Sabtu, 28 Mei 2016

Bermain di Kidzania


Bermain di Kidzania ini dalam rangka piknik sekolah TK Dd Irsyad pada tanggal 6 April 2016. Nggak sempat posting karena... lupa. Baru ingat setelah ada kehebohan undangan gratis main ke Kidzania untuk para blogger. Saya tidak ikut mendaftar karena pada tanggal tersebut sepertinya sedang riweuh di rumah menjelang persiapan puasa. Selamat bersenang-senang untuk para emak blogger yang terpilih untuk mengajak anak-anaknya bermain di Kidzania! 

Foto bareng di bus
   Kidzania adalah tempat rekreasi berkonsep edutainment untuk anak-anak. Dibangun menyerupai kota beserta gedung-gedung dan aneka macam jenis profesi yang bisa dicoba oleh anak-anak. Lokasinya ada di  Mall Pacific Place lantai 6, Jalan Jendral Sudirman Kav 52-53 Kawasan Niaga Sudirman (SCBD) Jakarta.

  Kembali ke cerita Dd Irsyad bermain ke Kidzania. Dia sangat bersemangat untuk segera berangkat! Mau dibangunkan lebih pagi dari biasanya supaya tidak ketinggalan bus. Perjalanan dari Bogor ke Jakarta pada jam kerja memakan waktu cukup lama karena macet. Tiga bus yang berjalan beriringan pun sempat terpisah karena sesuatu hal. Bus kami, yaitu bus 1, tertinggal di belakang. Ketika hampir sampai, bus kami terkena pengalihan jalur lalu lintas. Kedua bus di depan berhasil lewat dan sampai lebih dulu di lokasi. Sedangkan bus kami terpaksa memutar dan baru sampai setengah jam kemudian.

Ayo, antri yang tertib!

  Pihak Kidzania sudah mengambut kami sejak turun dari bus. Mulai dari menggiring anak-anak dalam barisan, lalu mengantar kami  melalu pintu khusus ke arena Kidzania yang berada di lantai atas Mall Pasific Place. Ketika sampai ke depan pintu masuk Kidzania, petugas mengumumkan tata tertib bermain di Kidzania. Lho, ada peraturannya, ya? Jadi sebelum masuk, ada beberapa barang yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam arena bermain. Pengunjung yang membawa barang-barang 'terlarang' tersebut dipersilakan menaruhnya di 'kandang' khusus bertulisakan nama sekolah masing-masing di sebuah ruangan. Larangan tersebut adalah:
  1. Pengunjung tidak boleh membawa makanan dari luar. Semua makanan dan cemilan harus disimpan di tempat khusus dan bisa diambil kembali setelah selesai bermain di Kidzania. 
  2. Dilarang membawa botol air mineral yang menggunakan merk tertentu. Misalnya botol air minum merk Aqua. Minuman yang ditaruh di gelas tupperware atau tempat minum yang sering dibawa untuk bekal ke sekolah masih diperbolehkan. 
  Waduh, kebetulan saya membawa botol Aqua di dalam tas. Terpaksa deh, disita eh disimpan di luar Kidzania. Kenapa nggak bawa botol minuman biasa? Saya pikir biar praktis saja, setelah minum botolnya tinggal dibuang. Nah, buntutnya saya terpaksa harus membeli air mineral di dalam kawasan Kidzania seharga Rp.12.000 per botol. Lumayan... eh lumanyuunn...

  Saat mengantri bersama rombongan di depan pintu masuk Kidzania, saya sarankan untuk TIDAK BEPENCAR. Meskipun untuk alasan ke toilet. Sabar saja dulu, di dalam Kidzania juga ada toilet. Lokasi toilet di Mall Pasific Place agak jauh dari pintu masuk. Sudah pasti memakan waktu untuk ke toilet dan kembali ke depan gerbang Kidzania. 

  Ada kejadian anggota rombongan yang tertinggal. Salah satu papa dari murid TK A tidak bisa masuk karena ditinggal rombongan saat ke toilet. Terhambat masuk karena kuota rombongan kami dikatakan sudah closed. Tidak berhasil menemukan panitia, untunglah ada satu orang tua murid yang bersedia membantu dengan membayarkan secara tunai dan sang Papa berhasil masuk. 

