Sabtu, 13 Juni 2015

Melompat dan Terjatuh dari Tempat Tidur



Sebagi orangtua, punya anak kecil harus siap mental menghadapi kondisi anak jika mengalami cedera. Entah cedera karena terjatuh, luka, terbentur, dan sebagainya. Namanya juga anak-anak. Mereka senang bereksplorasi. Demi memuaskan rasa ingin tahu, kadang mereka bisa celaka juga. Termasuk yang terjadi pada ketiga anak laki-laki saya. Mereka juga sering cedera secara bergantian. Sebagai seorang Ibu, saya termasuk orang yang gampang panik saat melihat buah hati terkulai tak berdaya atau sedang kesakitan. Kejadian terbaru adalah Dd Irsyad yang melompat dan terjatuh dari tempat tidur ke lantai. Tidak ada luka. Hanya efek jatuh tersebut membuat Dd harus menjalani pemeriksaan rontgen dan periksa darah! Kok bisa? Simak cerita berikut, ya.

   Pada hari Selasa tanggal 26 Mei 2015, saya sedang sibuk mengunting kain di ruang tengah. Sore itu, Kk Rasyad dan Dd Irsyad sedang bermain di kamar depan. "Bu, boleh main rumah-rumahan?" Saya mengiyakan dan membantu menata 'rumah' di kamar. Bukan rumah sebenarnya sih. Tepatnya: ubin yang dialasi seprei. Tembok rumah dibuat dari kursi yang ditidurkan. Ditambah bantal sebagai penutup bagian yang bolong, jadilah rumah-rumahan versi boyz. "Ibu nggak boleh masuk." pintu kamar ditutup. Lampu dimatikan. Emergency lamp dipakai sebagai penerangan. "Biar kayak bioskop." kata Kk. Saya pun membiarkan mereka berdua bermain dan kembali mengunting kain.

   Pada malam harinya, Dd bilang ingin dipijat oleh Bu Halimah, tukang pijat langganan keluarga kami. Saya pikir Dd hanya sekedar ngomong iseng saja. Pijatan Bu Halimah memang enak. Barangkali Dd sedang kangen ingin dipijat. Ternyata Dd sudah merasa tidak enak badan. Keesokan harinya, saya terkejut oleh tangisan Dd. Dd bangun dengan kaki yang kaku dan sulit digerakkan! Saya segera membawa Dd ke rumah Bu Halimah. Ketika ditanya, Dd mengaku jatuh dari tempat tidur saat bermain rumah-rumahan kemarin. Ditanya sekali lagi, Dd bilang dia melompat dari tempat tidur ke lantai! Mungkin dia pikir, lantai yang beralas seprei itu empuk. Ternyata tidak.

   Saya bingung. Kok jatuhnya tidak ketahuan? Saya kan ada di depan kamar. Kenapa Dd nggak bilang kalau jatuh? Kk Rasyad yang saya tanya sepulang sekolah juga tidak tahu kalau adiknya terjatuh. Saat bermain memang mereka tidak selalu berdua. Ada saatnya Kk bosan, pergi menonton tv di kamar tengah, dan meninggalkan adiknya di kamar depan sendirian. Hmm, berarti Dd jatuh saat Kk sedang menonton tv dan pintu kamar masih ditutup. Kenapa tidak ada bunyi gedebug saat jatuh? Bisa jadi karena lantai yang dialasi seprei meredam bunyi. Lantai yang tertutup seprei juga bisa Dd jatuh terpeleset karena licin. 

   Setelah jatuh, mungkin Dd tidak merasa sakit. Mulai terasa nyeri pada malam hari. Makanya Dd minta dipijat. Puncaknya yaitu saat bangun tidur. Badannya sampai miring dan sakit untuk digerakkan. Agar urat yang terkilir kembali normal, saya segera membawa Dd untuk dipijat. Biasanya setelah dipijat, badan tidak kaku lagi. 

   Dipijat habis jatuh itu beda lho rasanya dengan dipijat saat badan pegal-pegal. Jika badan pegal, dipijat rasanya nikmat sekali. Tapi kalau dipijat habis jatuh, aduh aduh rasanya sakit sekali! Dd sampai menangis kelojotan selama dipijat. Sakit. Pasti sakit sekali! 

   Bekas pijatan Bu Halimah menyisakan nyeri. Dd tidak mau disentuh pada bagian yang sakit, yaitu kaki kiri dan selangkangannya. Dd tidak mau bergerak dan jadi rewel. Hanya tiduran saja. Ke kamar mandi pun harus saya gendong dengan susah payah (tidak boleh tersentuh bagian yang sakitnya). Sepanjang hari, Dd hanya tiduran saja sambil menonton tv. Saya memutuskan tidak pergi ke toko dan menemani Dd sampai sembuh.

