Sabtu, 29 Juli 2017

Riweuh Maksimal Jelang Tahun Ajaran Baru 2017/2018




Selamat tahun ajaran baru 2017/2018!

  Tahun ini, Aa Dilshad lulus SMP dan memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Negeri. Artinya, Aa pulang ke rumah dan kembali tinggal di rumah. Alhamdulillah. Akhirnya kami kembali bersama setelah tiga tahun lamanya Aa mondok di pesantren. 

  Bersamaan dengan Aa Dilshad masuk SMA, Dd Irsyad lulus TK dan masuk SD. Pilihan sekolah untuk Dd Irsyad adalah sekolah yang sama dengan Kk Rasyad. Biar samaan. Nanti emaknya nggak perlu riweuh membelah diri lagi jika ada acara dan sekolah mereka berbeda. Lagipula, demi keadilan juga dong. Masa sekolah anak dibeda-bedain? Dd Irsyad harus belajar di sekolah yang sama bagusnya dengan sekolah kakak-kakaknya terdahulu. 

Tidak Pergi Liburan Demi Menghemat Biaya


Punya dua anak yang harus mendaftar ke sekolah baru tentu saja memerlukan biaya yang tidak sedikit. Saya dan Bapa sudah mempersiapkannya dengan memiliki tabungan khusus untuk sekolah anak-anak. Omong-omong soal dana, tahun ini Hari Raya Idul Fitri berdekatan dengan liburan anak sekolah dan masuk sekolah tahun ajaran baru. Kondisi ini bisa membuat dompet jebol jika pengeluaran tidak diperitungkan dengan seksama. 

  Demi menghemat biaya, maka liburan kali ini kami tidak pergi traveling seperti biasa dan cukup pergi piknik jarak dekat saja. Itu juga dengan memanfaatkan voucher diskon hadiah juara 3 di kelas Kk Rasyad ke Jungle Land. Lumayan, hadiah juara ini akhirnya bisa dinikmati sekeluarga.



  Urusan pendaftaran sekolah SD sudah selesai sejak bulan Desember. Bolak-balik ke sekolah untuk tes masuk, pembayaran setelah pengumuman diterima, mengambil seragam dan buku selama tiga bulan terakhir. Jelang bulan puasa, semua urusan sudah beres dan tinggal menunggu masuk sekolah saja.

PPDB Online SMA Bikin Jantungan


Tinggal urusan sekolah Aa Dilshad, nih. Tertunda libur puasa dan Lebaran, pendaftaran PPDB Online SMA baru dibuka hari Senin tanggal 3 Juli 2017. Atas saran guru di SMP yang membantu pendaftaran secara kolektif, Aa baru didaftarkan pada hari Kamis tanggal 13 Juli. Karena sudah berpengalaman, strategi tersebut bertujuan untuk melihat passing grade sekolah yang dituju. Jika sudah banyak pendaftar dan passing grade terlihat (walaupun masih sementara), bisa diperkirakan apakah calon pendaftaran bisa diterima atau tidak di sekolah tersebut. Jika ragu, calon pendaftar bisa mengganti dengan sekolah lainnya. Biar yakin keterima dan nggak 'mubazir' capek-capek daftar tapi tidak diterima.

  Kenyataannya, Aa Dilshad baru didaftarkan pada hari Jumat karena padatnya calon siswa yang mendaftar dan guru pendamping kewalahan mengantri. Saya dan Bapa yang memantau proses pendaftaraan via Whatsapp Grup ini tidak keberatan dan memahami kondisi tersebut. Meski tentu saja, kami deg-degan setengah mati! Sampai saya kena sakit kepala karena tegang. Takut Aa nggak terdaftar!

  Selanjutnya... tinggal fase deg-degan memantau hasil PPDB Online. Tahun ini, ada aturan baru terkait dengan domisili calon siswa baru. Jarak antara rumah dan sekolah dihitung dengan poin. Poin tersebut menjadi nilai tambah untuk posisi penerimaan. Hitungannya, NEM calon siswa + poin domisili = poin nilai. Aa mendapatkan poin 5 + NEM 351 = 356 poin. 