Gedung-gedung di Kidzania
  Horee! Kidzania! Kami datang! Eh, tunggu dulu, kok banyak sekali manusia? Pengungjung Kidzania pada hari itu SANGAT RAMAI. Sampai pake capslock. Saya yang baru pertama kali ke Kidzania langsung bingung. Antara grogi diantara kerumuman banyak orang dan bingung mau main apa. Semua wahana antriannya panjang! Mau masuk, tidak semua wahana bisa dimasuki oleh Dd Irsyad dan teman-temannya. Ada batas minimal 6 anak barulah bisa bermain di wahana yang dikehendaki. 

  Tidak kompaknya kedatangan rombongan TK kami menimbulkan masalah. Dua bus sebelumnya sudah duluan masuk dan menikmati permainan. Pengelompokan anak-anak yang sudah direncanakan sebelumnya gagal terlaksana. Rencananya anak-anak akan dibagi dalam beberapa kelompok untuk memudahkan koordinasi. Tiap kelompok terdiri dari sekitar 10 anak dengan dua orangtua murid sebagai PJ (penanggung jawab). Saya dan Mama Ihsan ditunjuk menjadi PJ kelompok 1 (saya lupa nomor kelompoknya). Tentu saja, anak-anak kami, yaitu Dd Irsyad dan Ihsan ada di kelompok yang kami berdua asuh.

  Sebentar, bukankah anak-anak sudah dibagi per kelompok sebelum berangkat? Kelompok Dd Irsyad yang saya pegang pada ke mana ya? Saya dan Mama Ihsan kebingungan. Anggota kelompok kami entah ada di mana. Pembagian kelompok tidak berlaku. Menelpon ibu-ibu panitia pun percuma. Nggak bakal kedengeran. Suasana terlalu ramai. Semua ibu sibuk dengan anaknya masing-masing. Kacau.

  Lima belas menit pertama sungguh menyebalkan. Anak-anak digiring ke sana ke mari. Mencari wahana yang agak sepi dan bersedia menerima mereka. Saya pun sempat panik karena tidak punya kelompok. Numpang nebeng di kelompok lain juga tidak diterima karena jumlah mereka sudah pas. Sedih. Emak sedih...

  Minta tolong pada bu guru yang masih single saja deh. Ibu guru lain yang membawa anaknya pasti sudah riweuh masing-masing. Nah, Bu Nur, bu guru yang saya buntuti ternyata bingung juga karena baru pertama kali masuk ke Kidzania seperti saya. Rombongan kami sudah seperti permainan ular naga karena saling bergandengan memanjang agar tidak terpencar. Boo... padat skali!

Permainan pertama

Setelah grabak-grubuk mencari wahana yang bisa dimasuki tanpa antri lama, kami memutuskan untuk menggiring anak-anak masuk ke wahana belajar sulap. Akhirnya bisa masuk juga! Para ibu yang dari tadi ikut tegang menuntun anak-anak boleh bernapas lega sejenak. Alhamdulillah....

Wahana belajar sulap

Menonton pertujukkan sulap

   Batasan umur dan minimun jumlah anak yang boleh masuk untuk setiap wahana menjadi kendala buat kami. Setiap ingin masuk ke satu wahana, kami pasti membaca dulu keterangan yang tertempel di depan pintu. Selain usia dan jumlah rombongan, ditulis juga berapa lama permainan berlangsung. Ada juga jam penujuk waktu berapa lama kegiatan akan berakhir. Jadi kita bisa memperkirakan kapan giliran kita dari antrian yang ada. 

Kiri: wahana pabrik roti. Kanan: wahana hotel
   Sempat mengintip wahana lain yang berdekatan dengan wahana belajar sulap. Ada artist academy yang mengajak anak-anak berkeliling bermain marching band. Ada pabrik roti yang tentu saja anak-anak diajak membuat roti dan boleh membawa pulang hasilnya. Lalu ada wahana hotel yang mengajarkan anak-anak untuk praktek menjadi staf hotel. Sayang, wahana yang menurut saya menarik ini batasan umurnya tidak sesuai untuk anak TK. Memang lebhi cocok untuk anak-anak yang lebih besar. 

Permainan kedua

Selanjutnya, apa lagi yang kosong? Nah ini lumayan nih! Kegiatannya sudah hampir selesai dan tidak ada yang mengantri. Hup, kami langsung menempel di dekat pintu masuk. Kita jadi penyiar radio, yuk! Tidak lama kemudian, anak-anak pun bergegas masuk untuk mengikuti permainan setelah rombongan sebelumnya selesai. Saya pun bernapas lega...

