Selasa, 16 Mei 2017

Tips dan Trik Merencanakan Liburan Bersama Keluarga


Tidak terasa, sebentar lagi musim liburan. Bulan puasa sudah di depan mata. Usai berpuasa, ada libur Hari Raya Idul Fitri. Saat itulah banyak yang memanfaatkan momen pulang kampung untuk silaturahim bertemu keluarga besar sekaligus liburan. Disambung dengan libur kenaikan kelas, wah makin banyak saja waktu liburan untuk bisa traveling bersama keluarga

  Meski saya sekarang sudah tidak mudik lagi, momen libur Lebaran selalu dimanfaatkan untuk traveling. Sejak tinggal di Bogor pada tahun 2011, kami belum bisa traveling jauh karena riweuh ini-itu. Masih traveling di Jawa Barat saja. Paling jauh waktu nekad napak tilas ke Semarang, Solo, dan sedikit Jawa Tengah. 

   Bukan berarti kami sekeluarga nggak demen traveling. Demen banget malah! Cuma ya itu, ada sesuatu yang membuat kami belum bisa pergi jauh. Tiba-tiba, mulai bulan Mei 2017, kami ditakdirkan bisa bebas pergi ke mana saja! Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Langsung saja ide destinasi traveling terlontar dari kepala saya dan suami. So exited! 

  Begitu banyak rencana liburan bersama keluarga. Tapi, tentu saja kami berdua harus sabar karena dana yang diperlukan juga tidak sedikit. Itenary sudah disusun sebagian. Lalu mandek. Sekarang lagi fokus mikirin biaya masuk sekolah Aa Dilshad dan Dd Irsyad dulu, hehe.

  Menyalurkan rasa girang karena bisa bebas traveling bareng keluarga, saya datang ke workshop tentang traveling di Bogor. Apalagi temanya tentang Family Traveling dengan pembicara Mbak Tesya sebagai travel blogger ternama. Bertempat di Royale Cafe and Bakery di Jalan Siliwangi No. 43 pada pada tanggal 13 Mei 2017 kemarin, saya datang pada pukul 14.05 WIB. Namun acara baru dimulai satu jam kemudian karena menunggu para peserta yang terlambat karena macet.
   

A post shared by Emak Riweuh (@innariana) on

  Acara dibuka oleh Mbak Faya dari KitaIna. Oia, workshop ini diselenggarakan oleh KitaIna, yaitu sebuah wadah untuk berbagi tentang keindahan pariwisata Indonesia. Perkenalan tentang KitaIna disampaikan oleh Mbak Diyang. Kitaina juga membuka kesempatan untuk para traveler berbagi cerita perjalanan mereka di website www.kitaina.id. Selama menunggu acara dimulai tadi, saya sudah signin jadi membernya, lho.
Atas dan kanan bawah: Mbak Tesya dan Mbak Faya
Kiri bawah: Mbak Diyang
   Usai perkenalan, acara workshop dimulai. Mbak Tesya tampil sebagai pembicara. Ibu dua anak laki-laki berusia 10 tahun dan 8 tahun ini bercerita tentang kegemaran keluarganya melakukan traveling. Bahkan beliau mulai mengajak anak-anaknya traveling sejak umur 2 tahun! 

 Mbak Tesya menulis cerita traveling bersama keluarganya di blog www.tesyaskinderen.com. Sedangkan blog traveling satu lagi, yaitu www.tesyasblog.com khusus ditulis dalam bahasa inggris. Wow, keren! Mbak Tesya juga sudah menerbitkan 5 buku. Salah satunya buku yang menjadi goodie bag dalam acara ini. Ehm, tadinya saya punya rencana mau beli bukunya Mbak Tesya. Eh alhamdulillah dapat gratisan, hihi... makasih ya!


Why Family Traveling?

