Rabu, 14 Januari 2015

Berkunjung ke Museum Bank Mandiri (Jalan-jalan ke Kota Tua bagian 2)

 

Pada postingan sebelumnya, saya bercerita tentang keluarga kami yang tidak bisa masuk ke Museum Fatahillah alias Museum Sejarah Jakarta. Jangan kecewa, di sekitar kawasan Kota Tua banyak museum menarik yang bisa dikunjungi. Kunjungan pertama justru sebelum kami tiba di Museum Fatahillah, yaitu Museum Bank Mandiri. Ceritanya kami lagi pengen ngadem sejenak setalah naik-turun tangga lewat  terowongan bawah tanah untuk menyeberang. Yuk, masuk dulu!

   "Selamat datang di Bank Mandiri! Welcome to Bank Mandiri!" patung cowboy menyambut kedatangan kami di pintu masuk. Loket pembelian karcis masuknya pun unik, disedain seperti bank pada jaman dulu. Kami masuk museum ini gratis lho! Cukup tunjukkan kartu kredit atau kartu ATM Bank Mandiri saja. Jadi, saya tidak tahu berapa harga tiketnya :)

   Bangunan kuno nan megah bekas kantor ini sangat indah. Sayang suasananya gelap dan muram membuat Dd Irsyad takut. Dia minta digendong terus! Duh, yang sabar ya Pak! Kalau saya sih, sudah nggak kuat lagi gendong Dd terlalu lama.Mungkin juga Dd takut dengan banyaknya patung yang bisa bergerak di dalam museum ini. Bisa gerak? Iya! Ada suaranya pula! Agak-agak horor juga nih. Seperti patung Encik yang sedang mengetik ini. Suara ketikan terdengar jelas di speaker khusus. Dan kepalanya pun bergoyang-goyang mengikuti irama! Hii!
Patung Encik yang bisa bergoyang
   Suasana museum yang vintage ini sebenarnya asyik banget dipakai untuk foto-foto narsis. Sayang, kualitas kamera handphone yang saya bawa kurang canggih. Jadi, yah foto seadanya saja. Yang penting ada kenangan yang bisa didokumentasikan. Iya nggak?

Mr and Mrs Dadang!

Di bagian tabungan haji. Speakernya ngagetin :D
   Museum jaman sekarang sepertinya tidak seperti museum yang saya kunjungi waktu saya kecil dulu. Era digital yang canggih bisa berpadu dengan koleksi kuno di museum. Misalnya patung yang bisa berbicara dan bergerak tadi. Waktu kami masuk ke bagian tabungan haji, tiba-tiba speaker berbunyi "Labbaik, Allahumma Labbaik Labbaik. laa syariika laka labbaik innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika laka.." dan seterusnya berulang-ulang. Ternyata ada sensor khusus di dekat patung yang dipajang di tengah ruangan. Jadi ruangan itu hanya berbunyi jika ada pengunjung mendekat saja. Hebat kan!

Suasana di dalam museum
   Seneng deh, melihat barang-barang yang dipajang di museum ini. Kami jadi banyak tahu tentang perkembangan tehnologi yang digunakan di dunia perbankan. Juga sejarah tentang Bank Mandiri itu sendiri.

Perangkat yang membantu kinerja bank

Beberapa mesin ATM jadul
Wow! Ada robot dari telepon bekas. Kreatif!
  Di bagian merchandise beberapa bank yang pernah ada di Indonesia dulu, saya sempat bernosalgia. Dulu ayah saya punya beberapa menrchandise tersebut dan saya sering memainkannya! Ada kalender abadi bercat emas, ada pulpen, topi, sampai pembuka amplop surat yang berbentuk buku. Sayang, saya tidak sempat memfotonya.

Ciluk ba nggak kompak nih :D
   Hari masih panjang. Kami ngemil bekal dari ransel dan minum sejenak di bangku yang ada di dalam museum. Siap-siap melanjutkan perjalanan menuju museum yang lain. Ikut lagi, yuk! Bersambung ke postingan selanjutnya...

10 komentar:

  1. ini apanya museum bank indonesia, Mak? sama saja atau beda ya? Pas ke Jakarta kemarin juga liburan ke Museum XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda mak. Lokasinya mmng berdekatan. Kalo museum bank mandiri bercerita ttng sejarah bank mandiri dr hasil merger beberapa bank. Juga dipamerkan perangkat yg membantu kegiatan perbankan dari masa ke masa.
      Liburan ke museum mana, mak?
      Asyik yaa liburan ke museum :)

      Hapus
  2. Belum pernah kemari nih, peansaran dg kota tua tapi belum kesampaian saja. Aku suka sekali dg museum

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak-anak sy juga suka dg museum. sdh lama mereka merengek minta ke museum :)
      semoga suatu hari kesampaian mampir ke museum kota tuanya ya mak ^_^

      Hapus
  3. keren banget mak, ini mah jalan2 terus enaknya ya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. mumpung di satu lokasi bnyk tempat tujuan wisata, mak. hajarrr sajaa :D

      Hapus
  4. Dulunya bekas gedung bank mandiri atau bangunan yang sengaja dikhususkan sebagai musium bank mandiri mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelum jadi museum, dulu gedung museum dipakai untuk bank dan kantor salah satu bank yang pernah bergabung dg bank mandiri

      Hapus
  5. Ini jalannya jauh ga mak dari Museum Fatahillah???

    BalasHapus
  6. aaach seru banget, Faiz kudu ke sini iniih

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=