Selasa, 13 Januari 2015

Gagal ke Museum Fatahillah (Jalan-jalan ke Kota Tua Bagian 1)

 

Liburan sekolah semester satu. Sayang jika tidak dimanfaatkan untuk bepergian bersama anak-anak. Mengulang kisah sukses backpackeran ke Sukabumi lalu, kami sepakat jika liburan kali ini kita akan pergi bacpackeran ke Cirebon! Plus menginap satu malam pula! Wah, membayangkannya saja sudah bikin 3 boyz gembira. 

  Namun sayang, rencana itu terpaksa batal karena libur sekolah Aa Dilshad dan Kk Rasyad nggak kompak. Kk libur lebih dulu, selanjutnya menyusul Aa yang libur jelang tiga hari lagi Kk masuk sekolah. Awalnya masih bisa diagendakan untuk berangkat ke Cirebon. Bapa bahkan sudah mengambil cuti kantor. Sayang beribu sayang. Mungkin belum waktunya kami bisa pergi ke Cirebon. Aa mendadak agak deman karena radang tenggorokan ketika kami menjemputnya di pesantren. Jadi, Aa ya harus istirahat dulu untuk memulihkan kondisinya.

   Berhubung rasanya sayang jika saat berkumpul ini (Aa kan tinggal di pesantren) kami tidak pergi ke suatu tempat, maka saya ingin sekali pergi ke mana aja deh, yang penting menikmati liburan. Diskusi dengan Bapa, karena tidak jadi naik kereta ke Cirebon, maka kami HARUS naik kereta ke suatu tempat. Maksa banget ya. Pokoknya naik kereta! Jadi kayak si Dd kalau lagi keukeuh, hehe.

   Pergi ke mana? Lalu saya ingat postingan Mak Mira tentang jalan-jalan ke Kota Tua. Kayaknya gampang pisan ajak 3 boyz backpackeran ke sana, ya! Ikutin ah. Kami segera bersiap-siap.Kami hanya membawa dua tas ransel. Satu berisi barang-barang pribadi saya dan baju ganti Dd. Satu lagi berisi bekal makanan dan minuman.

  Hari Minggu pagi tanggal 4 Desember 2014, 3 boyz sudah dibangunkan, mandi, dan sarapan. Kami berangkat dari rumah pukul 6.30 WIB. Jalan kaki sampai depan gerbang komplek, lalu naik angkot menuju stasiun Bojong Gede. 

   Itu kereta datang! Yuk, naik! Eh iya, saya kok lebih suka menyebutnya kereta daripada commuterline. Mungkin karena saya ini tergolong angkatan jadul yang kurang update perkembangan jaman, hehe. Nggak juga sih, cuman agak susah aja buat bilang ke Dd dan menyuruh dia mengucap kata 'commuterline', kalau sudah kereta ya kereta. Lebih gampang bilangnya. Lagipula, Dd sangat suka Thomas dan Chungging Town. Mereka berdua kan kereta, bukan commuterline *dibahas*  

3 boyz duduk di commuterline dengan aneka gaya.


  Hari masih pagi. Gerbong commuterline yang ber-AC jadi terasa lebih dingin. Aa masih lemas karena pengaruh obat yang diminumnya. Jadi, Aa hanya tidur sambil membungkuk seperti yang terlihat di foto. Mau saya pangku, dia menolak. Sementara kedua adiknya sangat bersemangat menikmati perjalanan dengan commuterline, dan terlihat senang melihat pemandangan di luar jendela. 
  Turun dari commuterline, kami semula bingung juga mau melanjutkan perjalanan ke arah mana. Untung saja banyak petunjuk jalan. Dijamin tidak akan tersesat, deh. Sama seperti yang diceritakan oleh Mak Myra di blognya. Dari stasiun, kami lewat kolong jalanan untuk menyeberang. Nah, di kolong inilah 3 boyz merasa tidak nyaman dengan orang-orang jalanan yang beristirahat di sana. Mereka kelihatan takut melihat orang-orang yang terlihat sangar dan lusuh itu. Beberapa menyodorkan tangannya kepada kami, mengemis minta uang. Ketika melewati beberapa pengemis itu, Dd yang digendong Bapa mempererat pegangannya. Nggak apa-apa, De...


