Rabu, 19 April 2017

Dirawat Bareng di Rumah Sakit


Halo! Lama nggak update blog. Beberapa hari yang lalu, saya dan Bapa lumayan riweuh karena Kk Rasyad dan Dd Irsyad dirawat di rumah sakit. Waktu masuknya memang nggak barengan. Tiga hari pertama, Kk Rasyad dirawat duluan. Menyusul Dd Irsyad. Mereka berdua kena DBD (Demam Berdarah Dengue). Syukur alhamdulillah, kondisi fisik mereka cukup kuat ketika dirawat sehingga masa pemulihan bisa berlangsung lebih cepat tanpa khawatir terjadi kondisi kritis yang ditakutkan.

   Mulanya saya mengira Kk Rasyad hanya kecapean dan demam tinggi seperti waktu dirawat di rumah sakit sebelumnya. Hari Rabu sore (5/4) Kk panas tinggi. Hari Kamis (6/4) saya tinggal pergi karena menemani Dd Irsyad outbond ke Ciseeng. Pulang outbond pada sore harinya, Kk masih panas tinggi dan kondisinya mulai drop. Langsung saja saya bawa ke Rumah Sakit Azra di Jalan Pajajaran Bogor. 

   Ketika membawa Kk ke rumah sakit, saya sekalian mengemas pakaian. Bukannya ge er pengen anak dirawat. Tapi ini demi kepraktisan saja. Karena Bapa sedang dinas ke Palangkaraya, kalau seandainya Kk dirawat nanti siapa yang menyiapkan pakaian alias harus balik lagi ke rumah?

   Benar saja, Kk Rasyad memang harus dirawat. Bukan karena demam biasa, tapi karena hasi tes darah menunjukkan Kk positif terkena DBD! Duh, sedih banget saya waktu itu. Apalagi Dd yang ditinggal di rumah dengan Mak Onih (art pulang pergi) yang saya minta untuk menginap. Belum pernah Dd ditinggal semalaman dan tidur dengan orang lain selain Ibu atau Bapa. Mau tahu reaksinya? Usai mengabarkan lewat telepon bahwa saya tidak bisa pulang, Dd mengamuk! Saya makin tertekan...

  Pada hari pertama itu, saya bersyukur karena dijenguk langsung oleh keluarga adik ipar yaitu Ateu Tita dan suaminya Om Age. Kiriman makan malam benar-benar suatu berkah karena saya sangat kelaparan dan tidak bisa keluar untuk membeli makanan. 

  Malam itu, malam pertama Kk di rumah sakit adalah malam yang terpanjang untuk saya. Kondisi badan yang sedang kurang fit, ditambah kelelahan usai pergi outbond, ternyata tidak membuat saya bisa beristirahat. Kondisi Kk yang tidak mau makan dan minum serta demamnya yang tinggi membuat saya terjaga semalam suntuk untuk mengawasinya. Saat begadang itulah, ditengah kondisi fisik yang lemah dan pikiran yang kacau saya mulai membayangkan hal-hal yang buruk. Astaghfirullah...

  Setelah menangis dan berdoa semalaman, jelang pukul 6 pagi saya baru bisa tidur. Apalagi kondisi Kk mulai membaik ketika subuh menjelang. Dia bisa berbicara lagi dan mulai sadar. Alhamdulillah...

  Hari Jumat (7/4), hati saya lega karena mendapat kunjungan dari Kakek dan keluarga di kakak ipar di Ciapus. Bapa baru tiba di rumah sakit pada malam hari setelah menaruh koper sepulang dari bandara. Bapa membawa Dd. Saat bertemu, Dd langsung memeluk saya. Ah, maafin Ibu ya Nak...

  Hari Sabtu (8/4), saya beristirahat di rumah sementara Bapa menunggui Kk di rumah sakit. Sore harinya, saya menyusul ke rumah sakit bersama Dd. Saat di mobil Grab, Dd mengeluh badannya panas. Suhunya makin tinggi ketika kami tiba di rumah sakit. Tidak berlama-lama, setelah isya saya dan Dd pun pulang ke rumah. 

  Di rumah, demam Dd makin tinggi. Langsung saja pada hari Minggu pagi saya bawa Dd ke rumah sakit. Juga membawa pakaian untuk berjaga-jaga kalau Dd dirawat. Benar saja, Dd juga harus dirawat dengan penyakit yang sama! Padahal Dd baru saja pulih dari sakit cacar air. Duh, sedih banget...

A post shared by Emak Riweuh (@innariana) on

   
  Kondisi Dd mulai melemah. Dia pun langsung tertidur ketika sampai di kamar perawatan. Kami mendapatkan kamar yang bersebelahan dengan kamar Kk. Hmm, agak repot juga nih bolak-balik ke dua kamar ini. Ketika ada informasi kamar untuk dua pasien yang kosong, kami pun pindah pada sore harinya. Nah, kalau sekamar berdua gini jadi enak kan...  

Dirawat bareng

Nangkring bareng di kursi. Bosan di tempat tidur.

  Hari Senin (10/4) sampai hari Kamis (13/4) berikutnya, saya dan Bapa bergantian jaga di rumah sakit. Bapa bisa berangkat ke kantor dari rumah sakit pada pukul 6 pagi. Pada jam yang sama, saya sudah harus ada di rumah sakit, sebelum boyz bangun untuk mandi (dilap) dan sarapan. 

   Selama sakit dan dikurung di kamar, biar nggak bosan, boyz saya ijinkan mengunduh aplikasi games dan memainkannya secara online menggunakan wifi rumah sakit. Dengan perjanjian, setelah pulang nanti, game tersebut akan dihapus. Maklum, boyz memang saya batasi bermain game online. Mereka pun setuju dan kemudian anteng bermain game bareng.
Kk Rasyad lagi main game

Main game di laptop Ibu

  Eh tunggu, itu lagi pada main laptop. Memangnya Ibu bawa laptop ya? Duh maap, Ibu emang nggak bisa jauh dari laptop. Beruntung lagi nggak banyak kerjaan minggu ini. Cuma satu content placement aja yang Ibu kerjain waktu di rumah sakit. Selebihnya, boyz yang pakai laptop Ibu biar anteng, hehe.

   Menginjak hari kedelapan sejak awal demam dan setelah tujuh hari dirawat, Kk Rasyad boleh pulang dari rumah sakit. Fase kritisnya sudah lewat dan trombositnya mulai naik. Sedangkan Dd baru boleh pulang keesokan harinya. Meskipun trombositnya masih turun, tapi kondisi fisiknya baik dan nilai trombositnya masih di atas 100 ribu. Bisa ditingkatkan di rumah. Lagipula, Dd juga sudah masuk hari ketujuh, sudah aman.

Dd ogah difoto. Bekas cacarnya masih kelihatan tuh.
  Horee! Akhirnya boyz boleh pulang! Untuk merayakannya, sebelum Kk pulang, saya membeli big box Pizza Hut yang lokasinya ada di seberang rumah sakit. Kabar gembira ini patut untuk dirayakan. Alhamdulillah, semoga sehat terus ya my boyz...

4 komentar:

  1. Ya ampun gws buat Kk Rasyad dan Dd Irsyad :(

    BalasHapus
  2. kebayang riweuhnya Mak, sehat2 terus ya buat kk Rasyad dan dd Irsyad

    BalasHapus
  3. repot juga ya bu kalau sikecil masuk rumah sakit barengan

    BalasHapus
  4. emak riweuh jadi riweuh ya...semoga cepat bisa main kembali ya de..

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=