Selasa, 17 Februari 2015

Hari-hari Fisioterapi


Hari-hari Fisioterapi. Kesannya saya sakit apa gitu, sampai harus difisioterapi segala. Pada usia yang sudah tidak muda ini (halah), beberapa keluhan fisik mulai terasa. Aktivitas harian yang semula berjalan dengan lancar tiba-tiba terhambat akibat rasa nyeri. Mulanya saya abaikan. Tapi semakin lama, rasa nyeri itu semakin menyiksa dan membuat saya sulit melakukan aktivitas apa pun.

  Sebagai emak riweuh yang aktif dan aduhai, tugas harian yang saya kerjakan bukan hanya seputar mengurus anak dan rumah tangga, tapi juga menjalankan usaha toko obat. Seminggu sekali atau dua kali, saya pergi naik kendaraan umum (baca: angkot) ke grosiran di pusat kota untuk belanja keperluan toko. Di rumah, saya juga berkutat dengan barang belanjaan. Jadi, boleh dibilang saya ini hobinya bawa belanjaan. Pagi-pagi bawa kantung plastik besar isi belanjaan sayur, lalu siangnya bisa bawa jinjingan kardus isi belanjaan obat. Tidak jarang pula, jika pulang dari minimarket di depan komplek, saya membawa plastik isi belanjaan yang cukup berat. Hasilnya: tangan saya tidak kuat dan overuse! Ceritanya saya tulis di sini.

   Kondisi tangan yang sakit ini diperparah dengan kebiasaan saya yang gedebak-gedebuk saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sejak subuh, saya seolah tidak berhenti bergerak. Mulai dari mengurus anak yang berangkat sekolah (gerakan angkat ceret air panas untuk mandi), mengurus air mandi Eyang (angkat ceret air panas yang ukurannya lebih besar), menyapu dan mengepel (barangkali posisi memegang gagang sapu dan pel kurang pas, maklum nggak terbiasa kerja sejak kecil) di rumah, bawa belanjaan dari tukang sayur yang berat (penduduk di rumah ada banyak, jadi belanjaannya juga selalu banyak), menyapu dan mengepel di toko, serta membawa belanjaan obat jika kulakan ke kota, dan belanjaan dari minimarket. Kayaknya sih masih banyak kerjaan saya lainnya yang memerlukan tenaga ekstra. Oia lupa, ada lagi: mencuci baju! 

   Ternyata oh ternyata, bukan hanya tangan yang sakit. Kedua telapak kaki juga ikut sakit! Duh, kenapa lagi nih? Masa kaki saya juga dibilang overuse? Bukankah jalan kaki itu baik untuk kesehatan? Nah, ini juga yang bikin saya bingung. Penyebabnya entah pada alas kaki yang saya pakai atau gaya berjalan saya yang selalu grasa-grusu kayak dikejar setan. Menurut saya sih, kondisi ini masih ada hubungannya dengan angkat beban berat tadi. Coba deh, kalau kita lagi bawa sesuatu yang berat banget, pasti jalannya jadi agak miring-miring kan?

   Dokter menyarankan saya untuk menjalankan fisioterapi selama enam hari berturut-turut. Duh, kebetulan rumah saya sedang direnovasi dan banyak tukang. Akhirnya, mereka sering saya tinggalkan di rumah selama saya pergi ke rumah sakit.

Hari pertama fisioterapi
Dua alat fisioterapi
Ketika saya menemui dokter fisioterapi, saat itu juga saya langsung menjalani fisioterapi untuk yang pertama kalinya. Belum pernah mengalami apa itu fisioterapi, saya agak canggung juga. Meski dulu sering mengantar Eyang masuk ke dalam ruangan fisioterapi, saya tetap merasa aneh karena saya sendiri yang akan diterapi. 

  Terapi yang saya jalani menggunakan tiga alat fisoterapi: pertama ultra sound (berupa alat mirip ulekan untuk memijat, foto ada di bagian akhir postingan), kedua disinar, dan ketiga digetar. Maaf saya pakai istilah awam saja, karena saya bukan orang medis dan kurang paham mengenai peralatan fisioterapi ini. Mau ulasan lengkap, googling saja ya. 