Kenapa sih, harus traveling bareng keluarga? Bawa anak-anak kan repot! Bahkan, ada teman saya yang sengaja tidak mengajak anak-anak untuk menghindari hal tersebut dan pergi traveling bersama pasangan atau teman-temannya saja. Duh, kalau saya mah nggak bisa banget ninggalin my boyz dalam waktu lama buat jalan-jalan seperti itu. Baru pergi ke pasar sendirian aja udah inget sama boyz di rumah, haha *lebay ah*

Mbak Tesya bersama suami dan anak-anak tercinta
  Ada juga yang berpendapat, “Buat apa repot-repot traveling bawa anak? Paling juga anaknya lupa!” Hmm, tahu nggak sih, anak-anak mungkin bisa lupa. Tapi pengalaman traveling itu pasti ada yang membekas di benaknya. Teringat Kk Rasyad masih ingat perjalanan kami dari Palangkaraya ke Banjarmasin. Padahal, usia Kk Rasyad saat itu masih 3 tahun. Atau, Dd Irsyad yang sampai sekarang masih ingat detail tempat menginap unik di Coconut Island, waktu traveling saat itu usianya 4 tahun.

Setuju banget sama quote ini!
  Saya sependapat dengan Mbak Tesya bahwa family traveling itu perlu banget! Sebagai working mom, beliau bilang bahwa dirinya perlu traveling untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Sedangkan saya sebagai emak yang mager di rumah (lebih sering bersama anak-anak) merasa perlu traveling sebagai suasana baru untuk menghabiskan quality time kami. 

Manfaat traveling bersama keluarga

Berikut manfaat family traveling menurut Mbak Tesya:
  1. Pengalaman (first hand experience)
  2. Keluar dari comfort zone
  3. Wawasan baru
  4. Menghargai perbedaan
  5. Berani dan percaya diri
  6. Waktu untuk keluarga
   Banyak banget ya manfaat family traveling! Dengan traveling bareng keluarga, anak-anak akan mendapatkan banyak hal baru yang tidak bisa mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Seperti cerita Mbak Tesya saat mengajak anak-anaknya backpacker-an, mereka akan merasakan pengalaman baru naik kendaraaan umum, menginap di penginapan seadanya, mencoba bertemu orang-orang baru, mencoba kuliner unik, dan sebagainya. Beneran, gaya begini memang asyik banget! Saya sudah membuktikannya saat mengajak 3 boyz ke Sukabumi dengan naik kereta dan angkot.


Merencanakan Liburan Keluarga

Sudah siap untuk liburan bareng keluarga? Bagi yang malas membawa anak-anak saat traveling, selain repot, masalah biaya jadi kendala utama. Iya, bawa anak-anak itu bak kita lagi traveling bawa ‘rombongan sirkus’, dijamin pasti repot alias riweuh. That’s why saya menyebut kami sekeluarga sebagai ‘pasukan riweuh’, karena memang begitulah rombongan kami: sepasang suami istri dengan tiga anak laki-laki yang pecicilan, haha!

  Soal biaya traveling, tentu saja jumlahnya lebih besar dibandingkan solo traveling dan traveling berdua pasangan atau bersama teman. Tiket dan akomodasi menyedot biaya yang paling besar dari budget yang disiapkan, yaitu mencapai 50%! Plus lagi, mau bawa anak-anak itu nggak bisa sembarangan tidur di emperan pas nggak punya duit. Anak-anak harus mendapatkan tempat istirahat yang nyaman selama traveling. Jadi, browsing dulu tempat menginap yang layak untuk anak-anak sebelum berangkat ya! Perencanaan itu penting banget!


1. Pemilihan Destinasi Liburan

Apa saja sih yang harus diperhatikan sebelum melakukan family traveling? 
  • Memilih tempat yang disukai anak-anak
  • Itenary yang fleksibel
  • Biaya liburan (transportasi, transportasi, akomodasi, biaya harian untuk makan, tiket ke tempat wisata, dan shopping).

2. Biaya Liburan

Tips menyiasati biaya liburan agar tidak membengkak:

A. Tiket pesawat: 
  • Membeli tiket pesawat saat travel fair 6 bulan sampai 1 tahun sebelumnya.
  • Ikuti akun sosmed airline favorit dan berlangganan newsletter-nya.
  • Follow komunitas traveling di sosmed.
  • Menjadi anggota airlines favorit dan mengumpulkan poin untuk ditukar dengan tiket pesawat gratis.
B. Akomodasi:
  • Rajin melihat pilihan hotel di situs hotel engine booking.
  • Membaca review traveler tentang hotel yang kita suka di travel blog atau di www. tripadvisor.com.
  • Membandingkan harga kamar di website hotel langsung vs online booking.
  • Sesuaikan lokasi penginapan dengan itenary liburan
C. Tempat wisata:
  • Riset tempat wisata ramah anak. 
  • Padukan tempat wisata gratis dan berbayar.

