Sabtu, 26 Juli 2014

Buka Puasa Tanpa Ibu dan Bapa


"Ibu pulangnya kapan?"

"Belum tahu. Emang kenapa, A?"

"Aa pengen buka puasa sama Ibu. Nggak enak kalo nggak ada ibu,"

Duh, jadi maknyes dengernya. Saya terpaksa meninggalkan boyz di rumah karena harus menunggui Eyang di rumah sakit. Ya, Eyang diopname karena kadar gula darah dan tensinya naik. Beruntung tidak ada penanganan khusus selama dirawat. Saya dan Umi Aan (art alias si Bibik) di rumah bergantian menemani Eyang. Umi Aan menginap setiap dua hari sekali. Giliran saya juga dua hari sekali, tapi tidak menginap. Aa Dilshad dan Kk Rasyad membutuhkan saya saat sahur. 

Setiap saya pergi (ke mana pun), Aa selalu bolak-balik menelpon saya. Menyuruh pulang. Termasuk saat saya sedang menemani Eyang di rumah sakit. Berikut percakapan dengan Aa, pada telepon yang kesekian kalinya...

"Ibu kapan pulang?"

"Ibu belum tahu, A..."

"Ibu, nanti kita buka puasa pake apa?"

"Kan Umi bikin bla bla bla (saya sebutkan menu buka puasa hari itu)..."

"Bukan.Bukan itu. Tajilnya?"

Selama bulan puasa, Aa dan Kk memilih sendiri tajil mereka. Agar semangat berpuasa, saya ijinkan mereka ingin makan apa saja untuk sahur dan berbuka. Mereka lebih menyukai jajanan sebagai tajil. Namanya juga anak-anak, menu tajil mereka tidak jauh dari jajanan favorit sehari-hari. Misalnya: juice, minuman manis dalam kemasan, cimol, es krim, dsb.


Saya jarang membuat kolak atau bubur kacang hijau. Soalnya sayang, jarang kemakan. Bapa pulang kerja menjelang isya. Sedangkan saya dan Aa kurang suka tajil yang manis tersebut. Kk Rasyad dan Dd Irsyad saja yang doyan. Tapi kadang suka nggak dimakan juga. Bikin untuk Eyang, takut gula darahnya naik. Ya sudah, nggak usah bikin sekalian.

Jika sempat, saya membuatkan tajil untuk mereka. Saya pernah bikin pancake, pisang bakar coklat keju, puding, cireng, dan tahu goreng biasa.

Sejak saya pergi ke rumah sakit, boyz terpaksa pergi sendiri membeli tajil kesukaan mereka. Jika bersama dengan saya, kadang Dd Irsyad saya ajak. Dd saya naikkan ke atas sepeda roda empatnya, lalu saya dorong. Saya tidak mengajak Dd berjalan kaki seperti kedua kakaknya. Saya khawatir Dd kelelahan. Tempat penjual makanan letaknya di dekat mesjid dan di depan komplek jaraknya lumayan jauh.

Pertama kali menyuruh boyz pergi sendiri ke depan (istilah kami untuk jajaran ruko di depan komplek), saya lumayan deg-degan. Kira-kira, sanggup nggak ya, Aa dan Kk membeli makanan sendiri? Nanti menyeberang jalannya bagaimana? Semoga saja Dd tidak ingin ikut ke depan. Kasihan Aa nanti repot harus menggandeng kedua adiknya.

Saya pulang dan sampai ke rumah menjelang isya. Saya puji Aa dan Kk yang berhasil berpuasa sehari penuh. Saya juga minta maaf pada boyz karena tidak bisa berbuka puasa bersama. Mereka bisa memaklumi. Tapi, mana Dd? Lho, Dd kok tidur? Rupanya, tadi sore dia ikut jalan kaki ke depan. Jika Dd tidak tidur siang, dijamin dia akan kelelahan. 

"Aa, Dd diajak? Ibu bilang kan nggak usah ajak Dd ke depan," tanya saya.

"Habis, Ddnya maksa pengen ikut," jawab Aa.

"Nggak naik sepeda?"

"Eh iya. Aa lupa." 

"Terus, kamu bisa gandeng dua adekmu? Nyebrang jalannnya gimana?"

"Bisa dong, Bu. Nyebrangnya nunggu jalanan ampe sepi dulu."

Syukurlah. Aa memang bisa diandalkan. Hari berikutnya saat saya masih di rumah sakit, Aa kembali mengajak Kk dan Dd membeli tajil. Kadang pakai sepeda. Seringnya sih, jalan kaki. 

Beberapa hari kemudian, saya sedang membeli juice kesukaan 3 boyz di sebuah counter juice baru di komplek. Si ibu pembuat juice berkata, "Oooh ini anaknya ya, Bu? Ini sih, langganan saya. Sering beli ke sini. Rupa-rupa lagi rasanya. Kakaknya ini pinter lho. Bisa megang adeknya. Saya pernah lihat tiga-tiganya di pinggir jalan, di depan rumah pak camat itu. Lagi diem aja di situ. Saya tanya, ':Lagi apa dek?'" 

Saya tersenyum, "Iya Bu. Itu saya belum pulang ke rumah. Jadi, Aanya beli makanan sendiri buat buka puasa. Ngajak adek-adeknya. Saya udah bilang supaya ati-ati di jalan. Eh, Aa emang waktu itu ngapai di pinggir jalan?" Saya bertanya pada Aa yang ada di sebelah saya.

"Ooh...itu lagi mau nyebrang jalan. Aa nunggu sampe jalanan bener-bener sepi," sahutnya.

Hihihi...nampaknya mereka menunggu sampai benar-benar sepi itu pasti memakan waktu agak lama. Nggak apa-apa. Biar lama asal selamat. Bangganya Ibu pada Aa :)

Foto di atas saya ambil saat kami buka puasa berempat. Pada hari kerja, Bapa selalu berbuka puasa di jalan karena terkena macet sepulang dari kantor. Mungkin saat saya tidak ada, seperti itulah mereka bertiga saat berbuka puasa tanpa Ibu dan Bapanya. 

9 komentar:

  1. Tiga jagoannya sudah tambah pinter-pinter ya mak :)

    BalasHapus
  2. datang berkunjung sambil menyimak, o iya minal aidin walfaidin ya, ditunggu kunbalnya

    BalasHapus
  3. huaaa, baru main lagi kesini.. makin kecee ya ini blognya emak riweuh :D

    YaAllah Aa, segitu masih kecil juga tapi udah bisa ya bener2 ngejagain adik2nya :') semoga mereka bertiga akur teruus yah mak, seneeeng ihh anak2nya mak Ina gak rewel ya.. bisa ngertiin kalo harus ditinggal ibunya..

    BalasHapus
  4. Boy, be a strong yach... Ganbatte...

    BalasHapus
  5. Wah edisi terakhir 26 Juli ya Hiehiehe. Ayo donk semangat lagi nulisnya Hiehiehiehieie. Ngarep dot kom. Tetap semangad ya,. Ditunggu tulisan dan artikel terbarunya ya

    BalasHapus
  6. Waaah boyz udah belajar mandiri ya.

    BalasHapus
  7. hehehhe...hehhehe jangankah anak kecil bun, saya dulu pas dah kuliah aja kanggeeee.....eeennnn banget pengen bisa buka puasa and sahur bareng sama ortu. So saya kira manusiawi....hehhehehe
    =========================
    rahasia merawat kelinci

    BalasHapus
  8. Untuk takjil saya juga suka beli. Soalnya ribetnya iya, padahal nggak langsung habis kemakan.

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=