Siaran radio
  Orangtua atau pendamping tidak diperbolehkan masuk ke dalam wahana dan hanya menunggu di luar saja. Maka, kami cukup puas mengintip anak-anak dari balik kaca dan mendengarkan suara mereka yang sedang siaran. Ngomomg apa sih, De? Mereka cuap-cuap memperkenalkan nama masing-masing. Suara mereka terdengar malu-malu, ngegemesin deh! 

Jadi penyiar radio

  Oia, saat sedang siaran, saya melihat ada fotografer yang masuk dan  memotret anak-anak satu per satu. Belakangan, saya baru tahu kalau foto tersebut bisa kita beli sebagai souvenir dari Kidzania sebagai kenang-kenangan. Sebelum pulang, saya menemukan foto Dd Irsyad di satsiun radio ini. Ada satu foto lagi di wahana pemadan kebakaran, tapi posenya kurang menggemaskan. 

  Oia, fotonya bisa diunduh sehari setelah kunjungan ke Kidzania, lalu akan dihapus dari websitenya setelah 30 hari. Sayang, saya bolak-balik tidak bisa menemukan foto Dd Irsyad meskipun sudah benar memasukkan kodenya. Dua hari berturut-turut mencoba dan gagal, saya jadi malas dan kemudian riweuh yang lain.  Yah, sudahlah...

Permainan Ketiga

Wah, ini kelihatannya seru! Pemadam kebakaran! Anak-anak diajak naik mobil pemadam kebakaran mini berupa bak terbuka sambil berkeliling area Kidzania. Tapi lihat, antriannya panjang sekali! Nggak apa-apa, deh. Toh di semua wahana juga antriannya sudah mengular. Saya pun mendudukkan Dd Irsyad bersama teman-temannya di emperan wahana pemadam kebaran sambil mengamati setiap sesinya yang seru itu.

Wahana pemadam kebakaran
Duduk pasrah menanti giliran bermain

    Setelah menanti selama setengah jam, tiba giliran rombongan Dd Irsyad bermain menjadi pemadam kebakaran. Demi mempersingkat waktu, anak-anak langsung disuruh memakai seragam pemadam kebakaran dan tidak ada acara briefing. Bagus deh, mereka ini kan anak TK. Mereka belum paham penjelasan panjang lebar tentang apa itu pemadam kebakaran bla bla bla. Mereka hanya mau naik mobil dan menyiram air. Apalagi kondisi fisk sudah lelah setelah lama mengantri.

   Tapi, tunggu dulu, lho kok anak-anak tidak diajak naik mobil pemadam kebakaran? Mereka langsung diajak menyiram gedung yang terbakar lalu kembali lagi untuk mencopot seragam. Selesai. Lha? Ketika saya protes dan menanyakan pada petugas Kidzania, jawabannya adalah mobil pemadam kebakaran tidak bisa berkeliling karena sedang ada grand opening sebuah wahana. Keramaian di depan wahan tersebut membuat mobil pemadam kebakaran tidak bisa melintas. Duh, gemes banget deh! Justru anak-anak maunya naik mobil pemadam kebakaran. Bayangkan  betapa kecewanya mereka...

Kesal tidak jadi naik mobil pemadam kebakaran

Dd Irsyad menyemprot air untuk memadamkan api

Ayo, padamkan apinya segera!

  Untunglah Dd Irsyad cukup senang bisa bermain air untuk mematikan 'api' di sebuah gedung yang terbakar. Dia lupa dengan kekecewaannya gagal naik mobil pemadam kebakaran. Seandainya rombongan kami datang lebih cepat, Dd Irsyad dan taman-temannya pasti masih bisa naik mobil pemadam kebakaran *dibahas lagi*

Istirahat makan siang

Makan siang dulu. Saat mengantri lama di wahana pemadam kebakaran, saya dan Mama Ihsan mengambil jatah makan siang kami di tempat yang sudah disediakan. Beres bermain pemadam kebakaran, langsung saja saya kembali ke tempat makan untuk beristirahat dan menyantap nasi plus ayam goreng tepung dan nugget. Makanan ini sudah satu paket dengan tiket rombongan dari sekolah. 

