Selasa, 07 Juli 2015

Juara Kelas Bukan Segalanya


Sari tertunduk lesu. Dia terisak di pojokan kelas setelah acara bagi rapor usai. Beberapa teman menghampirinya. Mereka bisa menduga apa yang menyebabkan Sari menangis. Sari adalah anak paling pandai di kelas. Bapak wali kelas baru saja mengumumkan peringkat juara kelas. Sari tidak lagi juara satu. "Aku nggak juara kelas. Aku ranking dua. Hu hu huu..." 

   Ini adalah kisah nyata yang terjadi ketika saya duduk di bangku SD. Saya adalah teman sekelas Sari. Saat itu, saya hanya memandang Sari dari kejauhan. Berusaha memahami perasaan Sari. Wah dapet juara dua aja sedih. Aku aja nggak pernah juara kelas. Mungkin begitu ya rasanya jadi juara yang kalah.

  Tiba-tiba, Wanda, masuk ke dalam kelas sambil menari kegirangan. "Horeee! Aku dapet hadiah! Mama kasih aku hadiah! Raporku ranking satuu! Ranking satu dari belakaangg!!!" Sontak semua anak yang di dalam kelas ikut tertawa. Sari pun terhibur dan tergelak. Wanda memang selalu dapat peringkat terakhir di kelas. Ranking buntut, katanya. Beberapa kali Wanda nyaris tidak naik kelas karena rapornya 'kebakaran'. Mungkin Wanda mendapat hadiah karena nilai-nilainya kali ini membaik, meski tetap ranking terakhir.

  Dua puluh tahun kemudian, Sari dan Wanda tumbuh dewasa. Keduanya menjadi wanita karir yang sukses. Sari bekerja di bank. Wanda bekerja kantoran di perusahaan kontraktor ternama. Jadi, kesuksesan seseorang tidak berpengaruh pada juara kelas saat di sekolah. Bisa jadi, Wanda belum menemukan bakatnya saat masih SD dan selalu tertinggal dalam pelajaran. Namun, Wanda punya kemampuan sosial yang baik. Itu yang mendukung kesuksesannya saat ini.

    Berkaca dari peristiwa itu dan beberapa contoh kisah nyata lainnya (nanti panjang kalau saya ceritakan di sini semua), saya tidak menuntut anak-anak saya menjadi juara kelas. Saya tahu, belajar itu susah. Terutama bagi saya yang otaknya pas-pasan. Tuntutan jadi juara kelas bisa membuat anak tertekan. 

   Saat Aa Dilshad jadi juara kelas pada semester 1 dan 2 di kelasnya, tentu saja saya dan Bapa sebagai orangtuanya ikut bangga. Namun saya tidak mau peringkat juara ini membuat Aa jadi stres. Kenapa? Dulu saya pernah cerita tentang Aa yang masuk kelas akselerasi. Namun karena alasan kesehatan, Aa mundur dan masuk kelas reguler. Keluar dari kelas akselerasi artinya kehilangan kesempatan lulus SMP dalam waktu dua tahun. Saya khawatir, Aa merasa terbebani sebagai mantan anak akselerasi yang mengharuskan ia jadi nomer satu. Mudah-mudahan sih, ini hanya kekhawatiran saya saja. Semoga Aa rajin belajar tanpa beban. 

   Meski Aa tidak berhasil melanjutkan kelas akselerasi, Aa ternyata masih diperhitungkan untuk mengikuti lomba mewakili sekolahnya. Di kompetisi sains nasional, Aa jadi cadangan dan tidak berangkat. Meski begitu, pelatihan selama proses seleksi itu sudah jadi prestasi buat Aa. Saya pun menghiburnya meskipun tidak terpilih. Menurut saya, Aa sudah hebat karena dipanggil untuk ikut pelatihan. Jadi, Aa jangan patah semangat dan terus rajin belajar.
Saat lomba cepat tepat (tim Aa di sebelah kiri)
   Pada kesempatan lain, Aa adalah satu-satunya murid kelas reguler yang ikut kompetisi cepat-tepat acara yang diadakan oleh SMAN 1 Bogor. Peserta lain adalah dari kelas akselerasi dan kelas khusus. Alhamdulillah, Aa dan timnya meraih juara tiga. Hebatnya, juara satu dan dua juga berasal dari sekolah Aa. Jadi, saat babak final malah melawan teman-teman sendiri. Hadiahnya? Uang tunai yang dibagi tiga dan voucher makan pizza. Voucher diberikan kepada Aa karena dua temannya tidak bermukim di pesantren. Kasihan, yang tinggal di pesantren jarang makan pizza, hihi.

Aa dan teman satu tim cepat tepat
Sebelum Aa bertanding cepat tepat, saya mengantar Kk Rasyad mengikuti kompetisi Olimpiade Sains Quark. Sama seperti Aa waktu SD, Kk juga lolos ke babak semifinal. Senangnya bisa mengalahkan ribuan anak lain di seluruh Indonesia! 

