Sabtu, 27 Juni 2015

Kk Rasyad Muntah pada Hari Pertama Puasa


Halo! Apa kabar? Selamat menjalankan ibadah puasa untuk teman-teman sesama muslim. Sudah menginjak hari kesepuluh bulan Ramadhan 1436 Hijriah. Gimana? Lancar puasanya kan? Mudah-mudahan bisa terus menjalankan puasa sebulan penuh dan merayakan kemenangan di hari Lebaran nanti. Aamiin. 

  Pada awal puasa, ketiga anak saya ada di rumah. Aa Dilshad kembali dari pesantren. Pada hari keempat puasa, Aa kembali ke pesantren untuk mengikuti kegiatan ramadhan bersama teman-teman sekolahnya. Ada yang berbeda pada awal puasa tahun ini. Bapa mendapat tugas ke luar kota, yaitu ke Bima dan Malang. Jadi, tiga hari pertama puasa kami sahur tanpa Bapa. Sedih? Yah, mau bagaimana lagi. 

Aa Dilshad dan Cilu lagi bobok bareng.
  Kali ini saya mau cerita tentang anak kedua saya, Kk Rasyad, yang mendadak muntah-muntah saat berpuasa. Kesalahannya adalah karena Kk makan sedikit saat sahur dan terlalu lelah bermain. Berikut ceritanya: 

   Puasa hari pertama. Kk Rasyad semangat ikut makan sahur. "Kenyang..." katanya saat menolak suapan dari saya. Kk memang masih saya suapi. Biar makannya banyak. Tapi saat sahur itu, Kk makan cuma sedikit. "Ayo, makan lagi. Biar nggak laper pas puasa nanti." Kk tidak mau menuruti perkataan saya. Setelah shalat subuh, Kk pergi bermain dengan anak-anak tetangga. Kk terus bermain hingga tengah hari. Saat saya pulang dari toko, terlihat Kk sudah tertidur. Pasti dia kecapean. 

   Jelang ashar, tiba-tiba Kk bangun dan mengeluh perutnya sakit. Ah, mungkin cuma lapar, pikir saya. Kk pun saya suruh tidur lagi. Menjelang beduk magrib, saat saya akan membangunkan Kk, tiba-tiba Kk muntah! Muntahnya cukup banyak dan mengotori tempat tidur. Segera Kk saya mandikan dan dibersihkan dari bekas muntah.

   Saat berbuka, Kk saya beri teh hangat manis. Setelah meneguk teh, Kk minta es kelapa muda yang sudah ia pesan untuk berbuka puasa. Saya larang, namun Kk tetap ngotot minum. Akibatnya, Kk kembali muntah hebat. Saya beri obat untuk mengurangi mual. Tidak mempan. Kk muntah lagi! Wah, nampaknya saya harus membawa Kk ke dokter segera! 

   Saya mencari tukang ojek yang tidak pergi shalat tarawih. Sebenarnya, di rumah ada mobil dinas dan sepeda motor. Duh, saya tidak bisa menaiki keduanya! Parah, ya. Untunglah tukang ojek yang saya telpon segera datang. Kami pergi ke dokter umum di depan komplek. 

   Setelah diperiksa, Kk diberi obat. Ditunggu beberapa menit, Kk masih mengeluh sakit. Obat lain diberikan untuk menghilangkan nyeri. Setelah itu, kami pulang. Sesuai perintah dokter, cukup berikan makanan sedikit saja. Yang penting ada makanan yang masuk. Jangan terlalu banyak. Tunggu sampai perutnya terasa nyaman baru bisa makan agak banyak. 
"Selimutin Kk, biar nggak kedinginan,"kata Dd

  Saya biarkan obat lambungnya bereaksi, menunggu sampai Kk minta makan. Ternyata, Kk malah tertidur. Suhu tubuhnya juga mulai naik akibat perut yang kosong. Setelah agak lama tertidur, Kk bangun dan saya suapi sedikit nasi dengan sayur sop. Kk minum obat setelah makan, lalu kembali tidur sampai pagi. Dahinya saya kompres untuk menurunkan suhu tubuh.