D. Alokasi budjet liburan:
  • Sisihkan dari bonus, THR, dan pemasukan non rutin lainnya.
  • Alokasi budjet liburan tidak mengganggu biaya primer rumah tangga
  • Jangan pernah liburan dengan berhutang!
Contoh merencanakan liburan ke pulau cinta Gorontalo. Perencanaan dari bulan juni 2016. Membeli tiket JKT-GRO di Garuda Travel Fair pada bulan Oktober 2016 dengan budjet dari THR. Biaya menginap di pulau cinta dari alokasi bonus akhir tahun. Berangkat liburan ke pulau cinta: april 2017.

3. Tiga langkah merencanakan liburan keluarga:

  1. Membeli tiket, memesan akomodasi
  2. Membuat itenary termasuk budget
  3. Membuat plan b, untuk antisipasi situasi dan perubahan rencana traveling.

4. Persiapan Liburan Keluarga

Persiapkan anak sebelum liburan, meliputi:

A. Briefing sebelum liburan
  • Beri gambaran seperti apa destinasi yang dituju (misalnya melihat di Youtube).
  • Berikan informasi yang jelas bagaimana jika seandainya terpisah dari orangtua.
B. Melatih anak dengan berolahraga. Misalnya dengan jalan kaki setiap akhir pekan selama satu bulan sebelum liburan.

C. Ekstra vitamin. Jika dibutuhkan, berikan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh anak.

D. Packing sebisa mungkin travel light. Tipsnya:
  • Kumpulkan informasi tempat yang akan dituju
  • Sesuaikan baju yang dipilih dengan kondisi cuaca
  • Mix and match
  • Libatkan anak saat packing
  • Berikan pengertian pada anak bahwa baju yang dibawa terbatas

10 Destinasi Wisata di Indonesia

Di akhir acara, Mbak Tesya sharing tentang tempat-tempat wisata di Indonesia yang wajib dikunjungi bersama keluarga, yaitu:
  1. Iboih in, Pulau Weh Sabang
  2. Pulau Bangka dan Belitung
  3. Lembang Bandung
  4. Glamping Tanakita Sukabumi
  5. Yogyakarta
  6. Museum Kereta Ambarawa, Umbul Sidomukti Semarang
  7. Malang
  8. Bali
  9. Komodo Island
  10. Pulo Cinta Gorontalo
Destinasi wisata incaran saya

  Wah banyak sekali tempat-tempat indah dan ramah anak yang bisa dikunjungi di negara kita. Foto-foto keren pemandangan tempat wisata yang ditampilkan oleh Mbak Tesya bikin kita pengen traveling ke tempat-tempat tersebut. 

   Usai penjelasan materi, sesi tanya jawab dibuka. Saya ikutan jadi lima orang penanya dan mendapat hadiah kaos dari KitaIna. Sekalian hadiah tiket pesawat gimana? Eh, ngelunjak hehehe.Senangnya pada workshop ini saya jadi tambah ilmu tentang merencanakan liburan keluarga dengan matang. 


Foto bareng Mbak Tesya
  Acara ditutup dengan foto bareng seluruh peserta pelatihan dan tim dari KitaIna. Terima kasih buat Mbak Tesya dan KitaIna. Sering-sering bikin acara di Bogor, ya!



   Travel begins with dreams. Tagline ini terpampang di www.tesyasblog.com. Dimulai dari mimpi, keinginan untuk pergi ke suatu tempat bisa tercapai suatu hari nanti. Dengan niat, perencanaan, dan ijin dari Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan kita diberi rejeki untuk bisa mewujudkan impian tersebut. 