Kalianlah Saintis Masa Depan! Aamiin.
Kk Rasyad serius mengisi jawaban
   Mengikuti lomba bagi anak-anak itu bagus. Anak jadi belajar berkompetisi, semangat berprestasi, dan melatih jiwa sportif bila kalah dalam lomba. Meski di rumah saya tidak banyak piala yang tepajang, saya tetap bangga pada prestasi mereka. Satu lagi, jangan paksa anak ikut lomba yang tidak dia sukai. Ajak anak ikut lomba sesuai dengan bidang yang dia minati. Dengan begitu, anak akan menjalaninya dengan riang dan tanpa beban. 

 Sama seperti Olimpiade Sains Kuark yang Kk ikuti. Kk suka sains dan percobaannya. Usai menguras otak untuk mengisi lembar jawaban, para peserta bisa ikut perlombaan bermain sambil belajar tentang sains. Salah satunya, lomba memindahkan air yang Kk ikuti dan meraih juara tiga. Hadiahnya? Kalender dan mainan dari batang es krim sudah membuatnya kegirangan.


Lomba memindahkan air
   Ngomong-ngomong percobaan, di rumah saya juga sering dilakukan percobaan sains. Entah sudah berapa telur dan botol cuka yang jadi korban. Garam dapur, kertas, botol plastik, lilin, korek api, apa lagi ya. Terserah deh kalian mau bikin percobaan apa saja. Puaskan rasa ingin tahu kalian. Buatlah rumah berantakan! Dan memang, rumah saya adalah rumah yang paling berantakan dibandingkan dengan rumah tetangga. Ya iya lah, saya punya tiga anak laki-laki! Tiga! Satu aja sudah bikin berantakan. Apalagi ada tiga. Semuanya tidak bisa diam! Mana pernah rumah saya terlihat rapi, hahaha!

Melukis di kertas warna dengan kutex Ibu
  Nyambung soal nggak bisa diam. Point ini membuat Kk Rasyad kehilangan peluang jadi juara kelas di sekolah saat bagi rapor kenaikan kelas kemarin. Berdasarkan nilai ulangan, Kk meraih posisi pertama. Namun saat dijumlah dengan nilai-nilai yang lain, Kk tidak masuk tiga besar. Nilai paling lemah adalah disiplin di kelas. Menurut wali kelasnya, Kk masih pecicilan di kelas dan tidak bisa diam. Komentar Bapa, "Nggak apa-apa pecicilan. Dari pada diem aja. Mecurigakan nantinya..." Hihihi iya, Ibu juga nggak keberatan kamu pecicilan. Ibu juga tahu, meski pecicilan, Kk itu anak yang pintar dan cepat mengerti pelajaran baru.

   Di rumah, saya tidak pernah memaksa anak untuk belajar terus menerus. Saat ulangan saya hanya mengingatkan mereka dan menemani belajar. Jika ada yang tidak dimengerti, mereka akan bertanya. Disela waktu bermain, anak-anak saya juga belajar lewat buku-buku yang saya belikan. Ya, sebisa mungkin tanamkan minat baca pada anak sejak dini. Dengan membaca, banyak ilmu baru di luar pelajaran sekolah diperoleh. Membaca buku memperkaya pengetahuan anak. 

   Saya dan keluarga suka sekali pergi ke toko buku. Kami sering nongkrong lama bahkan sampai ndeprok numpang baca buku seperti pada foto di bawah ini: 
Aa dan Kk waktu kecil. Ndeprok di toko buku
   Satu lagi yang penting untuk menunjang prestasi anak di sekolah: jangan abaikan pendidikan agama. Agama itu penting. Tanpa agama, seorang yang jenius sekalipun bisa hilang arah. Bagi saya yang beragama Islam, pendidikan agama bertujuan untuk membentuk ahlaq yang baik, perilaku yang baik. Tentang pendidikan ahlaq, sila googling sendiri, ya. Saya bukan pakarnya. Bicara tentang ahlaq, ada spanduk di sekolah Aa untuk memotivasi para muridnya agar berahlaq baik. Tulisannya adalah:
  • Pendirianmu adalah iman Islammu.
  • Tanpa tahajud, shalat sunat, puasa sunat, tadarus, wirid, dan tanpa zikir, jangan harap kamu berahlaq.
  • Manusia akan menyesal di kemudian hari karena ahlaqnya.
  • Peliharalah akhlaqmmu, jannah tempatmu.
  • Peliharalah akhlaqmu, jaga mulutmu untuk masa depanmu.