 Hari pertama fisioterapi, saya ditemani oleh Dd Irsyad. Kk Rasyad kebetulan masuk sekolah sampai pukul 14.00. Jadi saya usahakan sudah tiba di rumah sebelum Kk pulang. Jika tidak sempat ketemu, kunci rumah sudah saya titipkan pada Mbak Titin yang menjaga toko untuk kemudian diambil oleh Om Ojek jemputan Kk.

Lagi disinar
Lagi digetar



  















   Beres fisioterapi, sampai di rumah ternyata Kk Rasyad sudah selesai mandi dan bersiap pergi mengaji. Kk bilang, dia habis mengisi air ceret, menaruhnya di atas kompor, lalu memasak air panas sendiri untuk mandi! Dan dia sendiri yang menggotong ceret air panas ke kamar mandi lalu menuangkannya ke ember! Haduh Ka...itu kan bahaya, Nak. Jangan diulangi ya.

Hari kedua fisioterapi
Hari kedua (5 Februari), Kk memaksa ingin ikut. Jadi saya menunggu sampai Kk pulang sekolah, makan siang sebentar di rumah, lalu berangkat ke rumah sakit. Syukurlah cuaca tidak hujan meskipun mendung. Kalau hujan yah tetap harus berangkat naik angkot (plus pakai payung).

Ikut naik ke atas tempat tidur (difoto pas mesin terapi lagi udahan).

   Kk membawa majalah Bobo yang baru diantar ke rumah. Sementara Ibu difioterapi, Kk anteng membaca majalah. Sesekali Kk ikut iseng mengerjai saya yang sedang diterapi. Selama terapi berlangsung, Kk dan Dd ikut nangkring di atas tempat tidur bersama Ibu. Karena mereka berdua tidak bisa diam dan selalu bercanda, saya harus mengingatkan mereka berkali-kali untuk berhati-hati agar tidak jatuh dari tempat tidur.


Hari ketiga fisioterapi
Hari ketiga (6 Februari) bertepatan dengan hari Jumat. Seperti biasa, saya pergi bersama Dd. Kunci rumah dititipkan lagi supaya Kk bisa berganti pakaian dan makan siang (sudah disediakan di meja makan) sepulang sekolah.

  Pulang dari fisioterapi saya menemukan aneka pisau, sendok kayu, dan peralatan dapur lainnya yang mempunyai gagang digeletakkan begitu saja di dapur. Tidak lama, Kk bercerita bahwa dia mengumpulkan 'senjata' yang diambil dari dapur dan menaruhnya di dekat jendela kamar saat Kk menunggu kami pulang (lalu dikembalikan lagi ke dapur). "Untuk apa?" tanya saya. "Buat jaga-jaga kalau ada penjahat!" Duh, rupanya Kk takut ditinggal di rumah sendirian. Maafin Ibu ya, Nak...

Hari keempat fisioterapi
Hari Sabtu (7 Februari) Bapa libur kerja. Alhamdulillah, anak-anak jadi ada yang menjaga di rumah. Saya pergi ke RS naik angkot, lalu menelpon Bapa saat fisioterapi sudah selesai. Bahkan kami berdua masih sempat pergi berbelanja obat ke pasar Anyar. Karena tangan saya sakit, belanja obat tidak bisa saya lakukan sendiri. Jadi saya harus ditemani Bapa setiap Sabtu jika ingin pergi belanja. Nanti tangannya sakit lagi dong, kalau gotong belanjaan sendiri lagi.

Bolos satu hari
Hari Minggu (8 Februari) saya skip alias bolos fisioterapi. Nggak apa-apa diselang satu hari, kata terapisnya. Jadi saya bisa tenang menemui Aa Dilshad, menjemput dan memulangkannya kembali ke pesantren seperti biasa. Hari Minggu adalah hari spesial untuk keluarga kami menengok Aa di pesantren.

Hari kelima fisioterapi
Hari Senin (9 Februari), rumah bocor parah! Hujan yang tidak berhenti turun sejak subuh membuat bagian belakang rumah yang sedang direnov mengalami kebocoran parah. Terpal pelindung tidak sanggup lagi menampung air hujan yang terus turun. Akibatnya, byuurr...bak air terjun, dinding dan plafon mengucurkan air! 

