dan ga basah kayak pasir pantai.
      Alhamdulillah, Mak...bonusnya krna ngikutin suami merantau :)
      Setiap wilayah Indonesia sebenarnya berpotensi punya tempat wisata yg bagus. Waktu aku tinggal di daerah yg minim wisatawan, kami justru menemukan banyak tempat wisata yg asyik. Tinggal gimana pemda setempat saja yg memoles tempat tsb spy jd tempat tujuan wisata yg menarik ^_^

      Hapus
  2. Meskipun bersama pasukan riweuh,, tetep dong ya mak riana seru jalan2nya..

    ngeces sama baksonya ni mak,, enak ga mak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi...iya Mak :)
      Baksonya? Eeeenak banget ^_^

      Hapus
  3. Aiih sumpah aku vangun tidur siang baca ini ngiler sama baksonyaaa... mana borbudur dan kadipironyaaa? Eh blom nyampe yah masih di solo ini mah xp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... ternyata ceritaku dua episod lagi :p
      Yawdah yg soto kadipiro aku taro di postingan berikutnya biar cepet disuguhin ke dirimu, Mak ^_^

      Hapus
  4. uwaaaa....saya belum pernah ke solo mbk,dari dulu pinginnn banget,penasaran sama keraton,,tapi lumayanlah baca dan lihat gambar disini hehehe..adududud,hujan2 enak nih ngebakso,bikin ngiler mbakkk hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yg tinggal di Solo aja dulu ga sempet masuk ke keraton :D
      Asyik lho, Mbak Hana...ngintip sebagian kecil isi keraton. Berasa jadi putri #loh
      Iyaa..bakso jadi paporit nih kalo dingin2 gini ^_^

      Hapus
  5. aku pernah kesini tapi gak ketemu baksonya loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bakso banyak bertebaran di Solo, Mak. Enak semua lagi (kata sayah).Tapi kalo bakso iga, cuma tempat2 tertentu aja yg jual. Yg ngetop kalo ga selah deket rel kereta api di daerah mana lupa lagi. Tapi kami ga ke sana krna kejauhan

      Hapus
  6. aku blm pernah k keraton solo mak,,hi hi,,luas bgt ya mak,,ada sentuhan baratnya jg ya di keraton solo mak,,ada patung nya gt,,heemmm,,baksonyaaa,,ujan2 gni,,pasti mak nyuuuss,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya emang lusa banget, Mak. Ayo, mampir ke keraton solo :)
      Itu patung kayaknyaknya dari jaman kumpeni. Trus disuruh jadi penjaga, makanya nangkring di depan gitu :D

      Hapus
  7. wah dingin-dingin gini langsung liat penampakan baksonya yang menggoda, hayoo tanggungjawab jadi ngiler nih...

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=