Jumat, 12 September 2014

Kelas Puji Syukur


Masih ingat postingan sebelumnya, saat saya mengantarkan berkas persyaratan untuk Aa Dilshad mengikuti tes? Tes penempatan kelas, tepatnya. Mulanya saya juga tidak mengerti. Perasaan waktu saya masuk SMP dulu, nggak ada yang namanya penempatan kelas. Adanya ya nanti pas SMA. Itu juga namanya penjurusan, dan baru dilakukan saat naik ke kelas 2 SMA.

Nah, jadi ceritanya Aa Dilshad ingin mencoba ikut tes penempatan kelas. Tes ini tidak wajib bagi seluruh siswa. Murid yang tidak mengikuti tes tetap belajar seperti biasa di kelas reguler yang disebut kelas Hidayah. Di kelas Hidayah, siswa belajar seperti biasa dan menempuh pendidikan selama tiga tahun di sekolah. 

Tes diperuntukan bagi siswa yang ingin masuk ke kelas akselerasi atau percepatan. Kelas akselerasi ini disebut kelas Puji Syukur. Waktu belajarnya selama dua tahun. Jadi, pelajaran SMP selama tiga tahun 'dikebut' menjadi dua tahun saja. Cara belajarnya tentu tidak sama dengan kelas reguler atau kelas Hidayah. Siswa dituntut untuk bisa mengikuti penjelasan guru yang cepat. Namanya juga kelas percepatan. 

Persyaratan masuk kelas Puji Syukur adalah IQ di atas 125. Jika tidak lulus tes masuk kelas Puji Syukur, masih ada kelas unggulan untuk anak-anak dengan batas IQ tertentu (saya lupa nilainya berapa). Namanya kelas Barokah. Jadi, kelas Barokah ini ada di antara kelas Puji Syukur dan Hidayah. 

Aa Dilshad bilang, dia ingin masuk kelas Barokah. Saya dan Bapa tentu saja mendukung keputusannya. Namun kemudian, dari hasil perbincangan dengan guru dan teman-temannya, Aa memutuskan untuk mencoba masuk ke kelas Puji Syukur. 

Sebenarnya, saya dan Bapa tidak melarang andai Aa Dilshad diterima di kelas Puji Syukur. Sekolahnya jadi lebih cepat. Namun, saya agak menghawatirkan usianya yang lebih muda dari teman-teman sekelasnya sekarang. Ya, dulu Aa Dilshad masuk SD pada usia 5,5 tahun. Jadi, jika Aa lulus SMP dalam waktu dua tahun...kebayang dong, Aa bakal jadi lebih muda lagi usianya dengan teman-teman seangkatannya kelak.

Sebagai orangtua, kami berdua bangga Aa Dilshad sudah bisa menentukan pilihan kelas untuk sekolahnya. Keinginan Aa untuk mengikuti tes kami kabulkan. Kami membayar uang pendaftaran sebesar dua ratus ribu rupiah. Persyaratan fotokopi rapor juga segera kami lengkapi. Bismillah. Tinggal ikut tesnya ya, A...

Beberapa hari kemudian, kami menerima kabar bahwa Aa Dilshad lulus tes dan masuk kelas Puji Syukur! Alhamdulillah. Kami bangga dan ikut senang tentunya. Hanya beberapa anak saja yang lolos tes. Bahkan ada teman Aa yang sampai menangis karena tidak lulus. Katanya, dia sedih karena tidak jadi membanggakan orangtua dengan lulus tes masuk Puji Syukur.

Sambil memberikan selamat, kami pun tidak lupa mengingatkan Aa agar tidak sombong dan besar kepala. Kelas Puji Syukur untuk siswa putra hanya terdiri dari 12 orang saja. Kelas Barokah juga jumlahnya tidak jauh berbeda. Hmm...kamu harus kuat karena belajarnya juga lebih keras ya, A.

Kami berdua juga sempat berkonsultasi dengan Pak Ustad. Sambil bertanya tentang bagaimana kelas Puji Syukur itu. Penjelasan Pak Ustad sungguh menentramkan hati. Sekaligus mengingatkan kami agar jangan terlalu sering memuji anak di kelas Puji Syukur, dikhawatirkan nanti bisa besar kepala. Itulah sebabnya kelas akselerasi diberi nama Puji Syukur. Dipuji karena kepintarannnya, lalu tidak lupa untuk bersyukur. Sikap ini juga membentuk karakter anak agar bisa tangguh di dunia luar sana nanti. Jika terlalu sering dipuji, saat menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan, bisa saja mental anak jadi mudah jatuh. Oh begitu.... kami pun manggut-manggut menyimak uraian beliau.