Paket makan siang
   Dua nasi kotak untuk anak dan orang tua ternyata berbeda isinya. Untuk saya ada dua potong ayam goreng yang sedikit dilumuri mayones. Nggak ada nuggetnya. Rasanya lumayan. Maklum, saya sudah lapar banget.

Permainan keempat

Selesai makan, saya lihat ada wahana interior design. Coba lihat lagi batas umurnya. Eh, asyik! Dd Irsyad bisa masuk! Yuk, moms, kita ajak anak-anak masuk ke sini! Beberapa anak pun ikut masuk bersama Dd Irsyad. Yah, lumayan. Wahana ini nggak pakai antri karena sepi. 
Keterangan di depan wahana

  Main apa di wahana desain interior? Saya tidak tahu karena tidak bisa mendengarkan pengarahan petugas Kidzania kepada anak-anak di dalamnya. Masih mengintip di balik dinding kaca, saya lihat mereka asyik mencorat-coret tembok. Dengan cat khusus, hasil coretan mereka bisa dihapus kembali. Kok bisa? Tentu saja bisa, kan pakai produk cat andalan dari sponsor wahana ini.

Corat-coret tembok

Permainan kelima

Mulai berkeliling lagi. Seperti biasa, kami mencari wahana yang sesuai dengan umur anak-anak, yang antriannya nggak panjang, plus yang sudah mau selesai permainannya (kelihatan dari papan waktu yang menunjukkan permainan akan selesai berapa menit lagi). Pilihan jatuh pada wahan pom bensin. Pengen tahu juga gimana rasanya menjadi petugas pengisi bensin. 

Memakai seragam dan pengarahan

Ayo, isi bensin di sini!

Mulai dari angka nol ya, Pak.

Permainan keenam

Selanjutnya, kami mengajak anak-anak untuk bermain menjadi petugas pembersih kaca jendela gedung. Anak-anak masuk ke dalam gondola kecil dan naik ke atas untuk membersihkan kaca gedung. Naiknya nggak tinggi banget kok, cuma sekitar 2 meter kalau tidak salah. 
Hore! Kami naik ke atas!

   Entah mengapa, rombongan mulai terpencar dan menyisakan saya bersama Mama Ihsan dan Mama Cila. Perbedaan minat mau main apa membuat satu dua anak mulai mencari rombongan yang lain untuk masuk ke wahana yang mereka inginkan. Nggak apa-apa cuma bertiga. Kan bisa gabung dengan rombongan lain di wahana yang lain.


Irsyad, Cila, dan Ihsan. Ciluukk baaa!

Bosan bermain di lantai satu, sebenarnya saya berkali-kali mencari tanggga ke lantai dua. Tapi tidak ketemu! Lho, bukanya ada papan petunjuk yang bisa dibaca? Heu, saya terlalu lieur dengan manusia yang berlimpah ruah seperti ini. Boro-boro mau baca papan petunjuk, mau jalan aja susah! Kalo nggak hati-hati bisa terserempet taxi atau bus Kidzania yang lewat. Menggandeng erat tangan Dd Irsyad sambil berjalan cepat lumayan bikin ngos-ngosan juga. 
Papan petunjuk jalan

Mejeng dulu ah...

Permainan ketujuh

Akhirnya, ketemu juga jalan ke lantai dua. Kami melewati wahana pilot pesawat terbang yang gagal kami masuki karena umur anak-anak tidak sesuai. Sebelum masuk Kidzania, beberapa orang tua murid yang sudah pernah mangajak anak-anaknya ke Kidzania menyarankan untuk main ke lantai dua terlebih dahulu karena lebih sepi. Sayang, berhubung dari awal saya sudah panik dan tangga nggak ketemu, jadilah kami berkutat di lantai satu terlebih dahulu. Rombongan bus pertama sudah lebih dulu bermain di lantai dua ketika kami baru sampai. Usai menjelajah di lantai dua, barulah mereka turun dan kami berpapasan saat saya akan naik ke lantai dua. 