   Sampai di Kota Tua! Arsitektur bangunan kuno menyambut pandangan mata kami. Sayang saya dan suami sedang riweuh jadi nggak sempat baca-baca dan browsing dengan teliti. Ternyata tujuan utama kami, yaitu Museum Fatahillah alias Museum Sejarah Jakarta ditutup! Museum ini sedang direnovasi dan tata letak barang-barang diatur ulang. Ah sayang ya...

   Meski kecewa, kami masih bisa menikmati suasana Taman Fatahillah yang ramai pagi itu. Gerimis tidak menyurutkan pengunjung untuk datang ke tempat yang luas ini. Mau apa di Taman Fatahillah? Banyak pedagang kaki lima, sudah pasti. Ada sepeda ontel yang bisa disewa. Dan yang paling unik adalah komunitas manusia batu yang bisa diajak berfoto bareng. Orang-orang ini berdandan seperti dari masa lalu. Ada yang seperti pahlawan perjuangan, tentara, sampai noni Belanda juga ada. Tubuh mereka dicat seperti patung, begitu pula dengan gaya mereka. Sepintas, mereka memang mirip patung dari batu. Kk dan Dd penasaran untuk berfoto bareng salah satu dari mereka. Saya tawarkan untuk berfoto dengan badut tokoh kartun seperti Masha atau Doraemon (sambil bercanda). Ternyata, mereka keukeuh pengen foto sama patung, yukk...


"Jangan takut ya, De" kata sang patung. Dd pun jadi berani difoto.
   Tidak jadi masuk ke Museum Fatahillah, masih banyak museum lain yang bisa dikunjungi di kawasan Kota Tua ini. Selanjutnya kami pergi ke museum yang mana? Tunggu kisah selanjutnya ^_^

Keterangan: sumber foto di awal postingan dan keterangan tentang Museum Fatahillah dapat dilihat dari sini

19 komentar:

  1. senengnya yg bisa jalan2...aku belum pernah kesitu mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. seru lho, mba Dwi. Seharian rasanya kurang untuk menjelajah kawasan Kota Tua :)

      Hapus
  2. Aku belum pernah juga, adikku ogah..macet katanya huhuhu...itu lucu amat ya fotonya mak..tiga cowok...seru...

    BalasHapus
    Balasan
    1. biar ga macet naik busway or commuterline aja mak.
      hihi iya tiga cowok, tp yg gede udah ga mau difoto :D

      Hapus
  3. mudah-mudahan lain waktu bisa kesana lagi ya

    BalasHapus
  4. Senengnya yang jalan2 ke kota Tua...nih

    BalasHapus
  5. aduuh... saya belum aja nih ngajak anak2 kesini, pengennya sih backpackeran juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk mak. enak lho backpackeran seputar kawasan kota tua ga usah terlalu jauh jalannya :)

      Hapus
  6. waaaa..asik ya ngajak jalan-jalan anak *Faiz...hayo kita jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayoo ajak fira jg. bisa jalan2 pake stroller juga lho mak :)

      Hapus
  7. Ke Kota Tua seperti kita gak lagi di Jakarta :D
    aku baru sekali kesana dan pengen kesana lagi euy

    BalasHapus
  8. eh mak, di commuter line kursinya jreng gitu ya, pamtsan anak2 anteng . salah fokus nih liat kursi cantknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah, mak. kita yg duduk jg seneng.ini lg hoki dapet kursi baru dg pembungkus plastik yg belum dibuka :D

      Hapus
  9. Udah postingsn mak.myra bikin mupeng skr ditambahin mak ina ikutan nambah penderitaan...daridulu pgn bgt mampir ke kota tuanya Batavia :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kok mak, udahan, hehehe.
      Nanti bikin sambungannya kapan2 kalo ke sana lagi :D
      Semoga suatu saat bisa main2 ke kawasan kota tua Batavia yaa..
      Aku malah ga sempet main ke kota tua semarang (keburu mual2 krna ngidam) :(

      Hapus
  10. jadi pengen banget ke sana...ceritanya bikin mupeng mbak....hehehedi agendakan ah...
    kangen jogja

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=