Ternyata, untuk ikut kelas Puji Syukur, ada biaya tambahan yang harus kami lunasi. Iuran SPP bulanannya tidak sama dengan kelas biasa. Juga, ada uang gedung sebesar tujuh juta rupiah. Kami pun menanyakan, kapan harus melunasi. Lalu Pak Ustad menjawab, "Nanti saja. Bulan ini gratis. Percobaan dulu. Siapa tahu anaknya sendiri pengen pindah ke kelas lain.Bayarnya nanti jelang akhir semester juga nggak apa-apa." Wah, kami lumayan lega. Ada waktu buat menabung, hehe.

Setelah itu, kami pamit pulang. Tidak lupa kami menyemangati Aa Dilshad agar rajin belajar. "Siap-siap, beban pelajaran Aa sekarang jadi lebih berat. Aa coba dulu. Jika Aa tidak kuat, nggak apa-apa kalau mau pindah," Saya tidak ingin membebani Aa Dilshad. Saya tidak ingin Aa sampai stress karena belajar terus-menerus. 

Beberapa hari kemudian, saya menerima telepon dari Aa. Telepon pada jam istirahat yang cukup larut. Aa bilang, jam istirahatnya jadi berkurang karena dia disuruh belajar. Hanya Aa seorang diri yang masuk kelas Puji Syukur di asramanya. Wah, pasti dia kesepian hanya belajar sendirian sementara teman-temannya sudah beristirahat.

Aa bercerita kalau pe-ernya banyak sekali. Penjelasan pelajarannya juga cepat. Ya iyalah, kelas akselerasi gitu. Ya harus ngebut! Aa bilang bahwa Aa lumayan pusing. Hmm...saya tahu bagaimana ketahanan tubuh Aa. Ya, Aa tidak bisa terlalu lelah atau stres. Bisa-bisa dia jatuh sakit. Maka, ketika Aa mengatakan ingin mundur dari kelas Puji Syukur, saya tidak mencegahnya. 

"Terus, Aa mau pindah ke kelas mana?" 

"Kelas Hidayah aja," 

"Kenapa? Dulu kan Aa pengen masuk Barokah?"

"Nggak ah. Kelas Barokah anak-anaknya bandel-bandel..."

"Kamu balik ke kelas lama kamu lagi?"

"Nggak. Aa mau ke kelas 7C. Anak-anaknya baik-baik. Temen-temen Aa juga ada yang pindah dari 7A ke 7C."

"Boleh begitu? Masih ada kapling ga? Besok Ibu omongin sama Pak Ustadnya. Aa juga ikut ngomong juga mau pindah ya."

Saat menjenguk Aa Dilshad di pesantren
Aa sudah besar. Sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Dia tidak ingin sekelas dengan teman-temannya yang nakal. Postur tubuh Aa yang lebih kecil dari teman-teman sebayanya ini memang membuatnya rawan untuk dibully. Ya, dibully memang paling tidak mengenakkan. Saya sedih jika mengingat saat Aa Dilshad dibully hingga akhirnya pindah sekolah. Kini, Aa sudah tahu mana teman yang baik dan mana yang suka membully. 

Akhirnya, Aa Dilshad resmi kembali ke kelas Hidayah. Teman-temannya di kelasnya menyambut dengan gembira. Jika ada yang bertanya mengapa Aa pindah dari kelas Puji Syukur, jawaban Aa adalah tidak ingin merepotkan orangtua karena biayanya. Aih Aa. Jangan kuatirkan biaya, Ibu dan Bapa bisa mengusahakan. Ya sudah, tidak apa-apa. Ini kan sudah jadi keputusan Aa.

Ternyata, Aa Dilshad sebagai anak baru lumayan dikenal juga oleh kakak-kakak kelasnya. Entah karena posturnya yang mungil hingga mudah untuk dikenali. Kehalusan wajahnya yang bisa membuat sirik teman-temannya yang sudah jerawatan. Atau namanya yang terdengar lain daripada yang lain. Atau keputusannya pindah dari kelas Puji Syukur sudah santer terdengar. Aih, kamu ngetop ya, Nak.

Suatu hari (menurut cerita Aa), ada kakak kelas Aa bertanya, "Dilshad kamu pindahan dari mana?"

"Dari kelas Puji Syukur..."

"Gelo siah!"

Hahaha!

12 komentar:

  1. ceritain dong mak, gimana awalnya si Aa masuk pesantren

    BalasHapus
  2. Nama-nama kelasnya lain dr biasanya ya, Mba. :)

    Keputusan Aa bijak sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap kelas punya makna di balik namanya.
      Iya, alhamdulillah, Aa sdh bisa ambil keputusan sndiri :)

      Hapus
  3. AA Dilshad pinter ya..smp skrg kayaknya berat bgt ya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mak Fitri.
      Iyah, pelajaran anak SMP skr berat2. Beda jauh ama jaman kita dulu

      Hapus
  4. semangat ya Aa .. di kelas apapun yang penting Aa enjoy ya mak :)

    BalasHapus
  5. Emakkkkkk makin keren aja blognyah ihh

    BalasHapus
  6. Wah, Aa pandai ya. Selamat ya Aa. Rajin2 belajar :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=