   Ada wahana apa saja di lantai dua? Eh banyak juga ternyata! Satu-satunya wahana yang menarik perhatian saya adalah wahana apoteker! Hey, Dd Irsyad, kamu harus masuk ke sini, HARUS! Haha, emaknya maksa banget. Yah siapa tahu Dd Irsyad nanti berminat menjadi apoteker dan meneruskan usaha toko obat yang saya kelola. Sampai sekarang saya memang belum bisa naik level menjadi apotek karena banyak kendala. Maybe someday, salah satu dari 3 boyz mau jadi apoteker di Apotek Trisad. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa, Ibu nggak maksa juga kok. Cuma ngarep, hihi.


Petunjuk di pintu wahana apoteker

   Oia, saya yang tadi berenam dengan Mama Ihsan dan Mama Cila serta anak masing-masing, bertemu dengan rombongan  sekolah TK kami yang sedang mengantri di depan wahana ini. Kebetulan jumlah rombongan mereka kurang tiga orang lagi. Pas bukan? Setelah mengantri sambil lesehan di depan pintu, akhirnya anak-anak bisa masuk, mengenakan seragam, lalu duduk menyimak pengarahan berupa tayangan di televisi.

Menyimak materi memlaui tayangan di tv

Si ganteng di balik dinding kaca

  Setelah sesi pengarahan yang memakan waktu lumayan lama (menurut saya), anak-anak diajak untuk meracik obat di labolatorium. Asyik, ngulek obat nih ceritanya! Saya memberi kode kepada Dd Irsyad untuk duduk di dekat kaca. Biar gampang difoto. Tapi Dd Irsyad nggak mau dan keukeuh memilih duduk di pojokan. Ya sudahlan :D



Mari meracik obat!

Dd Irsyad duduk di pojok  belakang

  Aih, senang dong Bisa meracik obat. Nanti bikinin Ibu obat ya, hehe. Terus, mau main ke mana lagi kita? Sempat melirik wahana di seberangnya, yaitu wahana pabrik nugget. Seru juga kayaknya nih. Anak-anak belajar bikin nugget sendiri. Hasil masakan mereka nanti boleh dibawa pulang, Asyik ya! Sayang , durasi bermain di wahan ini cukup lama. Melihat antrian yang ada di depan pintunya sudah bikin ilfil.

Wahana pabrik nugget

  Di pojok lantai dua, ada wahana pabrik coklat. Sayang sedang tutup. Wahana pabrik minuman teh kemasan di sebelahnya tidak ada yang mengantri. Namun permainan masih berlangsung. Menurut cerita orangtua murid yang pernah ke Kidzania, jika sedang tidak ramai anak-anak diberi satu miuman teh kemasan selesai bermain. Karena hari ini sedang LUAR BIASA RAMAI, anak-anak cukup mencicipi seteguk teh kemasan saja. Hmm, jadi males masuk ke situ. Jalan-jalan ke tempat lain aja,yuk!


  Banyak juga wahana permainan di lantai dua ini. Bahkan ada wahan untuk anak berusia tiga tahun. Kayaknya sih belajar disko atau bernyanyi gitu. Jelas Dd Iryad tidak tertarik meskipun wahana itu terlihat sepi. Wahana lainnya ada pabrik buku tulis, pabrik sepatu, pabrik air mineral, tukang jahit, dan agen rahasia. Yang terakhir keren nih. Sayang, usia Dd Irsyad belum memenuhi syarat. 


Searah jarum jam: wahana pabrik buku, pabrik air mineral, 
tukang jahit, agen rahasia, dan pabrik sepatu

  Rencana bermain ke wahana pabrik sepatu urung dilakukan karena anak-anak sudah kelihatan lelah. Mau main ke wahana pabrik mie, kami sudah malas mengantri. Hmm, cuma dapat main di tujuh wahana saja capeknya minta ampun! Capek? Iya lah, capek mondar-mandir mencari permainan yang pas untuk anak-anak TK ini. Seharusnya, saya punya peta biar nggak bingung mau main apa saja dan tahu lokasinya ada di mana. Biar terencana akan main apa saja, hemat waktu, dan lebih efektif sehingga banyak wahana yang bisa dimainkan. 

   Sebelum turun ke lantai satu, saya melihat wahana yang menarik, yaitu presenter televisi! Iseng, saya lihat studionya kosong karena anak-anak sedang menyimak pengarahan di ruang siaran. Selain studio dan ruang siaran, ada juga ruang make up untuk persiapan sebelum tampil di depan tv. Wah, keren. Tapi... lagi-lagi anak-anak kepentok pada persyaratan umur. Tidak menyerah, saya minta tolong kepada mbak petugas untuk numpang foto di studionya yang keren tersebut. Eh, ternyata boleh! 