  Duh, mana tukang yang ditunggu tidak kunjung datang. Memang sih, kalau mereka datang juga tidak ada yang bisa dikerjakan karena mengerjakan atap tidak bisa dilakukan saat hujan. Plus Bapa sedang ke luar kota pula! Darurat militer, saya telepon 911 Mbak Titin dan memintanya untuk segera datang membantu saya. Toko tutup dan diliburkan saja. Toh, kalau hujan juga sepi pembeli. Mbak Titin segera datang. Kami berdua bahu-membahu mengepel banjir di dalam rumah.

  Penasaran, saya naik tangga yang disandarkan di dinding untuk melihat kondisi genteng. Saya mengenakan jas hujan. Ternyata, debit air yang menggenang di atas terpal sudah terlalu banyak! Saya tidak mungkin membuang sendiri semunya. Kaki dan tangan saya masih sakit. Udara dingin membuat nyerinya semakin hebat. Akhirnya, saya minta tolong tukang ojek untuk membantu. Sepuluh ember lebih air berhasil dibuang oleh tukang ojek yang mengantar Kk Rasyad sekolah. Makasih ya, Om!

   Hujan rintik-rintik, saya yang semula memutuskan skip lagi fisioterapi tiba-tiba ingin pergi saja. Mumpung ada Mbak Titin yang menjaga anak-anak. Yak, cuss deh saya sore itu ke rumah sakit sambil hujan-hujanan. Kelewat satu hari boleh, tapi kalau dua hari berturut-turut sebaiknya jangan. Itulah sebabnya saya nekad berangkat.

Selesai fisioterapi, hujan sudah berhenti. Saya sampai di rumah menjelang maghrib. Alhamdulillah, kondisi rumah aman terkendali berkat hadirnya Mbak Titin. Kk dan Dd sudah rapi, selesai mengaji, dan makan cemilan sore. Makasih, Mbak Titin!

Hari keenam fisioterapi
Hari Selasa (10 Februari). Horee! Ini hari terakhir fisioterapi! Batin saya bergembira. Pada hari terakhir ini, saya sekalian bertemu dokter fisioterapi untuk evaluasi. Saya ditemani Dd, dan yah seperti biasa Kk saya tinggalkan di rumah sendirian sepulang sekolah.

   Ternyata, saya salah. Fisioterapi harus dilanjutkan enam kali lagi! Wow, jadi dua belas kali dong! Tapi fisioterapi lanjutan ini tidak perlu dilakukan setiap hari. Cukup selang sehari alias dua hari sekali saja. Juga ada tambahan fisioterapi, yaitu stretching.

Hari ketujuh fisioterapi
Saya datang lagi ke rumah sakit pada hari Kamis (11 Februari). Lagi-lagi saya membawa Kk dan Dd untuk menemani saya. Tentu saja, setelah menunggu Kk pulang dari sekolah dulu dong. Di dalam bilik fisioterapi, kedua anak ini berisik sekali! Mereka tidak henti-hentinya bercanda. Mbak dan Mas terapis, juga para pasien...maafin anak-anak saya ya sudah membuat keributan...

   Saya penasaran dengan terapi stretching. Ternyata terapi itu hanya exercise untuk stretching alias pergeangan saja. Kirain pakai alat yang ditarik-tarik atau gimana gitu. Jadi, kaki saya digerakkan berulang kali dan harus rutin diulang di rumah. Fungsinya untuk melemaskan otot yang kaku. Kebanyakan gerakan stretching memang tidak bisa dilakukan sendiri dan harus memeinta bantuan orang lain. Namun gerakan lainnya bisa dilakukan sendiri. Ada juga gerakan yang menggunakan alat bantu berupa handuk atau selimut tipis sebagai alat penariknya. Hmm...baiklah, nanti saya akan rutin teruskan ini di rumah.