   Keesokan harinya, Dd masih belum mau beranjak dari tempat tidur. Menjelang siang, karena bosan akhirnya Dd mau turun dan berjalan sendiri. Jalannya pincang. Kelihatan sekali kalau dia sedang menahan nyeri saat berjalan. Ah, nanti juga jalannya normal sendiri, pikir saya.  

   Hari demi hari berlalu. Dd masih saja jalan pincang. Duh, gimana nih? Tepat lima hari setelah jatuh, Dd kami bawa ke rumah Aki Ape (paman Bapa) di Ciapus untuk dipijat Cimande.  Saat dipijat, Dd tidak menangis dan hanya meringis. Syukurlah. Sembuh ya, De. Begitu harapan kami semua.

Saat diurut oleh Aki Ape
   Keesokan harinya, tidak ada perubahan. Dd tetap berjalan pincang! Bapa, menyuruh saya untuk membawa Dd ke dokter ortopedi. Sayang, dokter ortopedi sudah pulang. Dokter baru praktek kembali pada hari Rabu. Maka, dua hari kemudian, saya membawa Dd untuk diperiksa ke dokter ortopedi atau bedah tulang. 

   Hari Rabu tanggal 3 Juni, Dd diperiksa ke Dokter Andi, dokter khusus ortopedi di RS Azra Bogor. Setelah dipanggil masuk dan menjelaskan kondisi Dd, dokter segera memeriksa Dd di atas tempat tidur. Kaki Dd diluruskan. Saat itu terllihat ada yang janggal. "Anak Ibu kakinya panjang sebelah. Lebih panjang dua sentimeter!" Deg! Jantung saya seolah mau copot mendengar diagnosa awal dari dokter. "Masa Ibu nggak merhatiin selama ini ada kelainan? Gara-gara panjang sebelah, anak Ibu jalannya jadi pincang." 

   Saya sedih sekaligus bingung. Bagaimana mungkin Dd punya kelainan dan saya sebagai Ibunya tidak tahu? Ibu macam apa saya ini! Banyak pertanyaan dan pikiran buruk berseliweran di kepala saya. Saya jadi lebih banyak diam karena menahan tangis. "Sebabnya apa, Dok? Dari lahir? Dia baru kelihatan jalan pincang pas jatuh seminggu yang lalu saja. Sebelumnya masih jalan seperti biasa." Saya berharap Dokter Andi memberi penjelasan yang menentramkan. "KIta bisa tahu setelah dirontgen dulu ya."

   Saya keluar dari ruang periksa menuju ruang rontgen. Selama proses rontgen, saya sudah tidak konsen lagi. Saya menahan diri untuk tidak menangis di depan Dd. Saya tetap mengajak Dd bercanda meski hati ini perih. Saat menelpon Bapa, saya sudah hampir menangis ketika mengatakan tentang kaki Dd yang panjang sebelah. Apa yang harus kami lakukan? Terapi? Bisakah Dd sembuh? Ya Allah, kenapa anak saya yang ganteng ini bisa punya kelainan? Saya galau.

   Hasil rontgen sudah selesai. Saya kembali ke ruang periksa. Dokter segera melihat foto rontgen Dd. Memang, terkesan kaki Dd panjang sebelah. Syukurlah Dokter Andi sangat teliti. Beliau mengambil alat ukur meteran jahit dan mengukur panjang tulang di foto. Hasilnya sama panjang! Penasaran, Dd kembali ditidurkan dan kemudian diukur. Panjangnya juga sama. Namun anehnya, kenapa saat kakinya ditekuk malah panjangnya jadi berbeda? 


Hasil rontgen Dd
Hasil rontgen Dd
Hasil rontgen Dd
  Dalam keadaan ditekuk, kaki kiri Dd terlihat lebih panjang dari kaki kanannya. Dokter  Andi menyarankan kami untuk membawa Dd ke dokter khusus ortopedi anak di RS Fatmawati Jakarta. Nanti akan dilakukakan pemeriksaan dengan peralatan yang lebih lengkap (yang tidak ada di RS Azra). Dan leganya lagi, beliau mencabut ucapan diagnosa awal tentang kaki Dd yang panjang sebelah. Dugaan sementara ada masalah pada tulang panggulnya yang menyebabkan kaki Dd jadi tertarik keatas dan membuat posisinya miring seolah panjang sebelah. Fiuh! Alhamdulillah. Dd bukan ada kelainan. Hati saya lega luar biasa.