   Seperti yang saya alami. Waktu kecil, saya punya mimpi ingin jalan-jalan keliling dunia. Siapa sangka, saya dapat jodoh suami yang pekerjaannya berpindah-pindah tempat tinggal. Dimulai dari Semarang, Banjarmasin, Solo, Denpasar, Bogor, Palangkaraya, Makassar, lalu kembali ke Bogor.  Keliling dunia belum, dapat rejeki bisa keliling Indonesia gratis adalah berkah yang luar biasa. Gratis? Iya, kan pindahan dibayarin kantor. Jadi mau mengunjungi lokasi wisata nggak keluar ongkos banyak, hehe.

Pasukan riweuh traveling ke Tana Toraja saat tinggal di Makassar

   Apa yang dikatakan Mbak Tesya tentang repotnya traveling dengan anak-anak memang saya alami sendiri. Pada beberapa kesempatan, saya pernah traveling hanya berdua dengan bayi saja. Sedih banget, deh. Nyaris susah mau ngapa-ngapain. Tapi saya pantang menyerah. Saya banyak meminta tolong pada orang-orang di sekitar. Salah satunya saat mau turun dari pesawat dan si Aa Dilshad bayi (umur 2 bulan) sedang lelap di pangkuan saya. Riweuh susah bergerak, saya meminta ibu di sebelah saya untuk mengambilkan tas dan bahkan mengancingkan baju saya yang kurang rapi sehabis menyusui.

   Begitu pula saat traveling membawa pasukan riweuh. Saya dan Bapa harus jadi pasangan suami istri yang kompak berbagi tugas. Biasanya saya kebagian tugas memegang anak yang paling kecil. Apalagi anak laki-laki itu nggak bisa diam. Kita dilarang meleng supaya mereka nggak ujug-ujung ngacir ke mana gitu. Kadang nyaris nyungsep di sawah atau ngeluyur ke pinggiran eskalator mall. Hadeuh, bikin jantungan! Ya nggak, Mbak Tesya?

   Tapi... dibalik semua kerepotan itu, ada rasa luar biasa yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Setelah traveling bareng anak-anak, tentu saja kita merasa lelah. Namun itu semua seolah tidak ada artinya melihat senyum ceria dengan wajah berbinar. Betapa bahagianya mereka karena mendapat pengalaman baru. Berulang kali terucap, "Nanti kita ke sini lagi yaa..." Atau, "Makasih ya Bu, udah nginep di tempat ini." Ah, priceless...

   Jadi, sudah siap merencanakan liburan bersama keluarga? Kami sudah siap! Salam manis dari pasukan riweuh yang siap menjelajah dunia, aamiin.

Welfie di Tangkuban Parahu

6 komentar:

  1. Ternyata kita samaan, gak bisa pergi tanpa anak-anak, pasti kepikiran mereka terus.hehehe
    Saya juga setuju, traveling bisa dijadikan alternatif cari suasana baru untuk family time. Bahkan anak-anak saya mah, lebih kompak kalau di luar rumah hihihi

    BalasHapus
  2. setuju mb sayangnya suamiku tuh mager banget diajakin kemanapun hahaha
    tapi sekalinya suami mau beuh dia betah dah ngajakin lagi.

    BalasHapus
  3. sepakat mbak, aku nggak biasa dan nggak nyaman kalo pergi tanpa anak-anak
    kepikiran terus bawaannya >.<

    BalasHapus
  4. Sama mbak, saya pun kalau travelling mesti komplit. Emang agak ribet sih, tapi tetap seneng lihat kebahagiaan anak2 diajak jlan2.

    BalasHapus
  5. Waah seneng baca ini, makasih udah sharing yah mba.. Tadinya aku mau ikutan acaranya pingin ketemu mba Tesya tp gak bisa.. Hukss.. Seru bgt mba sama 3 anak laki, riweuh pasti yah.. Hihi Aku 2 anak laki aja ampuuuuun mbaa.. :D Sepakat mba, pasti ada aja hal yg diingat meski anak masih kecil.. Anakku yg 4 taun pun pernah bilang pingin ke tempat yg pernah kita kunjungi dan nginep di hotelnya lg.. :) Pengalaman ngajak anak2 jalan2 gak ternilai ya mba..

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=