Berhenti Fisioterapi
Lho, lho...kok berhenti, Mak? Iya. Sudah ah. Saya riweuh. Riweuh harus mondar-mandir ke rumah sakit naik-turun angkot dan ojek. Riweuh bawa anak-anak ikut ke rumah sakit karena tidak ada yang bisa menjaga mereka di rumah (riweuh juga pas ninggalin Kk Rasyad sendirian di rumah). Riweuh karena lagi ada tukang yang kerja merenovasi rumah. Terakhir, riweuh karena biayanya hehe. 
   
Alat fisioterapi ultra sound
  Yup, faktor biaya jadi kendala utama. Sekali fisioterapi mengeluarkan biaya Rp.235.000. Jika bertemu dokter, ditambah cepek lagi alias seratus ribu. Terapi stretching yang memakan waktu tidak sampai 10 menit biayanya Rp.40.000. Sedangkan terapi lain masing-masing ada yang Rp.70.000 dan Rp.80.000 untuk satu bagian badan yang diterapi. Jadi kalau tangan kanan dan tangan kiri diterapi, tinggal dikalikan dua saja. Lumayan kaan...

   Jujur, saya merasa fisioterapi ini tidak terlalu efektif karena saya tidak bisa diam! Mana mungkin saya duduk manis dan tidak berbuat apa-apa di rumah? Saya nggak betah lihat rumah berantakan. Bawaannya pengen bebenah melulu, hehe.Jadi pegang sapu dan pel lagi deh. Padahal tangan kan, masih sakit.

   Proses penyembuhan selanjutnya, biarlah saya jalani sendiri. Sok-sokan nerapi diri sendiri, hihi. Yang penting, sekarang saya nggak ngoyo lagi sama kerjaan di rumah. Habis nyapu, istirahat dulu. Lanjut ngepel, terus istirahat lagi. Atau nggak usah dipel alias cuma disapu doang juga nggak apa-apa, hehehe.

   Sekarang Bapa menemani saya setiap hari Sabtu untuk belanja stok obat. Jadi, tangan saya tidak membawa membawa beban berat lagi. Saat belanja ke tukang sayur di komplek, cara membawa kresek belanjaan dari tukang sayur adalah dengan dipeluk! 

   Terakhir, saya ingin menucapkan terima kasih banyak buat Mbak Idah dan Mbak Dewi yang sudah dengan sabar merawat saya di ruang fisioterapi. Insya Allah, nasehat dan anjuran Mbak Idah akan saya laksanakan untuk memperlancar proses penyembuhan.

   Sekian dulu cerita dari saya. Niat awal tahun mau gencar bikin postingan blog, eee malah stagnan istirahat sejenak. Mudah-mudahan nggak kelamaan ya istirahatnya. Doakan terapi lanjutan di rumah sukses membuat saya pulih seutuhnya yaa. Terima kasih sudah mampir dan membaca postingan ini  ^_^

8 komentar:

  1. Iya mak harus tuntas fisioterapi it....cepet sembuh ya makk muuahhh

    BalasHapus
  2. wah aku malahan bandel nih mak...ga fisioterapi padahal jalan kadang suka pincang...


    smoga lekas sembuh lagi ya mak..faktor u emang ga bisa boong ya

    BalasHapus
  3. Bener2 riweuh ya mak. Aku bisa ngerasain riweuhnya. Semoga cepat sembuh ya.

    BalasHapus
  4. telaten ya fisioterapinya,sehat lagi

    BalasHapus
  5. Lama tak bersua, ternyata teteh sedang sakit ya...
    Semoga lekas sehat ya teh...
    Riweuh dengan segudang aktifitas mah Insya Allaoh banyak pahalanya, aamiin :)
    Tisam untuk ketiga jagoan yak :D

    BalasHapus
  6. ayo mak dituntaskan terapinya..cepat sembuh yaa aamiin..mwahh :*

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah, makasih buat doanya semua, Mak2 yg baik :*
    Saya bandel nih. Akhirnya mangkir dari fisioterapi krna ga kuat riweuh plus biayanya :'( ...sampai skr masih suka nyeri kalo kecapean. Selanjutnya jadi jaga kesehatan aja biar ga terlalu capek.
    Semoga kita semua selalu dilimpahkan kesehatan yaa...aamiin.

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=