Ssat menunggu dijemput Bapa di RS Azra
   Malam itu kami pulang dijemput Bapa. Bapa datang langsung dari kantor. Begitu bertemu, saya sampaikan betapa leganya perasaan saya karena Dd tidak ada kelaian. Ternyata bukan saya saja yang terpukul dengan diagnosa awal tersebut. Bapa juga ikut sedih setelah mendengar kabar tersebut lewat telpon. Ya, orang tua mana yang tidak sedih jika buah hatinya dibilang punya kelainan? Shock lebih tepatnya. Syukurlah dugaan tersebut tidak terbukti. Jika ada kelainan, mana mungkin kami tidak tahu. Kesannya kuran perhatian pada anak sendiri. Hiks. 

   Jadwal dokter ortopedi di RS Fatmawati baru ada pada hari Selasa dan Rabu. Berarti kami harus menunggu enam hari lagi. Selama proses menunggu itu, beberapa teman menyarankan agar Dd dipijat kembali. Tapi kami ingin kepastian dari dokter ortopedi dulu. Tidakan selanjutnya tergantung bagaimana hasil pemeriksaan dokter nanti. 

   Hari Selasa tanggal 9 Juni 2015. Bapa sengaja mengambil cuti untuk menemani saya memeriksakan Dd ke RS Fatmawati. Rumah sakit besar ini melayani BPJS.Tidak heran, suasananya ramai dan antriannya panjang. Kami datang pukul 9.30 dan langsung mendaftar. Ruang tunggu penuh oleh pasien yang bermasalah pada tulang. Banyak pasien dengan gips dan kursi roda. Supaya nyaman, saya dan Dd sengaja menunggu ditempat yang lebih sepi. Bapa tetap menunggu di depan ruang dokter ortopedi anak. Berjaga-jaga jika nama Dd dipanggil untuk diperiksa. 

Main coret-coretan selama menunggu
   Kami menunggu cukup lama, yaitu selama hampir dua jam. Pasien lain sudah mendaftar sejak pukul 8 pagi. Jadi, wajar saja kami dipanggil setelah ruang tunggu hampir kosong. Daftar paling siang, gitu lho! Ya iyalah. Kami kan menempuh perjalanan selama dua jam dari Bogor. Plus macet pula. Sulit bagi kami untuk bisa datang lebih pagi. 

   Akhirnya, nama Dd dipanggil jelang pukul 11.30. Dokter Faisal yang khusus menangani orto[edi anak menyambut kami. Setelah diceritakan kejadian jatuh hingga diperlihatkan hasil rongen, dokter segera memeriksa Dd diatas tempat tidur. Iya betul, kaki Dd sama panjang. Tapi saat ditekuk, panjangnya jadi berbeda. Kenapa bisa begitu? Setelah 'diotak-atik' dengan ditarik dan direntangkan kedua kakinya, Dokter  Faisal menyimpulkan ada masalah pada otot tulang panggulnya. Bahasa awamnya: engsel panggul tidak bekerja maksimal. Ototnya seolah tertahan sehingga kaki tidak bisa bergerak leluasa. "Ini pasti sakit." kata Dokter Faisal. 

   Dd juga disuruh berjalan. Sebenarnya, saat dibawa ke RS Fatmawati alias dua minggu pasca jatuh, cara berjalan Dd sudah mendekati normal. Masih agak pincang. Tapi tidak separah sebelumnya, dengan gaya berjalannya seolah sedang menyeret sebelah kaki. Bisa saja kami tidak meneruskan pemeriksaan. Toh jalannya Dd juga lama-lama jadi normal. Tapi kami adalah orangtua yang penasaran. Daripada ada sesuatu, lebih baik diperiksakan saja sampai tuntas.

  Dokter Faisal juga tidak mengatakan soal kaki yang panjang sebelah. Beliau menyimpulkan bahwa yang terjadi pada Dd adalah karena kekakuan otot. Penyebabnya bisa jadi karena jatuh, atau sebab lain yang belum diketahui. Sempat pula ditanyakan apakah Dd pernah panas tinggi. Saya jawab, "Pernah. Tapi hanya panas biasa." Agar lebih yakin, dokter menyuruh Dd untuk menjalani tes darah untuk mengetahui adanya infeksi atau tidak. 
Tes darah untuk Dd
   Hari sudah semakin siang. Adzan dhuhur berkumandang. Saya dan Bapa shalat dulu di mushola sebelum menuju laboratorium (lab) di gedung lain. Ternyata, ada beberapa pemeriksaan yang tidak tersedia di RS Fatmawati. Kami disarankan ke lab lain untuk pemeriksaan tersebut. Ya sudah, kami putuskan sekalian saja melakukan seluruh pemeriksaan di Lab.Prodia Bogor. Biar gampang ambil hasilnya.