  Selama memantau PPDB Online, posisi Aa termasuk di urutan bawah. Duh, gimana nggak jantungan! SMAN 5 yang menjadi pilihan pertama hanya menerima 193 kursi di jalur akademik. Banyak berdoa semoga Aa lolos dan nggak banyak calon murid yang lebih pintar masuk ke SMA pilihan Aa ini (terutama yang punya pilihan kedua dan tidak diterima di pilihan pertama di SMAN 1 dan SMAN 3).

  Pilihan kedua adalah SMAN 2 Kabupaten Bogor atas saran guru pendamping. Kata beliau, karena Aa berdomisili di kabupaten, maka salah satu pilihan harus sekolah kabupaten. Saat mendaftar ulang, terjadi kesalahan entri data oleh panitia. Pilihan kedua Aa terketik SMAN 2 Kotamadya. Segera, panitia menelepon Bapa untuk meminta maaf karena data tidak bisa diubah. Bukannya marah, Bapa malah senang! Memang dari awal kepengen pilihan keduanya ke SMAN 2 Kotamadya. Alhamdulillah, rejeki ya A. Sang ibu panitia pun lega, tidak jadi dimarahi orang tua siswa karena kelalaiannya memang diharapkan, hehehe.

Ditinggal Bapa ke Luar Kota dan Pengumuman PPDB yang Diundur


Bapa harus berangkat ke Malang untuk urusan kantor. Sebelumnya, urusan cek sekolah dan daftar ulang pilihan kedua Aa Dilshad selalu ditemani oleh Bapa. Karena Bapa pergi, saya yang harus datang ke sekolah SMP Aa saat pengumuman hasil PPBD nanti.
Ketika website tidak bisa diakses

  Pengumuman PPDB yang seharusnya pada hari Senin tanggal 10 Juli ternyata diundur! Webstite PPDB juga tidak bisa diakses. Padahal saya sudah datang jauh-jauh dari rumah ke sekolah SMP Aa untuk mengambil hasil sesuai instruksi guru pendamping. Karena tidak ada apa-apa dan situs PPDB tidak ada perkembangan. Saya pulang dengan kecewa. 

  Sore hari, situs PPDB melampirkan surat pernyataan bahwa pengumuman diundur sampai pukul 23.00 WIB. Saya yang sudah kelelahan memutuskan untuk tidur sejenak dan bangun pada waktu tersebut untuk melihat hasilnya. 

  Alhamdulillah, dari 489 calon siswa yang mendaftar ke SMAN 5 Bogor, Aa mendapat urutan ke 157 dari 193 siswa yang diterima. Bukan main senangnya hati saya dan Bapa. Terutama Bapa yang memang merupakan alumni di sekolah tersebut. Aih, selamat ya Aa Dilshad!




Gantian Sakit Saat Liburan


Saat liburan kemarin, kami bergantian sakit. Usai Lebaran saya kena batuk pilek cukup parah. Bisa jadi karena kelelahan. Lalu menular kepada Kk Rasyad dan Dd Irsyad. Kemudian Bapa juga sempat terkena nyeri otot. Untunglah setelah beristirahat, kami semua kembali pulih seperti sebelumnya.

  Asyik bermain, Dd Irsyad terjatuh dan telapak tangannya terkilir sampai bengkak. Setelah dua kali dipijat dan dibalur ramuan obat, akhirnya tangan Dd bisa sembuh dan tidak 'engklek' lagi. Ini juga sempet bikin was-was takut tangannya patah atau ada apa-apa. 

  Sempat terkena wabah penyakit gondongan yang sedang tren di lingkungan komplek. Berawal dari Kk Rasyad yang mengeluh lehernya sakit. Saya sudah curiga Kk terkena gondongan karena saya pernah mengalaminya waktu masih SD. Benar saja, setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menyatakan Kk Rasyad memang kena sakit gondong dan harus diisolasi. Nah, ini yang susah...