21 komentar:

  1. Aku setuju dengan dirimu. Yang penting jadi juara di kehidupan, bukan di kelas ^_^

    BalasHapus
  2. Sekarang di beberapa sekolah juga tidak menerapkan lagi peringkat/juara kelas, pokoknya hanya nilai saja - walaupun bisa dibilang membuat anak tidak ada greget kompetitif.

    Saya sebenernya tidak terlalu menentang mengenai juara kelas, orangtua juga dulu tidak menuntut, yang penting semua pencapaian yang didapat murni dari hasil jerih payah - bukannya perbuatan curang.

    Btw salam kenal ya mak, sudah saya follow blognya, ditunggu folbekannya hihihi..

    *kayaknya kita uda saling follow di twitter, ya ga sih?? (langsung ngecek)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo di sekolah kk cuma diumumkan tiga besar. sisanya boleh tanya wali kelas kalau masih penasaran ranking. sampai skr, aku ga tahu sebenernya kk tuh ranking berapa krna ga anggap penting.

      salam kenal kembali, mak noniq. blog n twitternya jg sdh kufollow :)

      Hapus
  3. aku juga membiarkan anak-anak belajar apa yang diinginkannya. saat anak perempuanku ingin masuk IPSpun aku setuju saja , padahal banyak temannya yang mengejeknya ngapain masuk ips. Begitu juga pilihan jurusan kuliah aku atk pernah memaksa atau menargetkan harus punya IP berapa. Apalagi saat amsih anak-anak, aku lebih suka mereka bermain di luar

    BalasHapus
    Balasan
    1. kejadia yg sama dg kakak sepupu yg cerdas n memilih jurusan tdk favorit di ptn. bnyk yg menyayangkan. kini karirnya sukses krn dijalani sesuai dg minat.

      Hapus
    2. kejadia yg sama dg kakak sepupu yg cerdas n memilih jurusan tdk favorit di ptn. bnyk yg menyayangkan. kini karirnya sukses krn dijalani sesuai dg minat.

      Hapus
  4. Betul Mak, juara memang bukan segalanya. Selalu jadi juara bukan jaminan sukses di masa depan. Yang penting mah, kita fokus pada minat anak. Kalo sudah begitu mah pasti ada jalan dan rezekinya. Makanya sekarang, aku juga gak terlalu ngoyo sama rangking anak d sekolah. Yang penting mereka enjoy, bisa ngikutin pelajaran/tidak tertinggal, dan fokus pada minat.

    Btw, aku follow blognya, Mak. Yuk saling follow. #fakirfollowerberaksi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mak nia :)

      iya, sdh difolbek jg #idemfakirfollower :D

      Hapus
  5. Dapet juara dua harusnya seneng ya mak, susah tuh dapetinnya hihihi. EMnag bener juara kelas bukan segalanya. Mungkin si anak ngga juara dalam hal akademik, tapi punya kelebihan di bidang lain, nah itu yang harus diasah dan dikembangkan lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. susahh...makanya sayah ga dapet2 :D

      Hapus
  6. memang mak juara kelas ga penting yang penting juara kehidupan huahahah eh tapi IMHO sih yah juara kelas itu lumayan memacu motivasi belajar anak lho :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, terpacu jd juara, asal jng terpuruk ketika tdk sesuai harapan :)

      Hapus
  7. Si bungsuku jg di akselerasi, tp sma nanti sepertinya biar masuk reguler saja spy lbh enjoy mengembangkan diri spt kakaknya. Kalau maksa anak lomba itu akibatnya bisa fatal. Anakku pernah terpaksa ikut suatu lomba lukis krn pernah juara di kodya. Anakku sdh bilang nggak mau, tp dipaksa juga. Akibatnya, satu kertas lomba itu dibloknya dg warna ijo, cuma ijo. Habis itu dia bilang, "Mah, udah selesai." Wkwkwkkk mau pingsan aku nglihatnya. Nggak ngerti mesti ngomong apa sama bu guru.

    BalasHapus
  8. haloo mak, masih riweuh kah dengan 3 jagoannya? hihiii

    sebel ya terkadang kalo ada ibu2 yang mengeluh tentang juara kelas hiks, kasian ke anak2 nya. Padahal kan belon tentu yang ga juara mungkin ada bakat lain :D

    yang terpenting anak2 selalu juara di hati orang tuanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. halohaa mak nchiii
      setujuh, yg penting dirimu tetap dihatikuu #eaaa

      Hapus
  9. Bookmark ah..aku praktekin ke ken nanti...tengkiu sharingnya y mak..
    3 anak laki2..uwow... :)

    BalasHapus
  10. Setuju mak sama tulisanmu. Aku selalu nyemangatin anak anak jika ada kompetisi. Juara atau ngga jadi juara, respon aku tetap sama, seneng. Dengan mereka berani ikut kompetisi aku artikan mereka udah lolos ngatasi sifat malu2nya

    BalasHapus
  11. Betul mak, pendidikana karakter lebih penting dari gelar juara

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=