  Sebelum ke Prodia Bogor, kami mampir ke rumah Kakek di Ciapus karena ada keperluan. Sekalian numpang istirahat dan ngopi. Ngantuk banget, euy! Kata Kakek, Aki Ape menayakan kondisi Dd, apakah jalannya sudah normal atau belum. Kalau belum, sebaiknya dipijat lagi. Bapa menjawab, "Nanti saja lihat hasil dari dokter." Kami belum berani mengambil tindakan sebelum mendapat kepastian dari dokter tentang kondisi Dd yang sebenarnya.

    Jelang sore, kami menuju Lab.Prodia di seberang Bogor Permai. Ternyata oh ternyata, ada satu pemeriksaan yang sudah dihapus di Prodia, yaitu anti TB. Kami harus pergi ke RS Hermina atau RS Azra untuk pemeriksaan tersebut. Duh, waktunya nggak keburu lagi nih. Kami sudah terlampau lelah. Jadi pemeriksaan yang kurang dilanjutkan besok lagi saja. 

Diambil darah dan tidak menangis! Anak hebat!

   Deg-degan! Nanti Dd nangis atau malah ngamuk ya? Diambil darah kan sakit. Waktu dipijat saja dia mengamuk karena kesakitan. Sebelum masuk ke lab, saya berkata jujur pada Dd tentang proses pengambilan darah. Jangan berbohong dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak sakit ya Bu, Pak. Nanti anak bisa trauma, bahkan mencap orangtuanya pembohong, "Katanya nggak sakit, kok ternyata malah sakit! Ibu (atau Bapak) bohong nih!"



  Kekhawatiran saya tidak terjadi. Dd duduk manis sendiri di kursi periksa. Dd tidak mau saya pangku. Saya hanya berlutut dihadapannya dan memegang tangannya. Ketika jarum masuk ke kulitnya, Dd hanya menjilati jemari saya untuk mengalihkan rasa nyeri. Anak hebat! Para petugas medis pun keheranan melihat reaksi anak yang satu ini, "Baru kali ini ada anak yang anteng diambil darahnya. Nggak nangis. Pinter ya, De!" Alhamdulilah.

  
  Dua hari kemudian, saya mengajak Dd untuk pemeriksaan darah yang terakhir. Sebelumnya, saya mengambil hasil tes darah di Lab.Prodia. Saya tidak mengerti arti angka-angka yang tertera di kertas tersebut. Ketika ditanyakan pada dokter jaga di Prodia, dokter tersebut mengatakan hanya Dokter Faisal yang boleh menjelaskan. Ok, baiklah. Maaf ya dok, saya cuma penasaran.



Hai rusa! Makan wortelnya cepet banget!
   Kami melanjutkan perjalanan menuju Lab.Kimia Farma Bogor. Sebelumnya, saya menelpon RS Azra untuk menanyakan apakah pemeriksaan lab anti TB tersedia di rumah sakit tersebut. Petugas medis di RS Azra menyarankan saya untuk pergi ke Kimia Farma.

   Sambil berganti angkot, saya ajak Dd mampir dulu melihat rusa di depan Istana Bogor. Dd senang sekali melihat rusa. Seikat wortel seharga seribu rupiah habis dengan cepat. Lanjut perjalanan lagi. Sebenarnya kalau berjalan kaki juga bisa. Tapi saya khawatir Dd kelelahan. Ditambah matahari cukup terik hari itu. Jadi naik angkot sebentar saja kami sudah tiba di Kimia Farma. Nah, inilah kami sekarang. Siap untuk pemeriksaan selanjutnya.
Selesai diambil darah lagi
   "Kenapa diambil darahnya nggak sekalian di sini aja. Bu? Kan kasihan anaknya jadi dua kali diambil." kata petugas medis yang menyambut kami di Lab.Kimia Farma.Aduh iya ya, kok nggak kepikiran begitu. Kami cuma ingin cepat-cepat diperiksa supaya hasilnya cepat keluar juga. Ya sudah, kepalang. Jadi pelajaran untuk lain kali. Etapi, semoga tidak ada lain kali deh. 