"Sakit gondongan itu menular, usahakan anaknya mau pakai masker di rumah ya, Bu. Jangan lupa pisahkan piring dan gelas makannya. Kalau perlu tidurnya juga harus dipisah. Tapi ingat, jangan pakai blao ya, Bu." saran dokter ketika kami hendak pulang ke rumah.

  Yah namanya anak-anak. Apalagi musim liburan begini mereka selalu berkumpul bersama. Main bareng di rumah. Meski sudah mengenakan masker, ternyata ada juga yang ketularan penyakit gondong. Siapa dia? Aa Dilshad!
Ketika boyz sakit

Sakit pada Minggu Pertama Masuk Sekolah

Semua murid bersuka cita masuk sekolah pada hari Senin tanggal 17 Juli 2017. Kecuali Aa Dilshad harus diam di rumah untuk beristirahat. Duh, sayang banget Aa tidak bisa mengikuti masa orientasi di sekolah barunya. Nggak apa-apa ya, A. Yang penting Aa sembuh dulu. 


A post shared by Emak Riweuh (@innariana) on

  Meninggalkan Aa di rumah, saya tidak mau melewatkan momen hari pertama si bungsu Dd Irsyad masuk SD. Kedua kakaknya selalu saya buntuti saat baru pertama masuk SD. Emak kepo banget yak, haha. 

  Minggu pertama masuk sekolah, aktivitas saya belum efektif karena ada pasien di rumah. Saya merawat Aa Dilshad supaya cepat sembuh. Bahkan mengantarnya kontrol ke dokter ketika obatnya habis. Pada hari Rabu, Aa nekad masuk sekolah karena ada psikotes untuk penjurusan. Untung Aa kuat, ya. Tidak ketinggalan pakai masker agar tidak menulari teman-teman di sekolahnya. Maunya sih istirahat terus di rumah. Tapi saya tidak yakin ada piskotes susulan, jadi Aa harus datang ke sekolah meski belum sembuh benar.

Memulai Aktivitas Baru


Akhirnya... aktivitas baru dimulai pada minggu ini, hari Senin tanggak 24 Juli 2017. Aa mulai masuk sekolah sebagai anak SMA. Lokasi sekolah yang lumayan jauh membuatnya harus bangun pagi sebelum adzan subuh berkumandang. Itu berarti saya harus bagun lebih pagi untuk menyiapkan bekal makan siang Aa.

Bekal? Iya, sekarang saya punya aktivitas baru: riweuh bikin bekal sekolah, haha! Doakan semoga saya makin giat berlatih memasak bekal agar 3 boyz makin semangat memakannya di sekolah ya!


Bekal Kk Rasyad dan Dd Irsyad

   Alhamdulillah, my 3 boyz akhirnya lengkap berkumpul kembali. Sebelum Kk Rasyad pergi dari rumah untuk menimba ilmu di pesantren, momen kebersamaan kami yang komplit ini tidak boleh saya sia-siakan. Masih ada waktu dua tahun lagi. Dua tahun untuk menjalin kedekatan bersama anak-anak yang belum beranjak dewasa. Waktu yang tepat untuk mengisi memori mereka akan kenangan indah bersama orang tua dan keluarga tercinta. 

Jadi, jika saya tiba-tiba menghilang sementara di jagat blogsphere.... harap maklum yaa ^_^

2 komentar:

  1. Aih riweuh memang ya kalau pas tahun ajaran baru ituuu. Aku masih 2 tahun lagi nih. Nabung-nabungnya harus mulai dari sekarang ya.

    BalasHapus
  2. wah ibunya keren sekali ya dalam membuat bekal, satu paket udah ada nasi, sayur, daging, dan susu.. pelajaran nih buat emak-emak newbie tapi anakku masih 1 tahun wkwk :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan, tidak berpromosi atau berjualan. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin” style=