Numpang nampang jadi presenter televisi

Emaknya ikutan narsis :D

   Oia, saya lupa bilang bahwa setiap menyelesaikan satu permainan, anak-anak akan 'dibayar' dengan uang Kidzania. Wah, berasa gajian ya! Tentu saja anak-anak merasa senang bisa dapat uang dari hasil pekerjaannya sendiri. "Eh asyik, gajian!" seru saya usai numpang nampang di studio tv dan ternyata mbak petugas memberi sejumlah uang kepada anak-anak. Padahal mereka kan nggak beneran ikut bermain di wahana ini. Makasih banyak ya, Mbak!

   Waktu menunjukkan pukul dua siang. Sudah waktunya kami berkumpul dan pulang ke Bogor. Sebelum berkumpul, saya sempat mampir dulu ke mushala untuk shalat dhuhur. Saya sempat mengintip  beberapa wahana yang menjadi favorit anak-anak. Salah duanya adalah wahana kantor polisi dan dokter gigi. Dari segi umur, kayaknya sih anak-anak bisa masuk ke wahana dokter gigi tersebut, tapi mereka nggak mau. Lagipula kalau mereka mau masuk, antriannya panjang banget. Syukur deh, kita pulang aja ya.

Wahana kantor polisi dan dokter gigi

 Berhubung saya masih penasaran karena Dd Irsyad gagal naik mobil pemadam kebakaran, saya mengajak Dd untuk naik mobil taxi atau bus Kidzania. Mau naik taxi, eh sudah closed katanya. Mau naik bus, sopirnya bilang nggak buka lagi karena sudah kloter terakhir. Terakhir? Iya, pukul dua adalah batas terakhir kendaran bus Kidzania beroperasi. Mereka mau off dulu. Situasi hari ini memang membuat bus seolah tidak berhenti mondar-mandir menganggkut penumpang. Huft, gagal deh naik mobil keliling Kidzania. Emaknya yang kecewa. Anaknya mah nyantai aja, haha.

   Berdasarkan perbincangan saya dengan sang sopir bus Kidzania, ternyata hari ini pengunjung yang datang hampir seluruhnya adalah rombongan sekolah. Promo tiket murah masuk Kidzania dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak main ke tempat ini beramai-ramai. Mau tahu ada berapa sekolah yang datang pada hari itu? Enam belas sekolah! Enak belas! Anggap saja tiap sekolah membawa rombongan sebanyak 100 orang. Kalikan dengan enam belas. Yup, ada 1600-an manusia. Belum lagi yang datang secara pribadi dan memanfaatkan promo ini. Hmm... mungkin ada dua ribu manusia? Nah, bisa kebayang nggak padatnya seperti apa? Cihuy banget pokoknya deh.

   Akhirnya, waktu berkumpul sudah tiba. Anak-anak berbaris dan petugas Kidzania menggiring mereka turun ke bus melalui pintu khusus. Kami para orangtua dilarang mengikuti anak-anak. Orangtua diminta lewat melalui pintu depan dan turun ke tempat parkir melewati Mall Pasific Place. Duh, bak induk kehilangan anak ayam, kami para ibu ini merasa cemas! Meski tahu anak-anak ada di tangan petugas Kidzania yang bertanggung jawab, tetap saja kami deg-degan menunggu anak-anak keluar dari gedung. Anakku dimana...anakku dimana... berasa jadi orang gila di serial si Unyil, deh. Ketika mereka muncul, bukan main girang hati kami! Berasa sudah terpisahkan sekian lama. Padahal cuma nggak ketemu lima belas menit doang. Yah, begitulah emak-emak :D


  Kesimpulan, main di Kidznia itu menyenangkan. Di kidzania, anak bisa mengetahui beragam profesi. Mereka bermain peran menjalankan profesi tersebut dan pekerjaan yang dilakukannya. Anak juga diajarkan bahwa ada upah yang dibayar untuk setiap pekerjaan. Jadi mereka bisa merasakan sebuah penghargaan atas kerja keras yang mereka lakukan. Disamping itu, mereka bisa menghargai orangtuanya yang bekerja dan mencari uang untuk mereka.