   Proses pengambilan darah dimulai. Saya diminta untuk memangku Dd. Seorang petugas medis membantu memegangi tangan Dd. Satu orang lagi mengambil darah dengan suntikan. Saya pikir prosesnya mudah dan cepat seperti di Prodia tempo hari. Ternyata, peralatan yang digunakan berbeda. Prosesnya juga lama! Duh, beda tempat ternyata beda gaya dan beda harga. Sabar ya, De. Untung saja Dd kuat menahan sakit dan tetap tenang saat diambil darahnya. 

   Kami diminta kembali pukul satu siang untuk mengambil hasil. Untuk menghabiskan waktu, saya ajak Dd naik angkot ke Pasar Bogor untuk membeli keperluan toko. Dari pasar, kami naik becak dan makan siang di Mc Donald. Selanjutnya, tinggal jalan kaki deh ke Kimia Farma. Masih ada waktu satu jam lagi. Saya ajak Dd shalat dhuhur di mesjid di belakang Kimia Farma. Jelang pukul satu, saya kembali ke Kimia Farma untuk mengambil hasil. Ya, sudah selesai. Kami segera pulang.

Hasil pemeriksaan darah
  Hasil pemeriksaan darah ini akan dibawa ke Dokter Faisal tanggal 23 Juni mendatang. Kok lama? Dokter Faisal bilang, selama dua minggu kami harus melakukan observasi. Jika terlihat Dd kesakitan, boleh diberikan paracetamol untuk penghilang nyeri. Semoga saja saat kunjungan nanti, cara berjalan Dd sudah kembali normal. Alias tidak ada kelainan. Mudah-mudahan cara berjalan Dd yang belum normal ini adalah murni karena 'kelebayan' Dd semata. Ayo Dd Irsyad, berjuang jalan yang benar ya!

   Anak-anak memang senang menantang bahaya. Dd lompat dari tempat tiidur ke lantai memang baru sekali terjadi (sebelumnya cukup melompat-lompat diatas springbed). Saya merasa kecolongan saat mengawasi anak bermain. Padahal saya ada di depan kamar saat kejadian. Hmm, lain kali kalau Dd menutup pintu saat bermain, pintunya akan saya buka lebar-lebar. Biar ketahuan kalau ada apa-apa. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan dokter ke RS berikutnya membawa kabar yang melegakan. Aamiin.

16 komentar:

  1. mudah2an cepat sehat ya :)

    BalasHapus
  2. Syukurlah bkn kelainan, senang dan ikut lega... Bener mak, anak2 emg suka bgt nantang bahaya,makasih sharingnya... Aku jg nih hrs waspada

    BalasHapus
  3. Semoga hasilnya baik ya. Anak2 memang penguji kesabaran & ketabahan kita. Insya Allah cinta tulus ortu meluluskannya. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. makasih untuk doa dan komentarnya yg menyejukkan hati, mak Lusi sayang :*

      Hapus
  4. ini yang diceritain mbak inna kemarin ya, kebayang gimana lelah dan capenya mengurus pengobatan si Dede, cepet sembuh ya sayang :D

    BalasHapus
  5. Aduuhh... gara2 jatuh ya mbak. :(
    kebayang deh ribetnya ke sana kemari. Saya yang membacanya ikut deg2an ada apakah & bagaimana hasilnya.
    Semoga cepat pulih ya De....

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. makasih doanya, mbak susi :*

      Hapus
  6. Salah satu resiko punya anak aktif ya mbak. Anak saya yg terkecil tuh. MasyaAllah.... aktif bener kemana2. Panjat2an pula. makanya ikut deg2an membacanya. Semoga takkan pernah terjadi.
    Dulu... di usia 4 tahun memang pernah jatuh dari lantai 2 mbak. Alhamdulillah tak terjadi apa2. Kata yg lihat, "Seperti ditampani malaikat" Saya panik dan nangis panik karenanya. jatuh dari ketinggian sekitar 4-5 meter mbak, dan taak berdarah/patah tulang. sungguh beruntung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Allah, jatuh dari lantai 2? aduh, ikut ngilu.
      iya betul, katanya ada malaikat yg melindungi spy tdk parah saat cedera.
      semoga anak2 kita dijauhkan dari bahaya ya mbak. aamiin

      Hapus
  7. semoga cepet sembuh ya mba Dd nya :)

    BalasHapus
  8. mudahan cepat sehatnya ya dd irsyad..ga ada nyeri2an .. bagus hasil observasinya, amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. makasih doanya, mak.
      sbnernya baru td malem dd ngeluh nyeri lagi. duh, bingung saya :(

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=