  Hari kedua puasa. Saya sahur hanya berdua dengan Aa. Pagi hari, kondisi Kk masih lemah. Saya buatkan bubur nasi. Kk hanya makan sedikit tanpa selera. Mau makan agak banyak, Kk mengeluh ingin muntah lagi. Baskom bersih saya siapkan di samping tempat tidur. Jika ingin muntah, Kk tinggal mengambil baskom tersebut. Saat makan siang, lagi-lagi Kk tidak bisa makan banyak dan mual. Syukurlah, Kk sama sekali tidak muntah. Dia menahan mualnya dan merasa sayang jika makanan yang sudah masuk dikeluarkan lagi.

   Bapa pulang dan tiba di rumah pada sore hari. Begitu datang, Bapa langsung mengecek kondisi Kk. "Bikinin havermut coba," kata Bapa. Ah, iya! Saya lupa kalau di dapur ada havermut alias outmeal. Masak sebentar, semangkuk kecil bubur outmeal alias havermut sudah tersaji. Untuk menambah rasa, saya tambahkan sari kurma. Terkstur bubur yang lembut, lebih lembut dari bubur nasi, membuat Kk mudah menelan dan memakannya. Duh, kenapa nggak kepikiran dari kemarin untuk kasih Kk havermut saja ya? Dasar emak riweuh.

   Beberapa menit setelah makan bubur havermut, Kk sudah terlihat bertenaga. Bahkan bisa mengunyah oleh-oleh dibawa Bapa, yaitu keripik tempe! Mungkinkah kondisinya langsung membaik karena bertemu Bapa? Bisa jadi ^_^

   "Nah, jadi kalau mau puasanya lancar, makan yang banyak ya!" itu jadi pelajaran buat Kk Rasyad. Setelah sembuh, Kk kini makan sahur dengan lahap dan banyak. Biar kuat puasanya! Sip deh!

Sekedar share, jika anak muntah-muntah karena perut kosong:

  1. Beri air putih hangat. Jangan teh manis hangat. Teh manis bisa memicu mual. Jika tetap ingin minum teh manis, beri gula sedikit saja. Istilahnya: manis jambu.
  2. Jangan minum es atau makan makanan dingin. Berikan minuman dan makanan hangat agar perutnya menjadi nyaman. 
  3. Beri obat untuk meredakan mual dan nyeri pada perut. Sebaiknya menyimpan obat khusus ini di rumah. Jadi bisa digunakan saat darurat, tanpa harus pergi ke apotek atau ke dokter.
  4. Biarkan obat lambung bekerja beberapa menit (setengah jam jika perlu). Setelah perut terasa nyaman, isi dengan makanan yang lembut dan mudah dicerna. Misalnya outmeal, bubur nasi, atau bubur bayi, juga kue regal yang diencerkan.
  5. Hindari makan makanan bersantan dan gorengan.
  6. Hentikan makan jika merasa mual. Biar saja makan sedikit. Nanti bisa makan lagi. Jangan dipaksakan. Sedikit tapi sering itu lebih baik.
  7. Banyak minum air putih hangat agar tidak dehidrasi.
  8. Istirahat yang cukup.
  9. Jika berobat ke dokter, minum obat yang diberikan sesuai jadwal. Ada beberapa obat yang harus diminum sebelum makan, pada saat makan, dan sesudah makan.
  10. Olesi perut anak dengan minyak kayu putih untuk membuatnya nyaman dan mengurangi rasa nyeri.
  11. Jangan panik  dan tetap siaga. Amati terus jika ada tanda-tanda akan muntah, Ibu atau Bapak bisa sigap menangani dengan cepat.

6 komentar:

  1. Semoga lekas sehat ya kk, biar bisa puasa lagi. Ayo dong belajar naik motor atau mobil, kan sering ditinggal bapa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, mak.
      Dulu udh pernah bisa bawa mobil. Gegara nabrak pager tembok, jd trauma :(
      Kalo bawa motor sy ga berani mak

      Hapus
  2. Wih, belum pernah ngalamin anak sakit saat suami dinas.
    Pasti panik ya, Mak.
    Sehat terus ya, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku udh biasa ditinggalin. pas anak sakit n suami ga ada, teuteup deg2an tapi sok cool gt di depan anak2.
      makasih doanya ateu pipit ^_^

      Hapus
  3. Terima kasih untuk tipnya. Sehat-sehat selalu untuk semuanya, ya :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=