Tips persiapan sebelum masuk ke Kidzania:
  1. Jangan membawa makanan dari rumah.
  2. Jangan membawa minuman dalam botol kemasan air mineral. Bawalah minum dalam wadah botol yang biasa dibawa untuk bekal ke sekolah. Bisa di wadah tupperware misalnya. Ada yang menyarankan membawa tempat minum yang bertali untuk dikalungkan di leher anak. Tapi menurut saya itu justru mengganggu gerak mereka. Dampingi saja anak-anak selama bermain. jika mereka haus, bisa meminta minum kepada orangtuanya.
  3. Gunakan baju dari bahan yang nyaman. Yaitu kaus dan celana panjang. Untuk anak perempuan saya sarankan tidak memakai rok agar bisa bergerak lebih bebas.
  4. Membawa tas selempang kecil untuk tempat menaruh uang. Gunanya agar uang yang dietrima usai bermain tidak tercecer. Tenang saja, di Kidzania tas selempang dari bahan plastik dijual bebas kok.
  5. Jangan lupa sarapan, ya! ini penting mengingat aktivitas fisik di kidzania yang bisa menguras tenaga. Tapi jangan khawarir, ada banyak makanan yang dijajakan yang bisa disantap ketika perut lapar. 
  Kapan-kapan saya pasti akan kembali lagi ke Kidania karena Kk rasyad belum pernah diajak ke sana. Tapi nanti saja ya. Tunggu Dd Irsyad agak lebih besar sedikit. Biar nggak rugi dan lebih banyak wahana yang bisa dimainkan. Dalam kunjungan kali ini, Dd Irsyad termasuk sedikit bermain di Kidzania. Ramainya pengunjung menjadi penghambat. Lain kali kalau mau datang ke sini jangan pas harga promo deh. Kapok!

  Dulu, Aa Dilshad sudah pernah ke Kidzania waktu kelas 5 SD kalau tidak salah. Saat itu Aa tidak oleh ditemani oleh orang tua murid. Dia bercerita menaiki wahana mobil balap dan mendapat SIM. Saya lupa wahana apa lagi yang Aa mainkan. Tapi saya tahu, Aa senang dan menikmati bermain di Kidzania. 

   Sekian dulu liputan bermain di Kidzania. Maaf kalau kepanjangan. Mengajak anak-anak bermain adalah waktu yang berharga untuk menjalin kedekatan bersama mereka. Kelak kenangan bermain bersama orang tuanya akan dikenang anak hinga ia besar nanti. Terakhir, jangan gengsi dan merasa jaim untuk menenteng tas anak seperti duo emak narsis berikut ini ^_^

Me and Mama Ihsan (foto: Mama Ihsan)

14 komentar:

  1. semoga bisa mampir kesini kelak bersama si kecil :)

    BalasHapus
  2. Batasan umurnya brp Mbak? Pengen ajak Maxy ksini tapi kan adiknya jg pasti ngekor hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada wahana u anak umur 3 th, tp cuma sedikit. buat anak TK usia 4 th spt Dd Irsyad jg lumayan banyak. lebih enak lagi kalo anaknya umur 8 tahun, sepertinya semua permainan bisa masuk :)

      Hapus
  3. Kebayang gimana ramenya Kidzania yang biasanya udah rame. 7 wahana itu udah lumayan lho. Kelamaan antrinya sih daripada mainnya. Kalau ke sana sama ponakan rasanya ingin ikutan main

    BalasHapus
    Balasan
    1. 7 udah lumayan ya. perasaan kurang banyak *kepingin emaknya*
      iya, anak2 udah capek antri duluan. lain kali harus dateng lagi pas sepi

      Hapus
  4. faiz sudah kepingin banget masuk dan main ke Kidzania,

    BalasHapus
    Balasan
    1. tunggu agak gedean dikit, faiz :)

      Hapus
  5. Andai ada kidzania di Surabaya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah2an nanti ada di surabaya :)

      Hapus
  6. Sering dengar tentang kidzania gini. Sayangnya belum pernah ngajakin si kecil ke sana :( Semoga suatu saat bisa deh..ini main2 sesuai profesi gini seru banget. Anak saya pasti suka deh

    BalasHapus
  7. selalu seru kalau ke sini. Bukan hanya anak-anaknya tapi juga mamanya ya mba hehehe

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=